
Alfi dan Hasan limbung dan karena sama-sama tak siap mereka terjatuh ke lantai dengan posisi badan Hasan menimpa Alfi.
Seperkian detik, pandangan mata mereka bertemu sesaat. Mengagumi keindahan wajah mereka satu sama lain dalam hati.
"Ah maaf Al, aku nggak sengaja!" ucap Hasan yang menyadari jika posisinya salah.
Dia segera berdiri kemudian meraih tangan Alfi untuk membantunya berdiri juga.
"Nggak papa mas, aku juga minta maaf."
Keduanya menjadi salah tingkah dan tersenyum malu-malu lalu sama-sama melemparkan pandangan mereka ke sembarang arah.
"Eh emangnya apa yang terjadi? Apa kamu terluka?" tanya Hasan yang kini memandangnya dengan rasa khawatir.
"Aku nggak kenapa-napa mas, aku cuma kaget aja kenapa isi dapurku jadi seperti supermarket. Banyak banget mas bahan makanannya, itu sih bukan buat sebulan tapi buat setahun!" Alfi menepuk dahinya.
"Ah itu, aku cuma nggak ingin kamu repot-repot belanja di luar lagi." jawab Hasan asal sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Padahal Hasan sebenarnya tak suka jika Alfi sering keluar rumah, Entah dia hanya merasa kesal saat banyak laki-laki yang membicarakan kecantikan Alfi di belakangnya. Dia tahu pria-pria di desa Alfi, ada beberapa yang mengagumi dan mencoba mendekati Alfi, tapi Alfi sendiri menutup dirinya dari laki-laki lain.
Sedangkan Alfi hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya, kenapa belanja menurut Hasan jadi membuat repot untuk dirinya? Padahal salah satu kesenangan seorang wanita adalah saat mereka belanja dan memilih barang kesukaan mereka.
"Mama!" panggil Ardy.
Keduanya pun menoleh ke sumber suara.
"Wah anak mama udah bangun ternyata, sini sayang!" Alfi melambaikan tangannya ke arah sang putra.
"Om Hasan belum pulang?"
"Belum ganteng," Hasan membawa Ardy di pangkuannya saat bocah itu mendekat padanya.
Alfi melanjutkan masaknya kembali sembari mendengarkan putranya berceloteh.
"Apa Om akan bobok disini denganku?"
"Hm, belum bisa ganteng. Om akan menginap di rumah Pak Made dan besok akan kesini lagi."
"Tapi aku maunya bobok sama Om Hasan, aku ingin dibacain cerita sama Om," pinta Ardy.
Hasan binggung memilih kata-kata halus untuk menolak permintaan bocah laki-laki itu. Dia tidak mungkin tinggal serumah dengan Alfi saat ini, bisa-bisa penduduk desa akan menikahkan mereka saat itu juga.
"Ardy sayang! Nggak boleh gitu nak, Om Hasan kan juga masih ada perlu sama Pak Made, jadi Om harus bobok disana. Apa Ardy senang Kalau Pak Made marah sama Om?" sahut Alfi, yang terpaksa berbohong.
Dia tahu Hasan sedang binggung memikirkan alasan yang tepat.
Ardy menggelengkan kepalanya cepat.
"Jangan khawatir jagoan, pagi-pagi sekali Om akan kesini dan kita akan jalan-jalan ke mall lagi ya!"
"Beneran Om?" tanya Ardy berbinar bahagia.
"Hm, beneran sayang!"
"Makasih Om," lagi-lagi Ardy memeluk Hasan dengan erat karena bahagia dan Hasan pun ikut tersenyum bahagia melihat tingkahnya.
__ADS_1
Sedangkan Alfi pun tak kalah bahagianya melihat putranya. Dia sangat bersyukur, kini mereka dikelilingi orang-orang baik yang menyayangi mereka.
Alfi menyodorkan kopi untuk Hasan dan susu untuk putranya juga cheese cake dingin yang sudah Hasan belikan tadi, sembari menunggu masakannya matang.
"Makasih Al," Hasan tersenyum lembut.
"Makasih Mama," diikuti Ardy juga tersenyum manis.
"Sama-sama,"
Dalam waktu 30 menit, kini masakan Alfi pun telah selesai. Dia membuat steak daging dengan saos barbeque, sayur dan nasi sebagai pelengkapnya. Dia tahu, Alfi maupun Hasan adalah orang Jawa, jadi bagi orang Jawa belum makan namanya jika belum ketemu dengan nasi.
"Wah enak nih kayaknya!" puji Hasan saat melihat steak lezat didepannya.
"Pasti donk masakan mamaku yang paling enak Om!" ucap Ardy bangga.
"Iya kah?" tanya Hasan lalu Ardy mengangguk, "Okelah, Om akan nilai nanti,"
"Ayo dimakan mas! Semoga cocok dilidah mas,"
"Aku suka nih yang kayak gini, steaknya pake nasi bukan pake kentang." Hasan tersenyum lucu.
"Kita orang Jawa mas, belum bisa dibilang makan kalo belum ketemu nasi." timpal Alfi dan Hasan pun terkekeh.
Mereka bertiga pun akhirnya makan dengan tenang.
Hasan merasakan setiap detail rasa masakan Alfi, begitu cocok dan enak dilidahnya. Dia pun tak segan memuji masakan Alfi.
"Makasih ya Al makan malamnya, enak banget lho kayak masakan ala resto beneran." puji Hasan.
"Sama-sama mas, wah beneran enak mas?" Alfi berbinar dan Hasan pun mengangguk, "Makasih mas,"
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, kini Alfi dan Hasan duduk di karpet di ruang tengah sembari menemani Ardy bermain mainan yang sudah dibelikan Hasan juga. Dan lagi-lagi Alfi dan putranya begitu sangat bahagia mendapat perhatian luar biasa itu.
"Terimakasih sudah luar biasa baik pada kami mas," ucap Alfi.
"Aku nggak ngerasa ngelakuin apa-apa Al, lagipula ini kan uang papa Ardy sendiri, jadi semua yang kalian terima ini memang milik kalian."
"Uang itu bisa dicari kalau kita berusaha mas, tapi kalau perhatian dan kasih sayang yang selama ini belum Ardy dapatkan. Terimakasih untuk perhatian dan kasih sayang yang udah mas kasi buat putraku," ucap Alfi tulus.
"Sama-sama Al, aku udah anggep Ardy seperti putraku sendiri. Sekarang kamu nggak usah khawatir, kini semua orang disekelilingmu sangat menyayangi putramu, jadi jangan pernah takut putraku akan kekurangan kasih sayang."
Alfi pun tersenyum mengangguk membenarkan ucapan Hasan.
Setelah puas bermain bersama Ardy dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Hasan pun pamit ke rumah Pak Made untuk menginap disana mengendarai mobil mewahnya.
***
Keesokan paginya, Hasan datang pagi-pagi untuk membantu Alfi untuk membereskan semua barang-barangnya di kontrakan lamanya.
Sebelum mereka berangkat, Alfi mengajak Hasan sarapan bersama mereka, dia memasak pagi-pagi khusus untuk Hasan dan putranya.
Hasan berfikir, mereka bagai satu keluarga yang hangat dan harmonis. Dia senyum-senyum sendiri membayangkan jika mereka menjadi keluarga yang sesungguhnya.
"Eh Mas Hasan kenapa senyum-senyum begitu? Apa ada yang lucu?" tanya Alfi mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Ah nggak kok, aku kebayang liat film lucu yang aku tonton tadi pagi," ucap Hasan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Alfi hanya menggelengkan kepalanya menanggapi Hasan lalu mengambilkan jus jeruk dingin untuk pria itu.
"Makasih Al,"
"Iya mas,"
"Ardy makan yang banyak ya! Biar cepet gede!" ucap Hasan mengelus kepala bocah tampan itu.
"Iya Om, aku makan banyak sekarang karena masakan mama semua enak-enak." ucap Ardy dengan bahagia.
"Lah emangnya dulu masakan mama nggak enak gitu?"
"Ya enak Om, tapi lauknya tahu, tempe ma telor aja. Kata mama kalau mau beli sosis atau daging harganya mahal, uang mama nggak cukup," ucap Ardy dengan polosnya sehingga membuat hati Hasan tiba-tiba terasa nyeri.
Dia kagum pada Ardy, anak sekecil itu bisa mengerti keadaan ibunya tanpa merengek minta ini itu.
Sedangkan Alfi lagi-lagi hanya bisa terharu dalam diamnya, sungguh dia sangat bersyukur saat ini hidupnya sudah sangat lebih baik, lebih dari yang dia minta selama ini.
"Ardy mau janji nggak?"
"Janji apa om?" tanya Ardy.
"Janji ya sama Om! Apapun yang Ardy mau, Ardy harus ngomong sama Om walaupun om udah balik ke Jakarta nanti, Ardy bisa pinjem HP mama buat telpon Om Hasan. Mau kan jagoan?"
"Iya om, Ardy akan bilang sama om apapun yang Ardy mau. Makasih ya om!" ucap Ardy memeluk Hasan dengan erat.
"Sama-sama sayang," Hasan membalas pelukannya dan menciumi pucuk kepala Ardy penuh sayang.
Tak terasa airmata Alfi tiba-tiba menetes melihat interaksi keduanya dan dengan sigap tangan Hasan terulur di pipi Alfi untuk menghapus airmatanya, lalu menggenggam tangan Alfi seolah mengatakan jika ada dirinya sekarang.
Sedangkan Alfi pun hanya bisa mengangguk bahagia sekaligus malu.
Setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka, Hasan mengajak Alfi dan Ardy untuk membereskan semua barang mereka di kontrakan lama mereka dengan menaiki mobil mewah Hasan.
Beberapa tetangga yang sudah mengetahui kabar kepindahan Alfi di salah satu rumah mewah milik kepala desa mereka sontak berubah menjadi sangat baik pada Alfi.
Orang-orang yang dulu menghina Alfi, kini menyapanya dengan bahagia dan senyuman manis mereka. Apalagi kabar Alfi akan membuka minimarket sudah tersebar di seluruh penjuru desa. Semua menjadi segan pada Alfi, dia yang dulu bukan siapa-siapa sekarang menjadi wanita yang memiliki segalanya.
Hasan menyuruh beberapa orang suruhannya untuk mengeluarkan barang-barang milik Alfi.
"Sayang, ini barang-barang kamu mau di apain?" teriak Hasan sedikit keras, dia sengaja agar para tetangga Alfi yang sedang melihat mereka beres-beres mendengar ucapannya.
"Buang aja sayang, aku dah nggak pakai semua itu," ucap Alfi pura-pura sembari sibuk memilah dan memilih mainan putranya yang akan dibawa ke rumah baru mereka.
"Eh Mbak Alfi, maaf-maaf nih itu kan semua masih bagus. Daripada dibuang Apa boleh barang lama kamu buat kami," ucap salah satu tetangga Alfi memberanikan diri.
"Ah kalau ibu-ibu mau silahkan dibawa aja, aku malah lebih senang jadi meringankan pekerjaan orang-orang kami," ucap Alfi tersenyum.
"Duuhh makasih banyak ya Mbak Alfi, mbak emang dari dulu baik banget."
Alfi hanya mengangguk tak menanggapi, dia merasa mereka terlalu banyak berpura-pura hanya demi mendapatkan barang bekas miliknya, sungguh dia tidak menyangka jika ucapan Hasan benar jika uang bisa merubah sikap manusia. Dulu dia sering dihina dan dikucilkan karena miskin sekarang semua orang mendadak segan dan bersikap manis padanya.
**
__ADS_1
Setelah selesai membereskan rumah kontrakan lamanya dan mengembalikan kunci rumah pada pemilik kontrakan, kini Hasan mengajak Alfi dan Ardy kesuatu tempat.
"Kenapa kita kesini mas?" ucap Alfi sedikit terkejut.