
Setelah dua hari di Singapura, akhirnya Risty dan Erlangga kembali ke Ibukota. Erlangga menyuruh orang kepercayaannya untuk menjaga Bu Hana dan memberikannya kabar jika ada perkembangan pada kondisi Bu Hana.
Erlangga mengantarkan Risty ke apartemennya, kondisi Risty semakin membaik karena luka Risty juga rutin diobati di rumah sakit tempat Bu Hana dirawat.
"Sayang, aku akan sedikit sibuk beberapa hari ini. Maaf kalo kamu akan kesepian di apartemen, aku juga akan kirimkan dua bodyguard di luar agar kamu tetap aman." ucap Erlangga yang duduk dihadapan Risty sembari membelai rambut coklatnya.
"Aku ingin pulang kerumah ibu di kampung, udah satu bulan lebih aku nggak ketemu ibu. Aku kangen ibu dan adik kembarku,"
"Baiklah sayang yang penting kamu merasa aman dan nyaman walaupun kita harus berjauhan lagi, aku pasti bakal kangen banget," Erlangga memeluk bahu Risty dan mencium pipi tirusnya.
"Kamu selesaikan dulu pekerjaanmu Bang! Setelah Abang menyelesaikan semuanya, jemput aku lagi ke kampung,"
"Iya istriku! Secepatnya aku akan selesaikan semuanya!"
Risty hanya tersenyum lucu mendengar panggilan yang sering Erlangga ucapkan itu, bahkan mereka belum menikah Erlangga dengan tidak sabar menyebutnya dengan "istriku".
"Kenapa ketawa?" tanya Erlangga dengan tatapan heran.
"Habis Bang Angga lucu! Kita ini belum nikah tapi rasanya kayak udah nikah aja pake manggil-manggil aku istri lagi!"
"Ya itu kan kode buat kamu sayang! Berarti aku tuh udah nggak sabar pengen cepet-cepet jadiin kamu istri! Aku sampek nggak pernah ikut lho, kalo temen-temen sekolahku lagi ngadain acara reunian, bisa-bisa jadi bahan bulian aku disana. Secara semua udah pada nikah dan punya anak, tinggal aku doank nih yang pacaran ama laptop kesayanganku tiap hari!" keluh Erlangga dan Risty malah terkekeh.
"Lagian kenapa Abang dari kemarin-kemarin nggak cari cewek aja terus di ajak nikah! Bang Angga kan udah mapan, tampang juga diatas rata-rata, siapa coba yang mau nolak Abang?"
"Ya kalo deket ama cewek sih sering, cuma untuk ke arah serius aku belum nemuin yang cocok."
"Lha emangnya kenapa? Apa level standard Abang terlalu tinggi?"
"Nggak juga sih! Saat aku jatuh cinta sama wanita, aku nggak pernah mandang dari status sosialnya. Yang penting buatku wanita itu bisa membuatku berdebar saat aku bertemu dengannya, membuatku bahagia dan ada rasa rindu yang menggebu-gebu saat aku berjauhan dengannya. Tapi sayangnya hanya kamu aja yang bisa membuatku seperti itu, aku mencoba mengubur perasaanku karena dulu kamu adalah istri dari adikku. Aku selalu menyibukkan diri untuk melupakan kamu tapi rasanya berat banget." Erlangga menghela nafasnya panjang.
"Gombal!" timpal Risty dan Erlangga hanya balas mencibirnya.
"Lalu kamu dalam satu tahun ini, kenapa masih sendiri?"
"Hmm!" Risty memegang dagunya seolah berfikir sejenak, "Dasar kepo!" cibir Risty lalu berlalu pergi ke dalam kamarnya.
"Diiihhh! Dasar nyebelin kamu sayang! Aku udah panjang lebar jujur ama perasaanku, kamunya malah nggak terbuka!"
"Nggak boleh buka-buka Bang belum muhrim!" ucap Risty yang menyembulkan kepalanya keluar pintu sembari menjulurkan lidahnya ke arah Erlangga.
"Eh! Awas aja kamu ya sayang! Aku balas nanti!"
Risty hanya terkekeh lalu menutup pintu kamarnya kembali.
***
__ADS_1
Keesokan paginya, Risty diantar oleh anak buah Erlangga menuju ke kampung halamannya, mereka mengendarai jet pribadi milik Erlangga.
"Sayang, maaf aku nggak bisa anter kamu pulang! Ada kerjaan penting yang harus aku selesaikan hari ini,"
"Nggak papa sayang! Kamu jangan khawatir, setelah aku sampai nanti aku akan mengabarimu!" ucap Risty membelai pipi calon tunangannya.
Dan akhirnya Erlangga melepaskan kepergian Risty dari Ibukota. Sebenarnya dia ingin sekali mengantar Risty pulang ke kampung halamannya, tapi dia mendapatkan telepon mendadak dari asistennya.
*Flashback On
Seperti biasa, Erlangga tidur di kamar tamu yang ada di apartemennya Risty. Dan pagi itu dering ponsel miliknya membangunkan tidurnya.
"📞Hhmm, iya Hallo!" jawab Erlangga dengan suara khas bangun tidurnya.
📞"Boss, anak buah kita udah berhasil nangkep tuh penjahat! Mau kita apain dia?" tanya Beny, sang asisten.
Ucapan Beny membuat dia begitu bersemangat dan dalam sekejap segala rasa kantuk yang sedang menderanya telah hilang begitu saja.
📞"Oke, biar gue sendiri yang turun tangan! Nanti gue ke markas setelah Risty pergi dari Ibukota,"
📞"Siap Boss!" ucap Beny lalu mengakhiri percakapan mereka.
*Flashback Off
Setelah satu jam lebih limabelas menit berlalu, akhirnya Risty telah sampai dengan selamat di Bandara yang ada di kota kecil tempatnya berasal. Dan disana telah terlihat kedua adik kembarnya dan ibu Risty menjemputnya di bandara itu dengan hati yang sangat bahagia.
"Kakak juga kangen kalian berdua!"
Risty mengecup pucuk kepala kedua adiknya.
"Ibu.. Risty kangen! Gimana kabar ibu?" tanya Risty kemudian memeluk ibunya.
"Alhamdulillah, ibu baik-baik saja nak!" jawab Bu Aminah sembari menciumi pipinya putri sulungnya itu.
"Baiklah ayo kita cepet pulang kak! Ibu udah masak makanan kesukaan kakak," sahut Riana yang menarik tangan kakaknya dengan tidak sabar. Sedangkan Bu Aminah dan Reifan hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
Setelah menempuh dua jam perjalanan menuju ke kampung halamannya, akhirnya Risty telah sampai rumah mewah yang telah dia bangun dengan kerja kerasnya sendiri.
Dia naik ke lantai atas, di kamar lamanya dan segera membersihkan diri lalu mengabari Erlangga jika dia telah sampai di kampung halamannya, tapi Erlangga belum merespon sama sekali chat darinya.
Seharian ini Risty bercengkrama bersama keluarganya untuk meluapkan rasa rindu mereka, bercerita dan bercanda bersama. Bu Aminah juga sempat menanyakan kabar Bu Hana pada Risty, dia mengatakan jika Bu Hana sedang dirawat di salah satu rumah sakit besar di Singapura tapi dia tidak mengatakan insiden yang terjadi saat di rumah sakit agar ibunya tidak mengkhawatirkannya.
***
Di sebuah gedung besar yang berada di tengah hutan yang terletak jauh dari Ibukota, Erlangga berhadapan dengan seorang laki-laki yang terlihat sepuluh tahun lebih tua darinya, badannya tinggi kekar, rambutnya pendek sedikit ikal dan terdapat tahi lalat di hidungnya.
__ADS_1
Erlangga mulai menyulut rokoknya, memperhatikan wajah penjahat yang telah melukai kekasih hatinya, wajah yang sama yang pernah di lihatnya di rekaman video CCTV yang Vincent kirimkan melalui ponselnya. Seketika amarahnya muncul kembali.
Ingin sekali dia menghajar dan membu*** laki-laki itu dengan tangannya sendiri tapi dia sadar dia bukanlah seorang mafia yang dengan mudah menghilangkan nyawa manusia. Dia hanya ingin membalas segala rasa sakit fisik dan psikis yang telah diderita Risty selama beberapa hari ini, dia tahu Risty mengalami sedikit trauma dengan insiden penusukan itu, tapi Risty berusaha baik-baik saja dihadapannya, jadi dia akan memberikan sedikit pelajaran pada penjahat itu tanpa harus menghilangkan nyawanya karena saat ini tujuan utamanya adalah untuk mengetahui siapa dalang utama di balik penyerangan tempo hari.
"Bughhh!! Bugghhh!!"
Erlangga membuang rokoknya dan memukul wajah si penjahat dua kali hingga sudut bibir pria itu berdarah.
"Siapa yang menyuruhmu menghabisi Bu Hana?" tanya Erlangga dengan santai dan menyulut rokoknya kembali.
"Aku nggak perlu mengatakan padamu, karena dia membayarku sangat mahal!" ucap si penjahat.
"Tapi nyatanya kamu gagal! Jadi aku nggak yakin kalo dia masih mau membayarmu mahal,"
"Tapi temanku hari ini yang akan datang untuk menghabisinya lagi, dan kali ini aku yakin akan berhasil," ujar si penjahat dengan sombongnya.
"Cihhh! Kamu kira akan semudah itu menghadapiku! Yah mungkin kemarin kami lengah hingga putri Bu Hana tertusuk olehmu, tapi sekarang kalian sendiri yang akan aku habisi!" Erlangga menatap tajam si penjahat.
"SIAPA SEBENARNYA KAMU! IKUT CAMPUR URUSANKU! APA KAMU NGGAK TAU DENGAN SIAPA KAMU BERHADAPAN SAAT INI!" teriak si penjahat penuh emosi.
"Kamu nggak perlu tau aku siapa! Yang kamu perlu tahu aku akan menjaga Bu Hana dan semua keluarganya dengan nyawaku sebagai taruhannya! Aku tahu kamu siapa! Namamu Santos dan Kamu anak buah Tuan Rico dari Geng Naga Merah! Kamu juga memiliki seorang putri berusia 8 tahun, yang saat ini kamu titipan di sebuah panti asuhan, bernama Gisella."
"Degg!!"
Mendengar ucapan Erlangga, wajah Santos menjadi pucat pasi. Selama menjadi pembunuh bayaran, tidak seorangpun tahu identitasnya selama ini, bahkan Bossnya sendiri tidak tahu jika dia memiliki seorang putri karena selama menjadi bagian dari Geng Naga Merah dia tidak pernah mengunjungi putrinya di panti asuhan dan hanya mengirimkan uang kepada pemilik panti. Dia benar-benar rapi menyembunyikan identitas aslinya. Tapi siapa laki-laki ini, kenapa bisa dengan mudah mengetahui identitas aslinya.
"Ba.. bagaimana kau tahu?"
Dia merasa takut saat ini, bukan dia takut jika terbunuh tapi dia lebih takut jika putrinya akan menjadi sasaran empuk musuhnya.
"Sekarang kamu sudah sadar kan, siapa yang kamu hadapi saat ini! Jadi jangan macam-macam padaku! Atau aku bisa dengan mudah menghancurkan orang yang kamu sayangi!" ancam Erlangga pada si penjahat.
Tujuannya hanya untuk menggertak penjahat itu, dia bukan seorang pembunuh jadi dia tidak mungkin membunuh seseorang hanya untuk mencapai tujuannya.
"Ja.. jangan sakiti putriku! Aku akan membunuhmu jika kau berani menyakitinya!" teriak si penjahat penuh frustasi.
"Ck! Udah terdesak masih aja sombong!" Beny berdecak kesal, "Biar gue hajar aja dia boss! Udah gatel tangan gue nih!" timpal Beny dengan tak sabar.
"Serah lo lah! Bikin dia ngaku sapa yang nyuruh dia! Gue mau nelpon dulu!" ucap Erlangga dan berlalu pergi ke ruangan lain untuk menelpon kekasih hatinya.
Terdapat sebuah ruangan mewah dan modern di dalam gedung tua di tengah hutan itu. Erlangga memang sering menghabiskan waktunya ditempat itu jika dia merasa bosan dari hiruk pikuk kehidupan kota, karena hutan itu adalah milik keluarganya dan dia sangat menyukai pemandangan alam yang masih alami. Berinteraksi dengan para pekerja hutan yang berasal dari pedesaan juga menjadi kesenangan saat berada disitu.
📞"Maaf sayang! Aku sangat sibuk seharian ini, jadi aku baru bisa menghubungimu sekarang," ucap Erlangga merasa bersalah dari seberang telpon.
📞"Nggak masalah bang! Aku bisa ngerti kok! Abang sedang dimana? Apa Abang sudah pulang ke apartemen Abang?"
__ADS_1
📞"Sedikit lagi aku pulang, aku masih harus melanjutkan beberapa hal yang belum selesai. Aku juga akan pulang ke apartemenmu aja dan tidur di kamarmu biar kangennya sedikit berkurang. Kalo kata dilan mah, rindu itu berat, kamu nggak akan kuat, biar aku aja sayang!" gombal Erlangga.