CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bonus Chapter : Hasan-Alfi Part 4


__ADS_3

"Udah pasti membelikan mobil untukmu, sekarang pilihlah yang kamu mau," ucap Hasan pada Alfi.


"Ta.. tapi aku nggak bisa nyetir mas!" ucap Alfi gugup sekaligus bahagia.


Dia sudah mengetahui dari Beny jika mereka akan membeli mobil, tapi dia masih saja merasa sangat gugup saat berada di tengah-tengah mobil-mobil mewah itu.


"Nanti akan ada les privat mengemudi Al, jangan khawatir. Sekarang pilihlah dulu yang kamu!"


"Om! Apa om akan membelikan mama mobil?" tanya Ardy yang berbinar melihat beberapa mobil baru yang dipajang di showroom mobil itu.


"Bukan Om Hasan, tapi Om Beny yang akan membelikan kalian masih mobil."


"Horee! Akhirnya Ardy dan mama punya mobil, horee!" teriak Ardy kegirangan.


Setelah selesai memilih mobil, Hasan juga mengantar Alfi membeli sebuah motor matic untuknya juga. Dan lagi-lagi Alfi hanya bisa mengikuti semua ucapan Hasan dan terus berucap syukur yang luar biasa dalam hatinya.


Selama 3 hari berada di Bali, Hasan dengan setia mengantarkan Alfi kemanapun dia ingin pergi. Membelikan semua yang Alfi dan Ardy butuhkan.


Hingga pada hari keempatnya, Hasan harus kembali ke kotanya untuk bekerja kembali.


Entah kenapa Alfi merasa berat melepaskan pria yang beberapa hari ini menemaninya itu, rasanya enggan untuk berpisah. Tapi Alfi sadar mereka hanya sebatas sahabat, tidak mungkin Alfi memintanya untuk tinggal, apalagi banyak pekerjaan telah menanti pria itu.


Sedangkan Ardy terus saja menangis dan melarang Hasan pergi, tapi berkali-kali pula Hasan dan Alfi memberi pengertian pada bocah itu.


"Om janji akan sering mengunjungimu ya kalau om tak banyak pekerjaan. Jangan bersedih jagoan!" ucap Hasan menenangkan Ardy.


"Aku ikut om ke Yogyakarta ya!" pinta Ardy.


"Kalau Ardy ikut om, kasihan donk mama kalau harus sendirian disini. Apa Ardy nggak kasihan sama mama?"


"Kasihan om, tapi aku kan sama mama bisa ikut sama om," tawar Ardy.


Hasan dan Alfi saling melirik dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.


"Belum bisa sayang, mama belum bisa ikut sama om."


"Kenapa belum bisa? Aku maunya ikut sama om," kekeh bocah itu.


"Ardy sayang! Nggak boleh nakal nak, Om Hasan kan kerja nanti dimarahin bossnya gimana? Kan kasian Om Hasan." ucap Alfi membujuk putranya.


"Iya mama," ucap Ardy dengan wajah muramnya.


"Om janji akan datang lagi dan akan belikan apapun yang Ardy mau, om juga akan sering menelepon Ardy." ucap Hasan.


"Iya om,"


"Al, aku pergi ya! Jaga diri baik-baik! Inget selalu menelponku jika ada apa-apa. Aku akan meneleponmu jika telah sampai ibukota."


"Iya mas, makasih banyak atas semuanya. Aku akan menunggu telpon dari mas, hati-hati dijalan ya mas!" balas Alfi tersenyum manis dan Hasan pun mengangguk.


Lagi-lagi senyuman manis yang begitu tulus itu membuat debaran jantung Hasan semakin berdetak lebih kencang.


"Perasaan apa ini? Apa aku udah jatuh cinta padanya? Atau sekedar mengagumi kecantikan dan ketegarannya aja?" ucap Hasan dalam hati.


Hasan berjongkok di depan Ardy, dan kedua laki-laki berbeda usia itu pun saling berpelukan sebagai salam perpisahannya mereka, hingga Hasan pun benar-benar telah menghilang dari pandangan mata Alfi dan Ardy.

__ADS_1


Sebenarnya Hasan pun juga merasa berat meninggalkan keduanya, rasanya ingin sekali dia membawa keduanya untuk tinggal bersamanya, tapi dia sadar mereka tidak memiliki hubungan apapun.


***


Selama satu bulan, Hasan, Alfi dan Ardy hanya berkomunikasi lewat telpon dan chat saja. Mereka semakin dekat dan sering bertukar cerita tentang kegiatan mereka masing-masing.


Beny dan Riana sendiri juga masih terus menghubungi Ardy dan Alfi, dan memantau keduanya dari jauh. Riana semakin sibuk dengan perusahaannya begitu pula dengan Beny dan Hasan.


Ardy terus merengek agar Hasan dan Beny datang untuk mengunjunginya, tapi sayangnya Beny dan Hasan belum bisa meninggalkan pekerjaannya yang begitu padat.


"Kasian keponakanku, dia ingin kita tengokin dia disana. Tapi aku kan nggak tega ninggalin Riana yang lagi hamil, apalagi kandungannya udah masuk hampir 7 bulan," ucap Beny yang berada di ruangannya bersama Hasan.


"Ya mau gimana lagi Boss! Apa sebaiknya kita jemput aja mereka boss? Kalau mereka kesini kan kita bisa lebih mudah menemani Ardy." usul Hasan.


"Jangan! Usaha minimarket Alfi lagi rame-ramenya, usaha ini kan baru berjalan masa mau dipasrahin ke orang lain? Alfi sendiri kan belum punya orang kepercayaan, jangan sampai nanti malah dimanfaatkan orang lain." cegah Beny.


"Iya juga sih Boss,"


"Kamu ajalah yang kesana! Aku kasi cuti 3 hari buat nemenin Alfi dan Ardy jalan-jalan, bawa mereka kemanapun yang mereka mau." ucap Beny dan Hasan pun mengangguk.


Hatinya begitu bahagia saat akan bertemu lagi bersama Ardy dan Alfi.


Dan pada minggu ke tujuh setelah perpisahan mereka, kini Hasan terbang lagi ke Pulau Dewata untuk menemui Ardy dan wanita yang membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak itu.


Hasan tidak mengabari keduanya karena ingin memberikan kejutan akan kedatangannya pada Alfi dan Ardy.


Beberapa saat setelah melewati perjalanan udara dan darat, akhirnya Hasan telah sampai di kediaman Alfi.


Dia melihat Alfi sedang mengobrol di dalam cafe mini yang ada di dalam mini marketnya bersama seorang pria. Terlihat keduanya begitu akrab dan saling melempar senyumannya.


Hati Hasan begitu panas melihat semua itu, dia sadar saat ini dia cemburu. Tapi segera dia buang jauh-jauh perasaan cemburu itu, dia mengingatkan dirinya sendiri jika Alfi dan dirinya tak memiliki hubungan apapun jadi tidak seharusnya dia cemburu. Alfi berhak untuk bahagia dengan siapapun itu dan harusnya dia ikut bahagia untuk Alfi, wanita yang telah dianggapnya seorang sahabat itu.


"Assalamualaikum Al!" sapa Hasan.


"Wa'alaikumsalam.. Mas Hasan! Baru datang mas?" seru Alfi berbinar bahagia.


Ingin rasanya dia berlari dan memeluk pria itu, tapi dia tidak mungkin juga melakukannya di depan banyak orang.


Hasan pun mengangguk lalu membalas senyumannya.


"Mau minum apa mas? Biar aku bikinin dulu!" tawar Alfi.


"Nanti aja deh, aku dan minum tadi. Eh Ardy mana? Aku udah kangen banget sama dia nih!" ucap Hasan sembari mengedarkan pandangan keseluruhan ruangan.


Melihat sikap Hasan yang begitu cuek padanya, membuat Alfi kecewa. Tadinya dia ingin mengobrol santai bersama pria yang beberapa minggu dia rindukan itu, tapi ternyata pria itu seolah tak merindukannya sama sekali.


"Dia ada di lorong nomer 4 mas, di area khusus mainan anak," ucap Alfi berpura-pura ceria lagi padahal hatinya begitu kecewa.


"Ya udah, aku temuin Ardy dulu ya!"


"Iya mas!"


Hasan memilih menghindar dari kedua orang itu, daripada dia harus sakit hati melihat kebersamaan Alfi dan pria yang ada di depannya tadi.


Saat berjalan ke tempat Ardy berada, seketika hati Hasan begitu bahagia kembali. Bocah laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai putra itu kini ada dihadapannya.

__ADS_1


Beberapa minggu berpisah, dia sangat merindukan bocah laki-laki itu.


Ardy belum menyadari keberadaan Hasan, dia masih sibuk menata mainan yang ada di rak barang itu.


Saat jarak mereka hanya sekitar 2 meter, Hasan menyapa Ardy.


"Hallo jagoan om! Apa kabar?" sapa Hasan.


Saat Ardy menyadari suara laki-laki yang dikenalnya, sontak dia menoleh lalu berlari ke arah Hasan dengan perasaan bahagianya.


"Om Hasan! Ardy rindu Om!" Ardy memeluk Hasan dengan erat dan Hasan pun menggedongnya.


"Om juga sangat rindu sayang! Kamu lagi ngapain disini?" tanya Hasan.


"Lagi bantuin mama rapiin rak om,"


"Pinter banget sih kamu nak! Om makin sayang sama kamu!" ucap Hasan mencubit pipi Ardy dengan gemas.


"Ardy juga sayang banget sama om!"


Hasan menciumi pipi bocah itu bertubi-tubi hingga bocah itu tertawa kegelian seperti biasanya.


"Eh tunggu!" ucap Ardy menghentikan sikap jahil salah satu paman kesayangannya.


"Apa?" tanya Hasan memandang wajah bocah itu.


"Apa om mau jadi papaku?"


"Hah!" Hasan terkejut mendengar pertanyaan Ardy.


"Siapa yang mengajarimu mengatakan itu anak tampan?" tanya Hasan menahan tawanya.


Dia benar-benar ingin tertawa keras melihat sikap polos bocah itu, tapi sayangnya mereka ada di tempat umum banyak karyawan dan customer Alfi sedang berlalu lalang disana.


"Kata mbak yang disana, mama pacaran sama Om Juna." Ardy menunjuk salah satu karyawan Alfi yang sedang duduk di meja kasir, "Aku nggak mau punya papa Om Juna, aku maunya Om Hasan yang jadi papaku!" ucap Ardy dengan mata mengiba.


"Om Juna yang ada di depan tadi sama mama?" tanya Hasan memastikan.


Lalu Ardy pun mengangguk.


Hati Hasan begitu sakit mendengar ucapan bocah itu, jadi perkiraannya tentang pria yang bersama Alfi itu benar, jika pria itu memang memiliki hubungan spesial dengan Alfi. dia tersenyum masam menanggapi ucapan Ardy.


"Om Hasan kan udah jadi papanya Ardy, sejak kemarin dulu jadi buat apa minta om jadi papanya Ardy lagi." ucapnya sembari memeluk erat bocah itu.


"Bener Om?" tanya Ardy dan Hasan mengangguk, "Jadi boleh panggil papa donk!" tanyanya lagi.


"Boleh donk sayang!"


"Makasih papa! Hore! Aku punya papa.. Hore!" ucap Ardy tertawa kesenangan.


Semua yang disana sontak memandang ke arah kedua pria berbeda usia itu dengan penuh tanya.


Sedangkan Hasan tak peduli dengan pandangan orang-orang yang ada disana, dia hanya tersenyum sembari mengangguk ke arah mereka.


Sedangkan Alfi dan Juna yang masih duduk berhadapan di cafe mini itu, sontak saling pandang saat mendengar teriakan Ardy.

__ADS_1


Juna memandang intens ke arah Alfi dan membuat Alfi menjadi salah tingkah.


"Jadi dia?" tanya Juna tanpa melepas pandangannya dari Alfi.


__ADS_2