
"Ahh!"
Risty yang menangis begitu terkejut saat seseorang yang dia kenalnya tiba-tiba memeluknya dengan erat. Bau maskulin itu menggelitik Indra penciumannya, bau yang sering dia rindukan.
"Maaf.. maafkan aku non! Aku nggak tau jika papa kamu udah meninggal, jangan sedih lagi aku akan selalu disisimu sekarang!" bisik Erlangga dengan lembut.
"Kak Angga?"
Risty melepas pelukan Erlangga dan menatap wajah laki-laki tampan itu dengan tatapan tak percaya.
"Iya sayang, aku akan selalu disisimu mulai saat ini," ucap Erlangga sembari mengusap airmata Risty yang membasahi pipinya.
Risty tertegun melihat Erlangga yang tiba-tiba muncul memeluknya. Dan panggilan sayang itu benar-benar membuat hatinya serasa terbang ke angkasa, dia berharap kali ini bukanlah sebuah mimpi semata.
Risty masih saja terdiam tak percaya, dia mencoba memejamkan mata lalu membukanya kembali, untuk memastikan jika semuanya memang nyata.
"Hei kenapa diam aja! Ini bukan mimpi sayang!" Erlangga memegang pipinya lagi dan membuat kesadarannya telah kembali.
"Kakak kok tahu aku disini?" tanya Risty memandang wajah tampan Erlangga.
"Itu yang kasih tahu!" Erlangga menunjuk Yona yang cengar-cengir di atas sofa yang dia duduki.
"Selamat bernostalgia ya Boss! Aku pergi dulu! Aku jadi kangen suamiku liat kalian berdua!" ucap Yona cengar-cengir lagi.
"Udah aku bilang jangan panggil Boss lagi! Aku bukan Bossmu sekarang!" seru Risty menatap tajam ke arah Yona.
"Suka-suka gue donk Boss! Bye!" Yona melesat dengan cepat meninggalkan Risty dan Erlangga di ruangan itu.
"Huh! Dasar batu!"
Setelah Yona telah pergi, Erlangga menarik tangan Risty dan mengajaknya duduk di sofa rumah sakit.
"Kenapa kakak menemuiku?" tanya Risty dengan mode ketusnya.
"Aku mencintaimu non, aku sangat mencintaimu! Aku udah lama nunggu hari ini terjadi, aku kira semua hanya ada dalam angan tapi sekarang semuanya nyata!" ucap Erlangga yang memegang tangan Risty dan menciumnya bertubi-tubi.
Melihat Erlangga yang dengan mudah mengungkapkan perasaannya, membuat Risty lagi-lagi bahagia luar biasa tapi dia masih menyembunyikan perasaan bahagianya itu. Dia pun merasakan hal yang sama seperti yang Erlangga rasakan.
"Isshhh apaan sih kakak nih cium-cium! Katanya aku adik ipar kakak, mana ada kakak ipar cium-cium adik iparnya!" ucap Risty sok jutek sembari menarik tangannya dari tangan Erlangga.
"Ya kan udah mantan adik ipar, bukan adik ipar yang beneran lagi! Jadi boleh donk kalo dikasih perhatian lebih!" goda Erlangga pada Risty.
"Nggak boleh!" Risty memalingkan mukanya yang kemerah-merahan karena malu.
"Non, aku nggak bisa janjiin apapun buat kamu! Tapi secepatnya aku akan nikahin kamu, cuma kamu yang saat ini jadi tujuan hidupku," ucap Erlangga yang memegang tangan Risty.
Sedangkan Risty hanya bisa menunduk malu bercampur bahagia. Dia benar-benar tidak menyangka laki-laki yang baginya dulu begitu susah untuk dia gapai, sekarang begitu mudah mengumbar perasaan cinta padanya.
"Gimana sayang? Kamu mau kan menikah denganku?" tanya Erlangga sembari mengangkat dagu Risty.
__ADS_1
"Nanti aja aku pikir-pikir lagi!" ucap Risty sok cuek.
"Maaf kalo tempo hari aku nolak kamu dan sempet sedikit illfeel, tapi aku beneran nggak tau kalo kamu udah cerai dengan Bima, apa kamu masih marah Non?"
"Nggak! Aku udah lupa!"
"Ck! Jangan ketus terus donk sayang! Jauh-jauh aku dari Australia kesini cuma buat kamu! Kalo kamunya nggak pengen aku kesini, percuma juga aku disini!" ucap Erlangga yang pura-pura merajuk lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Kak! Jangan pergi! Iya maaf aku nggak ketus lagi! Aku emang masih kesel kakak nolak aku tempo hari,"
"Iya kan aku dah minta maaf sayang! Ya udah maafin aku ya Ristyku sayang!"
Lalu Risty mengangguk dan mereka berpelukan lagi untuk meluapkan kerinduan mereka yang sudah terlalu banyak menumpuk.
"Tok! Tok!"
Seseorang mengetuk pintu, seketika Risty dan Erlangga melepaskan pelukan mereka dengan sedikit salah tingkah.
"Silahkan masuk!" jawab Risty dari dalam.
"Ceklek!"
Seorang laki-laki tampan berseragam polisi masuk ke dalam ruang Bu Hana dirawat.
"Nona, apa aku menganggu anda?" tanya Vincent pada Risty.
Polisi muda yang bernama Vincent itu memang sering mendatangi Risty di rumah sakit untuk meminta beberapa keterangan mengenai kecelakaan Pak Haris dan Bu Hana, karena sering bertatap muka dan berinteraksi dengan gadis cantik itu. Lama-lama Vincent menaruh hati pada Risty, awalnya dia terkejut dengan status Risty yang janda. Dia bertanya-tanya dalam hatinya siapa laki-laki bodoh yang sudah menyia-nyiakan wanita cantik dan baik hati seperti Risty walau sebenarnya dia juga tidak peduli dengan masa lalu Risty.
Dan senyuman itu lagi-lagi membuat Vincent semakin terpesona dan dia menatap Risty dengan tatapan mendamba.
"Ada apa ya Pak Vincent?"
"Oia nona, saya ingin membicarakan perkembangan kasus kecelakaan Pak Haris kemarin,"
Saat Vincent duduk di sofa itu, dia sedikit kaget saat melihat seorang laki-laki yang berparas bule duduk bersama Risty di sofa ruangan itu.
"Baik Pak, kita bicara diluar saja seperti biasa!" ajak Risty.
"Eheemmm!"
Erlangga berdehem karena merasa diabaikan kedua orang didepannya itu.
"Ah iya maaf saya hampir lupa, kenalkan ini.."
Risty menghentikan ucapannya karena binggung harus menyebut Erlangga apa.
"Perkenalkan saya Erlangga, calon tunangan Nona Risty." ucap Erlangga sembari mengulurkan tangannya di depan Vincent.
"Degg!"
__ADS_1
Ucapan Erlangga seolah menghujam jantung Vincent, dia benar-benar terkejut saat mengetahui orang yang ia sukai ternyata sudah memiliki kekasih. Patah sudah harapannya untuk mendekati Risty, dia menghela nafasnya perlahan dan mencoba menguasai situasi.
"Saya AIPTU Vincent Arisandy, saya yang menangani kasus kecelakaan almarhum Pak Haris," ucap Vincent dan membalas jabatan tangan Erlangga.
Erlangga mengangguk tersenyum.
"Mari kita bicara diluar!" ajak Vincent pada kedua orang dihadapannya.
Keduanya mengangguk dan mengikuti Vincent keluar ruangan.
"Jadi begini Nona, kami udah memeriksa CCTV di semua sudut mansion Pak Haris, tapi anehnya CCTV itu mati sejak malam sebelum hari kejadian. Jadi saya duga ada seseorang yang sengaja mematikan CCTV disana." kata Vincent dengan mimik wajah serius.
"Apa anda sudah bertanya pada petugas keamanan yang ada disana pak, bagaimana bisa CCTV itu mati?" tanya Risty.
"Aku sudah bertanya, malam itu hanya ada satu petugas yang berjaga di dalam pos dan ternyata petugas keamanan itu malah ketiduran. Sebelum dia tertidur dia sempat mengecek CCTV dan CCTV itu masih menyala. Si petugas juga mengaku jika setelah meminum kopi dari salah satu pekerja di Mansion dia merasa sangat mengantuk dan tiba-tiba tertidur, padahal selama bekerja disana dia tidak pernah tertidur saat berjaga." jelas Vincent.
"Apa anda tahu nama pekerja yang memberikan petugas itu kopi?"
"Namanya Santi umurnya sekitar 40 tahunan,"
'iya saya kenal mbak santi, dia tidak mungkin melakukan itu pak! Saya tahu betul, mbak Santi orang yang baik dan jujur, dia juga seorang janda dan anaknya ada di pondok pesantren. Sudah 5 tahun dia bekerja di Mansion, dia sendiri bilang kalo senang sekali memiliki majikan baik seperti mama dan papa saya, jadi menurut saya tidak mungkin Mbak Santi setega itu pada kedua orangtua angkat saya,"
"Kita tidak akan tahu musuh seperti apa yang kita hadapi, terkadang yang terlihat baik tak sebaik yang sebenarnya dan yang terlihat buruk juga tak seburuk yang sebenarnya. Kita harus terus menyelidiki secara detail kasus ini, semua orang bisa saja jadi tersangka jadi semua pekerja harus diperiksa satu-persatu. Dan aku rasa sasaran kecelakaan yang disengaja ini bukan kedua orangtuamu tapi sebenarnya kamu karena mobil yang Pak Haris dan Bu Hana tumpangi itu milik kamu," opini Erlangga.
"Benar kata Tuan Erlangga, semua bisa saja jadi tersangka. Dan saya juga berasumsi jika sebenarnya sasaran bukan Pak Haris dan Bu Hana tapi anda nona! Apa anda memiliki musuh nona?" tanya Vincent dan Risty hanya menggelengkan kepalanya.
"Selama ini saya tidak punya musuh tapi saya sedang berseteru dengan Clara, putri kandung Papa Haris. Kami tidak pernah akur selama ini,"
"Sebenarnya tim investigasi kami juga ingin sekali menanyai Nona Clara, tapi Nona Clara seolah-olah tidak peduli dan bahkan tidak ingin bertemu dengan kami sama sekali. Dia berdalih tidak tinggal disitu selama ini jadi dia merasa tidak ada kepentingan untuk menjawab pertanyaan kami. Dia seolah-olah tidak ingin mencari tahu kejanggalan kematian papanya, Apalagi ibunya terus menghalangi kami yang ingin bertemu dengannya, jadi kami juga menaruh curiga dengan Nona Clara, tapi kami belum menemukan buktinya."
Mendengar semua penjelasan Vincent, Risty menghela nafasnya panjang. Pikirannya buntu, dia tidak tahu lagi bagaimana harus berbuat. Apalagi sekarang dia sudah tidak berada di Mansion, jadi semakin susah untuknya mencari informasi lainnya.
"Baik Pak! Terimakasih atas semua penjelasan anda Pak, saya mohon kabari saya jika ada perkembangan lagi!" pinta Risty pada Vincent.
"Sama-sama nona, pasti saya akan mengabari anda jika nanti ada perkembangan lagi! Kalau begitu saya permisi dulu!" pamit Vincent pada Risty dan Erlangga lalu keduanya pun mengangguk.
***
Di Mansion Pak Prabu terlihat Bima hanya berdiam diri dikamar lamanya dan memandang foto putrinya yang ada di ponselnya.
"Tokk! Tokk!"
"Bim!" panggil Pak Prabu.
"Masuk Dad!" jawab Bima dengan malas.
"Udah satu minggu kamu kayak gini terus Bim! Apa kamu mau mengurung diri terus seperti ini? Masa depanmu masih panjang, jangan terus bersedih dan menyesali Takdir yang sudah terjadi. Sekarang waktunya kamu bangkit dan membuka lembaran baru." ucap Pak Prabu dengan bijak.
"Iya Dad, nanti setelah keadaan hatiku sedikit membaik," ucap Bima dengan tatapan kosongnya.
__ADS_1
"Urus segera perceraianmu dengan Vania sayang, dari awal dia memang nggak pantas jadi menantuku dan sekarang terbukti kan, wanita seperti apa yang kau nikahi itu! Mana ada ibu yang tega berbuat buruk pada putrinya sendiri? Hmm.. Aku jadi curiga, jangan-jangan bayi itu bukan anakmu jadi Vania sengaja memb**uh bayi itu pelan-pelan agar kamu tidak mengetahui kebenarannya," ucap Bu Helena sedikit emosi.