
"Ck! Mommy aku nggak sebodoh itu! Bayi itu emang bener bayiku sendiri! Aku pernah diam-diam melakukan tes DNA pada bayi itu dan kenyataannya Selena memang putri kandungku walaupun wajahnya lebih mirip ibunya." Bima menghela nafasnya panjang, "Iya mom, segera aku akan urus perceraianku dengan Vania, aku juga udah muak hidup dengan wanita l*knat seperti dia!" ucap Bima penuh emosi.
"Ya udah ikhlaskan aja semua yang terjadi biar hatimu tenang kedepannya! Kamu keluarlah main sama teman-temanmu agar kamu nggak larut dalam kesedihan terus!"
"Iya, Mom! Nanti kalo aku bosen aku juga bakal keluar mansion,"
"Daddy harap setelah hatimu membaik, kamu bisa kembali pegang perusahaan lamamu yang ada di Bandung dan cabang lain di Surabaya maupun Kalimantan. Kasian kakakmu selama ini mengurus semuanya sendiri, dia menghabiskan waktunya hanya untuk perusahaan, sampai dia nggak mikirin kebahagiaan lagi."
"Daddy jangan khawatir, sebentar lagi kakak akan membawakan kalian menantu yang berkali-kali lipat lebih baik dari Kak Naya dan tentunya daddy dan mommy pasti akan sangat setuju!" ucap Bima yang tersenyum bahagia dan moodnya pun kembali membaik.
Senyuman Bima menular pada kedua orangtuanya, mereka pun ikut tersenyum walaupun mereka tidak tahu siapa wanita yang dimaksud putranya itu.
"Apa ucapanmu itu serius sayang?" tanya Bu Helena dengan binar bahagia.
"Serius lah mom! Masa udah bahagia gini nggak serius!"
"Eh emangnya siapa calon istri kakakmu itu!" tanya Bu Helena dengan gaya keponya.
"Iya nih Daddy juga penasaran!" timpal Pak Prabu.
"Rahasia donk! Nanti kalian juga bakal tau! Selamat penasaran mommy dan daddy ku sayang!" ucap Bima yang berjalan ke arah kamar mandi dan menutup pintunya.
"Dasar bocah semprul!" umpat Pak Prabu, Bima yang mendengar umpatan papanya hanya terkekeh dari dalam.
***
Risty dan Erlangga pulang dari rumah sakit setelah menemani Bu Hana sampai sore hari, dan seperti biasa Risty berpesan pada para suster agar mengabarinya jika ada perkembangan apapun mengenai kondisi mamanya itu.
Risty melajukan mobilnya ke apartemennya dan Erlangga mengikutinya dari belakang.
Setelah 45 menit berkendara akhirnya mereka telah sampai di apartemen milik Risty.
"Ceklek!"
"Masuk kak!"
"Hmm!"
Setelah Risty menutup pintu apartemennya, Erlangga memeluknya dari belakang.
"Eh?!"
"Aku merindukanmu baby!" ucap Erlangga sembari mencium tengkuk leher Risty yang begitu wangi baginya.
Sedangkan Risty hanya terdiam melihat perlakuan Erlangga, tubuhnya merasakan sebuah getaran tak biasa, begitu nyaman dan dia sangat menikmati sentuhan itu.
Erlangga membalikkan badan Risty agar menghadapnya, dia menatap wanita cantik itu dengan tatapan penuh cinta dan mendesaknya sampai punggungnya menempel ke badan pintu.
Risty yang tak biasa di tatap sontak menunduk dengan perasaan gugupnya tapi Erlangga malah mengangkat dagunya dan kemudian mencium b***rnya.
"Cupp!"
Erlangga menciumnya sekilas dan berjalan pergi meninggalkan Risty yang masih tercengang dengan perlakuan manis pria tampan itu.
"Aku mandi dulu sayang! Masak yang enak untukku ya istriku!" ucap Erlangga lalu masuk kedalam kamar Risty untuk mandi.
"Duhh! Kenapa aku malah kayak orang b*go, berhadapan sama dia!" Risty menepuk jidatnya sekilas, "Emang bener ya kata orang-orang, cinta itu bisa bikin orang jadi bodoh! Hufftt! Lebih baik aku masak aja daripada otak ini jadi traveling kemana-mana!" gumam Risty kemudian berjalan ke arah dapur untuk memasak.
Tak sampai dua puluh menit, Risty telah menyelesaikan masakannya, dia membuat nasi goreng seafood yang lezat, dengan udang, baso ikan dan berbagai sayuran sebagai pelengkapnya. Dia juga menambahkan mentimun sebagai garnish untuk masakannya.
Erlangga yang tiba-tiba keluar dari kamar Risty memakai kaos oblong putih dan celana pendeknya, terlihat begitu tampan dengan rambut basah yang dibiarkan berantakan begitu saja.
Dan lagi-lagi membuat Risty jadi gugup dan salah tingkah hingga dia yang sedang mengiris mentimun, tak sengaja melukai tangannya sendiri dengan pisau.
__ADS_1
"Aarrrrghhhhh!"
Teriakan Risty sontak membuat Erlangga panik dan berlari ke arahnya.
"Kenapa sayang?" tanya Erlangga menatap Risty dengan panik dan Risty mengangkat tangannya yang sedikit berdarah.
"Astagfirullah! Dasar ceroboh!" ucap Erlangga dan Risty hanya tersenyum kaku.
Kemudian Erlangga menghisap darah yang ada ditangan Risty dan memandang dengan senyuman menggoda.
Risty yang mendapat perlakuan manis lagi dan dipandang seperti itu, menjadi tegang dan salah tingkah, gelenyar aneh yang tadi dia rasakan pun muncul kembali.
"Be.. bentar aku cari kotak P3K dulu," ucap Risty yang gugup lalu menarik tangannya dari bibir Erlangga.
Sedangkan Erlangga hanya tersenyum lucu sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah malu-malu sang gadis pujaannya. Dia duduk di meja makan, memperhatikan nasi goreng yang terlihat lezat itu hingga tak terasa dia menelan ludahnya sendiri karena menahan untuk tak melahap makanan didepannya.
"Sayang kenapa lama banget! Aku udah laper!" teriak Erlangga memanggil Risty.
"Iya ini aku dateng Kak!"
"Panggil Abang kek atau panggil sayang, masa panggil kak! Aku ngerasa masih jadi kakak ipar kamu kalo manggilnya gitu terus!" protes Erlangga.
"Isshhh makin lama makin crewet ya bapak ini! Banyak maunya!" sahut Risty pura-pura kesal padahal dia juga ingin sekali memanggil panggilan sayang untuk Erlangga, tapi dia terlalu malu untuk melakukannya.
"Iya udah kalo nggak mau nggak papa! Aku juga nggak maksa kok! Yang penting aku tau, kamu cintanya sama aku!" timpal Erlangga dengan percaya diri.
"Emang aku pernah bilang kalo cinta sama Abang? Nggak ada ya!" goda Risty lalu menjulurkan lidahnya.
"Dasar cewek! Selalu sok jual mahal! Gelitikin nih!"
Erlangga menggelitiki Risty sampai Risty tertawa sekaligus menangis.
"Hahaha! Ampun Bang! Hahaha! Hentikan sayang! Geli!"
"Cupp!"
"Love you my wife!" ucap Erlangga dengan mesra.
"Belum jadi wife-mu Bang! Sabar napa!"
"Hehehe, bulan depan sayang!"
"Belum bisa Abang! Nunggu semuanya beres dulu! Masalah kecelakaan papa belum kelar, aku nggak bisa tenang kalo semua belum jelas apalagi mama juga belum sadar dari koma!" ucap Risty tiba-tiba sendu.
"Ya udah nggak papa! Aku sabar kok nunggu kamu! Ya udah kita makan dulu yuk!"
Risty mengangguk dan akhirnya mereka makan nasi goreng seafood buatan Risty dengan lahap. Dia baru menyadari jika terlalu bahagia juga membutuhkan energi yang ekstra. Jadi menurutnya, kebanyakan pasangan yang sama-sama terlihat subur itu tandanya mereka bahagia dengan kehidupan mereka.
***
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, akhirnya mereka duduk di sofa untuk mengobrol santai.
"Gimana kabar Kak Bima sekarang Bang?" tanya Risty membuka percakapan mereka.
"Kabarnya sedikit buruk, bayinya meninggal, istrinya kabur dan sepertinya mereka juga akan cerai!" ucap Erlangga mengedikkan bahu.
"Hah? Sampai seperti itu?" tanya Risty terkejut.
Kemudian Erlangga menceritakan kejadian yang dialami Bima dari awal hingga akhir dan karena itu juga Erlangga jadi tahu jika Bima dan Risty telah lama bercerai.
"Kasian banget ya Kak Bima, aku kira Vania tulus mencintainya tapi ternyata Vania lebih mencintai harta dan kemewahan daripada suami dan putrinya sendiri." ucap Risty prihatin.
"Ya mau gimana lagi, itu kan pilihannya untuk menyesali lagi pun percuma karena semua udah terjadi. Sekarang waktunya berubah dan berbenah diri agar lebih baik."
__ADS_1
Risty mengangguk mendengar ucapan bijak dari Erlangga.
"Apa Abang tahu mengenai Clara?"
"Yona udah cerita semuanya!"
"Aku jadi pengacara sekarang!" ucap Risty dengan nada sedih.
"Pengacara?" tanya Erlangga dengan tatapan tak mengerti.
"Pengangguran nggak punya acara!" Risty masih melipat wajahnya sedih.
"Hahaha!" Erlangga tertawa terbahak mendengar candaan garing Risty.
"Paan sih malah diketawain! Aku nggak lagi ngelucu tau!" sewot Risty.
"Ya Ampun sayang! Baru juga seminggu nggak kerja, sedihnya udah kayak emak-emak kehabisan galon, elpiji ama token barengan!" timpal Erlangga.
"Idihh sok tau dia! Sultan mana pernah ngerasain yang kayak gitu! Kalo aku sih jangan ditanya! Makan nasi ama garem dulu sih sering!"
"Aku kan taunya dari meme-meme yang seliweran di sosmed yang!" ucap Erlangga cengar-cengir.
"Lagian kamu ini malah drama! Apa kamu lupa kalo calon suamimu ini orang kaya! Nanti perusahaan di Ibukota buat kamu aja!" ucap Erlangga dengan gaya sombongnya.
"Ceileh.. Ngasi perusahaan gede, udah kayak ngasi kacang goreng aja! Itu perusahaan kan pemilik sahamnya juga banyak Bang! Bukan cuma punyamu aja!" ucap Risty mendengus kesal.
"Eh iya juga ya!" Erlangga pun mendadak jadi pria bodoh karena yang ada dipikirnya hanya Risty saja.
Padahal sebenarnya, dia adalah pria yang sedikit introvert dan cuek, tapi jika bersama Risty dia berubah menjadi pria yang ekspresif.
"Ya udah nanti kita bikin usaha restoran aja ya sayang! Kita kan sama-sama suka masak!"
"Aku nggak mau masak terus! Capek!"
"Blaammm!!"
Risty menutup pintu kamarnya.
"Lho sayang kok pintu kamarnya ditutup? Kita kan lagi serius mau ngomongin usaha, kalo kamu nggak mau buka restoran kita kan bisa buka usaha yang lain!" teriak Erlangga sedikit panik.
"Lain kali aja ngomongin usaha! Aku mau tidur! Udah ngantuk!"
"Yahhh! Terus aku bobok dimana yang?"
"Kan ada kamar tamu! Tidur aja disana!"
Erlangga beranjak dari sofa dan berdiri didepan pintu kamar Risty.
"Tok!! Tok!!"
"APALAGI!!" teriak Risty kesal.
"Ck! Nggak enak yang bobok sendirian! Aku udah bayangin lho kita bobok pelukan!"
"Nggak ada bobok pelukan! Dasar mesum! Lagian kita ini belum muhrim Bang! Bobok sendiri sana, jangan ganggu mulu! Aku udah ngantuk berat ini!" sungut Risty yang terus menguap tanpa henti karena jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Sedangkan Erlangga mau tidak mau, akhirnya tidur sendirian di kamar tamu yang ada di apartemen Risty. Dia begitu susah memejamkan mata, baru berpisah sebentar dengan Risty saja membuatnya jadi gelisah dan terus memikirkan wanita yang dicintainya itu.
Lalu dia memutuskan menghubungi seseorang untuk menyusun rencananya.
📞"Halo Ben!"
📞"Hhmm.. iya Hallo! Siapa ini? Orang lagi tidur malah digangguin! Nggak ada kerjaan apa gimana nih!" teriak laki-laki dari seberang telpon dengan suara khas bangun tidurnya.
__ADS_1