CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 41.Suami Idaman


__ADS_3

"Alhamdulillah aku juga sangat baik kak, sebenarnya sih kami nggak liburan, cuma ada urusan kerjaan aja. Tapi bisalah sambil refreshing tipis-tipis," ucap Risty tersenyum manis.


Senyuman cantik itu membuat hati Erlangga bergitu tenang, dan senyuman cantik itu semakin indah dengan background langit yang berwarna keemasan. Sungguh dua ciptaan Allah yang begitu sempurna pikirnya, dia benar-benar terpesona sampai dia lupa untuk mengedipkan matanya.


"Kakak ada urusan apa di pulau ini?" tanya Risty kepada Erlangga.


Risty bertanya sembari melihat jauh ke arah pantai dan Matahari yang sedang terbenam, sedangkan Erlangga masih saja terdiam dan memandangnya tanpa berkedip.


Yona yang menyadari pemandangan langka didepannya sontak menahan tawanya.


"Hei Pak Presdir! Jangan dipandang terus, nanti bahaya!"


Ucapan Yona menyadarkan lamunannya, Erlangga begitu salah tingkah sedangkan Risty menoleh ke arah mereka dengan tatapan bertanya.


"Ah maaf aku nggak denger! Tadi kamu nanya apa Ris?" tanya Erlangga mengalihkan pembicaraan.


"Gimana mau denger! Yang diajak ngobrol malah gagal fokus! Uppss!"


Yona kelepasan bicara lalu menutup mulutnya, sedangkan Erlangga hanya tersenyum kaku sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ck! Nana! Jangan godain Kak Angga!" ucap Risty menatap tajam asistennya.


"Hehehe ampun Boss! Lebih baik aku pergi aja daripada mulut ini nggak bisa direm. Pak Presdir maaf ya, saya permisi dulu!" ucap Yona berjalan meninggalkan mereka dan Erlangga hanya membalas anggukan.


"Kakak ada urusan apa ke pulau ini?" Risty kembali mengulang pertanyaannya.


"Ada urusan bisnis tapi cuma 5 hari aja, dan ini udah hari yang ketiga, hari Kamis pagi aku kembali ke Australia lagi,"


"Kakak nggak mampir ke Mansion daddy dulu? Apa kakak nggak kangen sama mereka? Kakak kan udah hampir satu tahun nggak pulang ke Indonesia," tanya Risty untuk mengobati rasa penasarannya.


Semenjak dia bercerai dengan Bima 10 bulan lalu, dia begitu penasaran dengan kabar mantan kakak iparnya itu. Tapi segala rasa penasarannya hanya mampu dia simpan dalam hati, Erlangga telah memiliki tunangan, lalu apalagi yang ingin dia harapkan. Dia bukan wanita perusak hubungan orang, sebisa mungkin dia menyembunyikan segala perasaannya dan menguburnya dalam-dalam.


"Kata siapa aku nggak pernah ketemu sama daddy dan mommy? Mereka aja sekarang tinggal di Australia bersamaku satu bulan ini. Mereka menghabiskan waktu untuk jalan-jalan berdua disana seperti pengantin baru, cuma papa yang masih mondar-mandir pulang ke Indonesia untuk ketemu beberapa klien penting," Erlangga tersenyum bahagia.


"Ah benarkah?" tanya Risty sedikit terkejut.


"Apa Bima tidak mengatakan padamu?" tanya Erlangga sedikit heran.


Padahal dia beberapa kali melihat mamanya menghubungi Bima dan adiknya itu juga sering menanyakan kabarnya pada mamanya.


Sedangkan Risty menjawab pertanyaan Erlangga dengan gelengan saja.


"Sepertinya CEO cantik ini terlalu sibuk sampai nggak sempet bertukar kabar sama sang mertua!" sindir Erlangga dan Risty hanya kembali nyengir.


Kini dia tahu jika Erlangga sama sekali tidak tahu soal perceraiannya dengan Bima. Bahkan Erlangga masih menganggap dirinya adalah menantu daddy dan mommy-nya.


Suasana menjadi hening, lalu beberapa detik kemudian tak sengaja Risty melihat kedua tangan Erlangga yang terlihat begitu besar dan hangat. Dia tidak lagi melihat cincin putih yang dulu selalu dia kenakan di jarinya.


"Kak Angga!" panggil Risty dan sontak Erlangga pun menoleh kearahnya.

__ADS_1


"Iya?"


"Cincin itu kemana?" akhirnya Risty memberanikan diri untuk bertanya. Walaupun dia tahu itu adalah sebuah privasi.


"Ah cincin! Aku udah mutusin pertunanganku sama Naya,"


"Degg!"


Ucapan Erlangga membuatnya terkejut, entah apa yang sedang dia rasakan, bahagia atau malah kasihan melihat pria dihadapannya itu.


"Kenapa harus putus dan sejak kapan?" tanya Risty semakin penasaran.


"Hmm, bisakah kita bicara di tempat yang lebih nyaman?"


"Bisa, kemana pun yang penting kakak merasa nyaman untuk bercerita,"


"Baiklah, aku akan membawamu ke resort milikku." ucap Erlangga lalu berjalan ke arah parkiran mobilnya dan diikuti oleh Risty.


Setelah setengah jam berkendara, mereka telah sampai di resort indah milik Erlangga. Resort itu berhadapan langsung dengan pantai, tempatnya begitu mewah dan fasilitasnya begitu lengkap. Ada juga kolam renang besar disana dan meja bilyard di ruangan tengahnya.


"Duduklah disini! Aku akan membuatkan kopi!" ucap Erlangga yang menyuruh Risty duduk di meja makan dekat dapur kecil di resort itu.


"Oia kalo kamu pengen mandi atau beribadah, kamu bisa ke kamar milik mommy yang ada disana! Ada lemari didalam situ, kamu bisa pakai mukenah dan home dress milik mommy di lemari itu."


"Baik kak, aku ke kamar mommy dulu! Sepertinya udah masuk waktu magrib," ucap Risty lalu berjalan ke kamar yang telah ditunjukkan Erlangga.


Setelah Erlangga dan Risty telah melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim. Mereka kembali duduk di meja yang ada di dapur. Terlihat Erlangga sibuk didepan kompornya dan Risty hanya menopang dagunya di meja sembari melihat Erlangga yang memasak untuk makan malam mereka.


"Udah nggak usah! Kamu adalah tamuku! Jadi kamu diem aja disitu! Biar aku memasak untukmu, kebetulan ada bahan dikulkas," ucap Erlangga yang masih sibuk memasak.


"Sejak kapan kakak jadi hobi masak? Aku kira pria mapan dan parlente seperti kakak anti dengan perdapuran! kebanyakan pria seperti kakak lebih suka dilayani daripada melayani," ucap Risty tersenyum lucu.


"Ya sebenarnya aku emang hobi masak, dulu kalo ada senggang aku ngundang chef buat ngajarin aku masak dan aku terbiasa hidup mandiri sejak kuliah di Luar negeri, jadi aku terbiasa melakukan semuanya sendiri,"


"Pasti beruntung ya wanita yang jadi istri kakak nanti! Tiap hari dimasakin sama kakak."


"Ya sebenarnya itu sih alasan dasar aku hobi masak! Aku punya mimpi, jika suatu hari saat aku udah nikah, aku ingin jadi suami dan ayah yang baik buat istri dan anak-anakku kelak. Aku ingin memasak dan menghabiskan waktu libur kerjaku untuk mereka, agar mereka nyaman dan selalu bahagia bersamaku," Erlangga tersenyum manis dan mulai menghidangkan steak daging buatannya.


"Wah.. Kak Erlangga emang suami idaman sih!" puji Risty terang-terangan sembari berbinar menatap steak buatan Erlangga.


Baunya begitu menggugah selera, tampilan daging dan pelengkapnya terlihat begitu lezat dimata Risty. Dia sampai harus menelan ludahnya berkali-kali. Pria itu lagi-lagi membuatnya begitu terpesona, alasannya yang diucapkannya tadi terasa begitu manis untuk didengar oleh telinganya.


"Silahkan menikmati menu spesial dariku!"


Risty hanya mengangguk mendengar ucapan Erlangga, dengan tidak sabar, dia ingin segera memakan steak lezat didepannya itu.


Dengan tergesa-gesa Risty memotong daging itu dan segera memasukkan ke dalam mulutnya. Dan benar saja, daging steak itu begitu empuk dan lezat dilidahnya, dia memasukan lagi potongan daging yang kedua dan tak sengaja saos steak itu belepotan di sekitar bibirnya.


"Makannya pelan-pelan adik ipar!" ucap Erlangga kemudian mengusap bibir Risty yang belepotan dengan tisu.

__ADS_1


Moment itu seharusnya menjadi moment romantis bagi Risty, tapi kenyataannya Erlangga hanya menganggap Risty sebagai adik iparnya.


"Ah maaf!" ucap Risty jadi salah tingkah dan Erlangga malah tersenyum lucu.


"Kalo kamu masih menginginkannya, aku akan memasak lagi untukmu!"


"Ah nggak Kak! Ini udah cukup kok, aku juga udah kenyang! Sebaiknya kita ngobrol santai aja setelah makan malam,"


Erlangga mengangguk dan mereka melanjutkan makan malam mereka dengan tenang.


Setelah makan malam mereka telah selesai, mereka duduk di area terbuka di resort itu dan memandang ke arah pantai di depannya. Suara deburan ombak dan hembusan angin seolah membuat segala beban dihati mereka menghilang terbawa angin. Satu kata yang mewakili keduanya pada malam itu, yaitu nyaman.


"Kamu suka disini?" tanya Erlangga membuka suara.


"Sangat suka!" jawab Risty dengan cepat.


"Lain kali kita akan liburan lagi kesini, bersama suamimu, kedua orangtuaku dan keluargamu,"


Mendengar ucapan Erlangga Risty hanya terdiam. Dia tidak mengiyakan tidak juga menjawab tidak, karena kenyataannya saat ini mereka adalah orang lain bukan keluarga lagi.


"Kenapa kakak nggak jadi menikah?" tanya Risty mengalihkan pembicaraan.


"Pacarku hamil, dia diper**** teman satu kampusnya,"


"Hah? Gimana ceritanya?" Risty begitu terkejut dengan ucapan Erlangga.


Dan kemudian Erlangga mulai bercerita.


*Flashback On


"Nay mari kita menikah! Aku lelah jika berjauhan terus seperti ini!" ucap Erlangga pada tunangannya Kanaya Putri.


"Tapi aku belum siap menikah sayang! Tunggu dua tahun lagi setelah aku menyelesaikan studi-ku di Amerika, kamu kan tahu banyak mimpi-mimpiku yang belum tercapai! Bersabarlah sebentar aja sayang!" Naya merayu Erlangga.


"Tapi aku nggak bisa nunggu terlalu lama Nay! Aku ini pria dewasa, aku membutuhkan perhatian nyata dari seorang wanita, bukan hanya perhatian lewat telpon atau chat aja!" seru Erlangga dengan kesal.


"Aku mohon mengertilah sayang! Tolong tunggu sebentar lagi, aku janji akan selalu setia disana dan setiap libur semester aku akan menemuimu lagi! Aku sangat mencintaimu sayang, jika kamu juga mencintaiku tolong bersabarlah demi aku, please!" Naya terus memohon kepada Erlangga.


Setelah beberapa perdebatan yang panjang, akhirnya Erlangga bersedia menunggu dua tahun lagi setelah Naya menyelesaikan kuliahnya di Amerika.


Setelah tiga bulan kepergian Naya, Erlangga merasa hidupnya begitu membosankan dan hatinya merasa begitu sepi karena Naya selalu sibuk dan terkadang susah dihubungi.


*Dan disaat itulah dia bertemu dengan Risty dan jatuh cinta pada gadis cantik itu. Tapi kenyataannya Risty menjauh darinya karena mengetahui dirinya memiliki tunangan.


Sedangkan perasaannya pada Naya telah menguap entah kemana, semejak Naya sering mengabaikan dirinya*.


Hingga setelah Risty menyuruhnya menjauh, Erlangga memutuskan pergi ke Australia untuk mengurus cabang perusahaannya disana dan mencoba melupakan perasaannya pada Risty.


Setelah bulan keenam kepergian Naya, Naya dan dirinya sangat jarang berkomunikasi, hingga suatu hari Erlangga mencoba menghubungi Naya kembali.

__ADS_1


📞"Hallo Nay!"


📞"Sayang, maaf beberapa minggu ini aku benar-benar sibuk, banyak tugas dan beberapa kegiatan dikampus yang nggak bisa aku tinggalkan. Maafkan aku jika sering mengabaikanmu sayang!" ucap Naya dengan segala alasannya.


__ADS_2