CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 4. Nasib Yang Sama


__ADS_3

"Tolong jangan bawa aku pulang! Aku belum berani pulang dalam keadaan begini, aku butuh sesuatu untuk menghilangkan efek minuman tadi, sepertinya bartender itu memberiku minuman tak biasa," pinta Riana yang kini sudah berada di parkiran bersama Beny.


Riana merasakan tubuhnya begitu panas luar biasa, kepalanya terasa berat dan pening, wajahnya pun juga memerah, seolah ingin segera menuntaskan sesuatu dalam dirinya. Tapi Riana mencoba menahan sekuat tenaganya, sampai keringatnya berjatuhan di balik bajunya, padahal AC mobil Beny sangat dingin. Riana ingin cepat sampai dan segera mengguyur tubuhnya dengan air agar efek dari minuman yang dia minum tadi segera hilang.


"Memang apa yang kau rasakan jutek?" tanya Beny.


"Badanku rasanya terbakar dan entah rasanya seperti tidak nyaman," jawab Riana ragu-ragu.


Dia tidak mungkin secara gamblang menceritakan jika saat ini libi**nya sedang meningkat drastis.


Sedangkan Beny bisa menebak jika seseorang telah sengaja memasukan obat kedalam minuman Riana.


"Apa laki-laki tadi yang sudah menjebak Riana? Jika benar, dia telah salah memilih lawan," gumam Beny dalam hati


Sebenarnya Beny pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Riana. Sepertinya pacar barunya itu sudah memasukkan obat berdosis tinggi pada minumannya juga, hingga mati-matian dia menahan has**t yang tiba-tiba muncul dari dalam tubuhnya.


"Br****sek! Obat macam apa yang dia berikan, efeknya terlalu kuat, aku takut tidak bisa mengendalikan diri. Dasar wanita j4-l4n6!" umpat Beny dari dalam hati.


Keduanya bernasib sama saat ini, sama-sama dijebak oleh dua orang yang berbeda dengan kepentingan mereka masing-masing, sungguh sial pikirnya. Dia beruntung bisa menemukan Riana, jadi dia bisa mencegah sesuatu buruk pada gadis itu.


Pada akhirnya Beny membawa Riana ke apartemennya, untung jarak apartemen Beny dan club itu tidak begitu jauh jadi hanya butuh waktu 20 menit untuk mereka sampai di apartemen.


Beny memapah Riana yang masih sempoyongan tapi Riana menepis tangan Beny. Sentuhan tangan Beny pada tubuhnya hanya membuatnya semakin panas.


Saat memasuki apartemen Beny, Riana segera mencari kamar mandi yang ternyata ada di kamar pria itu. Kamar yang ada di apartemen Beny cuma satu dan kamar mandinya pun ada satu yang tepatnya berada dalam kamarnya.


Beny hanya terpaku melihat Riana yang panik dengan wajah memerah, terlihat semakin menggemaskan pikirnya.


Riana meloloskan dress hitamnya dan menyisakan baju dalamnya, lalu segera masuk kedalam untuk mengguyur tubuhnya yang terasa terbakar, dengan shower.


Hampir 15 menit Riana berada dibawah guyuran air dingin tapi tubuhnya masih saja terasa masih terbakar, hingga Beny yang tak sabar segera menggedor pintu kamar mandi miliknya. Beny juga membutuhkan air dingin untuk meredam panas ditubuhnya yang semakin lama semakin susah untuk dikontrol dan dia sudah tidak tahan lagi.


"Tok.. Tok!"


"Ria, cepet donk! Aku juga mau ke kamar mandi!" teriak Beny dengan tak sabar.


Belum ada jawaban dari dalam kamar mandi, lalu dia melemparkan kemejanya sembarang, untuk mengurangi rasa panas ditubuhnya.


Semakin lama efek obat itu semakin kuat. Dan Riana semakin tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, rasa panas dan pening dikepalanya membuatnya tak berdaya.


"Ria!"


"Brak.. Brak.. Brak!"


Beny menggebrak pintu dengan tidak sabar, membuat Riana tiba-tiba menyadari Beny sedang menunggunya di luar kamar mandi.


Baju dalamnya basah kuyup, dalam setengah sadar dia menjadi panik mendengar teriakan dari luar, lalu dia menyambar handuk putih yang ada di kamar Beny untuk dililitkan ditubuhnya.

__ADS_1


"Ria, tolong aku udah nggak tahan pengen ke kamar mandi! Gantian donk!"


Saat Beny mulai tak sabar dan sedikit mendorong pintu kamar mandinya, Riana tiba-tiba membukanya dengan cepat dan tiba-tiba..


"Braakkk!"


Tubuh Beny menabrak Riana, hingga keduanya jatuh dilantai kamar mandi, dengan posisi Beny yang menimpa tubuh Riana. Seketika keduanya terhipnotis dengan pandangan indah yang ada didepan mereka, Riana terpana dengan tubuh atletis Beny dan Beny sendiri terpana dengan belahan mulus yang menggembul keatas dengan balutan bra hitam yang sangat kontras dengan warna putih kulitnya.


Susah payah Beny menelan ludahnya, dia mencoba menguasai sesuatu yang dari tadi membakar tubuhnya. Tapi saat dia akan bergerak menjauh dari Riana, tiba-tiba Riana mengusap lembut wajah dan badannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, dan membuat tubuhnya tiba-tiba meremang luar biasa.


Tanpa ragu-ragu lagi Beny menc**m bibir, seluruh wajah dan leher gadis cantik itu dan tidak ada penolakan darinya, hingga tanpa sadar keduanya mengeluarkan suara-suara indah dari bibir mereka.


Beny membawa Riana ke ranjangnya, kemudian melanjutkan aksinya kembali hingga tak mereka sadari keduanya pun sudah tak mengenakan apapun.


Beny menghentikan pergerakannya, dia masih sadar jika yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan dan dia tahu jika resikonya sangat besar jika dia terus melanjutkan aksinya. Dia bergerak akan menjauhi Riana, tapi Riana malah mempererat pelukannya dan membalas sentuhan Beny.


"Ri, kamu sendiri yang memintanya! Kamu tahu setelah ini aku nggak akan ngelepasin kamu dengan mudah,"


Riana tak menjawab dia hanya bergumam sembari menelusupkan hidungnya dileher Beny dan Beny pun melanjutkan aksinya kembali, semakin intens dan tanpa ragu lagi.


Saat Beny akan memasukinya, tiba-tiba Riana terpekik karena merasakan sakit luar biasa.


Beny mencoba menenangkan Riana dengan menc**m bibir gadis itu, perlahan tapi pasti akhirnya dia bisa meruntuhkan gerbang pertahanan yang selama ini dijaga baik-baik oleh Riana.


Ini adalah pengalaman pertama bagi keduanya, Riana merasakannya dengan setengah sadar sedangkan Beny benar-benar sadar dan menikmati apa yang sudah dia lakukan saat ini. Sungguh wanita itu sudah membuat hatinya yang beku menjadi mencair, membuat Beny yang dari dulu tidak percaya cinta dan wanita seketika jatuh cinta pada gadis yang ada dibawah pelukannya saat ini.


***


Di Mansion kediaman Bu Hana, Bu Hana terlihat panik dan sesekali melirik jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, sudah berkali-kali menghubungi ponsel Riana sejak setengah jam lalu namun tidak ada jawaban. Kemudian dia berinisiatif untuk menghubungi Risty karena dia berfikir bisa saja Riana berada di rumah Risty.


📞"Assalamualaikum sayang.." salam Bu Hana.


"Wa'alaikumsalam.. Mama, apa ada masalah mama?" tanya Risty dengan suara khas bangun tidurnya.


"Adikmu, Ria, Dia belum pulang sayang. Mama cemas sekali,"


"Ria pamit kemana mama?"


Risty melirik jam dindingnya dan benar saja ini sudah dini hari, tidak biasa Riana pulang malam seperti itu.


"Dia bilang akan datang ke pesta ulangtahun temannya bersama teman barunya bernama Veronica."


"Veronica?"


Risty merasa tidak asing mendengar nama itu.


"Iya, Vero juga karyawan perusahaan kita sayang, kata Ria dibagian Staff marketing."

__ADS_1


"Oh iya aku inget mah! Ya udah mama jangan cemas ya! Biar aku dan Bang Angga cari Ria dulu,"


"Baik sayang, hati-hati dijalan ya!"


📞"Iya ma,"


Kemudian Risty mengakhiri panggilan teleponnya dan melihat suaminya tampannya sudah duduk di headboard ranjangnya.


"Ada apa sayang?" tanya Erlangga memandang wajah istrinya yang panik sembari menelpon seseorang.


"Riana belum pulang sayang, Mama Hana panik dan khawatir. Ayo ikut aku bantu cari dia."


"Apa kau butuh seseorang untuk melacak keberadaannya sayang? Biar aku menghubungi salah satu anak buahku untuk melacak ponsel Ria,"


"Iya sayang itu ide bagus, aku ingin cepat tahu dimana Riana berada,"


Terlihat Erlangga menghubungi seseorang dan memintanya untuk melacak keberadaan Riana.


Risty dan Erlangga segera berganti baju lalu berjalan cepat menuju garasi mobil mereka dan melajukan ke alamat yang sudah anak buahnya kirimkan.


Butuh waktu sekitar 35 menit akhirnya mereka sampai pada sebuah apartemen yang nampak tak asing buat Erlangga.


"Eh bukannya ini kawasan apartemen Beny? Tahu gitu aku hubungin aja dia buat cari Ria," gumam Erlangga.


"Ah benarkah sayang? Sepertinya gadis bernama Vero itu juga tinggal disini, ayo kita segera cari mereka sayang," ucap Risty dengan tidak sabar.


Setelah menemukan titik dimana ponsel Riana berada, Erlangga semakin penasaran bagaimana titik itu malah tepat berada di apartemen milik Beny.


Dengan ragu-ragu Erlangga menekan bel pintu apartemen Beny.


"Tet.. tet.."


Sesaat kemudian, Beny membukakan pintu apartemennya dan alangkah terkejutnya dia melihat Erlangga dan Risty sudah berdiri di depan pintu apartemennya.


"B.. Bang Angga.. Kak Risty.." Beny sangat gugup luar biasa.


"Mana Riana!" teriak Erlangga menatap tajam ke arah Beny hingga Beny menjadi salah tingkah.


Erlangga bisa tahu jika Riana berada disitu, karena ekor matanya sempat melihat sepatu wanita berada didalam apartemen Beny, setahu Erlangga walaupun Beny seorang playboy tapi pantang baginya membawa wanita ke apartemennya.


Sedangkan Risty menjadi binggung, mamanya tadi mengatakan jika Riana pergi bersama Vero tapi sekarang kenapa Riana berada di titik tempat Beny tinggal. Sebenarnya apa yang terjadi, pikir Risty dalam hati.


"Sayang, cari Riana di dalam, aku akan menunggu kalian bersama baji***n ini disini!"


Risty mengangguk kemudian berjalan mencari Riana, adiknya. Dan saat dia memasuki kamar Beny, alangkah terkejutnya dia melihat adik kesayangannya sedang tertidur pulas dibawah selimut putih tanpa sehelai benangpun.


"RIANA!!!" teriak Risty dengan suara menggelar memenuhi ruangan hingga membuat Riana terpaksa membuka matanya perlahan.

__ADS_1


"Kakak!" Riana terkejut dan melebarkan matanya melihat tatapan kemarahan sang kakak tercinta.


__ADS_2