CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 11. Calon Suami


__ADS_3

Faisal tersenyum samar penuh kemenangan, dia tidak menyangka dengan mudah, dia membuat Riana lebih memilihnya dari pada Beny ayah sang bayi.


Terlihat Erlangga membisikkan sesuatu pada Risty dan seketika raut wajah Risty memerah karena marah.


"RIA! SIAPA YANG MENGIJINKANMU UNTUK MENIKAHI BAJI***N ITU!" teriak Risty penuh amarah.


"Maaf Bu Presdir, siapa yang anda maksud dengan baji***n?" tanya Faisal terkejut.


"Cihh! Masih saja berakting," cibir Risty.


"Ma.. maksud kakak apa menyebut Bang Faisal seperti itu? Untuk alasan apa kakak tidak mengijikanku menikah dengan Bang Faisal?" tanya Riana dengan nada bergetar.


"Apa kamu tau jika sebenarnya semua ini adalah rencana Faisal! Malam saat kamu berada di Club, dia yang telah memberi obat dosis tinggi untuk menjeratmu, dia membayar seorang bartender untuk memberikan minuman beralkohol dan obat itu padamu, tapi beruntung Beny membawamu lebih cepat jadi rencana busuk Faisal gagal! Dan apa kamu sadar jika malam itu kamu sendiri yang memaksa Beny agar menyentuhmu kan! Ingat dan buka pikiranmu Ria!" Hardik Risty penuh amarah.


Faisal dan Riana sangat terkejut dengan ucapan Risty.


Riana merasa sangat malu, dengan gamblang kakaknya mengingatkan jika malam itu Rianalah yang memaksa Beny agar menyentuhnya. Dia terdiam tidak bisa berkata-kata, dia juga sempat mengingat jika Faisal juga berada di Club itu saat malam kejadian, bisa jadi apa yang dikatakan kakaknya memang benar.


"Maaf Bu Presdir, tuduhan anda tidak berdasar sama sekali! Apa ada buktinya saya melakukan itu pada adik anda? Seharusnya anda juga mencurigai laki-laki bernama Beny itu, karena nyatanya dia yang membawa adik anda malam itu," sangkal Faisal.


"Liat video rekaman CCTV ini Ria! Liat dengan jelas siapa yang ada disitu," ucap Risty memberikan ponselnya pada Riana.


Dalam video pertama terlihat jelas jika Faisal, Vero dan seorang berseragam bartender sedang bersekongkol membicarakan sesuatu di salah satu sudut ruangan club malam itu.


Dan divideo kedua, bartender yang bersama Vero dan Faisal tadi, terlihat memberikan sebuah obat pada minuman Riana lalu memberikan minuman itu pada Riana.


Riana mengepalkan tangannya penuh amarah, dia telah dibohongi wanita yang sudah dianggapnya sebagai sahabat dan dibohongi Faisal, laki-laki yang selama ini dianggapnya tulus mencintainya.


"Bagaimana? Apa perlu bukti yang lain lagi, agar kamu yakin jika laki-laki yang kamu bela adalah seorang penjahat!" ucap Risty pada adiknya.


Faisal terdiam tidak bisa berkata apa-apa, bukti kejahatannya sudah jelas.


"Faisal.. Faisal kamu itu salah memilih lawan! Kamu kira aku akan diam aja kamu memanfaatkan adikku! Hah?! Dasar laki-laki br*****sek!" umpat Risty penuh amarah.


Erlangga dan Beny hanya tersenyum senang melihat pertunjukan seru didepan mereka.


"Apa maksud kakak, Faisal memanfaatkanku?" tanya Riana yang kini sudah meneteskan airmata karena sangat kecewa.


Risty melemparkan beberapa foto yang diberikan Erlangga ke tangan Riana.


"Vero dan Faisal sudah berhubungan sebelum mereka kenal denganmu Ria! Bahkan mantan istri Faisal pun tahu kelakuan buruk suaminya tapi dia memilih untuk selalu bertahan dan mendatangi wanita-wanita yang dipacari suaminya,"


Dan alangkah terkejutnya Riana melihat foto-foto mesra Vero dan Faisal di berbagai tempat dan begitu intim.


"Ohh Anj****! Baji****! Dasar laki-laki br****sek! Nggak tau diri!"


Akhirnya Riana tidak bisa menahan untuk tidak mengumpat, amarahnya sudah berada dilevel teratas.


Dia turun dari bangkarnya dan menampar Faisal dengan kekuatan maksimalnya.


"Plaaakkk!"


Beny, Erlangga, Risty dan Bu Hana melotot kaget melihat Riana yang meluapkan amarahnya.


"KAMU!! Aarrrrghhhhh! Aku nyesel pernah cinta sama laki-laki br***sek seperti kamu!" teriak Riana penuh amarah.

__ADS_1


Riana sedikit terhuyung dan Bu Hana segera menghampirinya, "Hati-hati sayang!"


Bu Hana segera memeluk Riana yang terlihat pucat lagi dan limbung hampir jatuh kelantai.


"Sudah, kendaliin emosi kamu sayang, jangan mengotori tanganmu untuk menyentuh laki-laki seperti itu lagi," ucap Bu Hana yang memapah Riana untuk kembali ke bangkarnya.


Erlangga membisikkan sesuatu pada istrinya lagi dan Risty membalas dengan anggukan.


"Ceklek!"


Terlihat anak buah Erlangga membawa Vero untuk masuk ke ruangan Riana juga, seketika Vero terlihat ketakutan sekaligus binggung dengan apa yang ada didepannya. Yang dia tahu, dia tadi dijemput orang suruhan atasannya agar bersedia menemani Riana di rumah sakit, tapi yang dia lihat malah Faisal dengan wajah keputus-asaan berada diantara mereka.


"Ini dia yang kamu sebut dengan sahabat kan? Wanita ja**Ng nggak tau malu!" ucap Risty memandang Vero dari atas hingga bawah.


Mendengar ucapan Risty, sontak Vero menunduk dan semakin ketakutan.


"Vero, aku kira kamu sahabat yang tulus, tapi nyatanya kamu menusukku dari belakang. Aku sangat kecewa denganmu," ucap Riana yang begitu kecewa.


"Maafkan aku Ria, Maaf!" Vero menunduk dan kini menangis menyesali perbuatannya, dia memiliki teman yang tulus tapi dia malah memanfaatkannya.


"Mulai sekarang Veronica dan kamu Faisal, KALIAN AKU PECAT! Dan aku akan menambahkan nama kalian di daftar hitam agar kalian tidak diterima di perusahaan manapun!"


Faisal dan Vero melotot kaget mendengar ucapan Risty.


"Kenapa?! Tidak terima? Aku bisa saja memenjarakan kalian dengan bukti CCTV ini, tapi hukuman itu tidak sebanding dengan penderitaan adikku. Jika aku lihat kalian masih berkeliaran disekitar adikku, aku bisa bertindak lebih kejam dari ini! Sekarang enyahlah kalian dari hadapanku!" teriak Risty penuh amarah.


Erlangga menyuruh anak buahnya untuk membawa Vero dan Faisal pergi dari ruangan Riana dirawat.


Setelah kepergian mereka, Risty mendekati adiknya.


"Apa kau sudah tahu kesalahanmu Ria! Jatuh cinta itu boleh tapi b*doh jangan! Belajarlah dari kesalahanmu!" hardik Risty.


"Terima atau tidak, kamu harus menikah dengan Beny! Dia adalah ayah bayi kamu dan aku rasa, dia orang yang tepat dan mampu melindungimu dari orang-orang jahat yang akan memanfaatkanmu!"


"Baik kak,"


"Beristirahatlah! Maafkan kakak terlalu keras padamu, kakak sangat menyayangimu. Kakak hanya tidak ingin ada orang lain menyakitimu dan memanfaatkanmu, kamu sangat penting buat kakak." ucap Risty yang melembut dan memeluk adiknya penuh sayang.


Keduanya pun menangis dengan berpelukan dan sesekali Riana terus mengucapkan kata maaf pada kakaknya. Dan dia akan menuruti apapun keputusan kakaknya, dia akan mencoba membuka hatinya untuk calon suaminya dan menerima semuanya dengan ikhlas.


Setelah suasana hati mereka sudah lebih tenang, Risty pamit kepada adiknya untuk pulang bersama Bu Hana dan suaminya. Dia membiarkan Beny yang menjaga dan memberikan waktu untuk keduanya agar bicara dari hati ke hati.


***


Kini di ruangan itu, tinggal Riana dan Beny yang sama-sama terdiam seolah enggan untuk mengawali perbincangan mereka.


Beny duduk di sofa yang ada di ruangan itu dan mulai membuka laptopnya untuk mengecek email dan beberapa pekerjaannya yang terbengkalai hari ini.


Sedangkan Riana mencuri-curi pandang Beny yang sedang fokus didepan laptopnya. Entah kenapa dimatanya Beny semakin tampan dan mempesona.


Beny yang merasa diperhatikan akhirnya menatap ke arah Riana dan mulai membuka suaranya.


"Kenapa memandangku? Apa kau perlu sesuatu?" tanya Beny dengan dingin.


"Hmm, aku hanya ingin makan buah yang ada di lemari pendingin itu," ucap Riana dengan ragu-ragu.

__ADS_1


"Oke, aku ambilkan!"


Setelah mengambilkan potongan buah untuk Riana, Beny mendekati bangkar Riana dan mulai menyuapi wanita itu.


"Nggak usah kak! Aku bisa sendiri," tolak Riana yang melihat Beny akan menyuapinya.


"Sudah diamlah! Aku melakukan ini demi bayiku, jangan salah sangka," ucap Beny datar.


Entah untuk alasan apa, hati Riana merasa nyeri mendengar ucapan Beny. Dia merasa sikap Beny semakin dingin padanya, sebenarnya dia juga ingin selalu berdekatan dengan Beny, karena aroma tubuh pria itu membuat rasa mualnya sedikit berkurang. Jadi dia membiarkan Beny menyuapinya.


"Kak maafkan aku," ucap Riana yang memandang wajah pria tampan didepannya.


"Untuk apa?" tanya Beny yang masih fokus melihat ponselnya sembari menyuapi Riana.


"Maaf, berkali-kali aku udah nolak Kak Ben," ucap Riana merasa tidak enak.


"Sudahlah lupakan! Aku ingin menikahimu agar aku tidak dibilang pengecut oleh semua orang," ucap Beny masih dengan mode datar.


"Iya Kak," ucap Riana yang sedikit kecewa dengan ucapan Beny.


Entah kenapa sikapnya jadi selabil itu, tadi dia kekeh bilang jika mencintai Faisal tapi setelah tahu kebusukan Faisal, sekarang dia malah menginginkan perhatian Beny.


"Tidurlah! Jangan sampai kau terlalu lelah!" ucap Beny yang beranjak dari duduknya dan kembali ke sofa dan Riana membalasnya dengan anggukan.


Beny yang terbiasa konyol dan sangat akrab dengannya, kini telah berubah seratus delapan puluh derajat, seperti orang asing buat Riana, dia tahu pasti Beny sangat kecewa dengannya. Dia pun akhirnya tertidur dan Beny pun juga tertidur di sofa itu.


***


Keesokan paginya, Bu Hana sudah datang pagi-pagi membawakan sarapan untuk Beny dan Riana yang masih tidur diposisi mereka masing-masing.


"Ceklek!"


Mendengar suara daun pintu yang sedang terbuka, sontak membuat Beny bangun dari tidurnya dan melihat Bu Hana berjalan ke arah meja yang ada didepan sofa dan meletakan barang bawaannya disana.


"Selamat pagi Tante," sapa Beny.


"Wah Nak Beny udah bangun ternyata,"


"Iya Tante, saya hari kembali ke Yogyakarta hari ini, pesawat saya berangkat pukul 8 nanti." ucap Beny lalu melihat jam tangannya dan alangkah terkejutnya dia melihat jika jam sudah menunjukkan pukul 06.30 menit.


"Aduhh udah mepet ternyata, maaf Tante Hana, saya harus segera ke bandara takut ketinggalan pesawat saya."


Beny membereskan laptopnya dan segera memasukkannya ke dalam ranselnya kemudian dia menyalami Bu Hana lalu pamit pergi.


"Eh Nak Beny nggak sarapan dan mandi dulu? Biar aku bangunin Ria ya?" tanya Bu Hana.


"Jangan Tante! Kasian kalo harus dibangunkan, terimakasih atas tawaran sarapannya, nanti biar saya sarapan dan mandi di bandara saja, saya pamit ya Tante,"


"Hati-hati ya!"


"Baik Tante, terimakasih. Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab Bu Hana.


Selang beberapa menit setelah kepergian Beny, Riana bangun dari tidurnya dan melihat mamanya yang sudah duduk di sofa. Entah dia merasa ada yang kurang pagi itu, dia mencoba mengingat-ingat dan mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan.

__ADS_1


"Ah iya Kak Beny, kemana pria itu? Apa dia lagi di kamar mandi?" gumam Riana dalam hati.


"Lagi nyari calon suamimu ya sayang?" tanya Bu Hana tersenyum jahil.


__ADS_2