CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 64.Janji Suci


__ADS_3

📞"Batas kesabaranku udah habis sayang! Mana mungkin aku tahan mendengar ucapan-ucapan buruk tetanggamu, lama-lama semua aku penjarain yang udah ngehina kamu," ucap Erlangga kesal.


"Ya udah sih nggak usah peduliin mereka bang!"


"Nggak bisa sayang!"


"Aku tuh pinginnya kita menikah dengan konsep dan gaun yang aku impikan Bang, tapi gimana lagi! Abang yang minta semua dipercepat." keluh Risty.


"Nanti di ibukota kita buat pesta yang mewah sayang sesuai keinginan kamu! Kita undang semua kolega kita, jadi lebih baik kita buat acara besar nanti biar pengusaha-pengusaha lain tahu dan nggak berusaha deketin kamu lagi,"


"Abang stalking nih! Kok tahu aku banyak yang deketin!" Risty tersenyum lucu mendengar Erlangga yang cemburu.


"Aku bosan tiap menghadiri acara sama teman-teman pebisnis, banyak dari mereka yang suka ngomongin kamu! Mereka terus memuji kamu dan bersaing ngedapetin kamu. Aku pengen marah tapi pasti malah diketawain, sekarang nggak ada alasan lagi buat mereka ngedeketin kamu karena sebentar lagi, kamu cuma milik aku,"


Mendengar ucapan Erlangga, Risty malah semakin tertawa. Dia melihat sisi lain dari calon suaminya yang dewasa dan berwibawa itu, ternyata Erlangga berubah menjadi kekanak-kanakan saat dia sedang cemburu.


"Abang! Cuma abang aja yang selama ini di hatiku, itulah alasannya aku nggak ingin dekat dengan laki-laki manapun setelah perceraianku dengan Kak Bima. Terlalu sulit buatku ngelupain Abang."


"Benarkah perasaan kamu sedalam itu?" Erlangga tak menyangka sekaligus sangat bahagia.


"Iya Bang!"


"Terimakasih sudah menungguku selama ini sayang! Beristirahatlah! Besok kita akan sangat sibuk dengan acara pernikahan kita, sayang!"


"Sama-sama Bang! Baiklah, aku istirahat dulu! Good night abang sayang!"


📞"Good night Ristyku sayang!"


Mereka mematikan sambungan telepon mereka dan segera beristirahat.


***


Siang itu iring-iringan mobil Erlangga dan keluarganya melewati kampung halaman Risty. Mereka membawa mobil sport mewah dengan truk besar yang terbuka, tak lupa dengan hiasan pita besar di atas mobil itu sebagai hadiah dari sang mertua pada Risty.


Semua tetangga Risty dibuat tercengang dengan puluhan mobil mewah yang melintas di desa mereka. Bagi mereka, ini adalah pernikahan termewah dan terbesar yang pernah ada di desa mereka. Melihat semua itu mematahkan tuduhan buruk mereka terhadap Risty selama ini. Mendadak mereka segan kepada Risty dan keluarganya, malah kini memuji-mujinya Risty yang cantik dan semakin kaya.


Di dalam mobil mewah yang di tumpangi Erlangga, Bu Helena dan Pak Prabu memegang erat kedua tangan putranya kanan dan kiri. Mereka tahu Erlangga begitu gugup dan terus berkeringat daritadi, padahal AC mobil sangat dingin.


"Bos jangan tegang begitu! Nanti malah nggak bisa lancar ijab qobul-nya!" goda Beny pada Erlangga, dia duduk di depan dikursi penumpang.


"Ck!" Erlangga hanya berdecak, dia terlalu malas meladeni godaan sepupunya.

__ADS_1


"Ben! Jangan goda sepupumu! Kamu juga akan merasakan gugup kalo menikah nanti," Pak Prabu memperingatkan.


"Hehehe.. Ampun pakde! Habis Bang Angga tegang banget, aku sampe ikutan tegang jadinya. Makanya aku mencairkan suasana biar nanti Bang Angga nggak gugup pas ijab qobul," kilah Beny.


"Dasar jomblo akut!" cibir Erlangga yang akhirnya membuka suara.


"Nggak usah ngejek Boss! Hafalin itu kata-kata ijab qobulnya, biar nggak diketawain orang-orang," balas Beny.


Sedangkan Erlangga hanya memutar malas bola matanya mendengar peringatan Beny.


Beberapa menit berlalu tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan rumah Risty. Mereka melihat semua orang disana sedang menunggu kedatangan mereka beserta rombongan keluarganya.


Pak Prabu dan Bu Helena berjalan beriringan bersama Erlangga dan mengantarkan Erlangga ke tempat ijab qobul yang sudah disediakan oleh keluarga Risty.


Terlihat disana penghulu dan beberapa saksi telah siap, Reifan sebagai wali yang akan menikahkan kakaknya juga berbinar bahagia melihat kedatangan Erlangga dan keluarganya.


Dan kini Erlangga telah duduk di depan Pak penghulu, lalu dia mengulurkan tangannya didepan Pak penghulu untuk memulai prosesi ijab qobulnya.


Walaupun Erlangga begitu gugup, tapi dengan lancar dia mengucapkan janji sucinya di hadapan Allah. Risty yang mendengar suara Erlangga dari dalam pun terharu dan matanya berkaca-kaca. Dia merasa semua seperti mimpi bisa menjadi istri laki-laki yang sangat dicintai, dia terus berucap syukur dalam hatinya.


Bu Aminah dan Bu Hana menggandeng Risty keluar untuk menemui suaminya, mereka berdua juga sempat meneteskan airmata karena bahagia.


Risty berjalan perlahan dengan menundukkan kepalanya ke arah Erlangga, jantung keduanya berdebar kencang. Perasaan gugup dan bahagia bercampur jadi satu dihati kedua mempelai pengantin baru itu. Sedangkan Erlangga tidak mengedipkan matanya sama sekali melihat istrinya yang begitu sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna rose gold yang menjulang panjang, dengan hijab yang senada dan mahkota cantik di kepalanya. Sungguh jika tidak ada orang disitu rasanya dia akan menggendong istrinya dan segera membawanya ke kamar pengantin mereka lalu menciumi istrinya bertubi-tubi.


"Nak Angga, saya serahkan putri ibu kepadamu. Ibu dan Mama Hana berharap kamu membahagiakan putri kami dan mencintainya dengan sepenuh hati." ucap Bu Aminah dengan lembut.


"Kalian jangan khawatir Ibu, Mama Hana! Saya akan menjaga istri saya dengan jiwa dan raga saya. Marahi saya jika saya berbuat buruk pada kesayangan kalian." ucap Erlangga bersungguh-sungguh.


Bu Hana dan Bu Aminah tersenyum mengangguk.


"Sayang, jangan menunduk terus! Tersenyumlah pada suamimu!" Bu Hana mengangkat dagu Risty keatas agar memandang kearah Erlangga dan menautkan tangan keduanya.


Saat mata mereka bertemu, alangkah bahagianya wajah kedua mempelai pengantin itu. Erlangga menggenggam tangan Risty dengan erat dan mengajaknya untuk meminta restu pada kedua orangtuanya.


Erlangga memeluk mamanya dan Risty memeluk Pak Prabu, papa mertuanya. Kedua orangtua Erlangga memberikan doa yang tulus kepada kedua mempelai pengantin dan menyerahkan hadiah mewah yang mereka bawa, tentu saja Risty hanya bisa tercengang melihat satu set berlian dan barang-barangnya mewah yang di bawa oleh keluarga suaminya dan lebih terkejutnya lagi Risty menerima kunci mobil sport keluaran terbaru dari papa mertuanya.


"Apa ini tidak berlebihan Dad.. Mom?" Risty memandang wajah mereka dengan tatapan takjub.


"Tidak ada yang berlebihan sayang! Kamu pantas mendapatkan semua ini!" ucap Bu Helena menenangkan hati menantu tercintanya.


"Benar menantuku! Kamu adalah anugerah untuk kami, semua yang kami berikan tidak berarti apapun dibandingkan dengan kehadiran kamu dikeluarga kami," tambah Pak Prabu.

__ADS_1


"Terimakasih Mom, Dad!" Risty terharu dan memeluk kedua mertuanya dengan sayang.


Kini pasangan pengantin baru itu duduk di kursi pengantin dan menyambut semua keluarga yang datang. Nenek Erlangga pun juga datang memberikan restu kepada cucu dan cucu menantunya. Wanita yang berusia 75 tahun itu terlihat masih cantik dan mudah tersenyum, dia adalah ibu dari Pak Prabu. Suaminya telah meninggal sepuluh tahun lalu karena sakit dan kini dia tinggal bersama ketiga adik Pak Prabu di Yogyakarta.


"Aduh ayu tenan cucu menantuku ini! Kamu memang tidak salah pilih cah ganteng!" puji Nenek Sekar Ayu yang mengelus pipi cucu menantunya, sedangkan Risty menunduk sembari tersenyum dengan wajah merona merah.


"Iya donk nek, cucu siapa dulu!" ucap Erlangga dengan bangga.


"Awas kalo kamu nyakiti dia segores saja! Aku pukul kepalamu pake alu!" ancam Nenek Sekar pada Erlangga.


"Astaga Nek! Berapa lama kita nggak ketemu nenek udah main ancem aja, ketemu cucu disayang kek, eh ini malah mau dipukul. Lagipula mana tega aku nyakitin bidadari dari khayangan ini, Nek!" gombal Erlangga.


"Pinter gombal kamu ya kayak kakekmu!" cibir Nenek Sekar sembari memukul bahu cucunya sekilas.


Risty melotot mendengarkan gombalan receh suaminya, sedangkan Erlangga hanya terkekeh karena pukulan neneknya.


"Kapan-kapan berkunjunglah ke rumah nenek sayang, nenek ingin mengajakmu menikmati suasana kampung halaman nenek!" ucap Nenek Sekar menggenggam tangan cucu menantunya.


"Baik Nek, lain kali saya akan mengajak Bang Angga mengunjungi nenek di kampung," Risty membalas genggaman nenek suaminya.


Siang sampai sore hari, acara pernikahan yang hanya dihadiri kedua keluarga begitu meriah dan menyenangkan. Semua keluarga ikut bahagia dan mendoakan mempelai pengantin. Tak ketinggalan juga hiburan dari grup band lokal dan grup dangdutan yang terkenal di kotanya yang Reifan datangkan untuk memeriahkan acara pernikahan kakaknya.


Disaat dua orang penyanyi cantik mulai berduet menyanyikan lagu-lagu dangdut yang sedang hits dan booming, Reifan dan Beny dengan PD-nya naik ke atas panggung untuk memberi saweran pada kedua penyanyi cantik itu. Kedua laki-laki tampan itu bergoyang dengan konyolnya, baru sejenak bertemu keduanya pun menjadi akrab. Keluarga keduanya malah bersorak kegirangan melihat dua pemuda tampan bergoyang di atas panggung.


Erlangga dan Risty hanya bisa tersenyum diatas kursi pengantin mereka, rasa bahagia luar biasa dan lega yang saat ini mereka rasakan.


"Abang mencintaimu istriku!" bisik Erlangga pada telinga istrinya.


Dan lagi-lagi wajah Risty bersemu merah mendengar ucapan cinta suaminya.


"Jawab sayang! Apa kamu nggak mencintaiku?" goda Erlangga.


"Abang apa sih! Nanti ada yang denger gimana?" bisik Risty malu-malu.


"Nggak ada yang denger sayang!" protes Erlangga.


"Tapi mommy dengar Lang! Inget masih banyak tamu!" ucap Bu Helena yang tiba-tiba ada di belakang Erlangga.


"Mommy.." Risty menatap mama mertuanya yang tersenyum, sedang menggoda mereka berdua.


"Ahh mommy nih kayak nggak pernah jadi pengantin baru aja," Erlangga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Masuklah kedalam dulu sayang, ajaklah istrimu untuk makan. Kalian pasti belum makan kan?" tanya Bu Helena dan keduanya menggeleng pelan, "Acara pernikahan kalian masih panjang, jadi isi tenaga dulu untuk sekarang dan nanti malam," Bu Helena mengedipkan sebelah matanya.


"Ahh mommy memang selalu perhatian dan pengertian," puji Erlangga yang berbinar, kemudian dia mengajak istrinya untuk masuk kedalam kamar pengantin mereka untuk sekedar beristirahat sejenak dan makan.


__ADS_2