
"Hei salah satu kalian! Panggil ambulan sekarang! Cepat!" teriak salah satu dari warga yang menolong korban kecelakaan itu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya salah satu dari mereka.
"Sepertinya sudah meninggal!" jawab laki-laki yang menyuruh memanggil ambulans tadi.
"Tapi ibu ini masih bernafas, sepertinya dia masih hidup," sahut yang lainnya.
Beberapa saat kemudian, suara sirine polisi dan sirine ambulans terdengar semakin dekat di sekitar tempat kejadian, membuat suasana jalanan semakin ramai dan semakin macet karena semua pengendara juga berbondong-bondong untuk melihat korban kecelakaan itu.
Dengan sigap para tim medis membawa kedua korban kecelakaan untuk segera ditangani di rumah sakit terdekat, sedangkan salah satu dari tim polisi memeriksa TKP dan tim lainnya mengikuti tim medis ke rumah sakit.
Setelah memeriksa semua bawaan korban akhirnya tim polisi menemukan identitas korban dan segera menghubungi keluarga korban.
📞"Selamat Siang!" ucap salah satu petugas polisi pada wanita diseberang telpon.
"Iya selamat siang, anda siapa?"
"Maaf kami dari kepolisian, apa benar ini keluarga dari Ibu Hana Kamelia?"
"Be.. benar Pak sa.. saya putrinya!" ucap Risty dengan tangan bergetar.
"Maaf jika saya harus mengabari hal buruk ini, Bu Hana dan Pak Haris telah mengalami kecelakaan dan sekarang telah di larikan di Rumah sakit JMC. Apa.."
📞"Baik Pak saya akan segera kesana,"
"Tut!"
Belum petugas polisi itu melanjutkan ucapannya, Risty dengan tergesa-gesa menutup telponnya dan segera mencari kunci dari mobil papanya yang lain.
"Ada apa non?" tanya salah satu ART.
Semua ikut panik saat melihat Risty yang panik meminta kunci dari mobil koleksi milik papanya yang jarang papanya gunakan.
"Papa dan mama kecelakaan Bi!" ucap Risty dan berlalu pergi meninggalkan Mansion.
Keadaan mansion menjadi gempar dan ramai setelah mendengar kabar buruk yang baru saja Risty ucapkan pada mereka, semua pekerja di Mansion berdoa, semoga Tuan dan Nyonya besarnya baik-baik saja.
Risty menahan airmatanya agar tidak terjatuh, dia harus tegar demi kedua orangtua angkatnya. Bahkan dia tidak memperdulikan lagi sakit perutnya yang disebabkan haidnya saat itu.
30 menit berlalu kini dia telah sampai di Rumah sakit yang dia tuju. Dia berlari dan menghampiri tiga polisi yang terlihat berada di depan sebuah ruangan di rumah sakit itu.
Dengan nafas yang tersengal-sengal dia bertanya pada kepada sekumpulan polisi itu.
"Pak, saya putri dari Bu Hana Kamelia dan Pak Haris Adhytama, bagaimana keadaan papa dan mama saya?" tanya Risty sembari memandang ketiganya.
"Maaf dengan berat hati, kami harus mengabarkan jika ayah anda telah meninggal di tempat dan Ibu anda sedang mengalami koma saat ini. Untuk.."
"Apa!!! Ini nggak mungkin, papaku nggak mungkin meninggalkanku.. Mama.." teriak Risty dengan histeris.
Lalu tiba-tiba..
"Bruuuukkkk!!!"
Belum polisi itu melanjutkan ucapannya Risty sudah jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Lalu para polisi muda itu membawa Risty ke ruang perawatan untuk diperiksa, mereka begitu kasihan melihat nasib gadis cantik itu.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya salah satu polisi muda bernama Vincent itu.
"Keadaannya sudah stabil Pak, dia mengalami anemia dan karena shock, dia sampai pingsan seperti itu. Anda jangan khawatir sebentar lagi dia akan siuman, saya juga sudah memberikan vitamin agar tubuhnya tidak lemas," ucap Sang Dokter.
"Baik dok, terimakasih banyak!" ucap Vincent pada sang dokter.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak!" pamit Sang Dokter kepada ketiga polisi itu mereka pun mengangguk.
"Eh bentar aku lupa harus minta keterangan pada pada petugas yang memeriksa mayat Pak Haris tadi, aku tinggal dulu ya!" ucap salah satu teman Vincent.
__ADS_1
"Eh aku juga ikut! Masih ada yang belum aku kerjain di luar!" timpal teman satunya lagi.
"Ya udah aku juga ikut kalian keluar aja!" seru Vincent berjalan mengikuti kedua temannya.
"Ehhh!!"
Sontak kedua temannya menghentikan langkah Vincent dan dia pun sangat terkejut.
"Kamu disini aja! Jagain gadis cantik itu!" ucap salah satu temannya.
"Tapi.."
"Eh nggak ada tapi-tapian! Kalo dia butuh apa-apa siapa yang akan bantu dia?"
"Ck! Tapi aku kan bukan apa-apa dia! Biar nanti suster aja yang mengurusnya!" ujar Vincent dengan kesal.
Dia adalah polisi jadi bukan tugasnya menjaga pasien, tapi kenapa kedua temannya malah menyuruhnya menjaga gadis itu.
"Papa.. Mama.. huhuhu.." Risty mulai sadar dan menangis memanggil kedua orangtua angkatnya.
Dia ingin segera bangun dan membuka matanya tapi nyeri haid menyerang tubuhnya lagi jadi dia hanya bisa menangis sembari mengumpulkan tenaganya untu bangun.
"Tuh liat apa kamu nggak kasihan melihat gadis itu! Udah temani dulu kami mau pergi!" ucap teman Vincent lalu mereka pergi meninggalkan ruangan itu.
Mendengar tangisan Risty, Vincent berjalan mendekati bangkarnya.
"Nona! Apa kamu baik-baik aja?"
Pertanyaan Vincent membuat Risty membuka matanya dan menghentikan tangisannya.
"Se.. sejak kapan anda disini Pak?" tanya Risty sedikit terkejut.
Dia baru menyadari ternyata ada seorang polisi berada di ruangannya, dia menjadi malu dan salah tingkah.
"Aku yang membawamu kesini saat kamu pingsan tadi, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Vincent sedikit khawatir.
"Hmm!"
Setelah Risty mengumpulkan segala tenaganya, akhirnya dia bisa bangkit dari ranjangnya.
"Eh mau kemana!" seru Vincent yang terkejut dan sontak memegang lengan Risty.
"Aku ingin melihat jenazah papa dan melihat keadaan mamaku Pak!"
"Tapi kamu masih lemah!"
"Aku udah nggak papa Pak! Anda bisa tinggalkan saya, saya bisa kesana sendiri!"
"Nggak! Biar aku bantu aja!" ucap Vincent lalu membantu Risty untuk berdiri.
Vincent membantu memapah Risty untuk berjalan pelan-pelan ke arah ruang jenazah papanya.
Saat berada disana dan melihat tubuh papanya yang sudah terbujur kaku, sontak tangisnya pecah kembali. Dia menangis tersedu-sedu dan menyesali yang sudah terjadi. DIa berjongkok di bawah bangkar papanya sembari memegang tangan papanya yang sudah dingin dan kaku
"Sabar Nona, ikhlaskan aja kepergian ayahmu! Semua yang terjadi adalah garis Takdir, kita manusia tidak bisa berbuat apa-apa jika Sang Pemilik sudah mengambilnya kembali," Vincent menasehati sembari menepuk sekilas bahu Risty.
Sedangkan Risty masih menangis sembari mengingat percakapan terakhirnya dengan papanya.
*Flashback On
Pagi itu Risty terlihat masih meringkuk di ranjangnya, merasakan sakit perut dan sakit kepalanya karena efek hari pertama haidnya.
"Tok! Tok!
"Ris!" panggil Bu Hana dari luar kamarnya.
"Iya mama! Masuk aja!" jawab Risty dengan suara beratnya.
__ADS_1
"Mama dan papa udah nunggu kamu dibawah untuk sarapan! Kamu kenapa sayang?" tanya Bu Hana yang mendekati Risty kemudian memegang keningnya.
"Aku nggak demam mah! Hanya sakit perut sama sakit kepala gara-gara haid," jawab Risty yang masih meringkuk kesakitan.
"Apa perlu mama anter ke rumah sakit sayang?" tanya Bu Hana dengan cemas.
"Nggak usah mama! Nanti juga baikan, aku cuma butuh obat anti nyeri dan sedikit sarapan,"
"Baiklah kalo begitu mama ambilkan sarapan ya sayang! Mama juga akan menyuruh Pak Yanto membelikan obat untukmu,"
Pak Yanto adalah supir sekaligus tukang kebun yang ada di Mansion Pak Haris, yang bertugas mengantarkan Bu Hana kemana saja saat Pak Haris tidak berada di mansion.
"Nggak usah mah, aku masih ada kok obatnya,"
Bu Hana mengangguk dan segera membawakan Risty sarapannya.
Pak Haris merasa heran melihat istrinya kembali ke lantai atas lagi dengan membawa nampan makanan, Pak Haris menghentikan langkah istrinya dan bertanya padanya.
"Kenapa Risty sayang? Apa dia sakit?" tanya Pak Haris.
"Iya Pah, dia lagi sakit karena nyeri haid!" jawab Bu Hana lalu melanjutkan langkahnya.
Setelah mengantarkan sarapan Risty, Bu Hana kembali ke meja makan dan sarapan bersama suaminya, Pak Haris ingin mengajak istrinya jalan-jalannya karena mereka sudah lama tidak jalan-jalan berdua. Pak Haris dan Bu Hana pamit pada Risty di kamarnya.
"Ris! Gimana keadaan kamu?" tanya Pak Haris yang membuka pintu kamar putrinya.
"Alhamdulillah udah sedikit lebih baik Pah, papa sama mama keliatan rapi, emangnya mau kemana?" tanya Risty yang mencoba untuk duduk dan melihat kedua orangtua angkatnya sudah rapi.
"Kita mau kencan seharian donk! Biar kayak anak-anak muda lainnya!" canda Pak Haris sembari menaik turunkan alisnya.
"Inget umur Pah! Dasar genit!" cibir Bu Hana.
Sedangkan Risty hanya terkekeh lucu melihat keduanya.
"Jadi hari ini kamu nggak kerja nak?"
"Iya Pah,"
"Baiklah istirahatlah yang banyak sayang biar cepat sembuh! Papa sama mama mau kencan dulu. Papa boleh kan pakai mobilmu? Mobil papa soalnya mau di bawa ke bengkel,"
"Boleh banget pa! Bentar aku ambilkan kuncinya!" ucap Risty yang akan turun dari ranjangnya.
"Eh udah nggak usah turun! Biar papa ambil sendiri, kamu berbaring aja!"
Setelah Pak Haris mengambil kunci mobil Risty, dia pamit pada Risty untuk menghabiskan waktunya bersama istrinya.
"Hati-hati dijalan mama.. papa..! Jangan lupa oleh-olehnya!" ucap Risty tersenyum nyengir.
"Iya putriku sayang, cepet sembuh ya!" ucap Bu Hana lalu keduanya mencium pucuk kepala Risty dan berlalu pergi.
*Flashback Off
"Apa yang terjadi dengan mobil yang dikendarai papaku Pak?" tanya Risty tiba-tiba menghentikan tangisannya.
"Remnya tidak berfungsi Nona sehingga Pak Haris membanting setirnya ke arah pohon besar," jawab Vincent.
"Tapi kemarin malam mobil itu masih saya pakai dan remnya juga berfungsi dengan baik, saya curiga ada seseorang yang sengaja merusak rem mobil saya pak,"
"Baiklah nona, kami tim kepolisan akan menyelidiki lagi semuanya! Anda jangan khawatir,"
"Baik terimakasih Pak!"
"Kalau begitu saya tinggal dulu ya nona? Apa anda tidak apa-apa saya tinggal sendiri?" pamit Vincent dan Risty hanya membalasnya dengan anggukan.
Risty berjalan menyusuri koridor rumah sakit, dia mencari tempat dimana mamanya sedang di rawat. Dan tak lama kemudian, Risty menemukan ruangan Bu Hana dirawat. Dia melihat Bu Hana dari kaca jendela, Bu Hana terlihat menutup matanya dan lemah tak berdaya dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.
Dan lagi-lagi Risty menangis, menangis sampai matanya semakin membengkak dia benar-benar terpukul dan sedih dengan musibah besar ini.
__ADS_1
"Mama lekas sembuh ya! Risty kangen mama, Risty sayang banget sama mama! Ya Allah aku mohon berikan kesembuhan untuk mamaku, aku mohon Ya Rabb.." Risty menangis dan mendoakan mamanya dari luar ruangan.