
"Eh serius cewek secantik kamu nggak ada pacar? Ah aku nggak percayalah, mana ada cewek kayak kamu nggak punya kekasih,"
"Buktinya ada ini, kalo nggak percaya ya udah! Aku males berdebat sama kamu! Dah balik sana ke meja kamu, jam istirahat udah kelar!" ucap Riana membereskan makan siangnya.
"Ok Bossku! Aku balik dulu ya! Eh bentar, apa mau aku cariin pacar? Pak Faisal kepala divisi marketing kita katanya lagi jomblo juga tuh, dia tuh orangnya udah ganteng, baik dan matanya nggak suka jelalatan," bisik Vero pada Riana.
Tubuh Riana menegang mendengar nama Faisal.
"Ishhh ngomong apa sih kamu! Sok tahu banget! Tahu darimana kamu kalo Pak Faisal jomblo? Sapa tau dia ada bini dirumah, tapi disembunyiin dari orang kantor." ucap Riana mengatakan sebenarnya tapi terkesan seperti tebakan saja.
"Eh masa sih! Jangan nyebar fitnah deh! Data aja udah berbicara kalo Pak Faisal itu masih single belum ada binik, Bu CEO! Aku ini staffnya dia, tiap hari ngintilin tuh orang, kalo ada apa-apa jelas akulah orang pertama yang tau." sangkal Vero.
"Serah deh!" Riana sok tak peduli.
"Jadi gimana mau pacar yang kayak apa? Pak Faisal ditolak, masa iya aku sodorin Pak Arie si Cassanova tampan! Kali aja kalo udah sama kamu dia tobat Boss," goda Vero.
Pak Arie adalah manager keuangan di perusahaan Risty, usianya masih 28 tahun. Wajahnya juga tampan khas orang Indonesia, tapi bukan rahasia lagi jika dia seorang Cassanova sejati.
"Jiaahh malah Pak Arie! Mending aku jomblo deh daripada pacaran sama pria mesum kayak gitu! Orang kayak gitu tuh tobatnya susah, dihh amit-amit!" Riana bergidik ngeri dan Vero malah terkekeh.
"Ya udah aku balik ke mejaku dulu Bu Boss! Awas jangan ngebayangin Pak Arie lho!" goda Vero terkekeh.
"Hoi! Lempar sepatu nih!"
"Ampun Boss!"
Vero segera melesat pergi sebelum kena lemparan sepatu Riana.
***
Dua minggu pasca insiden malam itu, Riana menjalani hidupnya yang hampa dan membosankan. Beny maupun Faisal masih gencar mengirim chat padanya, tapi Riana terlalu malas untuk menanggapi. Dia menghapus chat mereka begitu saja tanpa membalas maupun membacanya terlebih dahulu.
Seperti biasa, Riana menyibukkan diri dengan tumpukan pekerjaan di ruangannya, hingga sebuah ketukan pintu menghentikan aktivitasnya.
"Tok.. Tok!"
"Masuk!" jawab Riana dari dalam ruangan.
"Ceklek!"
Riana masih fokus didepan laptopnya tanpa memandang pintu yang sedang terbuka.
"Selamat siang Bu Ria, ini laporan bulan ini yang harus ditandatangani."
Mendengar suara Faisal yang tiba-tiba ada dihadapannya, sontak membuatnya Riana mendongkakkan kepalanya menatap pria itu dengan tegang.
"Kenapa bukan Bu Presdir yang menandatangani? Biasanya kan beliau yang langsung memeriksa dan menandatanganinya," tanya Riana sedikit salah tingkah.
"Maaf apa anda lupa jika Bu Presdir sedang tidak ada ditempat," ucap Faisal mengingatkan dengan menampilkan senyuman semanis madu.
"Astaghfirullah.. Aku lupa kalo kakak sedang cuti. Baik, silahkan anda duduk Pak Faisal,"
__ADS_1
Faisal pun mengangguk lalu duduk di sofa yang ada di ruangan Riana.
Riana berusaha fokus memeriksa pekerjaan Faisal, walaupun hatinya bergemuruh saat ini. Tidak bisa dia pungkiri jika dia masih memiliki perasaan pada pria itu dan dia merindukan saat-saat mereka bersama dulu.
Faisal pun merasakan hal yang sama, ingin sekali dia memeluk gadis yang dicintainya itu dan melontarkan banyak pertanyaan padanya. Tapi dia tidak mungkin melakukannya karena mereka sedang ditempat kerja saat ini.
Setelah tugasnya selesai, Riana memberikan laporan itu pada Faisal melontarkan pertanyaan basa-basi padanya.
"Seperti biasa, pekerjaan anda selalu sempurna Pak Faisal." puji Riana.
"Terimakasih Bu Ria, anda terlalu berlebihan memuji,"
"Bagaimana kabar Mbak Cynthia dan Yusuf, Pak?" tanya Riana basa-basi.
"Alhamdulillah mereka baik-baik saja Bu, saya dan Cynthia sudah bercerai dua minggu lalu dan kami sudah tidak tinggal serumah lagi," ucap Faisal yang akhirnya berterus terang.
Riana terkejut mendengar pengakuan Faisal, dia tidak menyangka jika pada akhirnya mereka berpisah, entah dia tidak tahu harus bersikap apa. Dia merasa bersalah, mungkin karena dirinya juga mereka bercerai.
"Maaf kalo gara-gara aku kalian jadi bercerai,"
"Ini bukan salahmu Ri, aku udah bilang ke kamu kalau aku tidak mencintai istriku kami menikah hanya karena kesalahan kami di masa lampau. Selama ini aku masih bertahan hanya karena ada Yusuf diantara kami, tapi apakah kamu tahu jika hubungan pernikahan yang dipaksakan pada akhirnya tidak akan berhasil, tinggal bersama orang yang tidak kita cintai dalam satu atap tidak akan membuat hati kita nyaman dan bahagia."
Faisal menghela nafasnya panjang, kemudian melanjutkan ucapannya.
"Sejak bertemu denganmu, kehidupanku yang terasa mati seolah hidup kembali, duniaku yang hitam putih kini berwarna-warni, dan hatiku yang kosong tanpa terisi cinta kini penuh dengan perasaan cintaku padamu. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memulai kisah kita kembali, terus terang aku tidak bisa menghapusmu dari hati dan pikiranku. Aku sangat mencintaimu Riana Amartha Adhythama." ucap Faisal mengungkapkan perasaannya.
Riana melihat ketulusan cinta Faisal dimatanya, dia tidak bisa membohongi hatinya jika dia juga masih mencintai pria itu. Faisal sekarang sudah sendiri, tidak ada salahnya jika dia menerima lagi cinta pria itu.
"A.. Aku sebenarnya juga masih sayang sama abang, jadi aku akan ngasi kesempatan buat Bang Ical lagi, tapi tolong jangan pernah bohongin aku lagi Bang," ucap Riana dan sontak membuat Faisal begitu bahagia.
Riana begitu bahagia dan hatinya kembali berbunga-bunga, dia berharap setelah ini hubungannya dengan Faisal semakin serius.
Setelah saling mengungkapkan perasaan mereka, keduanya pun kembali bekerja lagi dan sesekali saling mengirimkan chat manis mereka.
***
"Bagaimana? Oke, lakukan sesuai rencana jangan sampai gagal, kalo kita gagal tidak akan ada kesempatan lagi!," ucap Beny dari seberang telpon kepada seseorang.
Sore itu Riana pulang lebih awal karena pekerjaannya tidak terlalu banyak hari ini, dia berjalan ke basement menuju parkiran mobilnya.
Saat dia mulai membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam, tiba-tiba Beny muncul dari luar, masuk kedalam mobil Riana dan duduk dikursi penumpang.
Sedangkan Riana melotot kaget melihat Beny yang tiba-tiba ada didalam mobilnya.
"Hai Jutek sayangku!" sapa Beny tersenyum manis.
Entah mendengar panggilan itu membuat dada Riana tiba-tiba berdesir dan seketika dia menjadi tegang.
"Kak Ben! Bagaimana kamu bisa masuk ke mobilku? Sepertinya Kak Angga masih menempatkan dua pengawal bayangan untukku," tanya Riana dengan perasaan gugup.
"Ya you know lah! Aku nggak sebodoh itu sayang! Kalo urusan menyelinap aku sih jagonya," jawab Beny dengan bangga dan Riana hanya memutar malas bola matanya.
__ADS_1
"Tolong jalankan dulu mobilnya, agar pengawal kakakmu tidak curiga!" pinta Beny dan Riana hanya bisa menurutinya saja.
Dia tidak mungkin menghindar dari Beny lagi, dia tahu pria itu tidak akan berhenti mengejarnya sebelum semua menjadi jelas, jadi dia ingin menyelesaikan semua urusannya dengan Beny hari itu juga.
"Ri, kenapa kamu menghindar dariku? Kenapa kamu nggak balas chatku? Susah banget sih buat ketemu dan bicara sama kamu," protes Beny.
"Nggak ada yang perlu kita bicarain lagi Kak Ben," ucap Riana tak peduli.
"Banyak Ria! Aku tidak akan basa-basi lagi sekarang," Beny menghela nafasnya sejenak untuk meredam perasaan gugupnya, "Kita tahu jika malam itu kita sama-sama khilaf dan aku minta maaf dengan perbuatanku ke kamu, tapi aku akan tetap bertanggungjawab, jadi mari kita menikah, Ria!" ucap Beny yang memandang intens wajah Riana yang sedang menyetir.
Dia gugup, ini kali pertama dia berbicara serius dengan seorang wanita, tapi dia mengumpulkan segala tekad dan keberaniannya untuk melamar wanita yang sudah mengambil hatinya itu.
Sedangkan Riana sangat terkejut mendengar Beny yang tiba-tiba mengajaknya menikah, selama ini dia tidak memiliki perasaan pada laki-laki itu, dia terdiam dan binggung harus menjawab apa.
"Bagaimana Ria? Apa kamu mau menerima lamaranku?" tanya Beny lagi.
Riana menghentikan mobilnya ke tepi jalan, agar mereka nyaman berbicara.
"Ma.. Maaf aku nggak bisa menerima lamaran Kak Ben," ucap Riana dengan suara bergetar, entah kenapa dia takut menyakiti hati pria itu.
"Degg!"
Sedangkan Beny terkejut mendengar jawaban Riana, penolakan Riana membuat hati Beny hancur seketika.
"Kenapa kamu tidak menerimaku? Apa aku kurang kaya, kurang tampan atau aku bukan laki-laki seperti kriteriamu?" tanya Beny sedikit emosi.
"Bu.. Bukan karena itu," jawab Riana gugup.
"Apa karena ada laki-laki lain yang kau sukai?!" tebak Beny.
Mendengar tebakan Beny, seketika Riana menjadi tegang dan raut mukanya terlihat tidak nyaman.
"Tok.. Tok.."
Salah satu anak buah Erlangga menghampirinya.
"Nona, apa ada masalah?" tanya pria itu.
Saat dia melihat ke dalam mobil Riana, dia sedikit terkejut melihat Beny duduk disamping nonanya.
"Tidak ada, aku sedang bicara dengan Kak Beny,"
"Maaf nona, tapi Tuan Erlangga tidak mengijinkan anda bertemu dengan Tuan Beny. Saya mohon Tuan Beny bisa meninggalkan Nona Riana sekarang," ucap pria itu.
"Udah nggak apa-apa, kamu jangan bilang kakak ipar kalau Kak Ben menemuiku. Aku juga akan merahasiakan ini, jadi menjauhlah dulu karena kami harus bicara," ucap Riana pada pria itu.
"Baik Nona, kami akan menjaga anda dari jauh." jawab pria itu dan berlalu pergi.
Setelah kepergian anak buah Erlangga, keduanya pun terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
Lalu Riana berdehem untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
"Ehemm! Kak bagaimana kalau kita cari restoran dulu," ucap Riana memecah keheningan.
"Boleh, itu lebih baik."