
Di sepanjang lorong rumah sakit, seorang pemuda bersama keluarganya tengah mendorong seorang pria yang terbaring di bangkar rumah sakit, dia menggenggam tangan si pria, berlari dan begitu panik menuju ke ruang UGD.
"Kakak! Bertahanlah Kak! Aku akan selalu disisimu, kami sangat menyayangimu kak!" ucap sang pemuda kepada sang kakak tercinta.
Pria itu telah masuk ke ruang UGD dan dokter segera menanganinya.
Tak perlu waktu lama, seorang dokter keluar dari ruang UGD dan mengatakan jika si pria tadi tidak bisa terselamatkan lagi karena banyak racun yang telah diminumnya, dokter mengatakan jika si pria telah meninggal dunia.
Sontak sang pemuda yang merupakan adik si pria itu, begitu sangat sedih dan terpukul. Dia menangis histeris dan terus memanggil nama kakaknya, seolah tak pernah rela kakaknya pergi meninggalkannya tiba-tiba.
"Kak Bisma, jangan pergi kak! Tolong jangan tinggalkan aku! Kak Bisma!"
Beny terbangun tengah malam dengan nafas terengah-engah, keringat dingin memenuhi tubuh dan kepalanya, dia memimpikan lagi kepergian sang kakak. Dia sangat menyayangi kakaknya, sejak kecil, kakaknya yang selalu ada untuknya disaat papa dan mamanya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Kakak, semoga kau tenang disisi-Nya, aku akan membalaskan semua sakitmu kak!" gumam Beny lirih.
Saat dia memejamkan matanya kembali, hatinya gelisah, dia belum juga merasa tenang. Dan setelah itu dia memutuskan tidur disamping istrinya, memeluk wanitanya dari belakang, dan mengendus aroma tubuh Riana yang begitu menenangkan hingga dia
tertidur kembali.
Bisma adalah kakak Beny, Bisma pernah mencintai wanita bernama Alfi dan mereka telah berpacaran selama 5 tahun. Entah apa penyebabnya, Alfi tiba-tiba pergi meninggalkan Bisma, tanpa kabar. Bisma selalu mencari keberadaan Alfi selama berbulan-bulan, hingga suatu hari dia bertemu dengan Alfi yang telah menggedong seorang bayi bersama seorang pria yang mengaku sebagai suaminya.
Sejak itulah Bisma depresi dan patah hati, dia sering tidak masuk kerja dan tidak peduli dengan hidupnya lagi, hingga suatu hari Bisma ditemukan meninggal setelah menenggak minuman yang telah dia campurnya dengan racun.
Beny menganggap karena Alfilah kakaknya harus menderita dan meninggal, dia telah mengkhianati kakaknya demi menikah dengan pria lain. Beny terus mencari keberadaan Alfi dan ingin membalaskan dendam sang kakak agar wanita itu juga merasakan penderitaan kakaknya, tapi sampai detik ini dia belum menemukan wanita itu.
Karena trauma dengan rasa kehilangannya dan kebenciannya pada Alfi, Beny menjadi pria playboy yang tak percaya pada cinta dan wanita. Baginya wanita hanya bisa menyakiti saja, merenggut kebahagiaannya dan kakaknya.
***
Pagi telah menjelang, Riana mengerjapkan matanya, dia merasakan sesuatu yang berat sedang menimpa badannya hingga dia susah untuk menegakkan tubuhnya. Dan benar saja, saat dia menolehkan kepalanya ke samping, dia sangat terkejut sekaligus bahagia melihat suaminya tidur sangat pulas sembari memeluk tubuhnya dari belakang. Pelukan hangat suaminya membuatnya tenang dan sangat nyaman.
Dia menatap wajah tampan sang suami, menghirup aroma tubuh yang membuatnya candu, tanpa sadar dia membelai wajah suaminya dan mulai mendekatkan bibirnya pada bibir sang suami.
"Ehemm!"
Beny berdehem keras saat bibir Riana akan menempel pada bibirnya.
Sontak Riana begitu terkejut dan salah tingkah, saat dia menyadari kelakuan bodohnya. Belum dia mencuri ciuman sang suami, ternyata pria itu sudah terbangun dari tidurnya.
"Kenapa nggak diterusin?" tanya Beny masih dengan wajah datarnya.
"I.. Itu aku cuma.."
"Cupp!"
Beny mencium bibir Riana sekilas hingga membuat tubuh Riana meremang, dan rasa geli itu seolah menggelitik di perutnya dan menjalar keseluruhan tubuhnya.
Setelah mencium singkat sang istri, Beny berdiri dan masuk kedalam kamar mandi.
Dan pagi itu Riana benar-benar bahagia, walaupun hanya singkat dia yakin ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka.
"Kak Ben mau kemana?" tanya Riana sembari melihat Beny yang merapikan pakaiannya.
"Aku ada urusan sebentar, tinggalah di hotel saja. Nanti aku pesankan sarapan sekaligus makan siang untukmu,"
"Apa kakak akan pergi bersama Arletta?" tanya Riana ragu-ragu.
"Kenapa kalau aku pergi bersama Arletta? Dia kan sekretarisku, wajar sih kalau kami selalu bersama." ucap Beny dengan enteng.
"Tapi ini kan bukan jam kerja, aku nggak suka wanita itu menempel terus sama kakak." ucap Riana kesal.
Beny mengernyitkan dahinya, baru kali ini Riana meluapkan kekesalannya karena seorang wanita didepannya biasanya wanita itu hanya diam saja, "Apa kau cemburu?" tanya Beny yang mencondongkan kepalanya kedepan wajah istrinya.
__ADS_1
Riana membalas tatapan suaminya dengan ragu-ragu, lalu memberanikan dirinya untuk menjawab ucapan suaminya, tapi dia memejamkan matanya lagi karena tak kuat memandang mata sang suami, "Aku emang cemburu! Aku cemburu kakak bersama wanita itu, aku kesal kakak selalu tersenyum padanya, pokoknya aku nggak suka wanita itu dekat-dekat sama kakak,"
Beny tersenyum samar mendengar ucapan Riana, hatinya tentu saja sangat bahagia, wanitanya secara tidak langsung telah mengakui perasaannya dan kini dia tahu jika cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan. Tapi dia akan menunggu sedikit lagi untuk menyatakan cintanya pada sang istri, sampai dia benar-benar yakin jika Riana tidak akan menolaknya lagi.
Saat Riana membuka matanya lagi, dia menunduk malu karena Beny hanya memandangnya intens tapi tanpa ekspresi apapun, lalu detik berikutnya Beny beranjak menjauhi Riana, untuk mengambil dompet dan ponselnya.
Riana menghela nafasnya tanda kecewa, karena Beny tak menganggapinya.
"Aku pergi dulu, jangan keluar kamar! Nggak baik jika pagi hari diawali dengan rasa kesal, aku hanya akan pergi bersama Hasan tidak dengan Arletta,"
"Cupp!"
Beny mencium pucuk kepala Riana tiba-tiba.
Dan seketika membuat Riana merona merah karena malu dan merasa sangat bahagia.
"Hati-hati kak!" Riana menampilkan senyum manisnya.
"Iya,"
Beny pun pergi meninggalkan Riana yang sedang merasa berbunga-bunga.
Hati Beny pun juga berbunga-bunga, dia terus tersenyum saat berjalan menuju Basement.
"Apa seperti ini ya rasanya jatuh cinta? Berjalanpun rasanya seperti melayang di udara, ah sepertinya aku sudah gila karena istri jutekku," gumam Beny lirih.
Didalam basement, Hasan telah menunggunya dan Beny pun masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana? Apa ada perkembangan?" tanya Beny pada Hasan.
"Memang benar terakhir kali wanita itu terlihat disini boss, tapi orang kita kehilangannya jejaknya. Sepertinya dia sudah tahu jika ada yang menguntitnya."
"Hubungi salah satu detektif lokal disini, kita akan meminta bantuan padanya agar pencarian kita selama 3 tahun ini tidak akan berakhir sia-sia," ucap Beny pada Asistennya.
Hasan menghubungkan seseorang dan mendapat alamat sang detektif yang akan mereka sewa.
"Kita langsung jalan ke alamat ini Boss, orang kita bilang detektif itu paling banyak dicari dan selalu pandai memecahkan kasus, tapi harganya lumayan mahal Boss,"
"Uang nggak jadi masalah, ayo cepat berangkat sekarang!"
"Baik Boss,"
Hasan melajukan mobil yang dikendarainya menuju alamat yang sudah anak buah mereka kirimkan.
***
Di Hotel, Riana sangat terkejut saat menyadari bajunya semalam dengan yang dia pakai saat ini sudah berbeda. Dia bisa menebak jika Beny yang sudah mengganti bajunya.
"Ahhh Kak Beny, dalam sikap dinginnya selalu terselip perhatian yang selalu bikin aku berbunga-bunga, aku mencintaimu suamiku!" seru Riana dengan bahagia.
Pagi itu dia mandi dan memakai dress hitam bunga-bunga selutut miliknya, perutnya juga sudah sedikit terlihat, tubuhnya semakin montok dan pipinya sudah tidak tirus lagi tapi malah semakin membuatnya cantik dan se**si.
Setelah dia menyelesaikan sarapannya, dia memilih baju di koper untuk ke pesta nanti malam. Saat dia mencoba memakainya ternyata dress pesta yang dia bawa sangat ketat di pakai, dan saat dia mencoba berjalan di depan kaca tiba-tiba..
"Brreettt!"
Dress terbaik miliknya telah sobek.
"Astaghfirullah.. terus aku pake baju apa! Dua dress yang aku bawa yang satu kekecilan yang satu malah rusak, masa iya aku harus ke mall dulu cari baju. Tapi nanti Kak Ben marah kalau tahu aku keluar hotel, terus aku harus gimana ini!"
Riana panik berjalan sembari mengigit ujung kukunya.
"Apa aku harus nelpon Kak Ben ya? Nanti kalo dia sibuk terus marah gimana? Masa baru ada kemajuan udah bikin marah lagi," Riana bimbang.
__ADS_1
"Ya udah aku chat ajalah, nanti kalau dia nggak sibuk dia kan bisa baca. Semoga aja dia nggak marah,"
💌 "Kak Ben, kalau urusan kakak selesai, aku ingin minta tolong sebentar. Dress pestaku rusak, aku harus cari yang baru untuk pesta nanti, apa aku boleh minta tolong dianterin ke mall?" pesan dari Riana.
Selama berjam-jam Riana menunggu balasan suaminya, tapi Pria itu sama sekali tak membalas bahkan belum membaca pesannya.
Sampai dia merasa mengantuk dan tiba-tiba tertidur sampai sore hari.
"Ceklek!"
Pukul 4 sore, Beny telah sampai di kamar hotelnya. Dia melihat istrinya yang tertidur pulas sembari mengenggam ponselnya. Sudah pasti jika wanitanya sudah melewatkan makan siangnya karena dua paket makanan yang dipesannya hanya berkurang satu paket saja.
Dia membangunkan istrinya perlahan, agar istrinya bisa makan siang.
"Ria, bangun dulu! Kamu harus makan siang!" ucap Beny sembari mengoyang-goyangkan tubuh Riana perlahan.
"Ria, ayo bangun!"
"Hmm, Kak Ben udah pulang?"
"Iya, bangunlah! Kamu belum makan siang kan?" tanya Beny.
Riana mengangguk.
"Aku bawakan ayam ricis, beef burger dan lainnya untukmu!"
Mendengar makanan kesukaannya, Riana sontak berbinar bahagia dan menghampiri Beny penuh semangat.
Beny menyerahkan paperbag kecil berisi makanan yang ada di tangannya pada istrinya, lalu menyerahkan sebuah kotak besar berwarna hitam bertuliskan merk terkenal.
"Dan ini pesanan kamu!"
"Ini apa?"
"Buka aja!"
Riana membuka kotak hitam itu dan melihat sebuah dress cantik berwarna hitam yang terlihat mewah dan mahal dengan beberapa hiasan berwana gold di bagian atas drees itu, dan juga sebuah flatshoes dan tas berwarna gold senada dengan variasi dress hitam itu.
"Wow bagus banget kak, terimakasih banyak Kak Ben!" ucap Riana tersenyum bahagia lalu memeluk erat suaminya tanpa sadar.
"Ehemm!"
Beny berdehem untuk mengingatkan Riana.
"Ah maaf kak, aku kelepasan!" ucap Riana tersenyum nyengir kuda.
Beny bukannya tak suka dipeluk oleh istrinya, sebenarnya dia sangat senang Riana memeluknya tapi dada Riana yang besar menabrak dada bidangnya, menekan dan bergerak tak beraturan di atas dadanya, jadi daripada dia tidak bisa lagi mengendalikan diri, lebih baik dia berpura-pura menolak pelukan sang istri.
Saat Riana melepas pelukannya, Beny menghela nafasnya perlahan, menetralkan degup jantungnya.
"Makanlah dulu biar kamu nggak sakit lagi seperti waktu lalu dan jangan terlalu sering makan fastfood! Lebih baik makan daging, buah dan sayur," ucapnya.
"Iya kak, terimakasih!"
"Hmm,"
Riana makan dengan lahap dan Beny merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar hotelnya. Dia lelah dan mengantuk seharian berada diluar dan tiba-tiba dia pun ketiduran di sofa itu.
***
Malam pun tiba, Beny dan Riana pun telah siap pergi ke pesta. Dress yang dipilihkan Beny sangat pas dan serasi di tubuh Riana, dress itu memang berlengan pendek dan menutupi dadanya, panjangnya pun sebatas betis tapi entah kenapa Beny melihat Riana begitu se**si dan sangat cantik malam ini. Ingin rasanya dia tak menghadiri pesta itu dan mengurung istrinya seharian untuk meluapkan segala rasa rindunya yang tertahan.
"Apa kamu udah siap? Hasan dan Arletta sudah siap dan sedang menunggu kita di lobby." ucap Beny.
__ADS_1