
"Sudahlah pa jangan mengaturku dan ikut campur urusanku! Aku udah dewasa dan berhak memilih jalan hidupku sendiri!"
"Kamu selalu aja bertindak semaumu! Kau tahu karena kelakuan burukmu itu istri Tuan Carlos mengambil semua dana yang sudah diinvestasikan ke perusahaan kita! Perusahaan kita terancam bangkrut karena ulahmu!"
Mendengar ucapan papanya, Vania begitu terkejut. Dia tidak menyangka jika ucapan istri Carlos padanya tempo hari tidak main-main.
"Perusahaan selama dua tahun ini mengalami penurunan profit, dapat uang darimana lagi papa bisa mengembalikan dana investasi mereka! Jika papa tidak bisa mengembalikan semuanya papa diancam akan dipidanakan atau perusahaan kita akan disita oleh pihak Tuan Carlos!" ujar Pak Anton yang menghela nafasnya panjang, dadanya pun mulai terasa nyeri mengingat jika setelah ini mereka tak punya apa-apa lagi.
"Papa kan bisa menjual sebagian saham papa ke orang lain untuk mengembalikan uang istri Carlos, jual saja sebagian yang penting kita masih bisa dapat profit tiap bulannya!"
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Kau kira semudah itu menjual saham perusahaan yang sedang mengalami penurunan profit seperti ini, bahkan saat ini nilai saham papa sudah turun 25% dari sebelumnya. Kalau dijual semua kita tidak akan memiliki apapun lagi di perusahaan itu! Kau tahu papa membangun perusahaan itu dari nol dengan darah dan airmata tapi karena kelakuan kamu semuanya hancur! Sia-sia sudah selama ini perjuangan papa!" seru Pak Anton sembari memegang dadanya yang semakin nyeri.
Vania hanya diam mendengarkan ucapan papanya, dia sangat menyesal sudah berselingkuh dengan pria beristri yang sekaligus investor terbesar di perusahaan papanya.
Dia tidak menyangka akan jadi seperti ini, dia kira dengan mendekati Tuan Carlos dia bisa mendapatkan semua kemewahan dan kekayaan yang dimiliki Tuan Carlos. Tapi nyatanya semua harta yang dia miliki hanyalah milik istrinya, Tuan Carlos tidak memiliki apa-apa bahkan jika dilihat dari segimanapun Bima berkali-kali lipat lebih baik dari Tuan Carlos. Bima adalah sosok pekerja keras dan sangat menyayangi keluarga, dan sekarang dia merasa sangat menyesal telah mencampakkan Bima demi kemewahan yang semu.
"Pa, sudah jangan terbawa emosi pikirkan kesehatan papa! Nanti kita akan pikirkan lagi bagaimana solusinya, kita akan bicara dengan istri Tuan Carlos lagi agar mereka memberikan kita waktu lebih lama untuk mengembalikan uang mereka." ucap Bu Sherly menenangkan suaminya.
Tiba-tiba seorang laki-laki masuk ke dalam ruang kerja Pak Anton dengan raut wajah panik.
"Ceklek!!"
"Malam Pak Presdir maaf, saya masuk tanpa mengetuk pintu!" ucapnya dengan nafas terengah-engah dan panik.
"Ada apa Fian?" tanya Pak Anton pada asistennya, Fian.
"Apa anda sudah melihat video Nona Vania yang bertengkar dengan Nyonya Caroline telah viral di sosial media? Karena video itu semua menjadi tahu jika Nona Vania telah merebut suami Nyonya Caroline dan mereka membully Nona Vania, anda dan nyonya besar. Publik terus menyalahkan anda karena tidak bisa mendidik anak anda satu-satunya." ucap Fian menghela nafas sejenak lalu meneruskan kembali perkataannya, "Karena permasalahan ini jadi berdampak dengan nilai saham perusahaan kita, dengan berat hati saya mengabarkan jika nilai saham anda turun lagi menjadi 60% dari sebelumnya,"
"Degg!!"
Mendengar ucapan Fian, tiba-tiba jantung Tuan Anton semakin sakit dan dia semakin marah kepada Vania.
"Dasar anak kurang ajar! Anak durha..!"
"Bruuuukkkk!!!"
__ADS_1
Saat Pak Anton akan melayangkan tamparan pada Vania, dia terjatuh pingsan dilantai dan ketiga orang didepannya pun berteriak kaget.
Tak membutuhkan waktu lama, dengan cepat mereka membawa Tuan Anton ke rumah sakit besar. Dia segera ditangani oleh dokter di ruang UGD. Bu Sherly, Vania dan Fian pun menunggu dengan cemas di luar ruangan.
Setelah beberapa jam menunggu akhirnya, seorang dokter telah keluar dari ruang UGD itu dan ketiga orang itu pun menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Bu Sherly dengan berderai airmata.
"Maaf nyonya, kami Tim Dokter sudah berusaha maksimal, tapi Tuhan lebih menyayangi suami anda. Maafkan kami harus mengabarkan jika suami anda telah meninggal." ucap Sang Dokter dengan sedih.
Kedua wanita didepan sang dokter itu pun berteriak menangis tak percaya dan si asisten pun tak kalah terkejutnya. Lalu tiba-tiba tubuh Bu Sherly limbung dan dia pingsan terjatuh di lantai. Vania semakin menangis meraung-raung melihat mamanya pingsan dan sangat menyesal karena papanya meninggal semua karena ulahnya.
***
Tak terasa dua minggu telah berlalu, kini sidang kedua pun digelar, para saksi juga akan didatangkan untuk memberikan semua kesaksian mereka pada hari itu.
Risty masih sama ditemani oleh Erlangga dan Clara pun duduk di kursi pesakitan dengan Sang Ibu.
Orang pertama yang maju sebagai saksi adalah Risty, dia menceritakan interaksinya terakhir kali bersama Pak Haris dan Bu Hana. Dia mengatakan dengan sejujurnya jika memang saat itu dia tidak bekerja karena sakit dan akhirnya Pak Haris memakai mobilnya untuk jalan-jalan bersama sang istri. Sedangkan mobil yang biasa Pak Haris gunakan akan dibawa supirnya untuk jadwal servis rutin di bengkel. Dan selanjutnya tidak ada perbincangan lagi dengan Pak Haris maupun Bu Hana. Dia juga menceritakan jika hubungannya dengan Clara pun tidak akur, karena Clara selalu meminta papanya agar dirinya saja yang dijadikan CEO di perusahaan pusat, tapi papanya menolak keras keinginan Clara. Karena Clara belum berpengalaman memimpin perusahaan dan dia sendiri juga masih kuliah.
Belum dipersilahkan bicara, Clara pun berkata tajam untuk menuduh Risty.
Sedangkan beberapa orang terlihat gaduh dan berbisik-bisik.
"Tok! Tok! Tok!"
"Harap tenang! Nona Clara anda belum diijinkan untuk bicara! Jadi patuhi etika dalam persidangan!" Sang Hakim memperingatkan.
"Maaf!" ucap Clara singkat.
Setelah Risty bersaksi kini giliran supir pribadi Pak Haris yang mengatakan hal sama dengan Risty bahwa benar jika hari itu mobil Pak Haris memang akan dibawa ke bengkel sehingga Pak Haris memilih membawa mobil Risty dari pada harus mengeluarkan salah satu dari tiga mobil mewah koleksinya. Supir itu mengatakan jika hubungan Pak Haris dan Clara semakin lama semakin membaik bahkan si supir sering mengantarkan Pak Haris bertemu dengan putri kandungnya. Jadi dia juga ragu tentang tuduhan pembun*han berencana yang ditujukan pada Clara.
Saksi ketiga adalah Pak satpam yang menjaga Mansion Pak Haris. Dia mengatakan jika malam itu seperti biasa di memantau CCTV di setiap sudut ruangan hingga saat pukul 10.00 malam, pembantu bernama Santi memberikannya secangkir kopi dan dalam hitungan beberapa menit saja dia sudah tertidur dan tidak tahu kejadian apapun setelahnya. Sedangkan dia tidak tahu menahu tentang perseteruan Clara dan Risty, karena Clara juga jarang datang ke Mansion.
Saksi keempat adalah Santi ART yang sudah lama bekerja di Mansion Pak Haris dan Bu Hana. Dia mengaku jika benar dia memberikan kopi itu tapi dia bersumpah tidak memberikan apapun pada kopi yang diberikan pada pak satpam, tapi dia ingat jika dia meninggalkan kopi itu di dapur sebentar karena dia terburu-buru ke kamar kecil sebentar. Lalu selang sepuluh menit dia memberikan kopi itu pada si satpam. Dia juga mengatakan jika semua ART tahu jika hubungan Clara dengan Bu Hana maupun memang tidak baik, mereka tak sengaja mendengar jika Bu Hana tidak mengijinkan Clara tinggal di Mansion utama.
__ADS_1
Saksi kelima adalah saksi kunci dan eksekutor dari kasus pembun*han ini, yaitu Santos. Saat Santos mulai memasuki ruang persidangan, jantung Clara dan juga ibunya seolah berhenti berdetak sesaat. Keringat dingin pun mulai bercucuran tapi sebisa mungkin Clara berusaha untuk terlihat tenang. Sedangkan Bu Rosa terlihat sangat pucat, tiba-tiba dia pingsan dan terjatuh dari kursinya.
Sontak semua orang menjadi berisik karena panik dan terkejut. Kemudian hakim memutuskan untuk menunda persidangan satu minggu mendatang.
Setelah sidang panjang dan melelahkan itu terjeda, Erlangga mengantarkan Risty menuju ke apartemennya dan Erlangga akan kembali bekerja.
"Sayang apa kamu capek?" tanya Erlangga sembari mengelus rambut panjang kekasih hatinya.
"Sedikit,"
"Ya udah kamu istirahat aja, nanti malam nggak usah masak biar aku bawakan makanan sepulang aku kerja untuk makan malam kita,"
"Hmm, iya sayang terserah kamu aja!"
"Ya udah, aku kembali ke kantor dulu ya! Banyak pekerjaan yang harus aku slesein hari ini," ucap Erlangga lalu berlalu meninggalkan Risty yang berdiri sembari melihat pemandangan diluar jendela kamarnya.
Risty hanya terbengong melihat Erlangga yang berlalu pergi, dia heran biasanya Erlangga mencium pucuk kepalanya sebelum pergi tapi kali ini dia melewatkan kebiasaan manis yang sudah berjalan selama dua bulan lebih ini.
"Ceklekk!"
Tiba-tiba pintu kamar Risty terbuka lagi.
"Sayang, ada yang kelupaan!" ucap Erlangga yang berjalan menghampirinya.
Erlangga mencium pucuk kepala Risty dan membelai pipinya lembut. Dia sangat mencintai wanita cantik yang ada didepannya itu, rasanya dia ingin selalu dekat dengan Risty setiap saat.
"Aku berangkat dulu ya istri cantikku, love you!"
"Hati-hati di jalan Bang! Love you too," ucap Risty tersenyum manis dan Erlangga pun meninggalkan apartemen Risty.
***
Di sebuah kontrakan kecil, seorang wanita cantik tinggal bersama ibunya. Wanita itu dan ibunya masih dirundung kesedihan, laki-laki satu-satunya yang begitu mereka cintai kini telah pergi. Semua harta miliknya habis, perusahaan, mansion dan semua mobil pribadi miliknya dan milik almarhum papanya telah disita. Dia masih bisa makan dan menyewa sebuah rumah kecil hasil dari dia menjual tas, sepatu dan pakaian branded miliknya.
__ADS_1
"Mama, makanlah! Apa mama tidak lapar? Mama belum makan sedikitpun dari pagi, Vania nggak pengen mama sakit." ucap Vania dengan lembut pada mamanya.
Dia mengantarkan makanan untuk mamanya di kamar yang mamanya tempati, sudah dua minggu ini mamanya hanya berdiam diri di kamar makan hanya sekali jika dia benar-benar lapar saja. Bu Sherly terus bersedih dan menangisi kepergian suaminya. Dia merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi tanpa sang suami, dia benar-benar hancur dan terpuruk saat ini. Dia ingin sekali marah dan membenci putrinya, tapi dia sadar jika Vania benar-benar menyesali segala perbuatannya dan dia juga telah ribuan kali meminta maaf padanya.