
"Mama jangan bersedih ya! Yusuf akan selalu bersama mama dan membuat mama bahagia!" ucap anak laki-laki berusia tiga tahun lebih itu.
"Yusuf tahu papa pergi?" tanya Cynthia pada putranya dan putranya menjawab dengan anggukan.
Sontak Cynthia memeluk putranya dengan erat, dan kini bukan dia yang menangis tapi Yusuf, putra kesayangannya.
Dia membiarkan Yusuf menangis sepuasnya dipelukannya, hatinya semakin hancur, putranya mendengar langsung pertengkarannya dengan sang suami. Dia berharap, Yusuf bisa memahami keadaan mereka.
"Yusuf, asal kamu tahu mama tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi. Jadi kita harus kuat dan sabar apapun yang terjadi,"
Cynthia melonggarkan pelukannya dan menghapus airmata putranya, lalu Yusuf mengangguk lagi.
"Baiklah ayo kita ke kamar, mama akan menemanimu tidur sayang."
"Baik mama!"
***
Tiga hari setelah Riana memutuskan hubungannya dengan Faisal, dia menghindari untuk bertemu dengan Faisal di kantor. dia lebih banyak menghabiskan waktunya di ruangannya atau ruangan kakaknya. Bahkan jam makan siang pun dia lebih memilih makan di dalam ruangannya dari pada diluar kantor seperti biasa.
"Tok! Tok!"
"Masuk!" jawab Riana dari dalam ruangannya.
"Siang Bu Riana! Ini makanan pesanan anda,"
"Hei Vero! Sini duduk dulu! Ini jam istirahat jangan panggil Bu! Aku kok ngerasa kayak ibumu sih!"
Riana mengerucutkan bibirnya dan Vero malah terkekeh.
Riana menghampiri wanita bernama Veronica dan mengajaknya duduk di sofa yang ada di meja kerjanya.
Veronica ada Staff marketing di perusahaan dia bekerja, bisa dibilang satu tim dengan Faisal si Kepala Divisi Marketing. Sebenarnya saat berada di kantor, baik Riana maupun Veronica tidak terlalu dekat tapi karena pertemuan mereka yang tak sengaja di sebuah cafe dua hari lalu, membuat keduanya sekarang menjadi akrab.
*Flashback On
Dua hari yang lalu sepulang kerja Riana mampir ke cafe langgangannya untuk sekedar ngopi sembari memeriksa pekerjaannya dilaptop. Pikirannya masih tak karuan, bayangan Faisal masih belum pergi juga dari otaknya jadi dia memilih ke tempat-tempat yang dia ingin datangi untuk mengurangi perasaan sedihnya.
Sejak dia duduk satu jam lalu, dia mendengar sepasang kekasih sedang bertengkar tepat di belakang mejanya. Terlihat si perempuan mengumpat dan berkata kasar pada kekasihnya, si laki-laki tidak terima dan akan menampar si wanita.
Dengan sigap Riana menjauhkan tangan laki-laki itu dari si perempuan dan mendorongnya sedikit kencang hingga laki-laki itu terhuyung ke belakang.
"Hei siapa kamu! Ikut campur masalahku!" teriak laki-laki itu.
"Bu Riana," gumam si wanita sedikit terkejut.
"Aku atasannya pacarmu! Jadi jangan menyakiti atau menyentuh karyawanku sedikitpun! Aku bisa saja melaporkanmu ke polisi atas perbuatan tidak menyenangkan maupun penganiayaan!" hardik Riana menatap tajam laki-laki itu.
Bukan tanpa alasan Riana membela wanita itu, dia tahu jika wanita itu adalah karyawan kakaknya, Veronica adalah karyawan terbaik di antara teman-temannya. Kemampuannya di bidang marketing juga diatas rata-rata tapi sayangnya dia susah naik jabatan karena kendala pendidikan, dia hanya lulusan SMA.
Apalagi sejak mendengar pertengkaran keduanya dari awal dia merasa Veronica senasib dengannya, sama-sama dihianati. Jadi dia memilih berbalik dari mejanya untuk membela gadis itu.
"Cihh.. Mentang-mentang orang kaya main lapor-lapor aja! Awas kalian aku bikin perhitungan nanti!" ancam kekasih Vero dan membalas tatapan tajam Riana.
"APA!" Riana berkacak pinggang seolah menantangnya, dia tak gentar dengan ancaman laki-laki menyebalkan itu.
Setelah kepergiannya pacar Vero, Riana mendekati Veronica dan menanyakan keadaannya.
"Kamu baik-baik aja Vero?" tanya Riana.
"Aku tidak apa-apa Bu Riana, terimakasih sudah membantu saya." ucap Veronica merasa tidak enak.
"Udah santai aja, aku nggak bantu apa-apa kok! Oh iya kamu keburu-buru nggak?"
__ADS_1
"Tidak kok Bu, saya lagi tidak ada kegiatan di kosan."
"Temani aku ke mall ya, aku pingin nyalon!"
"Baik Bu Ria, saya temani!"
"Eh ngomongnya jangan terlalu formal donk! Kita lagi diluar kantor ini, kita ngomong biasa aja kayak ke temen gitu," protes Riana.
"Tapi Bu.."
"Eh panggil Riana, jangan Bu! Nggak boleh protes!"
"Baik Bu.. Eh Ria,"
"Gitu donk! Duh senangnya akhirnya aku punya temen main disini, yuklah kita jalan!" ajak Riana lalu menggandeng tangan Vero dan beranjak pergi dari cafe itu.
Dan pada beberapa jam berikutnya mereka menghabiskan waktu mereka berdua untuk ke salon dan makan sushi di mall. Riana begitu senang memiliki teman baru dan Veronica juga sangat senang bisa dekat dengan CEO tempatnya bekerja.
Vero tidak menyangka, wanita cantik dan kaya seperti Riana tidak memiliki teman. Walau jika Riana mau, dia bisa menunjuk beberapa orang untuk menjadi sahabatnya. Tapi Riana bilang pada Vero jika dia tidak mudah akrab dengan orang baru, apalagi dia baru tiga bulan lebih berada di ibukota.
*Flashback Off
Siang itu Vero dan Riana makan siang bersama di ruangan Riana dengan saling curhat dan bercanda seperti biasa.
"Eh Vero malam nanti acaramu kemana?" tanya Riana.
"Aku mau ke pesta ulangtahun temanku SMA, ya dulunya satu genk gitu sama aku."
"Yahh.. Padahal aku lagi bosen dirumah pengen jalan-jalan," ucap Riana dengan tak semangat.
"Apa kamu mau ikut aku ke acara temenku?" tanya Vero.
"Emangnya aku boleh ikut?" Riana balik bertanya dengan mata berbinar.
"Ya udah deh aku ikut, nanti aku jemput dikosan kamu ya! Aku bawa mobilku,"
"Oke siap Bu Boss! Duhh senengnya, akhirnya aku bisa ke pesta tanpa rambut berantakan lagi karena helm,"
Dan keduanya pun terkekeh bersama dan melanjutkan makan siang mereka.
***
Malam hari pun tiba, Riana telah berdandan cantik dengan memakai dress hitam selutut berbahan bludru yang mengkilap dengan hiasan brukat putih di atasnya, terlihat cantik dan elegan. Dia juga sudah pamit pada Bu Hana akan menghadiri pesta bersama temannya wanita dan Bu Hana pun mengijinkan.
"Wah.. wah.. putri mama cantik sekali!" puji Bu Hana.
"Terimakasih mama!"
Riana mencium pipi Bu Hana.
"Aku pergi dulu mama!" pamit Riana.
"Iya sayang, hati-hati dijalan dan jangan pulang terlalu malam,"
"Baik mama!"
Riana pergi melajukan mobil kesayangan menuju kos Veronica dan menjemput sahabat barunya itu.
Setelah 45 menit berlalu akhirnya keduanya telah sampai di Club malam tempat teman Vero mengadakan ulang tahun.
Disana Vero mengenalkan Riana pada teman satu genk-nya saat dia SMA, setelah basa-basi dan mengucapkan selamat dan doa pada temannya. Vero dan Riana kini duduk di depan bartender untuk memesan minuman mereka.
__ADS_1
"Ri.. kamu mau minum apa?" tanya Vero yang mendekatkan mulutnya pada telinga Riana.
"Apa aja deh yang penting jangan ada alkoholnya! Jujur ini pertama kali aku masuk club," ucap Riana dengan jujur.
"Aku udah bisa nebak kok kalo kamu baru pertama ke club, udah keliatan dari gaya kamu yang kaku." Vero terkekeh.
"Ssttt! Udah jangan buka aib!"
Mereka berdua menikmati suasana club malam yang menyenangkan, didukung oleh interior mewah nan memukau dan dipenuhi fasilitas-fasilitas mumpuni.
Dua gadis yang sedang patah hati dan mencari hiburan untuk melepas penat dan kesedihan mereka, dengan mendengarkan dentuman musik yang disuguhkan DJ papan atas. Mereka berjoged ringan diatas tempat duduk mereka, melihat aksi sang DJ tampan yang berada di atas panggung dan dancer-dancer se*si yang mengelilinginya.
Riana meminum minuman yang telah dipesankan Vero untuknya, rasanya sedikit aneh baginya, tenggorokannya pun sedikit panas. Dia tidak tau apa minuman itu tapi dia yakin jika Vero tidak akan memberikannya minuman beralkohol.
Vero ijin pada Riana untuk menemui beberapa temannya di dance floor karena mereka melambai-lambai memanggil Vero untuk ikut gabung berjoged, dan Riana pun mengijikan Vero meninggalkannya.
"Nona?"
Seorang bartender memanggilnya.
"Iya kak?
"Mau tambah minuman lagi? Kayaknya udah habis tuh minumannya,"
"Boleh deh, tapi yang non alkohol ya!" ucap Riana pada laki-laki itu dan dia balas dengan anggukan.
Tanpa Riana sadari dia telah menghabiskan 3 gelas minuman yang telah ditawarkan oleh bartender itu. Kepalanya mulai pening dan berat, badannya pun mulai panas luar biasa. Hingga seseorang yang di kenalnya memapah tubuhnya dan membawanya pergi.
"Hei siapa kamu?" ucap Riana dengan nada bicara khas orang mabuk.
Dia melihat wajah laki-laki yang sedang memapah tubuhnya itu, dan saat laki-laki itu membalas tatapannya, dia mengenalinya.
"Bang Ical! Ngapain kamu kesini?" seru Riana dengan kesal.
"Kamu mabuk sayang, aku akan anter kamu pulang," bisik Faisal pada Riana.
"Aku nggak mau lepasin! Aku nggak mabuk!" Riana memberontak mencoba melepaskan tangan Faisal yang mencengkeram tubuhnya.
"Kamu itu mabuk, sayang! aku khawatir sama kamu, kalo kamu pulang sendiri lalu dilecehkan orang bagaimana? Ayo aku antar kamu sampai pulang," bujuk Faisal.
"Aku sama Vero, bukannya sendirian!"
"Jangan keras kepala sayang! Kamu lihat Vero juga mabuk, mana mungkin kalian bisa pulang dalam keadaan mabuk," bujuk Faisal lagi.
"Lepaskan gadis itu!" teriak Beny yang tiba-tiba berada didepan mereka, dia menatap tajam pada Faisal.
Dan keduanya menoleh kearah sumber suara.
"Kak Beny?" gumam Riana.
Ternyata Beny juga berada di dalam Club itu daritadi bersama pacar barunya, teman-temannya dan para wanita sewaan mereka.
Sejak Riana duduk bersama Vero dia terus memperhatikan gadis itu, dia terkejut bagaimana bisa wanita seperti Riana bisa masuk ke dalam tempat seperti ini. Dia menjaga Riana dari jauh, dia tahu jika Riana mabuk, dia akan menjadi sasaran empuk para lelaki baji***.
"Kamu siapa?" tanya Faisal membalas tatapan tajam Beny.
"Aku sepupu Riana, JANGAN SENTUH DIA! Atau kau akan berurusan dengan Boss Erlangga," ancam Beny dan sontak membuat Faisal melepaskan pegangan tangannya pada Riana.
Semua karyawan Risty mengenal Erlangga yang sukses dan terkenal di majalah bisnis.
Beny segera memapah tubuh Riana yang sedang mabuk dan segera membawanya pergi dari club itu tanpa memperdulikan nasib pacar barunya yang sudah dia tinggalkan didalam club.
Sedangkan Riana hanya menurut saja saat dibawa oleh Beny, dia percaya jika sepupu kakak iparnya itu tidak akan berbuat macam-macam.
__ADS_1