
"Ria!" Reifan berteriak memanggil Riana yang terjatuh berguling bersama Dimas.
Beberapa menit yang lalu, ekor mata Dimas memandang seorang pria mencurigakan berdiri jauh dari mereka. Dan saat Riana telah terlihat berjalan di lobby, Dimas juga melihat pria misterius itu menaiki motor besarnya, dan benar saja saat Riana telah keluar dari hotel pria itu melaju kencang ke arah Riana dan beruntungnya Dimas yang berada di kursi belakang duduk bersama Reifan, sontak berlari melindungi Riana sehingga keduanya jatuh berguling ke tanah dengan keras.
Reifan dan Shella berlari menghampiri mereka berdua, Shella melihat ada darah keluar dari paha Riana.
Petugas keamanan dan semua orang yang ada disekitar hotel, berlari mengerumuni mereka dengan panik.
"Boss Rey! Darah! Ambulan tolong!" Shella berteriak gemetaran dan panik.
Semua orang semakin ramai dan terlihat seorang petugas keamanan akan menghubungi ambulans.
Sedangkan Reifan dengan sigap menggendong Riana dan segera membawanya ke mobil mereka.
"KELAMAAN SHELLA! AYO KECEPATAN MAKSIMAL! CARI RUMAH SAKIT TERDEKAT!" teriak Reifan yang marah sekaligus gusar dan panik.
Entah perasaannya campur aduk melihat saudaranya sendiri bersimbah darah di depannya.
"Baik Boss!" jawab Shella dan masuk ke kursi kemudi.
Dimas tertatih-tatih masuk ke kursi depan samping Shella.
Dengan kecepatan maksimal Shella menggendarai mobil Reifan, sampai mereka diikuti oleh sebuah mobil polisi karena kecepatan mobil mereka diatas batas maksimal.
"Boss, polisi mengikuti kita! Bagaimana ini?" Shella semakin panik.
"Teruskan saja! Jangan kurangi kecepatan kamu! Adikku lebih penting dari apapun!"
"Baik Boss!"
Reifan tidak peduli, dia hanya ingin Riana bisa sampai rumah sakit dengan cepat.
"Rey, akh!" terdengar rintihan pelan dari mulut Riana sehingga membuat Reifan semakin panik.
"Hei jutek sayang! Kita akan segera sampai! Aku mohon bertahanlah demi kamu dan bayimu!" Rey berkata lembut pada Riana dan mendekapnya semakin erat.
"Shella! Berapa lama lagi!" seru Reifan.
"Itu didepan Boss! Kita hampir sampai,"
Saat sudah berada di rumah sakit, Reifan berlari sembari menggendong tubuh lemah suadara kembarnya dengan panik dan hampir meneteskan airmatanya.
"DOKTER! SUSTER! TOLONG ADIKKU!" teriak Rey dengan kencang.
Tim medis berlari dan segera membawa Riana kedalam ruangan untuk di periksa.
Reifan benar-benar gelisah menunggu Riana dari luar ruangan, dia mondar-mandir jalan di depan pintu lalu duduk lalu berdiri lagi, dan mondar-mandir lagi.
"Ya Allah aku mohon selamatkan adik hamba dan bayinya, aku mohon Ya Rabb," ucap Reifan dalam hati.
__ADS_1
Dimas berjalan ke arah Reifan dan mengatakan sesuatu, "Boss Rey, pengawal bayangan kita sudah menangkap baji**an itu, dan membawanya ke sebuah gedung tua."
"Bagus Dim, lalu siapa yang menyuruhnya?" tanya Reifan dengan raut wajah serius.
"Bu Gendhis yang menyuruhnya, ibu mertua Nona Riana,"
"Apa! Bre***sek! Dasar wanita tua kejam! Gendhis! Beny! Aku akan buat perhitungan dengan kalian, Baji**an!" umpat Reifan dengan amarah luar biasa dan memukulkan tangannya ke tembok dengan keras.
"Boss, Jangan menyakiti diri anda sendiri!" Shella menenangkan Reifan.
**
Selang beberapa menit berlalu, seorang dokter wanita telah keluar dari ruangan Riana diperiksa dan Rey berlari kecil mendekati dokter cantik itu.
"Bagaimana keadaan adik saya dokter?" tanya Rey dengan panik.
"Alhamdulillah, Nona Riana dan kandungannya masih bisa diselamatkan Tuan, tapi Nona harus bedrest sementara waktu tidak boleh beraktivitas berat sampai kondisi janin dan ibunya kuat."
"Alhamdulillah, terimakasih dokter!" tanpa sadar Reifan mengenggam kedua tangan kecil sang dokter.
Dokter cantik itu terkejut saat tangannya yang digenggam Reifan.
"Ehem!"
Dokter cantik itu berdehem untuk mengingatkan Reifan dan menetralkan rasa gugupnya.
"Boleh Tuan, silahkan! Tapi nona sedang tertidur karena pengaruh obat."
"Tidak apa-apa dok, terimakasih! Saya akan tenang jika bisa melihat wajahnya langsung,"
Sang dokter pun pamit pergi dan Reifan pun masuk ke dalam ruangan Riana dirawat.
Dia melihat Riana yang berbaring lemah sembari memejamkan mata, wajahnya pun terlihat sangat pucat. Mata Rey semakin memanas, hatinya terasa begitu nyeri melihat orang yang dikasihinya tak berdaya.
"Hei jutek sayang! Bangunlah, ayo kita bertengkar lagi seperti biasa. Kenapa selama ini kamu nggak cerita padaku kalau mertuamu begitu kejam padamu? Kau anggap apa aku ini? Kita biasa saling berbagi bercerita tapi beberapa bulan ini kamu tertutup padaku. Apa aku yang kurang perhatian padamu adikku sayang?" gumam Reifan lalu menghela nafasnya sejenak dan menyeka airmatanya yang jarang jatuh, terakhir kali dia menangis saat ayahnya pergi meninggalkan mereka selama-lamanya dan sekarang dia menangis karena dia merasa tidak bisa menjaga saudara tercintanya.
"Maafkan aku, pasti banyak hal menyakitkan yang udah kamu lewati. Bagaimana aku bisa menjelaskan semua ini pada Kakak, Ibu dan Mama Hana? Jika suami bodohmu itu nggak bisa menjagamu, biar kami merawat kamu. Kami akan menghujanimu dengan kasih sayang dan perhatian untukmu dan calon keponakanku. Aku sangat menyayangimu Ria!" Reifan mengenggam tangan saudara kembarnya dan mencium dahi Riana.
Terdengar berisik dari luar ruangan, seseorang mendesak masuk ke dalam ruangan Riana.
"Boss, Tuan Beny memaksa masuk! Padahal kamu sudah mencegahnya," ucap Shella yang menghadang Beny.
Hati Beny pun tak kalah pedih melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya. Dia segera menuju ke rumah sakit saat semua orang di hotel heboh dan berita kecelakaan Riana itu masuk ke telinganya dan semua yang ada disana. Dia panik dan mencari Riana ke rumah sakit terdekat dari hotel itu, dan benar saja Riana ada disana.
Beny bersama asistennya, Arletta dan Bu Gendhis masuk ke dalam rumah sakit mencari ruangan Riana di rawat. Dia melihat Dimas dan Shella berjaga di luar pintu dan saat Dia mendesak masuk ke dalam ruangan itu. Dimas dan Shella mencegahnya untuk masuk tapi Beny masih saja bersikeras menerobos masuk.
"Kita bicara diluar Ben! Jangan ganggu Riana, dia sedang beristirahat!"
Reifan mendorong Beny yang berdiri ditengah pintu sembari menatap Riana dengan sendu.
__ADS_1
Setelah mencapai luar kamar, Shella menutup pintu ruangan Riana kembali dan berjaga di depan pintu, sedangkan Reifan menatap tajam ke arah Beny dan tiga manusia yang dibawanya tadi.
"Kamu dan kalian semua tidak aku ijinkan mendekat pada adikku Riana!" ucap Reifan menunjuk keempat orang didepannya.
"Apa maksudmu Rey! Aku ini suaminya, kamu tidak berhak melarangku bertemu istriku sendiri!" Beny mulai tersulut emosi.
"Cih suami! Suami yang bagaimana yang kamu maksud! Hah! Suami yang membiarkan ibunya mencelakai istrinya sendiri?"
"Maksudmu apa Rey! Jangan berbelit-belit!" ucap Beny yang tak paham sekaligus tak sabar.
Sedangkan Bu Gendhis dan Arletta menjadi tegang dan berkeringat dingin.
"Apa kamu tahu jika Ibu kesayanganmu ini sudah menyewa seseorang preman untuk menabrak istrimu sendiri dan beruntungnya Dimas menyelamatkan Riana!" seru Reifan yang mulai emosi.
"Apa! Kau pasti bercanda! Mamiku tidak akan berbuat sekejam itu!"
"Tanyakan saja pada Ibumu sendiri! Aku sudah menangkap orang kirimannya dan membawa laki-laki itu ke kantor polisi! Jadi siap-siap saja Ibumu mendekap di penjara!" Reifan menatap tajam Beny dan Ibunya.
Beny terkejut karena tak menyangka ibunya akan berbuat sekejam itu dan Bu Gendhis semakin takut mendengar penjara telah menantinya.
"Jika kamu juga terlibat aksi kejahatan ibumu, aku pastikan kalian semua yang terlibat akan membusuk di penjara!" ancam Reifan.
"Aku tidak setega itu menyakiti istriku sendiri Rey! Tolong biarkan aku masuk melihat istriku!" pinta Beny yang begitu khawatir.
"PERGI KALIAN DARI SINI ATAU AKU AKAN MEMANGGILKAN PETUGAS KEAMANAN!" teriak Rey mengusir Beny dan keluarganya.
"Tapi Rey.."
Lima anak buah Rey berbadan besar menghadang Beny dan mengusirnya pergi.
"Mami coba katakan padaku apa benar mami menyuruh orang menyakiti istriku?" tanya Beny saat mereka sudah berada di luar rumah sakit.
"Ben, maafkan mami, mami tidak.."
"Sudah jangan diteruskan lagi! Aku sangat kecewa sama mami, bagaimana bisa mami sekejam itu. Sebenarnya hati mami itu terbuat dari apa! Hah! Hanya demi status sosial mami rela berbuat keji seperti itu, bahkan kematian Kak Bisma semua gara-gara mami! Mami memisahkan Kak Bisma dari anak dan kekasihnya sampai Kak Bisma nggak kuat lalu bunuh diri. Apa mami juga mau aku pergi meninggalkan mami juga! Apa mami senang kehilangan putra-putra mami demi ambisi mami!" Beny berteriak di depan ibunya untuk meluapkan segala amarahnya.
Beny teramat sangat kecewa dengan ibunya, bahkan dia enggan melihat wanita yang melahirkannya lagi.
"Kalau mereka menjebloskan mami ke penjara, jangan harap aku atau papi tidak akan membantu mami! Kami tidak akan peduli dengan wanita kejam seperti mami!"
"Ben, maafkan mami Ben! Mami sangat menyesal!" Bu Gendhis menangis mengikuti putranya yang terlihat berjalan meninggalkannya.
Beny memberhentikan sebuah taksi dan pergi meninggalkan ibu dan yang lainnya.
**
Beny menuju ke apartemen pribadinya, dia sangat terpukul dan sedih, dia belum sempat tahu kondisi istrinya tapi Rey melarangnya masuk ke ruangan Riana.
"Sayang, maafkan aku tidak bisa melindungimu. Aku adalah suami yang bodoh! Seharusnya aku membawamu kesini setelah tahu mamiku sejahat itu, kenapa aku tidak berfikir jika mami bisa nekad mencelakaimu. Maafkan aku sayang, aku sangat mencintaimu dan mencintai bayi kita, aku tidak akan menyerah mendapatkan kalian berdua." gumam Beny dengan perasaan yang teramat sedih.
__ADS_1