
Reifan memberitahu tentang kejadian naas yang menimpa Riana pada keluarga, baik Risty maupun Erlangga sangat geram dengan kelakuan Ibu Beny, bibi mereka sendiri. Bagaimana bisa seorang saudara menyakiti saudaranya sendiri hanya karena sebuah obsesi ingin memiliki menantu yang status sosialnya sama dengannya.
Risty benar-benar tidak habis pikir, Bu Gendhis meremehkan adiknya dan selama ini tidak menerima adiknya sebagai menantu di keluarganya. Itu sama halnya sudah melukai harga diri keluarganya, dia tidak menyangka di jaman seperti ini masih saja ada seorang yang mengkotak-kotakkan orang lain dari status sosialnya. Sungguh dia benar-benar kasian melihat Riana yang harus menahan penderitaan sendirian selama ini.
Sedangkan Bu Hana dan Bu Aminah hanya menangis mendengar keadaannya putrinya, mereka bersyukur Allah masih melindungi putri dan calon cucu mereka.
Risty dan Erlangga mengambil cuti kerja untuk terbang langsung ke Yogyakarta menjenguk adiknya secara langsung, Bu Aminah dan Bu Hana pun ikut bersama mereka.
"Apa tidak sebaiknya kamu di rumah saja nak? Kandunganmu masih 3 bulan, ibu tidak mau kamu terlalu lelah," ucap Bu Aminah pada Risty.
Kini mereka bersiap-siap akan menuju bandara dan berangkat dengan pesawat pribadi mereka.
"Benar sayang, apa sebaiknya kita tidak kesana dulu. Aku lebih khawatir dengan kondisimu, biar Ibu dan mama saja yang melihat langsung keadaan Riana," timpal Erlangga.
"Biar kami saja yang berangkat kesana sayang," sahut Bu Hana.
"Aku sudah tidak apa-apa, Mama, Ibu, Abang! Alhamdulillah sakit kepala dan mualku sudah berkurang drastis, kalian terlalu berlebihan mengkhawatirkanku. Ayo kita berangkat sekarang! Yang terpenting saat ini adalah keadaan Riana." ucap Risty yang menggandeng Mama Hana dan Ibunya secara bersamaan menuju ke mobil mereka.
Sedangkan Erlangga hanya mengikuti ketiga wanita kesayangannya dari belakang.
**
Di salah satu Rumah sakit swasta tempat Riana dirawat, keadaan Riana sudah membaik, dia juga sudah bangun dari tidurnya. Semalaman Reifan menjaganya tak beranjak sedikitpun dari sisi saudara kembarnya, Riana terus memanggil nama suaminya dalam tidurnya tapi Reifan terus menenangkannya.
Riana bersikeras ingin bertemu dengan suaminya, tapi Reifan melarangnya. Reifan takut Beny berbuat jahat pada Riana. Jika penyelidikan polisi sudah selesai dan Beny terbukti tidak terlibat dengan aksi kejahatan Bu Gendhis, Reifan berjanji akan membawa Beny pada Riana lagi.
"Bagaimana keadaanmu jutek?" Reifan mengelus kepala Riana dengan lembut saat wanita itu bangun dari tidurnya.
"Sudah lebih baik Rey," jawab Riana dengan wajah sedih.
Dia benar-benar ingin suaminya ada saat ini, ingin memeluk suaminya dengan erat. Karena dia yakin jika suaminya tidak mungkin terlibat dengan kejahatan ibu mertuanya.
"Alhamdulillah, makan yang banyak Ria! Mukanya jangan ditekuk terus!" ucap Reifan mengacak rambut saudara kembarnya.
Lalu dia mengambil sarapan untuk Riana dan menyuapinya.
"Buka mulutmu jutek! Biar kamu cepat sembuh," ucap Reifan sembari menyodorkan makanan pada sang adik.
Riana tak bersemangat makan, dia enggan untuk membuka mulutnya.
"Ayolah jangan seperti anak kecil Ria," ucap Reifan dengan nada dibuat selembut mungkin.
"Aku ingin suamiku Rey!"
"Aku udah bilang padamu soal itu, tolong jangan memaksaku! Ini demi kebaikanmu! Aku belum percaya pada siapapun."
"Tapi Rey, kamu salah jika menuduh suamiku terlibat!" Riana bersikeras.
"Baiklah kalau kau lebih memilih suamimu, lebih baik aku pergi saja dari ini! Rasa khawatir dan sayangku tak berarti buatmu, percuma saja!" ucap Rey berpura-pura merajuk.
"Tunggu! Jangan pergi Rey! Baiklah aku nggak akan meminta suamiku lagi sebelum semua menjadi jelas, tolong jangan pergi dari sisiku!" pinta Riana yang melihat wajah marah saudara kembarnya.
Dia tahu Reifan sangat menyayanginya, jika pada saat kejadian dia tidak bersama Rey, bisa jadi dia maupun bayinya tidak tertolong. Tapi Allah sangat menyayanginya dan bayinya, melalui Rey dan orang-orangnya dia bisa tertolong, dan tidak mungkin baginya untuk melukai hati saudaranya itu.
"Hmm! Sekarang buka mulutmu dan makanlah!"
__ADS_1
Riana mengangguk dan makan dalam diamnya, dia tidak berani memandang mata Reifan.
*
*
Di luar rumah sakit Beny duduk di sebuah warung pinggir jalan sembari merokok dan mengesap kopinya. Hasan juga bersamanya dan dua pengawal bayangan juga menjaganya dari jauh.
Setelah menyelesaikan ibadah subuhnya dia segera menuju ke rumah sakit untuk mengetahui langsung keadaan istrinya, tapi lagi-lagi Reifan dan beberapa anak buahnya melarangnya bertemu dengan Riana langsung.
Walau Reifan sudah memberitahukan padanya jika Riana dan bayinya dalam keadaan baik-baik saja, tapi tetap saja dia ingin bertemu langsung dengan istri tercintanya.
Semalam Reifan juga menelpon papanya dan memberitahu segala perbuatan buruk sang mama pada kekasih kakaknya dulu dan sekarang pada Riana istrinya.
*Flashback On
Beny sedang menelpon papanya dan menceritakan segalanya dengan detail. Pak Chandra begitu sangat marah dan geram pada istrinya. Dia tidak menyangka wanita yang dia nikahi selama puluhan tahun itu ternyata memiliki sifat yang jahat, entah sejak kapan, padahal dulu Bu Gendhis bukan orang yang seperti itu.
"Besok aku akan mencari penerbangan tercepat ke Indonesia untuk menjenguk langsung menantu dan calon cucuku," ucap Pak Chandra pada Beny.
"Baik Pi,"
"Kalau urusan ini sudah selesai, antarkan papi ke Bali menemui cucu papi dari Bisma. Papi ingin sekali memeluknya dan menghujaninya kasih sayang."
"Baik Pi,"
"Hufft! Sungguh malang nasib wanita dan laki-laki itu." ucap Pak Chandra dengan perasaan prihatin dari seberang telpon.
"Pi, bagaimana kalau mami dipenjara? Apa papi akan membiarkan mami dipenjara? Sepertinya Reifan tidak akan melepaskan mami."
"Papi tolong jangan meninggalkan mami, walaupun mami begitu tapi mami sangat mencintai papi sepenuh hati,"
"Apa yang kamu bicarakan Ben, jelas papi tahu mamimu sangat mencintaiku begitu juga aku sangat mencintaimu mamimu. Susah maupun senang kami selalu bersama hampir 30 tahun lebih, mana mungkin aku meninggalkan mamimu begitu saja. Aku hanya ingin dia menyadari jika semua yang diperbuatnya itu salah, dia terlalu jauh dari Tuhan selama ini. Aku terlalu sibuk hingga tak memiliki waktu untuknya dan dia sendiri juga salah bergaul. Kamu tenang saja setelah ini papi akan pensiun untuk menemani mamimu dan Bella juga telah bersedia meneruskan usaha papi di China."
"Syukurlah Pi, aku lega mendengarnya. Aku sangat menyayangi kalian,"
Setelah itu Beny mengakhiri sambungan teleponnya dengan papanya.
*Flashback Off
"Boss, lihat itu! Bukannya itu Presdir Erlangga bersama istrinya!" ucap Hasan menyadarkan lamunan Bossnya dan menunjuk ke arah parkiran rumah sakit.
"Hah benar! Itu Bang Angga dan Kak Risty," Beny berbinar bahagia melihat kedua kakak iparnya.
Dia juga melihat sang ibu mertua dan ibu angkat istrinya keluar dari mobil itu.
Beny berlari kecil menghampiri keluarganya dan Hasan pun mengikutinya dari belakang.
"Ibu, Mama.. Assalamualaikum!" Beny menyalami Bu Hana dan Bu Aminah.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab mereka bersamaan.
"Bang Angga, Kak Risty.. Aku senang kalian semua datang," Beny berbinar bahagia.
"Setelah semua yang dilakukan ibumu pada adikku, kamu masih berani menampakkan wajahmu di hadapanku! Dasar bre***sek!" umpat Erlangga.
__ADS_1
"Bughhh!"
Erlangga melayangkan bogem mentah pada adik sepupunya itu.
"BANG ANGGA!!"
"NAK ANGGA!"
"HENTIKAN!"
teriak ketiga wanita itu bersamaan dengan histeris.
Beny jatuh tersungkur dengan darah yang menetes disudut bibirnya.
Hasan segera menolong Bossnya dan segera memapahnya agar berdiri.
"Bang jangan berbuat arogan! Aku yakin Beny tidak tahu soal rencana kejahatan ibunya," Risty memegang bahu suaminya untuk menenangkannya.
"Iya Nak Angga, kasihan Nak Beny. Sepertinya dia juga tidak menyangka ibunya nekat berbuat buruk pada istrinya." bela Bu Hana.
"Maafkan Aku Bu, Mama, Kak Risty, Bang Angga! Sumpah demi apapun aku tidak tahu mami nekat berbuat buruk pada istriku. Aku mohon ijinkan aku ketemu sama istriku, aku sangat menyayanginya dan calon buah hati kami." ucap Beny yang sekarang berlutut dihadapan mereka.
Dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga istri dan calon buah hatinya dengan baik.
"Apa kamu belum bertemu istrimu sejak kemarin nak?" tanya Bu Aminah memandang sendu wajah menantunya.
Dari sorot mata Beny, Bu Aminah tahu jika Beny benar-benar tulus meminta maaf padahal dia tidak bersalah, mata penuh kesedihan dan kerinduan membuat semua orang yang melihatnya menjadi iba.
"Belum Bu!" Beny menunduk masih dalam keadaan berlutut.
"Tentu saja Reifan melarangmu masuk! Kamu memang nggak becus menjaga istrimu sendiri!" ejek Erlangga.
"Maafkan aku! Aku memang bukan suami yang baik, sampai tidak bisa menjaga istriku sendiri." Beny semakin merasa bersalah.
"Sudahlah jangan pikirkan lagi. Kita tidak akan tahu kapan musibah itu datang, yang terpenting kita harus selalu waspada kedepannya." ucap Bu Aminah lalu menyuruh Beny berdiri.
"Ayo kita masuk bersama-sama menemui istrimu, nanti ibu sendiri yang akan bicara pada Reifan," ajak Bu Aminah.
"Baik Bu, terimakasih."
Kini mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit besar itu.
***
Di mansion Besar milik keluarga Pak Chandra dan Bu Gendhis, Pak Chandra telah sampai dan mencari keberadaan istrinya, lalu dia bertanya pada beberapa pelayan di mansionnya.
"Saat sore hari saja nyonya besar pulang sebentar Tuan besar, lalu beliau membawa sebuah tas besar dan terlihat seperti terburu-buru meninggalkan mansion. Kami menanyai Nyonya, tapi Nyonya tidak menjawab. Tuan Muda Beny dan Nyonya muda juga tidak pulang sama sekali,"
"Hmm," Pak Chandra mengangguk.
"Sepertinya istriku kabur agar tidak tertangkap polisi," gumam Pak Chandra dalam hati.
"Oia maaf Tuan besar, kemarin juga ada beberapa polisi yang mencari Nyonya besar."
"Hmm, terimakasih atas informasinya,"
__ADS_1
"Sama-sama Tuan Besar, saya permisi dulu," ucap pelayan itu dan Pak Chandra pun mengangguk.