
Setelah Riana memberikan sambutan dan kata-kata semangat untuk semua karyawan barunya, dia turun dari atas panggung dan bergabung bersama Reifan dan beberapa Staff perusahaan mereka.
Mereka merayakan tasyakuran dengan makan bersama dengan para karyawan baru dan menikmati acara hiburan yang mengisi acara pembukaan itu.
"Selamat bergabung kembali Bu Riana," ucap Dimas menyalami tangan Riana.
"Terimakasih Pak Dimas,"
"Bu Ria, saya senang bisa ketemu anda lagi!" Shella pun ikut menyalaminya.
"Aku juga Shela, semoga kita menjadi tim yang baik," Riana tersenyum manis pada keduanya.
Setelah acaranya selesai, Riana pun kembali ke mansionnya di antar oleh Reifan dan Shella. Sedangkan Dimas kembali ke apartemen yang Reifan sewakan untuknya.
Badan Riana sungguh lelah, dia ingin tidur sejenak sebelum memasak makan malam untuk suaminya.
Hingga dua jam telah berlalu, Beny datang dari kantor dan masuk ke kamar mereka.
Dia melihat istrinya yang tertidur pulas lalu beranjak ke kamar mandi dulu sebelum membangunkan istrinya.
Setelah selesai mandi, Beny berganti baju dan mendekati ranjang istrinya, dia membangunkannya dengan lembut.
"Sayang, bangun ini sudah magrib," ucap Beny sembari menciumi wajah istrinya.
"Ah kakak udah datang ternyata, maaf aku belum memasak makan malam kita." ucap Riana yang kini duduk di ranjangnya.
"Nggak usah sayang, biar pelayan yang menyiapkan makan malam kita. Ayo kita ibadah dulu setelah itu kita makan malam bersama!" ucap Beny mengelus kepala istrinya penuh sayang.
"Baik sayang," Riana memeluk suaminya dan membenamkan wajahnya di dada sang suami.
"Bagaimana tadi acaranya tadi? Sukses?" tanya Beny.
"Alhamdulillah sukses sayang, semua berjalan dengan baik."
"Aku memperbolehkanmu bekerja bersama Reifan, tapi tolong jaga kesehatanmu dan bayi kita ya sayang!"
"Baik sayang, kamu tenang aja!"
Setelah menyelesaikan ibadah berjamaah, mereka pun makan malam bersama.
***
Selama dua bulan ini, Shella asisten Riana menjemputnya tiap pagi untuk mengantarkannya ke perusahaan. Beny dan Riana sibuk bekerja, tapi Riana akan pulang lebih awal dari suaminya, agar dia bisa menjalankan tugasnya sebagai istri dengan baik.
Perusahaan yang Riana pimpin semakin maju dan berkembang, bakatnya berbisnis dan negoisasi melebihi kedua saudaranya jadi tidak heran perusahaan kini menjadi semakin besar, banyak investor juga yang mau menanam saham di perusahaannya.
Sedangkan Beny juga sibuk dengan pekerjaannya di kantor, Bu Gendhis memaksa agar Beny menerima Arletta menjadi sekretarisnya lagi dan jika tidak menuruti ibunya, Bu Gendhis selalu saja mengancam. Jadi mau tidak mau, Beny menerima kembali tapi dia selalu menjaga jarak pada Arletta.
Hari itu, forum komunitas pengusaha muda sedang mengadakan acara tahunan, berkumpul bersama dan silaturahmi antar sesama pengusaha.
Beny mengajak Riana untuk datang, tapi Riana menolak karena akan mendampingi Reifan menghadiri acara tersebut.
"Tidak apa-apa kan sayang, aku datangnya sama Reifan. Kamu tahu kan kami baru bergabung di forum ini, jelas kami tidak mengenal banyak orang, jadi aku akan menemani Reifan agar tidak terlalu kaku masuk ke acara." ucap Riana pada sang suami.
"Iya sayang, tidak masalah aku akan datang sama Hasan, aku hanya khawatir dengan kehamilanmu. Liat itu perut kamu sudah membesar, tolong jangan terlalu lelah bekerja!"
"Tenang saja sayang, kerjaku di perusahaan sangat santai. Aku masih sangat kuat kok, Alhamdulillah tidak ada kendala berarti selama ini."
"Syukurlah kalau begitu," Beny mencium pucuk kepala istrinya dan membawanya kepelukannya hingga mereka tertidur bersama.
__ADS_1
Saat sore menjelang, Shela menjemput Riana dan mengantarkannya di apartemen Reifan.
Bu Gendhis menghampiri Beny yang melepas kepergian istrinya dari teras mansionnya.
"Apa istrimu itu tidak ikut ke acara nanti?" tanya Bu Gendhis.
"Ikut kok mi, tapi dia akan berangkat bersama Reifan dan dua orang kepercayaannya."
"Baguslah, kalau begitu mami dan Arletta bisa ikut denganmu," ucap Bu Gendhis tersenyum kemenangan.
"Ck, kenapa Arletta harus ikut mi? Aku akan mengajak mami aja tidak dengan Arletta!"
"Ben, Arletta itu sekretarismu dia berhak ikut! Lagipula Arletta kan juga anggota di forum komunitas itu, jadi tidak ada salahnya dia berangkat bersama kita," Bu Gendhis tak mau kalah.
Berdebat dengan mamanya bagi Beny hanya sia-sia saja, pada akhirnya dia yang akan kalah dan mengalah. Jadi dia membiarkan saja apapun yang ingin di lakukan mamanya.
"Ya udahlah terserah mami!"
Beny meninggalkan mamanya dan mulai bersiap.
Setelah putranya telah masuk ke dalam, Bu Gendhis terlihat mengetik sebuah pesan kepada seseorang.
**
Selang 25 menit berlalu, akhirnya Riana telah sampai di apartemen Reifan, Dimas dan saudara kembarnya itu sedang bersantai menunggunya.
Reifan memang sengaja jauh-jauh datang dari kotanya untuk menghadiri acara berkumpulnya para pengusaha, agar koneksi dengan para pebisnis di kota itu semakin luas, mendaftarkan dirinya dan Riana pada forum komunitas pengusaha muda yang terkenal dan terbesar di kota itu.
Setelah berganti baju pesta yang mewah, kini Riana, Reifan, Dimas dan Shella pun pergi ke acara itu.
Saat telah memasuki hotel mewah tempat acara pesta, tak sengaja ekor mata Riana memandang jauh suaminya duduk bersama Sang ibu mertua Assisten suaminya dan Arletta.
Acara telah di mulai, tapi Riana sengaja duduk tak terlihat dari meja suaminya, dia ingin tahu sejauh mana respon suaminya saat Bu Gendhis mendekatkan putranya dengan si ular kadut.
Dia melihat dari jauh jika Benny merasa kurang nyaman berdekatan dengan Arletta. Dia terlihat mengabaikan gadis tak tahu malu itu.
Setelah acara pembukaan selesai, Sang MC memperkenalkan jajaran pengurus forum kepada para anggota yang baru bergabung, lalu MC itu memperkenalkan Riana sebagai tamu spesial disana.
"Baiklah kawan, hari ini kita kedatangan seorang tamu spesial sebagai anggota baru kita. Seorang CEO wanita yang sangat berbakat dalam dunia bisnis, bahkan pencapaiannya selama dua bulan ini benar-benar tidak main-main, tapi sayangnya dia enggan masuk majalah bisnis dan tidak begitu menyukai publikasi. Jadi untuk memperluas hubungan bisnis kita, saya perkenalkan Nona Riana Amartha Adhythama dari PT. Adhytama group."
"Degg!"
Beny, Bu Gendhis, Hasan dan Arletta sangat terkejut saat nama Riana dipanggil ke atas panggung, apalagi jabatannya tidak main-main di Perusahaan besar milik keluarganya. Mereka tidak menyangka Riana yang sedang hamil seperti itu, bisa memimpin perusahaan dengan luar biasa.
Tapi Bu Gendhis tidak peduli dengan jabatan atau perusahaan yang keluarga Riana miliki, dia hanya ingin Arletta yang menjadi menantunya.
"Nona silahkan anda maju ke depan untuk memperkenalkan diri didepan teman-teman komunitas pengusaha muda kita," ucap Sang MC dan Riana pun mengangguk.
Di atas panggung Riana memperkenalkan diri dan menyapa anggota komunitas yang lain, semua orang disana berbisik-bisik memuji kecantikan dan keramahan Riana.
Beny yang melihat istrinya dari mejanya sangat bangga memiliki wanita cantik itu.
"Maaf apa ada lagi yang ingin kalian tanyakan mengenai saya?" tanya Riana pada semua anggota komunitas.
"Siapa suami anda nona? Apa seorang pebisnis juga? Atau bahkan salah satu dari kami?" tanya salah satu pengusaha yang penasaran.
"Anda benar Tuan, suami saya adalah seorang pengusaha sekaligus anggota di forum komunitas ini, Tuan Beny Harsa Atmaja dari PT B-Atmaja Grup. Dan beliau sedang duduk disana bersama ibu mertua saya," ucap Riana menunjuk ke arah Beny dan Bu Gendhis duduk.
Beny tersenyum bangga lalu mengangguk ketika semua mata memandang ke arahnya dan Bu Gendhis pun reflek tersenyum dan mengangguk juga. Tiba-tiba ada rasa bangga terbesit dibenaknya, tapi kebenciannya mengalahkan perasaan itu.
__ADS_1
"Wah, luar biasa! Pasangan pebisnis sukses ternyata!" pujinya.
"Terimakasih atas pujian anda!"
Riana tersenyum lalu mengakhiri sambutannya diatas panggung.
Beny yang melihat istrinya akan turun dari panggung, sontak berdiri dan menghampiri sang istri. Dia mengambil satu tangan istrinya dan mengangkat tubuh Riana dengan satu tangannya yang lain untuk turun dari atas panggung.
"Terimakasih sayang!"
Riana tersenyum pada suaminya, dan Beny malah mencium singkat bibir istrinya, sehingga membuat wajah Riana merona karena malu.
"Sayang, ingat ini tempat umum!' desis Riana.
"Aku tahu sayang! Ayo istriku kita pulang, aku bosan disini. Lebih baik kita 'bersenang-senang' di rumah." bisik Beny tersenyum jahil.
"Dasar mesum!" Riana mencubit pinggang suaminya pelan dan suaminya pun malah terkekeh.
"Eh bentar, sebaiknya kita pamit Reifan dulu kalau mau pergi dari sini,"
"Iya sayang,"
Keduanya pun menghampiri meja Reifan yang sedang duduk bersama dua orang kepercayaannya.
"Rey, kami mau balik duluan! Nggak papa kan aku tinggal?" tanya Riana pada saudara kembarnya.
"Aku juga mau balik juga lah, disini ngebosenin banget, pada pamer harta! Aku jadi males, tapi yang terpenting mereka sudah mengenal Riana," ucap Reifan merasa jengah.
"Ya begitulah, disini memang ajang pamer harta," Beny menimpali
"Kalian balik bersama kami aja! Sepertinya mamimu masih ingin disini," tebak Reifan.
"Baiklah aku ikut di mobil kalian, tunggu kami di mobil ya!"
Setelah itu Beny dan Riana berjalan ke arah meja Bu Gendhis untuk pamit.
"Mi, aku pulang dulu ya sama istriku," pamit Beny.
"Mana bisa kamu meninggalkan mami sendiri Ben! Kamu yang mengajak mami, sekarang kamu tinggalin mami begitu aja. Kamu tetap disini! Lagipula mami akan mengenalkanmu dengan beberapa teman bisnis papimu, agar perusahaan kita semakin dikenal di kalangan semua pengusaha," ucap Bu Gendhis kekeh.
"Tapi mi.."
"Ben! Apa kamu mau melawan mamimu sendiri! Riana kan bisa diantar saudaranya!"
"Iya kak, aku balik dulu aja ya sama Reifan. Kasihan kalau mami tidak ada yang mendampingi disini,"
"Tapi sayang.."
Beny memegang tangan Riana dan Bu Gendhis menarik tangan Beny.
"Sudah nggak papa!" ucap Riana tanpa bersuara sembari tersenyum lembut pada suaminya.
Entah kenapa perasaan Beny tiba-tiba menjadi tidak enak, melihat wajah teduh sang istri. Dia benar-benar enggan melepaskan istri tercintanya dari genggaman tangannya.
"Hati-hati dijalan ya sayang!" ucap Beny dan Riana pun mengangguk.
Saat Riana berjalan keluar menuju mobil Reifan yang terparkir di depan hotel, tiba-tiba dari arah samping, sebuah motor melaju kencang ke arah Riana dan...
"Braaakkk!!!"
__ADS_1