CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 66.Nasehat Suami Tercinta


__ADS_3

"Iya Bang.."


Risty membuka matanya dan mengigit bibir bawahnya.


"Apa terlalu besar? Hingga susah untuk masuk?" tanya Erlangga dengan polosnya.


"Bluss!"


Sedangkan wajah Risty mendadak memerah dan panas mendengar ucapan Erlangga, dia tidak tahu karena terlalu besar atau dia yang terlalu sempit, tapi yang dia yakini memang susah masuk karena ini adalah kali pertama baginya.


"Aku tidak tahu bang, tapi jujur, abang adalah yang pertama untukku," akhirnya Risty berkata jujur walaupun dengan ragu-ragu.


"Hah! Serius!" ucap Erlangga yang begitu terkejut.


Sedangkan Risty hanya mengangguk pasrah.


"Bima?" tanya Erlangga lagi dan Risty hanya menggeleng pelan.


"Baiklah aku akan melakukannya perlahan, tahanlah sedikit sayang! Ini akan sedikit sakit," ucap Erlangga menenangkan.


"Iya sayang," jawab Risty.


Sungguh hatinya sangat bahagia luar biasa, ternyata selama ini Risty adalah wanita yang masih suci belum terjamah almarhum adiknya maupun laki-laki lain. Ada rasa bangga menyeruak dihatinya, bangga karena dia satu-satunya laki-laki yang pertama kali menyentuh hal berharga istrinya.


Erlangga mulai menc**mi istrinya lagi dengan penuh kelembutan dan mulai melakukannya lagi pada istrinya. Risty sendiri sampai memekik tertahan karena menahan sakit yang luar biasa, hingga tidak dia sadari, dia telah menancapkan kesepuluh kukunya dengan kuat di punggung besar sang suami.


Erlangga pun sempat merasakan rasa perih dipunggungnya tapi rasa nikmat yang belum pernah dia rasakan itu lebih dominan, menyerang seluruh aliran darahnya dan urat syarafnya dari ujung kepala hingga ujung kakinya.


Rasanya begitu luar biasa bagi keduanya, ini adalah yang pertama bagi mereka tapi rasanya seperti tidak ingin berpisah barang sejengkal pun. Saat Risty sudah bisa berdamai dengan rasa sakitnya, Erlangga mulai menggerakkannya perlahan tapi pasti. Hingga setelah beberapa menit berlalu keduanya pun mend**** pelan dan merasakan pelepasan mereka bersamaan.


Erlangga menc**mi punggung istrinya dan memeluk tubuh istrinya dari belakang, dengan hati keduanya yang bahagia dan berbunga-bunga. Malam itu mereka pun tertidur dalam satu selimut tanpa memakai apapun, mereka terlalu lelah untuk melakukannya lagi karena acara pernikahan yang menguras tenaga.


Hingga pada tengah malam saat tenaga mereka pulih kembali, mereka pun melakukannya lagi sampai berkali-kali.


***


Pagi telah menjelang, kini Erlangga sedang sarapan bersama istri dan keluarga istrinya.


Mereka sarapan dengan suasana yang hangat dan bahagia, setelah menyelesaikan sarapan mereka, Erlangga meminta ijin pada ibu dan mama angkat istrinya, untuk membawa istrinya bulan madu ke Bali. Sebenarnya Risty ingin sekali pergi ke Turki tapi karena pekerjaan Erlangga begitu banyak, jadi mereka memutuskan honeymoon singkat di Bali.


Sedangkan Riana dan Reifan telah rapi dan bersiap ke kantornya, kedua adik kembar Risty selalu mengakrabkan diri pada kakak ipar mereka walaupun hanya sekedar sharing tentang pekerjaan, Erlangga pun menyayangi kedua adik Risty kayaknya adik kandung sendiri.


"Nanti kalo ada waktu luang, kita akan liburan bersama ke Bali, aku ingin mengajak kalian ke Resort milikku," ucap Erlangga pada kedua adik kembar istrinya.

__ADS_1


"Wahh benarkah? Kakak tau aja kalo kami udah lama nggak pergi berlibur," ucap Riana antusias.


"Ria nggak usah diajak kak, makannya banyak! Nyeselin lagi, maunya menang sendiri," goda Reifan.


"Awas aja kalo motor Vespa Kak Rey mogok di jalan! Aku nggak mau bantu dorong lagi," Riana melipat tangan dengan kesal.


"Eh jangan! Apa kamu tega liat aku dorong sambil jalan kaki!"


"Bodo ahh!"


Semua pun terkekeh melihat Riana yang melipat tangannya dan mengerucutkan bibirnya.


"Mama sama ibu diajak nggak ke Bali?" tanya Bu Hana.


"Sudah pasti diajak donk Mah!" Erlangga tersenyum manis.


Sedangkan Bu Aminah begitu bahagia sekaligus lega, putri sulungnya telah memilih laki-laki yang tepat sebagai suami, bukan hanya menyayangi putrinya saja tapi juga semua keluarganya.


"Baiklah kalo begitu kami berangkat dulu ya," ucap Reifan yang menyalami semua orang yang ada disitu dan diikuti oleh Riana.


Setelah beberapa jam berlalu akhirnya Risty dan Erlangga berangkat ke Bali dengan jet pribadi milik keluarganya. Hanya butuh waktu satu jam empat puluh lima menit saja, akhirnya mereka telah sampai di pulau indah dimana mereka bertemu.


Pengantin baru itu telah tiba di Resort milik Erlangga, tanpa banyak kata saat sampai di dalam, tiba-tiba Erlangga menggendong istrinya ala bridal style.


Risty melotot kaget saat merasakan tubuhnya yang tiba-tiba melayang di udara.


"Bang, ada apa?" Risty menatap suaminya dengan heran.


"Aku udah lapar banget sayang! Aku ingin segera melahapmu, tanpa takut didengar siapapun, saat kamu berteriak!" goda Erlangga tersenyum menyeringai.


"Tapi Bang! Ini masih sakit," keluh Risty.


"Aku lakukan pelan-pelan sayang! Kamu cukup diam dan nikmati saja!"


Risty menghela nafasnya panjang, dia tahu dia tidak akan bisa mencegah keinginan suami tampannya itu. Sebenarnya dia juga menginginkan sentuhan suaminya lagi, tapi rasa sakit pada inti tubuhnya masih dia rasakan.


Kemudian Erlangga membawa Risty ke kamar utama pada Resortnya dan merebahkan tubuh istrinya pada ranjang berukuran king size itu. Tanpa basa-basi lagi, Erlangga menc**mi bi*** istrinya yang sekarang menjadi candunya tanpa henti. Dan siang itu terjadi lagi pergumulan p***s yang dilakukan pasangan pengantin baru itu, tanpa ada kata lelah dan bosan. Saling mengungkapkan perasaan cinta mereka masing-masing dengan tindakan dan kata-kata mesra.


***


Di Ibukota, terlihat seorang laki-laki tampan sedang duduk di dalam kantor di ruang kerjanya, terlihat laki-laki itu begitu fokus menatap laptop dengan sesekali mendesah pelan karena dia begitu muak dengan pekerjaan yang ada di depan matanya.


Dia berharap hari ini dia bisa mendapatkan cuti karena semalam menghadiri acara pernikahan sepupunya, tapi harapannya pupus karena sepupunya sekaligus Bossnya itu menyuruhnya masuk kantor untuk menghandle semua pekerjaannya.

__ADS_1


Dia sudah menyodorkan wakil CEO untuk menghandle semuanya, tapi ternyata wakil CEO dan petinggi perusahaan yang lain sedang sibuk meeting di luar perusahaan. Jadi mau tidak mau dia harus mengubur khayalannya untuk bermalas-malasan di apartemen dan berakhir di ruang kerjanya lagi.


Setelah semuanya pekerjaannya selesai, dengan gontai di menuju basement dan mengambil mobilnya untuk pulang ke apartemen.


Saat tak sengaja dia menoleh ke arah jok belakang dia melihat sebuah benda berkilauan berwarna gold. Dengan sedikit mengangkat tangannya dia mengambil benda yang ternyata sebuah jam tangan wanita yang bermerek salah satu brand terkenal.


"Jam siapa ini? Prasaan udah sebulan ini aku nggak jalan sama cewek deh, punya siapa ya!" gumam Beny sembari mengingat-ingat pemilik jam yang ada ditangannya itu.


Selama ini Beny suka berganti-ganti pacar, pernah dalam sebulan dia berganti pacar selama empat kali. Sampai dia sendiri lupa nama-nama wanita yang pernah dipacarinya, dia adalah playboy sejati tapi dia bukan Casanova yang suka tidur dengan semua wanita. Dia hanya mengajak jalan dan sekedar mencium para wanita yang dipacarinya, tidak sampai bertindak lebih.


Dia memiliki alasan tertentu kenapa dia menjadi Playboy seperti itu, dia adalah pria yang pandai merayu dan berkata manis pada semua wanita, itu sebabnya dia mudah sekali mendapatkan pacar ditambah wajahnya yang begitu rupawan menambah nilai plus dari seorang Beny Harsa Atmaja, laki-laki tampan keturunan Jawa-China. Ibunya adalah adik Pak Prabu yang berasal dari Jogjakarta dan ayahnya keturunan China-indo.


Setelah berfikir dan tidak menemukan jawabannya, akhirnya dia memilih menyimpan jam itu dan akan mengembalikan jam itu jika ada seseorang yang mencarinya.


***


Sebulan telah berlalu, pengantin baru itu pun melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing di perusahaan yang mereka pegang saat ini, sama-sama menjadi menjabat sebagai Presdir.


Erlangga membeli Mansion mewah ditengah Ibukota agar dia dan istrinya merasa nyaman. Pekerjaan Risty semakin padat karena dia hanya bekerja sendiri sekretaris lamanya mengundurkan diri, asisten barunya tidak secerdas dan cekatan seperti Yona asisten lamanya, hingga dia merasa semakin kewalahan karena banyaknya pekerjaannya, belum lagi Erlangga protes karena Risty sering pulang terlambat ke mansion karena pekerjaannya.


Malam itu Risty menemani suaminya makan malam tapi tidak memasak sendiri untuk sang suami karena dia benar-benar sudah lelah dan mengantuk. Ada rasa kasihan dihati Erlangga melihat wajah istrinya yang kelelahan.


"Sayang, apa sebaiknya kamu mengundurkan diri saja dari perusahaan? Aku nggak tega melihat kamu yang kelelahan seperti itu,"


"Tidak bisa sayang," ucap Risty dengan cepat dan sedikit terkejut.


Dia takut suaminya melarangnya untuk bekerja di perusahaan almarhum papa angkatnya.


"Sepertinya kamu dulu tidak selelah ini sayang?" tanya Erlangga.


"Dulu Yona yang lebih sering menghandle pekerjaanku dan sekretaris lamaku juga orang yang bisa diandalkan, tapi sekarang mereka berdua sudah tidak berada di perusahaan jadi mau tidak mau aku bekerja sendiri." Risty menghela nafasnya panjang.


"Kenapa kamu tidak mengajak Riana ke Ibukota untuk membantumu saja? Aku liat kemampuannya udah lumayan. Reifan tanpa bantuan Riana aku yakin bisa mengatasi perusahaanmu dengan baik,"


"Ah benar kata Abang! Kenapa aku nggak kepikiran Riana sama sekali sih, dia lebih cerdas dari pada aku dan Reifan, bahkan beberapa perusahaan yang memperkerjakannya dulu sering memohon-mohon agar Riana kembali ke perusahaan mereka." ucap Risty sembari mengingat adiknya.


"Jadi benar kan perkiraanku! Riana adalah pebisnis yang berbakat, kamu hubungi dia segera untuk datang ke Ibukota mendampingimu!"


"Baik Bang!"


Setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka, lagi-lagi keduanya berakhir di ranjang dengan kegiatan favorit mereka. Walaupun waktu Risty banyak tersita untuk pekerjaan sampai terkadang mengabaikannya, tapi perasaan cinta Erlangga pada istrinya tidak berkurang sama sekali, dan malah semakin besar setiap harinya.


Dia tidak bisa melarang Risty bekerja karena perusahaan yang dia pimpin adalah perusahaan warisan dari papa angkatnya, Risty dan Pak Haris membesarkan perusahaan itu dengan keringat dan airmata, dan Erlangga sangat mengerti posisi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2