CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 21. Mengakui


__ADS_3

"Udah kak, ayo kita berangkat sekarang!" ucap Riana antusias, dia sangat senang bisa menghadiri pesta bersama suaminya.


"Hmm!"


Beny berjalan didepan Riana, tapi Riana segera mensejajarkan dirinya dengan suaminya lalu menyelipkan tangannya kedalam lengang sang suami.


Beny hanya terdiam sembari memasang mode datarnya dengan apa yang dilakukan istrinya, tapi hati pun juga sangat bahagia.


Saat mereka tiba di lobby, Arletta memandang wajah Beny tanpa berkedip dan melempar senyuman menggoda saat Riana tak melihat. Arletta pun tak kalah cantik, dia memakai dress berwarna navy panjang dengan belahan yang mengekspos dada dan sebagian pahanya.


Tapi Beny tidak merasa terpesona atau tergoda melihat sekretarisnya itu, yang cantik dimatanya hanyalah istrinya saat ini.


"Ayo berangkat sekarang!"


"Baik Boss!"


Hasan segera melajukan mobil yang di kendarainya menuju ke lokasi acara.


Hanya butuh waktu 20 menit mereka telah sampai di sebuah resort mewah dan besar dengan fasilitas kolam renang dan bar di dalamnya. Segala jenis makanan dan minuman ada disana, penyanyi-penyanyi dan penari-penari cantik berpakaian se**si pun berada di atas panggung untuk menyambut kedatangan para undangan.


"Selamat datang Tuan Beny Atmaja," ucap seorang pria matang bergaya parlente menyambut Beny.


"Selamat malam Tuan Daniel, senang bisa bertemu anda kembali! Suatu kehormatan bagi saya ikut memeriahkan acara anniversary perusahaan anda. Saya doakan semoga kedepannya semakin sukses dan berjaya," ucap Beny pada Tuan Daniel si pemilik acara.


"Amin, Terimakasih atas doa tulus anda Tuan Beny, mari silahkan menikmati acaranya!,"


"Sama-sama Tuan Daniel,"


Beny mengangguk tersenyum dan Daniel pamit untuk menyambut tamunya yang lain.


Keempat orang itu pun akhirnya berbaur bersama para tamu undangan, dan duduk disalah satu meja yang telah disediakan.


Mereka menyapukan pandangan mereka ke segala arah dan menikmati suasana pesta yang meriah. Lalu beberapa saat kemudian, seseorang yang mengenal Beny tiba-tiba menyapa dan menghampirinya.


"Hei Bro!"


"Hei Raf, lu disini juga?" Beny terkejut dengan sapaan salah satu teman komunitas pengusaha muda yang satu kota dengannya.


"Yo'i Bro! Tuh liat temen kita disana semua! Yuk gabung bentar!" ucap pria bernama Rafael itu.


"Eh ini gue bawa bini lho! Masa bini gue, gue tinggal gitu aja," tolak Beny.


"Alah bentar doank!"


"Maaf, Nyonya Muda Atmaja! Suaminya saya pinjem boleh ya?" tanya Rafael pada Riana.


"Iya kak, boleh kok!" balas Riana yang tersenyum.


"Eh itu yang bersama kamu Gio bukan?" sahut Arletta.


"Eh iya bener itu Giovanno, kamu kenal non?" tanya Rafael.


"Giovanno itu sepupuku,"


"Eh kebetulan banget, yuk sekalian gabung bentar!" Rafael memeluk bahu Beny dan segera membawanya berkumpul dengan anggota komunitas pengusaha muda yang lain.

__ADS_1


"Eh Ria kamu disini aja ya sama Hasan, aku cuma mau nyapa mereka bentar!" ucap Beny.


"Baik kak!"


"San! Jagain Riana! Awas kalo ada buaya matiin aja!"


"Nyamuk kali tinggal ditepuk doank mati! Kalo buaya mah nyerah Boss!" gumam Hasan.


Beny melayangkan tatapan tajamnya pada Hasan saat tubuhnya mulai menjauh dari Riana, dan Hasan membalasnya dengan senyuman dan dua jempol tangannya.


Arletta tersenyum penuh kemenangan mengikuti dua laki-laki itu dari belakang, dia merasa Dewi Fortuna sedang bersamanya. Dia bisa lebih dekat dengan Beny tanpa ada Riana diantara mereka.


"Ck! Cari kesempatan terus sih dia! Dasar cewek gatel!" umpat Riana saat melihat Arletta dengan gaya sok se**si-nya mengikuti suaminya.


Hasan hanya terkekeh melihat Riana yang kesal.


"Nona kata orang Jawa bilang amit-amit biar anaknya nggak kayak wanita itu,"


"Ih amit-amit jabang beby!" Riana bergidik ngeri mendengar ucapan Hasan.


"Apa nona muda mau saya ambilkan makanan? Biasanya bumil kan gampang lapar," tawar Hasan.


"Eh iya boleh! Peka banget sih kamu kak! Tolong ambilkan es krim, salad buah sama steak daging sapi!"


"Siap Bu Boss, biar saya ambilkan!"


"Terimakasih ya kak!"


"Nona jangan panggil 'kak' donk! Panggil Hasan aja, nanti Bos Beny marah kalo aku ikutan dipanggil 'kak'!" protes Hasan.


"Ya ampun nih orang ya, udah cantik, baik, nggak sombong lagi, beruntung lah sih Boss punya istri yang begini, daripada si uler kadut!"


"Dih Kak Hasan lebay deh mujinya! Aku juga punya sisi buruk cuma belum keliatan aja," Riana memutar malas bola matanya, dia merasa Hasan terlalu berlebihan memujinya.


"Eh gimana-gimana? Siapa tuh uler kadut?"


Riana tertawa keras, untung sound sistemnya keras menggelegar jadi tidak ada yang mendengar tawa membahana Riana.


"Ya siapa lagi kalo bukan Arletta Non! Cewek nggak tau malu, ganjen!" ucap Hasan yang ikut-ikutan kesal dengan gaya konyolnya.


"Eh bukan aku lho yang bilang!"


"Ya kan yang bilang saya non, saya aja yang mewakili nona buat ngata-ngatain dia, saya lagi nggak hamil jadi aman!"


Lagi-lagi ucapan Hasan membuat Riana tertawa sampai dia mengeluarkan airmatanya.


"Ya ampun Kak Hasan! Mukanya macho tapi kelakuan kayak mak-mak lagi belanja sayur!"


"Hah?" Hasan tak paham.


"Julid nggak ketulungan!"


Kini Hasan yang tertawa terbahak-bahak, mengingat dirinya disamakan dengan emak-emak julid yang biasa belanja sayur di depan komplek.


"Eh udah sana, katanya mau ambilin aku makan! Ketawa juga butuh energi lho, aku jadi laper banget nih!" keluh Riana.

__ADS_1


"Ok Bu Boss, pesanan segera datang!"


Hasan melesat pergi ke area makanan.


Keduanya tidak menyadari, jika Beny memperhatikan keduanya dari jauh. Entah kenapa hati Beny merasa panas saat Riana bisa tertawa lepas saat bersama asistennya, dia tidak pantas cemburu karena jelas Hasan tidak akan berani macam-macam padanya. Dia hanya iri Riana terlihat selalu akrab dengan siapapun, dan orang lain pun selalu nyaman saat berbincang dengan istrinya.


Sedangkan hubungannya sendiri dengan Riana, terasa seperti orang asing. Dia sendiri yang menciptakan jarak dan kini dia juga yang merasa terluka, akankah saat ini dia mengakhiri rasa egoisnya, ketakutannya? Seorang pria sejati seharusnya tidak takut dengan kegagalan, tidak takut penolakan maupun patah hati.


Harusnya dia bisa terus berusaha berjuang mendapatkan cinta istrinya bukannya bersembunyi dari rasa sakit dan tidak mengakui perasaannya. Entah dia hanya terlalu takut, disaat dia telah mencintai dan menginginkan seseorang dia akan merasakan kehilangan lagi. Padahal sejatinya hidup ini memang harus berjalan seimbang, ada rasa sakit ada juga bahagia, ada kegagalan ada juga keberhasilan, kehilangan bukan berarti menghancurkan dunia kita, tapi kita belajar bahwa semua yang kita miliki tidak ada yang abadi, semua yang ada di Bumi dan alam semesta ini adalah milik-Nya dan semua akan kembali pada-Nya.


"Aku nggak akan nunggu lagi sayang, aku akan bilang ke kamu kalo aku sangat mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku," ucap Beny dalam hati.


Tak disangka, seorang laki-laki yang di kenalnya tiba-tiba menyapa sang istri dan duduk dihadapannya.


Laki-laki itu juga terlihat sangat akrab saat berbicara dengan istrinya, pandangan mata laki-laki itu tak biasa. Pandangan mendamba dan binar matanya seolah penuh cinta, Beny mengepalkan tangannya dengan erat. Kali ini dia benar-benar cemburu karena laki-laki itu tengah memberikan sebuah kotak kecil yang sepertinya sebuah kado untuk istrinya.


"Ada hubungan apa sih kalian sebenarnya? Sampai Chris harus memberikan kamu sebuah kado, aku nggak akan biarin laki-laki bre***sek itu menggoda istriku!" gerutu Beny dalam hati.


Saat Beny akan berjalan menghampiri istrinya, Arletta menahannya dan malah mengajaknya berdansa, karena saat itu adalah sesi dansa.


"Kak Ben, ayo kita dansa!" pinta Arletta.


"Maaf aku harus pergi,"


"Ayo donk Kak Ben bentar aja kok!" ucap Arletta sembari memberi kode pada Giovanno sepupunya.


"Turutin adek gue bentar lah Ben! Daripada dia ngambek berhari-hari terus gue yang jadi sasarannya! Ayolah bentar doank!" ucap Giovanno yang menarik tangan Beny dan menautkan pada tangan Arletta.


Giovanno dan Beny adalah teman akrab, mereka sama-sama berjuang dari nol. Sebelum dia memutuskan ke Ibukota, Beny dan Giovanno sangat dekat, dan mereka sering nongkrong bareng. Beny sendiri tidak menyangka ternyata teman baiknya itu adalah sepupu Arletta.


Dia tidak bisa menolak permintaan Giovanno dan akhirnya bersedia berdansa dengan Arletta sejenak bergabung pasangan dansa yang lain di samping kolam renang.


Di meja milik Riana, dia merasa kesal melihat suaminya yang memilih berdansa dengan Arletta.


Ingin sekali dia menghampiri mereka berdua dan mendorong wanita itu dari pelukan suaminya. Tapi dia masih bisa berfikir logis, dia tidak mungkin mempermalukan dirinya sendiri di depan umum.


"Nona, liat itu uler kadut udah selangkah lebih maju dari anda," bisik Hasan memanas-manasi nona mudanya.


"Ck! Iya aku tahu! Dasar si-alan!" umpat Riana sembari menggebrak mejanya.


Sedangkan Chris mengernyit heran, "Apa ada masalah Nona Riana?" tanya Chris.


"Ah tidak ada Tuan Chris, hanya kesal saja suami saya belum juga kembali kesini," ucap Riana berpura-pura tidak mengetahui keberadaan suaminya.


Chris tersenyum samar, dia tahu Riana tadi sempat memperhatikan suaminya yang sedang berdansa dengan sekretarisnya.


"Ben, Ben.. Bodohnya kamu! Berlian di depan mata tapi kamu malah memilih sampah! Kamu lengah sedikit, istrimu kuambil!" ucap Chris dalam hati.


Di area dansa yang berada di samping kolam, terlihat Arletta menempelkan kepalanya di dada bidang Beny dan memeluk leher pria itu dengan posesif.


Tapi beda hal dengan Beny, dia merasa risih dan tak nyaman berdekatan dengan wanita bahkan wanita itu memeluk lehernya dengan erat, dan pemandangan istrinya yang masih duduk semeja bersama Chris membuatnya moodnya semakin berantakan.


"Sudah cukup Letta! Jangan cari-cari kesempatan lagi!" ucap Beny tepat ditelinga Arletta.


Belum juga 10 menit mereka berdansa, Beny yang tak tahan segera menjauhkan tubuhnya dari Arletta. Dan tiba-tiba..

__ADS_1


"Byuurrrr!"


__ADS_2