
"Selama satu tahun setelah kematian keluargaku, aku terus mencari penjahat itu. Hingga aku menemukannya di sebuah kota terpencil, dia berganti identitas dan sering keluar masuk club malam. Beberapa hari aku membuntutinya dan memikirkan cara bagaimana aku melenyapkannya tanpa jejak. Dengan dibantu seorang teman lamaku, aku membuatnya pergi selamanya dari dunia, dengan membuat seolah mobilnya kecelakaan murni." ucap Hasan dengan raut wajah sedihnya.
Lagi-lagi Alfi hanya bisa menahan segala keterkejutannya, dia tidak menyangka ada sisi lain dari sifat penyabar dan penyayang dari seorang Hasan.
Hasan sedih bukan karena dia menyesal membalaskan dendamnya pada pria itu, tapi dia takut karena obsesinya untuk membalas dendam, membuat kedua orangtuanya tidak merasa tenang disana dan juga membuat Tuhan-nya menjadi murka, karena dia sangat tahu dia telah melakukan dosa besar.
"Aku seorang pemb***uh Al, aku sangat menyedihkan. Aku tak memiliki siapapun lagi di dunia ini, hidupku sudah tidak penting lagi sekarang. Hanya kehampaan dan kesedihan saja disini," ucapnya sembari menekan rasa nyeri di dadanya, "Yang aku bisa hanya memohon ampun dengan sepenuh hati kepada Sang Penciptaku, semoga Dia mau menerima taubat hamba-Nya yang hina ini."
Ingin rasanya Alfi memeluk pria rapuh itu dan mengatakan jika dia akan selalu ada disampingnya, agar pria itu tidak merasa sendirian. Tapi keinginannya itu hanya bisa dia simpan dalam hati saja.
”Mas, semua orang memiliki masa lalu yang kelam. Yang terpenting, sekarang kita menyadari jika yang pernah kita lakukan itu memang sangat salah dan berdosa. Aku tahu Mas Hasan adalah orang yang sangat baik, semoga Allah menerima permohonan ampun dan taubat kita," ucap Alfi sembari menggenggam tangan Hasan.
"Amiiiinnn Ya Robbala'laminn.. Beristirahatlah Al! Terimakasih sudah mau mendengarkan ceritaku," ucap Hasan yang kemudian mengecup tangan Alfi singkat sebagai tanda terimakasihnya.
"Sama-sama mas, terimakasih sudah bercerita dan percaya sama aku."
Hasan balas mengangguk, kemudian Alfi pergi ke kamarnya menyusul sang putra untuk beristirahat.
Semalaman Hasan memikirkan Alfi, dia semakin menyukai wanita itu, baru kali ini dia merasa nyaman saat berbicara dengan seorang wanita. Dia merasa Alfi adalah tipe wanita yang tepat dan sangat cocok untuk dijadikannya istri. Dia ingin menyatakan perasaannya pada wanita itu, tapi dia takut ditolak dan lebih parahnya lagi Alfi menjauhinya. Dia terus berfikir dan akhirnya lama-lama dia ketiduran.
Sedangkan di kamar dimana Alfi dan Ardy tidur, Alfi terus memikirkan Hasan juga, dia ingin sekali memeluk dan mengatakan pada pria itu jika ada dirinya sekarang yang akan selalu mendampinginya agar pria itu tak merasa sendirian di dunia ini, tapi dia tidak seberani itu memeluk seorang pria yang bukan siapa-siapa baginya.
**
Keesokan paginya Hasan mengantar Alfi ke rumah sakit untuk bertemu dengan Pak Chandra dan Bu Gendhis yang masih koma.
Pak Chandra begitu antusias bertemu sang cucu, dia juga meminta maaf atas segala perlakuan buruk sang istri pada Alfi di masa lampau.
Pak Chandra juga ingin Alfi dan Ardy tinggal sementara waktu di mansionnya, bahkan jika Alfi dan putranya seterusnya tinggal disana dia malah sangat senang.
Dan hari itu juga, Alfi dan Ardy mulai tinggal di mansion milik Pak Chandra.
Beny dan Riana yang sebelumnya tinggal di apartemen, kini bersedia menemani keduanya untuk tinggal disana.
Pada malam harinya, Riana mengajak Hasan untuk makan malam bersama mereka dan memotivasi Hasan agar mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya pada Alfi.
Sedangkan Hasan yang mendapatkan dukungan dari Sang Boss dan istrinya, dia pun bertekad mengatakan segala perasaan yang selama ini dipendamnya, tak peduli bagaimanapun hasilnya nanti.
Malam setelah mereka menyelesaikan makan malam, Beny dan Riana keluar ke taman dan menemani Ardy bermain di luar dan memberikan kesempatan agar Hasan dan Alfi bisa lebih leluasa berbicara.
"Ah kenapa kita malah berdua ya disini? Seharusnya kita tadi ikut mereka ke taman," ucap Alfi memecah kecanggungan.
"Tunggu Alfi," cegah Hasan saat Alfi akan beranjak dari tempat duduknya.
"Iya Mas Hasan," Alfi menoleh dan memandang kearah Hasan dengan malu-malu.
Dan pada malam itu Hasan pun melamar Alfi, dan Alfi pun tak menolak lamaran Hasan. Dia bersyukur ternyata pria yang disukainya itu juga menyukainya.
"Tolong beri aku waktu untuk mengatakannya pada Ardy, jika dia setuju dengan hubungan kita, aku bersedia menikah denganmu mas." ucap Alfi dan Hasan mengangguk tersenyum.
"Sejak kapan kamu menyukaiku Al?" tanya Hasan penasaran.
"Sejak Mas Hasan ada dihidup kami, Mas Hasan adalah sosok yang luar biasa bagiku dan Ardy. Terimakasih selalu ada buat kami mas," ucap Alfi dengan tulus.
__ADS_1
"Sama-sama Al! Yang terpenting saat ini buatku, perasaan kita memang sama. Aku mencintaimu Al," ucap Hasan sembari mengelus pipi Alfi dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu mas," balas Alfi.
**
Dan selama tiga bulan lebih, hubungan Alfi dan Hasan semakin serius, bahkan saat acara aqiqah putra Beny dan Riana, Hasan melamar Alfi langsung ke Pak Chandra sebagai orangtua angkat Alfi.
Dan semua pun bahagia dengan niat baik Hasan, terutama Alfi sendiri.
Ardy juga sangat bahagia akhirnya dia memiliki papa, apalagi yang akan menjadi papanya adalah Hasan, pria yang selama ini sangat dia sayangi dan dianggapnya papa sendiri.
Saat Hasan telah mengantongi restu dari Pak Chandra dan Bu Gendhis, dia meminta cuti pada Beny untuk pergi ke kampung halaman Alfi dan meminta restu langsung pada calon sang ayah mertua yang sebenarnya.
Tiga hari mereka menginap di kampung halaman Alfi, ayah Alfi dan dua adiknya sangat senang dengan kedatangan ponakan dan sang kakak, apalagi kakaknya datang bersama calon kakak ipar mereka.
Ayah Alfi pun sangat senang dengan niat baik Hasan, dia merestui putrinya menikah dengan Hasan.
Selama tiga bulan lebih Alfi
berada Yogyakarta, dia selalu menyempatkan pulang kampung dua minggu sekali, karena jarak mansion Pak Chandra dan kampung halamannya hanya sekitar 5 jam perjalanan darat.
Keadaan ekonomi keluarga Alfi pun juga semakin membaik, sejak Alfi bekerja di perusahaan Riana dan mengelola minimarket serta online shopnya yang ada di Bali, dia menjadi seorang pengusaha dan wanita karir yang lumayan sukses. Dia bisa menyekolahkan adik-adiknya ke perguruan tinggi, membangun rumah sederhananya menjadi rumah yang besar dan modern.
**
Satu bulan kemudian, pernikahan Alfi dan Hasan akan segera di gelar, dan hari ini adalah hari yang telah ditunggu pasangan calon pengantin itu.
Pernikahan itu di selenggarakan disebuah gedung di tengah pusat kota Yogyakarta.
Acara pernikahan Hasan dan Alfi juga dihadiri oleh seluruh keluarga Beny maupun Riana, semua orang turut berbahagia di acara itu.
"Apa kau senang sayang?" bisik Hasan yang berada di kursi pengantin bersama mempelai pengantin wanitanya.
"Iya mas," jawab Alfi berbinar bahagia.
"Persiapan dirimu sayang! Aku udah nggak sabar membuatkan adik untuk Ardy," bisiknya lagi.
Mendengar ucapan Hasan, sontak wajah Alfi memerah karena malu, lalu dia mencubit pelan pinggang suaminya.
"Auww!" Hasan berpura-pura kesakitan.
"Kamu menganiayaku sayang! Nanti aja kalau mau aniaya aku, saat kita di kamar!" goda Hasan dan semakin membuat Alfi malu.
"Auuww!"
Alfi mencubit lagi pinggang suaminya.
"Sakit sayang! Jangan cubit terus!" keluh Hasan.
"Biarin! Habis mesum banget sih mas!" ucap Alfi lalu membuat pandangan matanya kesembarang arah.
Dia benar-benar tidak tahan melihat tatapan jahil suaminya, ingin rasanya dia mengigit pipi pria yang berstatus suaminya itu.
__ADS_1
Saat sesi pesta dansa berlangsung, semua pasangan turun ke lantai, dan berdansa bersama pasangan masing-masing, sang pasangan pengantin pun ikut berdansa bersama para pasangan yang lain.
Riana berdansa dengan Beny sedangkan Baby Bryan sedang berada di gendongan Bu Aminah. Risty pun juga tak mau kalah, walaupun dengan kondisi hamil besar dia juga mengajak Erlangga untuk ikut berdansa.
Di tengah-tengah sesi dansa berlangsung, tiba-tiba Risty merintih kesakitan.
"Arrrrghhhh!" teriak Risty merasakan nyeri di inti tubuhnya.
"Ada apa sayang?" tanya Erlangga dengan panik.
Beny, Riana dan pasangan pengantin yang berada dekat bersama mereka, ikut panik dan menghentikan dansa mereka dan melihat ke arah Risty dengan cemas.
"Sepertinya aku mau melahirkan sayang!"
"Apa melahirkan!" teriak Erlangga semakin panik.
Risty pun mengangguk, lalu tiba-tiba dia merasa ada cairan keluar dari inti tubuhnya dan merembet ke paha lalu ke kakinya.
Semua pun ikut panik mendengar Risty akan melahirkan.
"Ayo sayang kita kerumah sakit sekarang!" Erlangga hendak memapah Risty tapi Risty merasakan nyeri lagi pada tubuhnya.
"Aarrrrghhhhh! Nggak bisa sayang! Sepertinya air ketubannya udah pecah,"
"APA!!" semuanya berseru panik.
Erlangga segera menggendong istrinya ke mobil, dalam keadaan binggung dia melemparkan kunci mobilnya ke arah Hasan.
"AYO CEPAT ANTARKAN KAMI KE RUMAH SAKIT!" teriak Erlangga yang kemudian dia berjalan tergesa-gesa ke mobilnya sedangkan yang lain hanya mengaga tak percaya.
Hasan yang akan beranjak pergi, dicegah oleh Beny.
"Hei biar aku aja yang anterin Bang Angga dan Kak Risty!" ucap Beny memegang bahu Hasan.
Belum Hasan menjawab, Erlangga sudah berteriak memanggilnya.
"WOY! AYO CEPETAN!" teriak Erlangga yang sudah agak menjauh, Hasan pun mengangguk lalu mengejar keduanya.
Semua keluarga pun juga tergesa-gesa mengejar mereka juga.
Hanya Pak Chandra, Bu Gendhis dan Alfi yang tetap tinggal untuk menyambut para tamu.
"Astaga pi, ini kenapa Hasan malah dibawa Erlangga ke rumah sakit? Ini kan hari pernikahannya! Kasihan Alfi harus menemui tamu sendirian." keluh Bu Gendhis.
Sedangkan Alfi dan Pak Chandra hanya menahan tawanya, dia tahu Erlangga hanya panik dan tak menyadari jika yang dia suruh adalah seorang pengantin pria.
"Namanya juga orang panik mi, udah biarin aja! Yang penting Risty cepat ditangani, bentar lagi Hasan juga pulang," ucap Pak Chandra.
"Iya mi, biarin aja Mas Hasan bantu mereka dulu, aku nggak papa." sahut Alfi.
Di jalan raya, Hasan melajukan mobilnya dengan kencang agar cepat sampai ke rumah sakit dan diikuti beberapa mobil milik Keluarga Aryarajasa dan Keluarga Adhytama.
Saat mereka berhenti di lampu merah, Erlangga begitu tak sabar, apalagi Risty terus merintih kesakitan.
__ADS_1
"Hei cepat terobos aja lampu merahnya!" ucap Erlangga tak sabar.
"Hah!" Hasan terkejut.