CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 22. Hak Dan Kewajiban


__ADS_3

Seseorang tak sengaja menabrak Beny dengan kencang sehingga tubuh Beny terhuyung dan menabrak Arletta hingga dia jatuh ke kolam renang.


"Tolong!" ucap Arletta dengan suara tak jelas.


Tubuhnya keluar masuk dari dalam air, menggapai permukaaan dan berusaha meminta tolong.


Beny yang melihat itu, segera melepaskan jasnya dan sepatunya dan segera masuk ke dalam kolam renang untuk menyelamatkan Arletta.


Sedangkan Riana dan Hasan yang melihat kejadian itu segera menghampiri mereka dan melupakan keberadaan Chris, keduanya berjalan cepat menghampiri Beny dan Arletta.


"Nona muda, hati-hati! Jangan cepat-cepat jalannya, nanti terpeleset!" Hasan memperingatkan tapi Riana tak menggubrisnya.


Terlihat Arletta sudah berada di permukaan dan terbatuk-batuk karena banyaknya air yang masuk di mulutnya, Beny segera memapahnya agar berdiri dan menutupi tubuh Arletta yang basah dengan jas mahalnya.


"Kak Ben! Apa kamu baik-baik aja?" tanya Riana yang khawatir.


"Aku nggak papa, kasian Letta dia terdorong olehku sampai dia jatuh ke kolam. Sepertinya tadi orang mabuk yang tak sengaja mendorongku,"


"Baiklah kalau gitu kita balik aja ke hotel, kasian Arletta pasti kedinginan!" ajak Riana dan Beny pun mengangguk.


"Wohoo.. dramamu bagus sekali Arletta! Sejak kapan seorang atlet renang tidak bisa berenang di kolam sedalam 175 sentimeter, konyol dan licik sekali dia!" gumam Giovanno sembari tertawa lalu menenggak wine-nya dengan satu tegukan.


Mereka berempat pun akhirnya kembali ke hotel mereka menginap. Hasan duduk di depan sendiri, sedangkan Beny berada di tengah-tengah diantara dua wanita.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Beny pada Arletta.


Arletta terdiam dan hanya menggelengkan kepalanya.


"Atau aku perlu panggilkan dokter?" tanya Beny lagi dan Arletta hanya menggelengkan kepalanya lagi.


"Kalau begitu sampai hotel nanti segeralah beristirahat, karena besok kita harus kembali lagi ke Ibukota." ujar Beny dan Arletta hanya mengangguk.


Hati Riana semakin sakit melihat suaminya begitu perhatian pada gadis itu, dia mengepalkan tangannya untuk meredam segala emosinya, kali ini dia akan benar-benar bikin perhitungan dengan suaminya.


Akhirnya mereka pun telah sampai di Hotel, mereka bertiga mengantarkan Arletta ke kamarnya untuk memastikan kondisi gadis itu baik-baik saja.


"Letta, beristirahatlah! Jika ada apa-apa hubungi aku atau Hasan," ucap Beny lalu berbalik akan pergi meninggalkannya.


"Kak Ben, jangan pergi! Aku merasa nggak enak badan, tolong temani aku semalam aja disini!" ucap Arletta dengan suara dibuat-buat seperti sedang sakit.


"Letta, aku tidak bisa menemanimu, istriku sedang hamil dan aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri, jadi biar Hasan yang akan menemanimu di kamar ini,"


Riana masih menahan, dia menunggu sejauh mana wanita tak tahu malu itu membujuk suaminya.


"Tapi aku tidak percaya dengan asistenmu itu, apa kau bisa menjamin dia tidak akan menyentuhku, aku takut dia berbuat yang tidak-tidak padaku." ucap Arletta dengan percaya dirinya.


Hasan hanya mencibir mendengar ucapan Arletta.


"Lagipula Bu Gendhis juga menyuruhmu untuk menjagaku, kalau nggak percaya telpon aja Bu Gendhis,"


Beny mengernyit heran, kini dia benar-benar yakin jika ini semua adalah sekenario Arletta dan mamanya.


Sedangkan Riana sudah bisa menebak jika ini memang rencana wanita itu dan sang ibu mertua.

__ADS_1


"SUDAH CUKUP ARLETTA! DASAR WANITA SI-ALAN! NGGAK TAHU MALU! PELAKOR BUSUK!" teriak Riana dan mencekik leher Arletta.


"JANGAN KAU KIRA IBU MERTUAKU MENDUKUNGMU, LALU AKU DIAM SAJA KAU MENGGODA SUAMIKU! HAH?! AKU TIDAK SELEMAH ITU BR***SEK!" Riana semakin menekan leher Arletta sampai dia susah untuk bernafas.


"Aarrrrghhhhh.."


Wajah Arletta memerah, semakin lama dia kesusahan untuk bernafas lalu dia meraih tangan Riana dan berusaha melepaskan cengkeramannya tapi dia tidak mampu, wanita hamil itu ternyata sangat tangguh.


"Ria lepasin Ria! Dia bisa mati!" Beny memperingatkan.


Menyadari itu, sontak Riana melepaskan cengkeramannya, dia tidak ingin mengotori tangannya hanya untuk wanita hina seperti Arletta.


"Uhukk.. uhukk!" Arletta terbatuk-batuk.


"AKU PERINGATKAN KAU ARLETTA! MUNDUR DARI PERUSAHAAN SUAMIKU ATAU KAU AKAN HABIS DITANGANKU!" ancam Riana dengan mata merah membara.


Riana pergi meninggalkan Arletta yang kini merasa sangat ketakutan, sedangkan Beny dan Hasan pun ikut keluar. Beny mengekori istrinya yang sedang marah dan tidak berani membuka suara lagi.


Arletta tidak menyangka di dalam wajah imut dan gayanya yang tak banyak bicara itu ternyata Riana adalah wanita yang berbahaya. Dia sangat tahu, Riana bukan wanita sembarangan, dua orang kuat di belakang wanita itu, Risty kakaknya seorang pebisnis wanita terkenal dan disegani, lalu Erlangga suaminya adalah konglomerat dan pebisnis ternama dari keluarga Aryarajasa. Siapa yang akan berani melawan mereka? Bahkan Bu Gendhis sendiri pernah bilang jika dia takut dengan Pak Prabu.


Badan Arletta yang tadinya tidak demam sekarang menjadi panas dingin dan gemetaran. Dia memutuskan memesan penerbangan tercepat besok pagi dan diam-diam pergi dari hotel untuk menghindari kemarahan istri Beny lagi.


**


Di kamar Riana dan Beny menginap, Riana mencoba menguasai amarahnya, berkali-kali dia menghembuskan nafasnya untuk menetralkan suasana hatinya, dia tidak ingin menangis kali ini.


Sedangkan Beny hanya berdiri di belakang Riana untuk memperhatikan apa yang akan dilakukan istrinya selanjutnya.


"Sayang, maafkan aku! Aku tidak.."


"Oke!" Beny mengangkat kedua tangannya dan duduk di sofa.


"TUNGGU!"


"Apalagi sayang?" keluh Beny.


Riana sangat bahagia Beny akhirnya memanggil dengan sebutan 'sayang', tapi dia menyembunyikan rasa bahagia dan wajahnya masih dalam mode marah.


"BAJUNYA BASAH, LEPAS SEMUANYA!"


Beny mengangguk dan mulai melepaskan semua baju yang menempel di tubuhnya dan menyisakan boxernya yang basah.


"DUDUK LAGI!"


Beny duduk perlahan dengan mata yang terus menatap mata istrinya.


"Bagaimana sentuhan Arletta? Apa kau sangat suka?" Riana berkacak pinggang didepan Beny.


"Tidak sama sekali! Aku nggak suka dia, aku risih dekat dengannya, kalau bukan permintaan mami aku tidak akan menerimanya di perusahaanku!" ucap Beny dengan tegas.


"Lalu kenapa kau mau-maunya berdansa dan dipeluk olehnya!"


"Giovanno sahabatku, dia yang memintaku berdansa dengan wanita itu!"

__ADS_1


"Kau kan bisa menolak!" Riana menatap tajam suaminya.


"Aku dipaksa sayang! Apa kau lihat, betapa nggak nyamannya aku disentuh dia!" keluh Beny tanpa dibuat-buat.


Dan tiba-tiba Riana meloloskan gaunnya dan menyisakan baju d***m-nya saja.


Beny terkejut dengan pemandangan indah dihadapannya, susah payah dia menelan salivanya.


Riana naik ke pangkuannya dan menc**m b***r suaminya dengan sangat rakus hingga Beny sangat terkejut sekaligus bahagia.


"Apa aku kurang cantik? Hah!" tanya Riana yang memandang mata suaminya.


Beny hanya menggelengkan kepalanya seolah tak percaya dengan wanitanya yang tiba-tiba berubah menjadi agresif.


"Jawab! Apa kau nggak punya mulut!" seru Riana.


"Tidak ada yang cantik di dunia ini selain kamu sayang, cuma kamu bidadari hatiku!" ucap Beny tanpa sadar seolah seperti dihipnotis lalu Riana tersenyum puas.


"Apa aku kurang se**si? Hah!" tanyanya lagi.


"Sangat se**si sayang, aku sering bersolo karir karena hanya bisa melihat keindahanmu!" jawab Beny dengan jujur dan Riana gagal untuk melanjutkan mode marahnya. Dia tertawa sangat keras.


Kenapa pria itu sangat bodoh? Dia memiliki istri yang sah dan halal tapi dia malah memilih bersolo karir? Begitu pikirnya.


"Kenapa kau tidak memintanya? Aku istrimu dan kau berhak mendapatku!"


"Aku takut ditolak olehmu lagi sayang! Aku masih sakit hati, maaf!" ucap Beny dengan wajah pasrah dan Riana mencoba menahan tawanya.


"Sudah berkali-kali aku meminta maaf soal itu! Jadi aku akan minta maaf lagi, maafkan aku karena pernah menolakmu," ucap Riana dengan tulus dan Beny pun mengangguk.


Riana melanjutkan lagi untuk menc**mi seluruh t***h suaminya hingga Beny pun semakin menegang dan meloloskan teriakan indahnya.


"Apa kau mencintaiku?" Riana menghentikan lagi aksinya, seolah menarik ulur hasr** sang suami.


"Aku sangat sangat mencintaimu sayang! Maafkan aku selama ini menyakitimu, aku hanya ingin memastikan kamu juga mencintaiku, aku tidak ingin cintaku hanya bertepuk sebelah tangan." Beny memandang sendu wajah istrinya.


Dan kini Riana sangat yakin, mereka saling mencintai dan tidak ingin kehilangan satu sama lainnya. Dan adegan berikutnya Riana dan Beny saling menc**m dan menyentuh satu sama lain. Hingga tanpa sadar keduanya pun kini dalam keadaan po**s dan berpindah ke ranjang mereka, kini Beny pun akhirnya bisa mendapatkan haknya dan Riana pun bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri sepenuhnya.


Keduanya meraih surga dunia bersama-sama, tanpa bosan dan lelah untuk saling memberikan kenikmatan dan kebahagiaan. Meluapkan segala rindu dan cinta yang selama ini tertahan begitu lama, hingga dipenyatuan mereka yang entah beberapa kali, Riana meneriakkan kata cinta untuk sang suami tercinta.


"Aku sangat mencintaimu sayang, aku mencintamu suamiku!" ucap Riana diakhir kegiatan malam mereka.


"Beristirahat sayang! Kamu pasti lelah!" ucap Beny menc**mi wajah istrinya penuh sayang.


"Iya sayang, kamu sangat rakus!" gerutu Riana.


"Aku sudah puasa hampir 5 bulan sayang, wajar aku rakus! Bayi kita tidak apa-apa kan sini?" Beny mengelus perut istrinya yang sedikit buncit.


"Sepertinya nggak papa sayang,"


"Baiklah, besok kita kan konsultasi ke dokter kandungan! Aku sangat takut menyakitinya,"


"Hmm!"

__ADS_1


Riana pun memejamkan matanya dan tertidur dengan tenang dan nyaman dipelukan hangat suaminya.


Sedangkan Beny terus menciumi pucuk kepala istrinya, dia bahagia, sangat bahagia akhirnya cintanya telah terbalas, doanya kepada Tuhannya telah dikabulkan. Dia terus berucap syukur dan berjanji akan selalu menjaga istri dan calon buah hatinya dengan baik.


__ADS_2