
Aku minta maaf jika ucapanku buat kakak nggak nyaman!" ucap Risty merasa malu dan tidak enak.
"Nggak masalah tapi jangan ulangi lagi!" ucap Erlangga yang mengalihkan pandangannya.
Dia tak sanggup memandang kekecewaan dari wajah cantik itu, ingin sekali dia memeluk dan mencium gadis cantik itu tapi dia tahu tak mungkin bisa melakukannya.
"Iya Kak, baiklah kalo begitu aku kembali dulu ke hotel tempatku menginap!" pamit Risty lalu berjalan untuk mengambil tasnya.
"Biar aku antar!" Erlangga mengikuti Risty dari belakang.
"Baiklah kak!" ucap Risty dengan patuh.
Dia malas berdebat untuk hal sepele, lagipula dia juga ingin segera sampai ke hotel dan menangis sepuasnya. Pria yang dia rindukan begitu sulit untuk dia gapai, dia sudah menyerah dan Ingin segera kembali ke Ibukota agar kesibukannya bisa mengalihkan pikirannya dari Erlangga.
Sejak kejadian di Resort milik Erlangga, Risty tidak keluar hotel sama sekali, walaupun Yona terus memaksa tapi Risty kekeh tak mau keluar. Dia terlalu malas jika tak sengaja lagi bertemu Erlangga. Dia hanya takut dia semakin susah melupakan pria itu jika masih saja bertemu.
***
Beberapa hari berlalu akhirnya urusannya di Bali telah selesai, Risty dan timnya telah berada di Ibukota dan melakukan aktifitas mereka seperti biasanya. Karir Risty semakin cemerlang karena banyak perusahaan yang puas dengan kinerja Risty dan timnya hingga banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan Janda Muda nan cantik itu. Tapi untuk urusan pribadi dia begitu tertutup, banyak pengusaha yang begitu susah mendekati wanita cantik itu.
Sedangkan Clara mulai belajar bisnis bersama beberapa kepala divisi, manager utama dan petinggi lainnya, dia benar-benar gigih belajar bisnis sembari tetap mengikuti kuliahnya untuk menyaingi Risty. Dia berambisi untuk merebut kepemimpinan Risty saat ini dan mendepak Risty dari perusahaannya.
Pak Haris terus mengawasi sepak terjang putri kandungnya, dia tahu jika selama dua bulan ini Clara banyak belajar dari semua orang di perusahaan kecuali Risty. Dan disaat itu dia menyadari jika Clara memang tidak menyukai Risty sama sekali dan memiliki maksud buruk pada putri angkatnya itu.
📞"Clara, Aku ingin bertemu di Zero Cafe! Datanglah sekarang!" ucap Pak Haris dari seberang telepon.
Clara yang sudah pulang dari kuliahnya dan akan menuju perusahaan, seketika memutar arah mobilnya menuju cafe yang papanya katakan.
Saat telah sampai di cafe itu, dia menghampiri papanya yang sudah duduk menunggunya di salah satu meja disana.
"Tumben papa minta ketemu! Mau bicara apa!" ucap Clara tanpa basa-basi.
"Apa ibumu tidak pernah mengajarimu sopan dengan orangtua!" geram Pak Haris.
"Tanyakan sendiri sama papa! Papa juga orangtuaku kenapa bukan papa yang mengajariku sopan santun! Papa selalu sibuk dengan keluarga papa dan tidak pernah menganggapku ada selama ini!" seru Clara menahan airmatanya.
Sedangkan Pak Haris tidak bisa berkata apa-apa, karena nyatanya dia sendiri tidak pernah peduli dengan anak kandungnya sendiri. Dia memang menjadi suami yang baik untuk istrinya, menjaga perasaan istrinya dari apapun tapi dia lupa kalau dia juga seorang ayah.
Harusnya dia tidak egois karena hanya memikirkan kebahagiaannya saja tanpa mau tahu nasib gadis malang itu. Iya, kini Pak Haris sadar, dia telah menyia-nyiakan anak yang tidak berdosa itu. Harusnya dia bisa menjadi ayah yang baik dan menyayangi putri kandungnya bukan malah menyesali kehadirannya, karena yang bersalah bukan dia tapi ibunya. Sungguh tak patut jika gadis malang itu ikut terkena imbasnya.
__ADS_1
"Maafkan papa nggak pernah ada buat kamu Clara! Mulai sekarang papa akan menjadi ayah yang baik untukmu dan memperbaiki semuanya. Apa kamu memaafkan ayah nak?" ucap Pak Haris dengan lembut.
"Aku akan maafkan papa jika papa mengusir anak angkat papa dari perusahaan! Dan aku yang jadi CEO menggantikan dia!" pinta Clara.
"Itu nggak mungkin Clara!" seru Pak Haris dengan tegas.
"Kenapa nggak mungkin? Dia bukan anak kandung papa! Aku yang anak kandung papa!"
"Dulu perusahaan papa hanya ada tiga cabang saja, semenjak kepemimpinan beralih padanya, profit perusahaan naik drastis dan cabang perusahaan pun bertambah di beberapa kota. Semua berkat Risty dan papa tidak akan pernah menggantikan jabatannya maupun mengusirnya! Jangan berfikiran untuk menyingkirkan dia karena aku sendiri yang akan menghadapimu! Walaupun kamu anak kandung papa, jika kamu salah papa tetap akan menghukummu! Papa sudah berkali-kali bilang, anggap Risty sebagai saudara kandungmu sendiri karena semua kemewahan yang kamu rasakan selama ini adalah berkat dia!"
"Tapi papa lebih menyayanginya daripada aku! Papa nggak adil!" ujar Clara.
"Mulai saat ini aku akan berlaku adil untuk kalian! Nantinya kamu juga akan menjadi CEO di cabang lain jika kamu sudah mampu memegang jabatan itu, tapi CEO perusahaan pusat tetap kakakmu. Aku akan adil pada kalian mengenai apapun itu, mulai kasih sayang, fasilitas, jabatan maupun saham." ucap Pak Haris penuh bijak.
"Apa saham? Apa wanita itu juga akan dapat saham dari papa?" ucap Clara terkejut.
"Ckk! Dia adalah kakakmu bukan orang lain, jadi panggil dia kakak! Dia akan dapat saham yang sama denganmu 30% dari semua perusahaan, mungkin dalam tiga bulan kedepan papa akan urus pengalihan saham 30% itu ke Risty,"
"Tapi pa!"
Clara benar-benar kesal, bagaimana mungkin posisinya disamakan dengan Risty yang merupakan anak angkat, dia ingin memiliki saham itu semuanya. Baginya Risty tidak berhak mendapatkan saham perusahaan papanya.
"Sudahlah jangan membantah lagi! Jika kamu jadi anak yang penurut papa akan sangat menyayangimu! Papa pergi dulu! Ingat pesan papa, kalian yang rukun!" pamit Pak Haris kemudian berlalu pergi, dan Clara hanya bisa mengangguk patuh.
***
Di kota lain seorang pria sedang berada di rumah sakit, dengan perasaan gelisah dan begitu sangat cemas. Dia mondar-mandir kesana kemari menunggu sang buah hati yang berada di ruangan IGD sedang ditangani dokter dan timnya.
Sedang sang ibu terlihat cuek dan duduk santai di salah satu bangku yang berada di depan ruangan itu, dia malah asik memainkan ponselnya dan sesekali tertawa tanpa suara.
"Ck! Ibu macam apa kau itu! Nggak ada rasa khawatirnya sama sekali dengan keadaan anakmu!" ucap Bima pada istrinya Vania.
"Aku lelah selama ini mengurusinya! Dia terus aja keluar masuk rumah sakit, harta kita telah habis, mobil sport, apartemen semua terjual dan waktuku tersita hanya untuk mengurusinya. Nggak ada waktu lagi buat party sama temen-temen, nggak ada waktu lagi buat shopping, ke salon! Aku lelah! Aku capek! Sekarang kamu juga makin pelit susah dimintain duit!"
"Hah? Dasar Gila kamu! Keadaan putrimu seperti ini kamu masih saja memikirkan kesenanganmu! Aku pelit karena kamu selalu menghamburkan uang untuk hal-hal yang nggak penting! Kamu tahu aku bekerja keras cari uang untuk mengumpulkan biaya operasi jantung putri kita! Aku ingin dia sehat dan tumbuh seperti anak-anak lainnya! Apa kamu nggak ingin putrimu sembuh? Hah!" Bima berteriak emosi.
Dia benar-benar sangat kesal dengan istrinya, kenapa tidak ada rasa iba sedikitpun pada bayinya yang menderita penyakit kelainan jantung bawaan padahal usianya baru 4 bulan.
"Itu karena kamu dan keluargamu! Kalau saja kamu mau meminta bantuan pada keluargamu untuk membiayai operasi Selena, pasti dia akan sembuh lebih cepat dan aku nggak susah kayak gini!"
__ADS_1
"Gimana aku minta bantuan sedangkan kamu tahu aku nggak dianggap anak oleh daddyku karena kamu! Lalu kamu menyalahkan aku terus!"
"Aku menyesal menikah dengan kamu kalo nyatanya hidupku hanya semakin susah!"
"Oke! Kalo kamu merasa menyesal hidup denganku! Tinggalin aja aku sama Selena! Aku bisa merawatnya sendiri!" seru Bima pada Vania.
"Oke dengan senang hati!" ucap Vania lalu pergi meninggalkan Bima dan bayinya dengan hati bahagia.
Vania sangat bahagia akhirnya dia bebas dari suami yang sudah tidak punya apa-apa itu dan terbebas dari putrinya yang penyakitan. Kemudian dia menaiki taksi menuju rumah kontrakannya bersama Bima dan mengambil semua barang-barangnya pribadinya disana.
Setelah dia benar-benar pergi dari rumah itu dia menghubunginya seseorang.
📞"Hallo sayang!" ucap Vania dengan nada manja.
📞"Vania sayang! Akhirnya kamu menghubungiku, sudah lama aku mencarimu sayang! Kamu kemana aja! Aku sangat merindukanmu, aku rindu berkeringat bersamamu!" ucap Si pria dengan mesra.
📞"Aku juga sangat merindukanmu sayang! Temui aku di hotel XX dan kita bisa sama-sama melepaskan kerinduan kita!"
📞"Oke babe! Tunggu aku!"
Kemudian Vania mengakhiri perbincangannya bersama pria diseberang telpon itu.
***
Setelah kepergian Vania, Bima merasa hidupnya begitu berantakan. Dia baru sadar jika wanita yang selalu dia bela didepan keluarganya maupun didepan Risty dulu, nyatanya hanya seorang wanita yang sangat buruk. Dengan mudahnya wanita itu meninggalkannya dan meninggalkan bayinya.
Dia melamun dengan tatapan kosongnya, kali ini dia benar-benar takut kehilangan putrinya. Selama ini memang mommy-nya sering menghubunginya untuk sekedar menanyakan kabar putrinya atau sekedar meminta foto terbaru bayi itu, tapi jika untuk meminta bantuan finansial Bima terlalu malu.
Sesaat kemudian dokter keluar dari ruang IGD dan sontak Bima berjalan tergesa-gesa menghampiri sang dokter.
"Bagaimana putri saya dok?" ucap Bima dengan perasaan khawatir.
"Maaf Tuan Bima, sudah tidak ada waktu lagi untuk menunda operasi. Besok pasien harus segera dibawa ke Singapura untuk secepatnya dilakukan tindakan operasi. Kalau anda masih menundanya, saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, mohon segera anda putuskan secepatnya!" ucap Dokter dengan serius.
"Baik dokter, terimakasih! Saya akan bawa putri saya ke Singapura secepatnya!"
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan!" ucap Sang dokter dan Bima hanya mengangguk sekilas.
Dia benar-benar buntu, bagaimana dia bisa mencari pinjaman untuk biaya operasi putrinya. Dia menghela nafasnya panjang, dia tidak ada pilihan lagi dan akhirnya menghubungi seseorang.
__ADS_1
📞"Assalamualaikum.."
📞"Wa'alaikumsalam.. Tumben menghubungiku, ada apa?" ucap seorang laki-laki dari seberang sana.