CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 37.CLARA


__ADS_3

"Ndak usah menghamburkan uang buat adik-adikmu nduk! Lagipula kan baju-baju mereka masih bagus-bagus! Mending uangnya ditabung buat nikahan kalian nanti!" nasehat Bu Desi.


"Aaahh Ibu ini! Kami udah seneng lho ini Bu, jangan dibatalin lah jalan-jalannya! Lagian kita kan udah lama nggak jalan-jalan bareng sama Mas Rizal Bu!" ucap Firman merajuk.


"Husstt! Ngomonge dijogo le!" Bu Desi memperingatkan.


"Nggak papa Bu, kan nggak setiap hari juga ngajak jalan-jalan dan membelanjakan adik-adik. Saya dan Bang Rizal jarang bisa pulang karena sibuk bekerja, jadi saya ingin memanfaatkan waktu saya dengan baik disini, untuk menyenangkan adik-adik, bapak dan juga ibu. Jadi jika ibu dan bapak menganggap saya putri kalian, tolong jangan tolak keinginan saya," ucap Yona dengan lembut.


"Oalah nduk! Kamu memang baik hati ya! Ibu jadi nyesel dulu nggak begitu peduli sama kamu saat pertama kamu kesini, maafkan bapak sama ibu ya nduk!" ucap Bu Desi dengan tulus dan mengenggam tangan calon menantunya.


"Nggak papa Bu, semua sudah berlalu! Saya juga sudah lupakan, yang penting bapak dan ibu sekarang sudah sayang sama saya," ucap Yona membalas genggaman tangan Bu Desi.


"Pasti itu nak! Kamu jangan khawatir soal itu!" Pak Budi menimpali.


Dan sesaat kemudian mereka berangkat jalan-jalan dengan mobil Avanza hitam yang dulu di beli oleh Rizal saat awal dia diangkat menjadi manajer keuangan. Bukan mobil baru tapi Rizal bahagia bisa membawa keluarganya jalan-jalan bersama dengan mobil hasil kerja kerasnya.


Setelah 5 hari berlalu dengan penuh kebahagiaan, akhirnya Yona dan Rizal berpamitan untuk kembali lagi ke Ibukota tempat mereka bekerja. Dan melakukan segala aktivitas mereka seperti biasanya.


***


Setelah 6 bulan berlalu...


Risty masih setia dengan kesendiriannya. Dan kabar tentang perceraiannya pun telah diketahui publik karena berkali-kali Risty hadir bersama asistennya saja di acara-acara besar untuk para pengusaha tanpa pasangannya.


Dan kabar besar itu dengan cepat terdengar di telinga pengusaha-pengusaha single maupun yang sudah beristri, banyak dari mereka terang-terangan mendekatinya tapi Risty seolah menutup diri untuk mereka semua. Bahkan ada yang nekad datang secara langsung ke Mansion Pak Haris untuk melamar Risty, tapi Risty selalu menolak lamaran mereka secara halus.


Jika ditanya apakah dia trauma? Tentu saja tidak, berkali-kali dia terluka karena cinta tapi lama-lama semua jadi biasa untuknya, dia telah menjelma menjadi wanita yang lebih kuat dari sebelumnya. Jadi untuk masalah percintaan selalu saja dia kesampingkan, bukannya dia sudah tidak ingin menjalin suatu hubungan tapi dia hanya belum menemukan seseorang yang tepat yang bisa membuat hatinya bergetar dan jatuh cinta.


Hari Minggu adalah hari biasa Risty menghabiskan waktu untuk bercengkrama bersama kedua orangtua angkatnya. Saling bercanda dan berbagi cerita, Pak Haris dan Bu Hana begitu bahagia melihat Risty bisa tersenyum lepas lagi walaupun di usia mudanya dia harus menyandang status "Janda Muda" tapi mereka lega tidak akan ada yang akan menyakiti putri kesayangannya itu.


"Jadi, kapan acara pernikahan asistenmu itu sayang?" tanya Bu Hana pada Risty.


Pak Haris, Bu Hana dan Risty sedang duduk di taman yang berada di Mansion mereka sembari ngopi dan makan cemilan buatan ART mereka.


"Dua minggu lagi mah, acaranya dua hari di Bogor di kampung Yona dan seminggu kemudian dua hari di kampung Rizal di daerah Sidoarjo dekat sama Kota Surabaya, apa mama mau ikut ke Bogor bersamaku?" tanya Risty.

__ADS_1


"Iya donk mama harus ikut? Yona kan pegawai terbaik kita, kita harus andil untuk acara besarnya. Lagipula mama juga udah lama nggak jalan-jalan, mama pingin healing tipis-tipis dari pada dirumah terus. Papa mau ikut sekalian nggak?" tawar Bu Hana pada suaminya.


"Dua Minggu lagi aku ke Kalimantan mah mau meninjau perusahaan kenalan papa! Kenalan papa ingin menjual 50% saham perusahaan kelapa sawitnya sama papa. Papa mau coba peruntungan bisnis produk yang berbahan kelapa sawit, pasti nanti banyak untungnya," ujar Pak Haris.


"Wahh peluang besar itu Pah, apalagi harga minyak goreng juga lagi naik. Emangnya kenapa saham mereka dijual Pah?" tanya Risty.


"Biasalah banyak hutang! Kabarnya sih gaya kehidupan keluarga pemilik perusahaan itu kelewat hedon. Tapi papa sih nggak peduli yang penting papa mau cepet beli sahamnya daripada nanti dijual ke pengusaha lain." ujar Pak Haris dan Risty mengangguk tersenyum.


"Semoga lancar ya pah!"


"Amiinnn.. terimakasih sayang!" ucap Pak Haris memegang lembut pipi putri kesayangannya dan Ristypun kembali tersenyum.


Baginya Pak Haris dan Bapak kandungnya, Pak Heru seperti dua orang yang sama, sama-sama sosok Ayah yang baik dan penyayang. Dia sangat bersyukur menjadi bagian dari keduanya.


"Plokk! Plokk! Plokk!"


"Wahh.. manis sekali hubungan ayah dan anak ini! Aku sampek iri ngeliatnya," ucap Gadis muda yang tiba-tiba muncul.


Gadis itu terlihat masih muda, berusia sekitar 20 tahunan. Wajahnya cantik dan imut, sedikit mirip Pak Haris dan hampir mirip Risty juga. Rambutnya hitam panjang terurai, tinggi badannya juga hampir sama dengan Risty sekitar 160 cm tapi tubuh gadis itu langsing dengan dada yang tidak terlalu besar, berbeda dengan Risty yang bertubuh sintal dengan dada yang sedikit oversize.


"Hallo Papa! Gimana kabar papa?" ucap gadis muda itu dengan tersenyum manis lalu mendekati Pak Haris.


"Papa?" gumam Risty lirih.


"Kenapa kamu kesini Clara?" tanya Pak Haris dengan sedikit kesal.


"Ya apalagi! Kangen papa lah! Masa anak kandung nggak boleh kangen bapaknya sendiri! Lagian papa ini bukannya seneng anak kandungnya dateng malah lebih perhatian sama anak pungut!" ucap Clara dengan ekspresi menyebalkan.


"JAGA UCAPANMU CLARA!" bentak Pak Haris.


"Anak pungut? Anak kandung? Ini ada apa sih sebenernya? Apa ada masalah besar yang Papa Haris sembunyikan dari aku dan mama?" tanya Risty dalam hatinya.


"Kenapa? Apa papa takut kebusukan papa diketahui sama istri dan anak pungut papa!" ucap Clara dengan sinis.


"Clara jaga sikapmu disini! Dan istriku udah tahu semua tentang kamu! Jadi hormati dia sebagai tuan rumah di Mansion ini!" Pak Haris memperingatkan.

__ADS_1


"Ahh iya aku sampai lupa menyapa Mama tiriku! Hallo Mama Hana, apa kabar? Aku akan memperkenalkan diri secara resmi kepada kalian. Aku Clara Feronica Adhytama, putri kandung dari Pak Haris Adhytama dan Bu Rosa Febriana." ucap Clara berpura-pura manis.


Risty begitu terkejut mendengar bahwa Pak Haris memiliki putri kandung dari wanita lain, dia bertanya-tanya apakah Bu Hana selama ini telah mengetahui tentang semua ini? Dia begitu khawatir dengan perasaan mama angkatnya itu. seketika dia menoleh pada mama tercintanya memandang mata teduhnya yang menyimpan kekecewaan dan mata itu terlihat tegar dari yang dia kira, tidak ada sedikitpun air mata disana atau sebuah ekspresi keterkejutan. Jadi dia menyimpulkan jika Bu Hana telah tahu dengan keberadaan Clara dan istri lain dari suaminya.


"Aku bukan mamamu! Dan jangan panggil aku mama dirumahku!" ucap Bu Hana dengan intonasi yang tegas.


"Ya udah sih terserah kalo nggak mau dipanggil mama, yang penting aku kesini untuk mengambil hakku sebagai anak kandung dari papaku!" ucap Clara tak peduli.


"Kamu mau minta apa lagi dariku! Segala kemewahan udah aku penuhi semua! Apapun yang kamu minta selalu aku berikan, asal kamu tidak menampakkan wajahmu disini! Tapi kamu dan mamamu malah melanggarnya!"


"Kasih sayang papa yang nggak aku dapetin! Papa lebih sayang anak pungut itu daripada aku! Apa papa nggak sadar yang putri kandung papa itu aku bukan dia!" teriak Clara dengan berderai airmata.


"Tapi dari awal aku tidak menginginkan kamu! Jadi bersyukurlah aku masih memberikan kamu segalanya tanpa kekurangan apapun!" ucap Pak Haris dengan dingin.


Pada kenyataannya dia memang tidak menginginkan kehadiran gadis itu dikehidupannya, baginya Clara dan Rosa mamanya adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia hanya memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah tanpa memiliki keinginan untuk lebih dekat dengan gadis itu hanya karena rasa bersalahnya pada Bu Hana istri tercintanya.


Sedangkan Risty hanya terdiam sembari mendengarkan perdebatan ayah dan anak itu.


"Baiklah aku tidak akan pernah lagi memaksa papa untuk menyayangiku, karena sebenarnya aku juga sangat membenci papa! Jadi aku tidak akan berpura-pura lagi, aku kesini ingin mengambil hakku! Saham 30% dari perusahaan Papa! Karena Papa sendiri kan yang udah janji akan berikan saham 30% untukku saat usiaku udah 19 tahun! Dan sekarang aku udah 19 tahun, aku berhak mendapatkan saham itu dan menduduki jabatan tinggi salah satu perusahaan papa!" ucap Clara dengan menahan amarahnya.


Dia sangat kecewa dengan laki-laki yang dia sebut papanya itu, mungkin dulu kedua orangtuanya telah melakukan kesalahan dan tidak menginginkan kehadirannya, tapi bukan berarti dia tidak pantas mendapatkan kasih sayang papanya. Dia selalu iri dengan anak-anak lain yang memiliki keluarga sempurna, bukan seperti dirinya yang tidak diakui dan diabaikan oleh ayah kandungnya sendiri.


"Aku tidak mengijinkan kamu memiliki jabatan apapun di perusahaan karena kamu belum berpengalaman dalam mengatur jalannya perusahaan tapi kamu tetap akan mendapatkan hak kamu berupa profit setiap bulan dari saham milikmu! Kuliah saja yang benar, jika kamu sudah siap, aku akan mengajarimu mengatur perusahaan dengan baik!"


"Aku emang akan kuliah di Ibukota dan akan tinggal disini," ucap Clara dengan enteng.


"Aku tidak mengijinkan kamu tinggal di mansion milikku!" ucap Bu Hana dengan tegas.


"Tapi aku juga anak papa dan aku juga berhak tinggal disini! Bukan hanya anak pungut itu!" Clara meninggikan suaranya.


"CLARA JAGA UCAPANMU! Risty bukan anak pungut dia juga sepupumu! Selama ini dia yang berjasa memajukan perusahaan papa dan kamu juga menikmati kemewahan dari hasil kerja kerasnya! Jadi jangan mengatainya anak pungut lagi!" Pak Haris memperingatkan.


Mendengar ucapan papanya Clara hanya menahan segala amarah dengan mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena kenyataannya dia belum melakukan apapun untuk kemajuan perusahaan.


"Aku akan membelikan kamu apartemen yang dekat dari kampusmu nanti! Jadi jangan mengusik ketenangan istriku dan Risty di rumah ini!" ucap Pak Haris dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2