CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 67.Si Jutek dan Si Playboy


__ADS_3

Satu bulan kemudian..


Risty tengah sibuk mempersiapkan resepsi pernikahannya bersama sang suami, terlihat dia sedang meeting bersama para tim Event organizer yang dia sewa. Dia ingin memilih sendiri konsep, gaun, MUA dan semua keperluan yang dibutuhkan untuk penikahannya. Dan adiknya Riana dengan setia mendampingi kakaknya, tak jarang juga Risty meminta pendapat pada sang adik. Sedangkan Erlangga hanya mengikuti semua kemauan istrinya, karena apa yang disukai istrinya pasti dia juga akan suka.


Kakak beradik itu berjalan beriringan saat telah menyelesaikan meeting mengenai acara pernikahan nanti, sudah dua tiga minggu ini Riana bekerja bersama kakaknya, menjabat sebagai CEO sekaligus asisten kakaknya.


Wajah Riana dan Risty tak beda jauh, sama-sama cantik. Penampilan keduanya pun sama-sama casual dan modis, tapi badan Riana sedikit lebih kurus dari kakaknya.


"Kakak ingin ke perusahaan suami kakak mengantarkan makan siangnya, biar supir mengantarkan dan kamu kembali aja ke kantor," ucap Risty pada adiknya.


"Baik kak!"


Selang tak berapa lama akhirnya Risty telah sampai di kantor suaminya.


"Tok. Tok!"


"Masuk!"


"Sayang!"


"Baby!"


Erlangga terkejut melihat istrinya yang tiba-tiba datang ke kantornya kemudian dia menghampiri istrinya lalu mencium seluruh wajah istrinya.


"Tumben kamu kesini? Apa meeting dengan EO berjalan lancar sayang?" tanya Erlangga yang melonggarkan pelukannya.


"Alhamdulillah meetingnya berjalan lancar sayang, persiapan pesta pernikahan kita sudah masuk 80% dan pekerjaanku hari ini nggak banyak, jadi aku ingin kita makan siang bersama, aku udah bawakan makanan kesukaanmu sayang!" ucap Risty menenteng kantong makanan yang telah dia bawa dari Restoran.


"Alhamdulillah sayang, aku ikut senang semua persiapan akan selesai juga, Eh kebetulan banget aku belum makan! Kamu emang istri terbaik sayang!" puji Erlangga.


"Baiklah ayo kita makan!"


Erlangga mengangguk dan mereka makan di sofa bersama. Saat dia mulai memasukan makanan kedalam mulutnya, dia teringat jika dia telah menyuruh asistennya Beny untuk mengirimkan makan siang untuk Risty ke perusahaannya.


"Baby,"


Erlangga memandang wajah istrinya.


"Ada apa bang?"


"Aku lupa kalo tadi menyuruh Beny mengantarkan makan siangmu ke kantor,"


"Wahh benarkah? Tumben abang nyuruh Beny, biasanya juga kurir yang abang suruh,"


"Kebetulan tadi Beny ijin keluar, jadi sekalian aja aku suruh anterin makan siang buat kamu,"


"Ya udah sih Abang telpon aja dia suruh balik kesini lagi, kali aja dia belum sempet ke kantorku,"


"Iya sayang,"


Terlihat Erlangga menelpon nomor ponsel Beny berkali-kali tapi tidak ada jawaban.


"Nggak diangkat telponku yang, kalo dia udah terlanjur kirim makanan itu ke kantor kamu, biar Riana aja yang makan nanti," ucap Erlangga dan Risty pun mengangguk.


Mereka pun melanjutkan makan siang mereka yang sempat tertunda.


***


Di Perusahaan Risty, PT Adhytama group, pria berparas tampan dan bermata sipit terlihat tersenyum tebar pesona saat melewati beberapa karyawan-karyawan cantik di perusahaan milik istri sepupunya dan sesekali mengedipkan sebelah matanya pada mereka hingga membuat para wanita dibuatnya salah tingkah.

__ADS_1


Riana yang memperhatikan laki-laki tampan itu dari kejauhan, dia menyadari jika laki-laki yang berjalan ke arah ruangan kakaknya adalah laki-laki yang pernah tak sengaja dia siram dengan kopi panas.


"Isshh dia lagi! Si playboy kampret, amit-amit deh jangan sampe aku punya suami kayak dia," gumam Riana lirih sembari bergidik ngeri.


Dia teringat kejadian dua bulan lalu saat dia mengobati luka akibat kopi panas yang mengenai badan atletis pria tampan itu, Beny juga sempat menggodanya sejenak.


"Flashback On


Riana mengoleskan salep khusus untuk luka bakar di badan Beny, ini kali pertamanya baginya menyentuh badan seorang pria asing, dia benar-benar gugup dan berkeringat dingin sembari menunduk karena Beny tak mengalihkan pandangannya sedikitpun pada Riana yang cantik memakai kebaya modern berwarna rose gold itu.


Tangan kecil dan halus Riana menyentuh lembut badannya, hingga membuat jantung Beny berdegup dengan tak biasa, padahal gadis-gadis cantik yang selama ini dia pacari tidak ada yang bisa membuatnya degup jantungnya seperti itu. "Perasaan apa ini?" ucap Beny dalam hati.


Bagi Beny wajah Riana memang cantik bahkan lebih cantik dari biduan yang di kejar-kejar tadi. Dia bertanya-tanya siapa gadis cantik ini, kenapa wajahnya mirip dengan Risty, dia ingin membuka mulutnya dan bertanya tapi baru membuka mulutnya, ucapan Riana menghentikan niatannya untuk bertanya lebih dalam tentang wanita didepannya itu.


"Udah selesai!" ucap Riana dengan nada ketusnya, "Merepotkan saja!" kemudian Riana mengalihkan pandangannya hendak keluar dari mobil Beny.


"Hei tunggu!" Beny memegang pergelangan tangan Riana.


Sedangkan Riana malah menatap heran pergelangan tangannya yang tak sengaja dipegang oleh Beny, kemudian menatap tajam ke arah Beny.


"Eh maaf!" ucap Beny yang menyadari kesalahannya lalu melepaskan tangannya pada pergelangan tangan Riana.


Dan itu adalah moment disaat jam mahal milik Riana tak sengaja jatuh di jok mobil Beny.


"Ada apa lagi? Tugasku kan udah selesai!"


Mendengar Riana yang jutek membuat Beny mengurungan segala pertanyaan yang ada dihatinya.


"Elah cantik-cantik kok jutek amat! Inget biasanya cewek jutek itu jodohnya jauh!" cibir Beny.


"Biarin aja! Yang penting jodohnya bukan kamu!"


"Kamu!" Riana melototkan matanya.


"Kamu nggak boleh pergi sebelum minta maaf! Ayo minta maaf dulu!"


Beny masih menahan Riana sembari tersenyum dalam hatinya, sungguh gadis yang menarik pikirnya.


Riana menghela nafasnya panjang sebelum dia mengucapkan kata maaf pada Beny, walaupun dia tidak sengaja tetap saja gara-gara kopi panas miliknya, Beny sampai terluka.


"Baiklah aku minta maaf!"


"Kok nggak tulus gitu sih minta maafnya?" goda Beny sembari menikmati wajah cantik Riana.


"Nggak tulus gimana? Ini udah 150% tulus dari hati tau!"


"Aku nggak percaya!"


"Ck! Nggak percaya ya udah!" Riana tak peduli.


"Kalo gitu catet nomer ponselmu disini, aku akan minta pertanggungjawaban jika lukaku semakin parah! Dan kamu harus mau jadi pacarku, karena ulahmu aku jadi gagal berpacaran dengan biduan tadi," pinta Beny lalu menyodorkan ponselnya di depan Riana.


"Cihh.. Katanya nggak suka sama cewek jutek, ini malah mau dipacarin! Dasar playboy plin-plan!"


"Kan bukan buat jadi istri, cuma jadi pacar, aku ini pinter lho nyenengin pacar!" ucap Beny tersenyum menyeringai.


"Dihh ogaaahhh! Amit-amit deh pacaran sama playboy kampret kayak kamu!" Riana terburu-buru membuka pintu mobil Beny dan melangkah kakinya dengan cepat untuk menjauhi laki-laki playboy itu.


"Eh! Dasar gadis jutek!" seru Beny yang melotot mendengar ejekan Riana lalu dia memandang gadis yang sudah berjalan menjauh dari mobilnya, "Tapi menarik juga sih, awas aja kalo ketemu. Aku bakal bikin kamu bucin sama aku kayak gadis-gadis sebelumnya," gumam Beny tersenyum menyeringai.

__ADS_1


*Flashback Off


"Selamat siang Nona? Benarkah anda yang namanya Riana, adik Kak Risty?" tanya Beny yang mendekati Riana dari samping tempat Riana berdiri.


"Benar, saya Riana, adik Kak Risty." Riana menoleh dan memandang lawan bicaranya, pria yang baru saja dia pikirkan.


"Kamu!" tunjuk Beny yang melotot kaget, dia benar-benar tidak menyangka gadis yang tempo hari menyiramnya kopi panas adalah adik Risty.


"Iya! Kamu nggak nyangka kan kita bisa ketemu lagi?" tanya Riana tersenyum menyebalkan.


Sedangkan Beny sontak hanya mengangguk dan masih tercengang dengan gadis yang dilihat didepannya. Baginya penampilan Riana masih saja cantik walau dia memakai setelan baju kantor yang rapi, terlihat semakin dewasa dan se**i dimatanya.


"Ck! Liatnya biasa aja kale pak!" Riana tiba-tiba sebal melihat Beny yang memandangnya tanpa berkedip.


"Eh iya maaf!" Beny tersadar dari lamunannya.


"Ada perlu apa kesini?" tanya Riana tanpa basa-basi dengan mode juteknya lagi.


"Huh! Juteknya nggak kelupaan ya! Harusnya kamu bisa bersikap ramah saat di tempat umum! Bagaimana kalo aku adalah investor terbesar di perusahaan ini, bisa-bisa aku cabut semua investasiku di perusahaan ini, karena salah satu petinggi perusahaannya tidak ramah."


"Cihhh.. itu nggak mungkin! Memangnya aku nggak tau kamu itu sepupu Kak Erlangga!"


"Eh bagaimana kamu bisa tahu?" Beny mengernyit heran.


"Udah jangan basa-basi! Mau apa kamu kesini?" tanya Riana.


Bukannya menjawab, Beny malah mengetok pintu ruangan Risty.


"Tok.. Tok!"


"Kak Risty! Ini aku Beny!" teriak Beny, belum dijawab oleh Risty, dia malah langsung masuk ke ruangan itu. Dia malas berbicara dengan gadis jutek dan angkuh didepannya tadi.


"Ceklek!"


Beny berjalan masuk ke ruangan Risty lalu duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Hei!" panggil Riana pada Beny.


"Belum jawab malah main masuk aja! Kamu itu nggak sopan mengabaikan pertanyaan orang!" Riana mendengus kesal.


"Kamu sendiri juga nggak sopan! Malah nyalahi orang lain, beda banget ya kamu sama kakakmu. Kak Risty itu baik, ramah dan dewasa!"


"Kamu!" Riana melototkan matanya karena kesal, mendengar ucapan Beny yang membandingkannya dengan kakaknya.


"Apa! Aku ngomong kenyataan kan! Lagian ngapain kamu ketus terus sama aku, salah aku apa sama kamu! Ketemu juga baru dua kali ini!" Beny kesal dengan sikap jutek Riana.


Riana terdiam, tiba-tiba dia juga berfikir. Kenapa dia jadi jutek sama Beny, padahal mereka tidak begitu kenal dan baru bertemu dua kali ini. Entah karena sifat Beny yang playboy atau karena dia kesal Benny menggoda para wanita karyawan kakaknya.


"Kak Risty nggak ada di kantor, dia pergi ke perusahaan Kak Angga," akhirnya Riana berbicara sedikit lembut dan Benny menyeringai dalam hati.


"Gitu donk kan enak didengarnya! Coba kamu kayak gini daritadi, kak kita nggak berdebat terus daritadi. Padahal kamu cantik banget lho kalo lagi kalem gini,"


Akhirnya Beny mengeluarkan gombalan recehnya lagi dan Riana hanya memutar malas bola matanya. Sungguh playboy sejati pikirnya.


"Ya udah kalo gitu aku balik dulu! Ini kamu makan aja, ini makanan kiriman buat Kak Risty dari Bang Angga. Pasti mereka udah makan siang di kantor Bang Angga." pamit Beny kemudian berlalu pergi meninggalkan Riana yang masih terpaku ditempatnya berdiri.


"Kak tunggu!" panggil Riana dan menghentikan langkah Beny.


"Iya?" Beny menatap Riana dengan tatapan bertanya.

__ADS_1


"Aku minta maaf atas sikap jutekku ke kakak, aku sadar kalo kita sekarang adalah keluarga. Jadi udah seharusnya kita akrab layaknya keluarga," ucap Riana dengan sedikit malu sedangkan Beny tersenyum melihat Riana yang berubah menjadi gadis yang manis, "Mari kita mulai dari awal, kenalin aku Riana Amartha Adhytama dan aku adalah adik Risty," Riana mengulurkan tangannya didepan Beny.


__ADS_2