
Riana terus muntah sampai badannya terasa lemas dan tak bertenaga.
"Apa ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya Pramugari.
Sedangkan Riana hanya melambaikan tangannya sebagai tanda dia tidak membutuhkan bantuan.
"Tolong berikan susu coklat hangat saja pada istri saya,"
"Baik Tuan, segera saya ambilkan!" ucap sang pramugari.
"Apa masih terasa mual? Apa Yangu bisa aku bantu untuk mengurangi mualmu?" tanya Beny khawatir.
"Aku nggak papa, kakak jangan khawatir, nanti juga baikan." ucap Riana yang terdengar lemah sembari memandang ke arah luar jendela.
Beny merasa iba dan tiba-tiba mengelus punggung Riana dengan lembut, lalu Riana pun menoleh padanya.
"Terimakasih." ucap Riana yang menoleh pada Beny lalu tersenyum manis.
Beny menerima susu coklat itu dari sang pramugari dan memberikannya pada Riana.
"Terimakasih kak," ucap Riana lagi dan Beny mengangguk.
"Gimana rasanya? Apa udah enakan?" Beny memandang wajah cantik itu yang terlihat pucat itu.
"Alhamdulillah lebih baik kak, tapi pusing dan mualnya masih belum hilang."
Tiba-tiba Beny mendekap tubuh Riana dan menempelkan kepala istrinya didada bidangnya.
"Kak!" Riana terkejut saat mendapat pelukan hangat dan menenangkan itu.
Dia bahagia suaminya begitu khawatir padanya dan mulai bersikap hangat lagi padanya.
"Udah diam aja! Aku hanya nggak mau kerepotan kalo kamu harus pingsan, jadi aku harap aroma tubuhku bisa meredakan pusing dan mualmu," ucap Beny dengan mode datar lagi.
Sedangkan Riana kembali kecewa, dia kira suaminya mulai perhatian padanya tapi nyatanya semua itu dia lakukan agar pria itu tidak kerepotan karenanya. Pada akhirnya dia hanya terdiam dalam dekapan suaminya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang disukainya sampai dia pun tertidur dalam dekapan sang suami.
***
Setelah satu jam berlalu akhirnya, Beny membangunkan Riana yang sedang tidur dalam dekapannya karena pesawat mereka telah sampai di tujuan.
"Ayo bangun, kita sudah sampai bandara," ucap Beny yang melonggarkan pelukannya.
Riana menegakkan kepalanya perlahan, matanya membuka dan menutup untuk menyesuaikan cahaya lampu yang ada disekitarnya. Setelah keluar dari pesawat, sepanjang perjalanan ke arah pintu keluar bandara, Beny terus menggenggam erat tangan Riana.
Sedangkan Riana gugup dan pipinya pun merona, laki-laki itu sungguh menyentuh relung hatinya dengan cara yang berbeda, dimulut memang seolah tak peduli tapi segala perlakuannya sungguh manis.
"Selamat datang kembali Boss!" ucap Hasan, asistennya.
"Hmm!" Beny mengangguk.
"Selamat datang Nona Muda, perkenalkan saya Hasan, asisten pribadi Tuan Muda." ucap Hasan pada Riana.
"Terimakasih Kak Hasan, saya Riana."
__ADS_1
"Siapa Kak Beny sebenarnya? Ternyata dia memiliki asisten padahal dulu dia menjadi asisten Kak Angga, apa Kak Beny juga seorang pengusaha sukses seperti Kak Angga? Aku benar-benar tak mengenalnya sama sekali," tanya Riana dalam hati.
Hasan mengangguk lalu membukakan pintu mobil Beny untuk Riana dan supir pribadinya membukakan pintu untuk Beny.
Setelah 45 menit berlalu, akhirnya mereka tiba di mansion besar milik keluarga Beny. Riana sedikit tercengang mansion Beny sama besarnya dengan mansion Bu Hana, dia baru menyadari jika Beny juga bukan orang biasa.
"Assalamualaikum mami," sapa Beny pada mamanya yang saat ini menyambutnya.
"Wa'alaikumsalam sayang, mami senang kamu pulang," Bu Gendhis memeluk putranya dan Beny mencium pipi mamanya kanan dan kiri.
"Hallo menantu mami yang cantik, ayo sini masuk. Anggap saja ini rumah kamu juga karena kamu sekarang anak mami juga," ucap Bu Gendhis lalu memeluk Riana penuh sayang.
"Terimakasih banyak mami," ucap Riana lalu mengambil tangan ibu mertuanya lalu menciumnya penuh hormat.
"Duhh manisnya menantu mami," ucap Bu Gendhis mengusap lembut kepala menantunya.
Hati Beny tenang, dia sempat mengira mamanya akan bersikap dingin karena mamanya sempat menolak Riana, tapi saat ini dia bisa melihat jika mamanya mulai menerima istrinya. Akhirnya dia bernafas lega.
Setelah sejenak berbasa-basi, Beny mengajak Riana ke kamar mereka.
"Ada beberapa baju baru di lemari, pakai aja! itu semua aku belikan untukmu agar kamu tidak banyak membawa baju kemari."
"Terimakasih kak,"
"Hmm!"
"Beristirahatlah, aku ke ruang kerja dulu, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jika kamu butuh sesuatu atau merasa lapar, kamu bisa turun ke bawah, para pelayan akan melayani kebutuhanmu."
"Baik Kak,"
Saat malam tiba, Riana makan malam bersama suami dan keluarganya. Adik Beny sangat antusias dengan kedatangan Riana, dia senang akhirnya dia memiliki teman ngobrol.
Riana sangat senang walaupun Beny bersikap datar dan dingin padanya setidaknya keluarganya begitu hangat padanya.
Setelah mereka menyelesaikan makan malam, Bella dan Riana berbincang lama sedangkan Beny kembali ke ruang kerjanya dan Bu Gendhis masuk ke dalam kamar pribadinya.
Riana mulai menguap karena mulai mengantuk.
"Ya ampun nggak terasa udah jam 10 aja, kakak istirahat sana gih! Ada yang bilang ibu hamil harus banyak istirahat, nanti kalo Kak Riana kecapekan aku yang dimarahin Kak Beny," ucap Bella.
Riana pun tersenyum bahagia karena perhatian sang adik ipar.
"Baiklah adik iparku yang cantik, kakak istirahat duluan ya!" pamit Riana dan Bella pun mengangguk.
Kini Riana berada di kamar milik Beny, dia malah terjaga saat masuk di kamar itu. Tentu saja dia memikirkan suaminya, sampai pukul 11 malam Beny belum juga kembali ke kamar mereka sampai dia ketiduran karena saking lelahnya menunggu.
Di ruang kerja Beny, ternyata dia tertidur sejak pukul 10 malam tadi lalu dia terbangun pukul satu dini hari dan kembali ke kamarnya.
Dia memilih tidur di sofa yang ada di dalam kamarnya, karena dia masih enggan tidur satu ranjang dengan istrinya. Dia ingin membuat istrinya jatuh cinta padanya dengan caranya, hingga Riana yang akan datang sendiri dan mengakui perasaannya. Karena penolakan Riana tempo hari, membuat luka yang lumayan dalam dihatinya, dia hanya tidak ingin ditolak lagi dan cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Keesokan paginya, Riana telah terbangun dari tidurnya. Pemandangan yang sama tiap paginya, suaminya masih enggan tidur satu ranjang dengan.
"Hufftt!" dia menghela nafasnya panjang tanda dia kecewa.
__ADS_1
Dia mendekati sofa tempat Beny tidur untuk membangunkannya, tapi wajah tampan itu tiba-tiba menghipnotis matanya agar terus memandangnya.
Suaminya itu masih saja tampan walaupun dalam keadaan memejamkan mata, hatinya mulai berdetak tak karuan saat melihat tubuh sang suami bertelanjang dada. Sungguh pahatan yang sempurna, pikirnya.
Dia menyesal dulu sempat menolak pria itu, pembawaan yang konyol dan menyenangkan dulu saat mereka masih sangat akrab, kini hanya tinggal kenangan saja.
"Sudah puas liatnya?" tanya Beny dengan masih memejamkan mata.
"Ahh udah bangun ternyata, maaf tadinya mau aku bangunin. Sejak kapan kakak bangun?" ucap Riana dengan wajah yang merona kemerahan dan menjadi salah tingkah.
"Baru aja!" ucap Beny datar lalu dia masuk ke dalam kamar mandinya.
Melihat wajah malu sang istri lagi-lagi Beny harus menahan diri agar tidak menyerang sang istri, dia selalu menyukai ekspresi malu sang istri, ditambah lagi, baju tidur istrinya yang selalu menyegarkan mata hingga membangunkan sesuatu yang ada dibawah sana.
Riana menyiapkan baju kerja suaminya, tapi bukannya memakai baju pilihan Riana, Beny malah memakai baju yang dia pilihnya sendiri dan seketika raut kecewa itu menghiasi wajah Riana.
Sedangkan Beny bersikap tidak peduli, lalu mengajaknya turun untuk sarapan. Dia berjalan ke lantai bawah dan Riana mengikutinya dari belakang.
"Makanlah yang banyak, agar bayiku sehat didalam sana!" ucap Beny yang memandang lawan bicaranya dan Riana hanya bisa mengangguk patuh.
***
Selama satu bulan ini Beny sibuk di kantornya dan sering pulang larut malam. Di samping pekerjaannya yang banyak, dia juga tak ingin berinteraksi terlalu lama dengan istrinya.
Pagi itu setelah Beny berangkat kerja, Riana pergi ke taman untuk berkebun. Berkebun adalah hobi barunya sekarang, sejak dia merasa kesepian dan sendiri di mansion karena Bella harus kuliah dan Bu Gendhis juga lebih banyak menghabiskan waktunya untuk ke butik dan pergi bersama teman-teman sosialitanya.
Ria menanam banyak bibit buah dan bunga, dia juga merawat semua tumbuhan yang sudah ditanam sebelum dia berada di mansion ini. Para pelayan mengatakan jika yang menanam semua itu adalah Pak Chandra, karena papa Beny sangat hoby mengoleksi bunga-bunga yang langka dan suka menanam banyak buah dan sayuran.
Saat Riana masih berada di taman, terdengar suara riuh dari dalam mansion.
"RIA!"
Teriakan Bu Gendhis membuat aktivitasnya berhenti lalu dia berjalan ke arah sang ibu mertua.
Terlihat disana banyak para wanita cantik paruh baya dengan gaya yang terlihat glamor dan berkelas, sudah bisa ditebak jika mereka semua adalah teman sosialita mama mertuanya.
"Iya mi, ada yang bisa aku bantu?" tanya Riana yang kini sudah dihadapan Bu Gendhis.
"Kamu ambilkan minuman dan semua makanan yang sudah pelayan masak tadi kesini!" ucap Bu Gendhis dengan datar tanpa senyuman seperti biasa.
"Baik mi," ucap Riana patuh.
Dia mengambilkan semua makanan dan minuman yang akan dihidangkan pada tamu mama mertuanya, berjalan bolak-balik dari dapur ke ruang tamu dengan nampan yang cukup besar dan berat.
Sebenarnya para pelayan ingin membantunya tapi teriakan Bu Gendhis membuat mereka takut dan mereka pun mengurungkan niatnya.
"Udah nggak usah dibantu! Masa gitu aja minta bantuan, biar dia kerja nggak makan tidur terus aja disini seperti tuan putri aja!" ucap Bu Gendhis dengan nada tak suka.
Sedangkan Riana sangat terkejut dengan sikap mama mertuanya yang tiba-tiba berubah, wanita yang biasa ramah itu sekarang menunjukkan sisi tak sukanya.
"Hei sini kamu, duduk situ!" panggil Bu Gendhis saat Riana telah menyelesaikan tugasnya.
"Baik mi," Riana menunduk patuh dan duduk di depan tepat di depan Bu Gendhis.
__ADS_1
"Kamu liat gadis cantik ini?" ucap Bu Gendhis menunjuk gadis cantik disampingnya.