
"Mama lekas sembuh ya! Risty kangen mama, Risty sayang banget sama mama! Ya Allah aku mohon berikan kesembuhan untuk mamaku, aku mohon Ya Rabb.." Risty masih menangis sembari mendoakan mamanya dari luar ruangan.
Dokter yang merawat mamanya baru saja keluar dari ruangan mamanya dirawat dan Risty bertanya secara detail kondisi mamanya.
Dokter itu mengatakan jika Bu Hana mengalami pendarahan di otaknya sehingga menyebabkan Bu Hana mengalami koma, dokter juga tidak bisa memastikan kapan Bu Hana sadar dari komanya, karena sang dokter juga mengatakan hanya bisa berusaha semaksimal mungkin dan kesembuhan tetap hanya milik Tuhan Sang Pemilik Alam Semesta.
Yona dan Clara datang bersamaan setelah Risty menghubungi keduanya. Yona ikut merasakan kesedihan yang dialami Risty dan Clara. Clara menangis meraung-raung melihat papanya sudah terbujur kaku tak bernyawa. Baru saja dia merasakan kasih sayang papanya kini papanya telah pergi meninggalkannya, dia benar-benar hancur dan sangat terpukul. Tapi Yona dan Risty mencoba menenangkannya.
"Ini gara-gara kamu anak pungut! Dasar anak pembawa sial!" teriak Clara sembari melepaskan lengannya dari tangan Risty.
"Plaaaakkkkkk!"
Risty menampar gadis menyebalkan itu.
"Jaga ucapanmu Clara! Aku udah banyak bersabar menghadapimu demi papaku! Tapi sekarang aku nggak akan diem aja jika mulut kotormu itu terus mengataiku! DASAR GADIS NGGAK PUNYA ETIKA!" teriak Risty menatap tajam pada Clara.
Risty sangat yakin jika semua ini ada hubungannya dengan Clara, itu yang menyebabkan dia begitu emosi pada gadis itu.
"Hei udah cukup! Kalian itu kayak anak kecil tau! Baru aja kalian kehilangan papa kalian, sekarang malah bertengkar! Nanti kalo Pak Haris udah dikubur kalian bisa lanjutin baku hantam kalian!" seru Yona sembari melerai pertengkaran dua wanita disampingnya.
Clara membalas tatapan tajam Risty dengan rasa dendam luar biasa, sembari memegang pipinya yang sedikit kemerahan karena tamparan Risty.
Kemudian petugas rumah sakit menghampiri mereka dan mengatakan jika Jenazah Pak Haris telah selesai dimandikan dan sudah bisa di pulangkan ke rumahnya.
Setelah satu jam berlalu akhirnya Jenazah Pak Haris telah sampai di Mansion miliknya. Semua pelayat dari tetangga, kerabat, relasi dan semua karyawannya datang untuk melepas kepergian dan mendoakan mendiang Pak Haris. Semua orang mengantarkan Jenazah Pak Haris sampai di tempat peristirahatan terakhirnya.
Risty maupun Clara hanya bisa menangis dalam diam, airmata keduanya tak kunjung surut. Sabar dan ikhlas adalah hal utama yang harus mereka lakukan untuk melepas kepergian papa tercinta mereka.
Beberapa jam berlalu kini Mansion kembali sepi, hanya tinggal Risty, Clara dan keluarga Risty dari kampung serta para ART yang sibuk mempersiapkan acara pengajian untuk Pak Haris.
Acara pengajian berjalan dengan lancar dan dihadiri banyak orang. Terlihat ibu dari Clara yang bernama Rosa juga baru sampai di Mansion. Tanpa salam dan tanpa permisi dia masuk kedalam mansion dengan gaya angkuhnya dan disambut bahagia oleh putrinya. Dia berlagak seperti pemilik rumah, memandang Risty keluarganya dengan tatapan jijik.
Sedangkan Risty dan keluarganya hanya cuek melihat sikap angkuh keduanya.
***
__ADS_1
Keesokan paginya, terlihat Risty sarapan bersama Ibu dan kedua adik kembarnya. Dia berencana cuti beberapa hari untuk menemani Bu Hana yang sedang koma, lagipula dia masih sangat bersedih jadi baginya percuma juga dia bekerja pasti tidak akan bisa fokus.
Sedangkan Ibu dan kedua adik kembarnya akan segera kembali ke kampung halaman mereka karena kedua adik kembarnya juga telah bekerja.
"Wah.. wah enak banget ya si anak pungut, makan dan tidur enak disini! Apalagi bawa-bawa keluarganya yang miskin ikut numpang makan dan tidur disini, Cihh nggak tau malu!" ejek Clara pada Risty.
Mendengar ucapan Clara, Risty begitu terbakar emosinya karena Clara telah menghina keluarganya, sontak dia menatap tajam ke arah Clara sembari menggebrak meja makan dengan keras.
"Brrraaakkkk!"
"Siapa yang nggak tau malu disini! Ini mansion Bu Hana, mamaku! Harusnya kalian yang malu masih ada di sini, rumah yang bukan hak kalian! Dan kalian masih aja buat masalah disaat mamaku berjuang hidup dan mati! DASAR GADIS LIAR! NGGAK PUNYA ETIKA!
Mendengar putrinya dihina sontak Bu Rosa melayangkan tangannya untuk menampar Risty, tapi dengan sigap Risty menangkap tangan Bu Rosa
"Dasar br****sek!" umpat Bu Rosa.
"APA!! IBU DAN ANAK SAMA AJA! SAMA-SAMA NGGAK TAU MALU!" cibir Risty.
"Udah Ris, kendalikan emosimu! Kita masih dalam suasana berkabung harusnya kalian tidak bertengkar seperti ini!" kata Bu Aminah yang mencoba menenangkan putrinya, agar tidak bersikap diluar batas.
"Cihhh.. daripada jadi budakmu lebih baik aku pergi dari sini!" cibir Risty lalu mengajak ibu dan kedua adiknya untuk berkemas.
Semua pekerja yang melihat Risty diusir oleh anak kandung Tuan Besarnya, hanya bisa menangis bersedih. Mereka tidak punya daya apapun untuk membela gadis baik itu.
***
Di rumah sakit besar dimana Selena, anak Bima dirawat. Terlihat Bima begitu gelisah dan sangat cemas, sebenarnya tim dokter sudah mengatakan jika percuma saja melakukan operasi karena harapan hidup bayi itu hanya 10% saja. Tapi Bima bersikeras agar putrinya dioperasi, dia berharap putrinya segera sembuh setelah ini.
Dan benar saja, setelah operasi dilakukan, ternyata keadaan bayi Bima semakin memburuk dan akhirnya bayi itu meninggal dunia. Bima benar-benar hancur dan terpukul, Erlangga terus saja menenangkannya. Erlangga juga telah mengabari kedua orangtuanya saat bayi itu operasi tadi, dan tanpa jeda waktu lama. Dalam dua jam saja Pak Prabu dan Bu Helena telah sampai di rumah sakit besar itu menggunakan jet pribadi mereka.
Bu Helena yang melihat Bima begitu kacau dan tak berhenti mengeluarkan airmatanya, sontak memeluk Bima dengan berderai airmata juga.
"Mommy.. Daddy maafkan Bima! Bima tahu Bima salah, tapi tolong bantu putriku agar sehat kembali mom! Aku mohon! Aku akan selalu jadi anak penurut, tapi tolong katakan pada dokter agar mereka menyembuhkan putriku!" ucap Bima yang menangis dipelukan mamanya dan kemudian jatuh berlutut dihadapan orangtuanya.
"Bim, bersabarlah nak! Putrimu sudah tiada, ikhlaskan Bim! Jangan seperti ini terus! Maaf daddy dan mommy nggak bisa ngelakuin apa-apa buat kamu, maafkan kami!" ucap Pak Prabu yang ikut berlutut sembari memeluk putranya.
__ADS_1
Bima terpukul dan sedih akan kepergian putrinya, Erlangga yang tak pernah menangis pun sampai meneteskan airmata melihat kedua orangtua dan adiknya sama-sama menangis.
Kedua orangtua Bima menyesali semua yang terjadi, karena keegoisan mereka, hidup putranya serba pas-pasan dan sekarang malah hancur berantakan. Seandainya dari awal mereka bisa membantu pengobatan cucunya, pasti sekarang bayi perempuan itu masih bisa tertolong. Mereka semua menyesal tapi mereka menyadari jika semua adalah jalan takdir dari yang Maha Kuasa.
Bima dan diikuti keluarganya masuk keruangan dokter untuk meminta penjelasan secara detail penyebab memburuknya kondisi bayi itu, padahal selama ini obat yang Bima dan Vania berikan dari rumah sakit lokal adalah jenis obat yang terbaik. Bahkan saat awal mereka mengetahui penyakit putrinya, dokter mengatakan jika kondisi bayinya semakin membaik karena mereka rutin memberikan obat itu.
Tapi salah satu dokter mengatakan jika selama ini obat dari rumah sakit sebelumnya tidak diberikan sama sekali, sehingga kondisi bayi itu semakin buruk dan apalagi dalam kandungan darah si bayi mengandung zat yang membuatnya selalu tertidur.
Jadi Bima sekarang tahu kenapa selama ini putrinya bukan malah membaik tapi keadaannya semakin memburuk, itu karena Vania tidak memberikan obat itu sama sekali. Dan Bima baru sadar, jika putrinya sering banyak tidur bukan karena pengaruh obat yang dia minum tapi karena ibunya memberikan obat tidur pada bayi sekecil itu.
Bima mengepalkan kuat tangannya menahan emosi, dia ingin sekali membunuh Vania saat itu juga. Sekuat tenaga dia berusaha agar putrinya sembuh tapi ternyata ibunya sendiri yang menginginkan kematian putrinya sungguh ibu yang b***dab pikirnya.
"Liat aja kamu Vania! Kamu juga akan aku buat menderita setelah ini! Dasar wanita b***dab!! Nggak punya hati!!" umpat Bima dalam hati.
Orangtua Bima tahu jika putranya sedang berusaha keras meredam amarahnya, Bu Helena terus mengusap punggung putranya dengan lembut agar hati Bima lebih tenang.
Setelah perasaan Bima lebih tenang, kedua orangtuanya mengajaknya pulang dan akan segera memakamkan putrinya di negara asal mereka.
***
Satu minggu telah berlalu, kini Risty tinggal di apartemen yang dulu Bima berikan padanya. Dia sudah tidak bekerja lagi di perusahaan, begitu juga Yona. Dia telah mengundurkan diri saat tahu Boss kesayangannya itu di depak oleh adik sepupunya sendiri.
Setiap hari Risty mengunjungi Bu Hana yang tengah koma, mengajaknya bicara untuk mengenang masa-masa bahagianya bersama sang suami atau sekedar membacakan sebuah cerita untuk sang mama tercinta. Risty berharap mamanya lekas sembuh dan sadar dari komanya.
Yona juga sering menemani Risty menjaga mama sahabatnya itu. Mereka sekarang hanya seperti dua wanita pengangguran yang kesana kemari sering bersama. Risty kerap kali menyuruh Yona untuk membuat lamaran di perusahaan lain karena kinerjanya sangat bagus jadi mudah baginya untuk masuk ke perusahaan manapun, tapi Yona belum ingin bekerja lagi. Yona masih ingin menemani mantan Bossnya yang sedang dirundung kesedihan itu.
Siang ini seperti biasa, Risty membacakan sebuah cerita lucu untuk mamanya. Dia tertawa dan bercerita seolah mamanya merespon dan mendengarkan semua ucapannya.
"Apa mama suka ceritanya? Ceritanya sangat lucu kan ma! Aku janji kalo mama bangun nanti, kita akan liburan sama-sama, mengunjungi pantai dan pengunungan yang indah, kemanapun yang mama mau! Risty sayang banget sama mama!" ucap Risty berkali-kali mengecup tangan mamanya dan mencoba menahan agar airmatanya tak jatuh.
Dan seperti yang sudah-sudah, dia tetap tidak bisa menahannya, airmatanya tetap turun. Dia menangis dalam diam, sekuat tenaga menahan untuk tak mengeluarkan suaranya. Dia tidak ingin mama yang dia cintai itu mendengarnya menangis.
Kemudian seseorang tiba-tiba datang, menarik tangannya dan memberikan sebuah pelukan hangat untuknya.
"Aaahhh!"
__ADS_1