CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 54.Terkejut


__ADS_3

"Dorr!!"


"Aarrrrghhhhh!"


Caroline mengambil p*stolnya di laci dan menembak satu kaki Carlos.


"Apa yang kau lakukan sayang? Ingat aku ini suamimu yang sudah menemanimu hampir dua puluh tahun! Apa kau lupa segala kenangan indah kita bersama sayang?" Carlos mencoba merayu istrinya agar tak berbuat jauh padanya.


"Omong kosong! Selama beberapa tahun ini kamu mengejarnya kan? Memberikan keluarganya uang yang banyak padahal semua yang kau berikan pada mereka adalah uangku! Emangnya aku nggak tahu rencana busukmu! Setelah kamu berhasil menguras uangku dan mendapatkan j***ng itu, kamu akan menyingkirkanku! Kamu kira aku sebodoh itu! Hah!"


"It.. itu nggak benar sayang! Siapa yang udah menghasutmu? Aku nggak sekalipun berpikir untuk meninggalkanmu demi orang lain apalagi sampai menyingkirkanmu! Kamu jangan percaya hasutan orang lain sayang, aku sungguh mencintaimu!" sangkal Carlos yang bergetar takut.


Dia tidak menyangka jika istrinya telah mengetahui semua rencananya, dia pikir istrinya akan mudah dibodohi karena selama ini istrinya sangat percaya padanya tapi ternyata istrinya lebih cerdik dari yang dia kira. Kini dia benar-benar takut jika istrinya akan menghabisinya.


"Aku nggak akan termakan rayuan manismu lagi br***sek! Aku udah nggak butuh laki-laki pengkhianat sepertimu!" teriak Caroline penuh emosi.


Sedangkan Carlos terus mengiba agar istrinya memaafkannya dan tidak menghabisinya.


"Ucapkan selamat tinggal padaku suami pengkhianatanku!"


"Dorr! Dorrr!"


Caroline men*mbak suaminya tepat di jantung dan kepalanya dan suaminya pun te*was seketika. Dia sudah terlalu kecewa dengan suaminya, segalanya dia berikan pada suaminya, kekayaan, kekuasaan, dan kepercayaan. Bahkan jika suaminya tidur dengan wanita lain dia tidak pernah mempermasalahkan itu karena dia sadar dia adalah wanita yang sibuk dan jarang memiliki waktu untuk suaminya. Tapi saat dia mengetahui suaminya berencana untuk menghabisinya, seketika itu dia benar-benar tidak bisa memaafkan suaminya lagi.


Segala pengorbanannya, cinta, uang dan waktu selama ini hanya sia-sia, karena nyatanya suaminya lebih memilih bersama wanita lain daripada dengannya. Jadi lebih baik dia menghabisi si pengkhianatan itu daripada dia sendiri yang dihabisi. Apakah dia sedih memb**uh suaminya sendiri? Benar! Dia memang sangat sedih dan menyesal tapi perasaan lega dihatinya begitu dominan.


Dia memakai bajunya kembali dan memakaikan baju terbaik untuk suaminya, lalu dia memanggil dua anak buahnya agar mengurus pemakaman suaminya tanpa ada satu orang luarpun yang tahu.


***


Di kantor polisi, kini Clara, Bu Rosa dan Santos telah di tahan di penjara. Dan sidang pertama mereka akan digelar satu minggu lagi.


Vincent menginterogasi mereka satu-persatu, orang pertama yang Vincent interogasi adalah Santos. Santos berkata jika awal sasaran pembunuhan itu adalah Risty, tapi sialnya mobil Risty malah digunakan oleh Pak Haris dan Bu Hana untuk keluar jalan-jalan dan akhirnya terjadilah kecelakaan itu. Dia berkata jika pembunuhan itu direncanakan oleh seseorang dan dia hanya bertugas sebagai eksekutornya. Dia berdalih jika dia terpaksa melakukan itu karena dia membutuhkan banyak uang untuk operasi ginjal putrinya.

__ADS_1


Orang kedua yang diinterogasi oleh Vincent adalah Bu Rosa Febriana tapi Bu Rosa bersikukuh jika dia tidak tahu menahu mengenai kecelakaan Pak Haris dan Bu Hana, dia berdalih jika dia saja baru sampai ke Mansion mereka setelah kematian Pak Haris karena permintaan putrinya. Jadi dia merasa jika tuduhan itu hanya palsu dan tidak berdasar.


Dan yang terakhir Vincent interogasi adalah Clara Feronica Adhytama, putri kandung Pak Haris Adhytama. Clara pun juga mengelak keras tuduhan dari Vincent, karena Clara berkata jika dia sangat menyayangi papanya. Bahkan dia membuka seluruh isi ponselnya dan menunjukkan chat manisnya yang selalu dia kirim ke papanya, dia bahkan berkata jika papanya selalu memberikan segala yang dia inginkan. Jadi bagaimana mungkin dia berfikir untuk membunuh papanya jika hubungan mereka begitu harmonis.


Di sebuah ruang interogasi itu, Vincent masih duduk berhadapan dengan Clara selama berjam-jam untuk mengajukan banyak pertanyaan padanya.


"Bagaimana anda menuduh saya membunuh papa saya pak? Kalau hubungan kami saja baik-baik saja! Seharusnya anda juga harus menangkap Risty, anak angkat papa saya! Dia yang seharusnya patut dicurigai atas terbunuhnya papa saya, apalagi saat kejadian itu mobil yang mereka tumpangi adalah mobil Risty. Dia yang bertanggungjawab atas semua kejadian ini! Apa dia yang sengaja melaporkan saya atas masalah ini?" ucap Clara sedikit emosi.


"Nanti anda akan tahu siapa yang sudah melaporkan anda. Jika anda menuduh Nona Risty yang membunuh papa anda, lalu apa motifnya kalau saya boleh tahu?" pancing Vincent.


"Ya saya juga tidak tahu pasti alasan dia apa! Tapi sepertinya sih soal saham perusahaan papa, dia iri karena papaku memberikan saham untukku anak kandungnya tapi papa tidak memberikan dia saham sedikitpun karena dia hanya anak angkat." ucap Clara berbohong.


"Apa benar seperti itu? Bagaimana anda tahu jika dia iri tidak mendapatkan saham itu?"


"Ya saya kan bilang itu cuma tebakan saya! Kalau anda ingin tahu ya anda tanyakan langsung saja pada wanita itu, apa alasan dia membunuh papa saya! Saya seharusnya marah padanya tapi sudah mengikhlaskan kepergian papa saya, karena awalnya saya anggap ini semua hanya murni kecelakaan saja. Tapi kenapa jadi tuduhan ini malah berbalik pada saya yang tidak tahu apa-apa? Tolong bebaskan saya dan ibu saya karena saya tidak bersalah, saya bisa tuntut anda atau orang yang melaporkan saya karena memenjarakan saya dengan tuduhan palsu!"


"Saya memiliki saksi kunci dalam hal ini, jadi untuk sementara waktu, anda tidak bisa saya bebaskan. Silakan anda menghubungi pengacara terbaik anda untuk membela anda di persidangan nanti," ucap Vincent mengakhiri interogasinya.


Clara belum mengetahui jika Santos sudah tertangkap.


***


Sudah hampir satu minggu ini Risty berada di kampungnya. Kegiatannya beberapa hari ini adalah meninjau beberapa tempat untuk memulai usahanya di bidang logistik. Dia ingin memulai usahanya dari nol, dia berencana mengajak kedua adiknya untuk membantunya dalam merintis usaha barunya ini.


Tak sedikit juga para tetangga yang tidak menyukainya mencibir dan membicarakan soal statusnya saat ini. Para tetangganya menuduh Risty, jika selama ini Risty hanya menjalankan pernikahan kontrak seperti yang ada di novel-novel yang sedang hits saat ini. Menikah dengan laki-laki tampan dan kaya hanya untuk harta dan sebuah status sosial. Padahal kenyataannya Risty dan Bima tidak menikah kontrak dan dia adalah korban perselingkuhan dari suaminya.


Bahkan ada yang terang-terangan menuduh Risty jika dia adalah simpanan Om-om kaya di Ibukota saat ini, karena mereka tahu jika Risty membeli sebuah tanah ditengah perkotaan dengan harga fantastis. Tapi Risty tidak peduli dengan semua ucapan dan tuduhan keji para tetangganya yang menyebalkan itu, karena nyatanya dia membeli tanah itu dengan uangnya sendiri, hasil jerih payahnya menjadi CEO di perusahaan Pak Haris selama ini. Sedangkan uang gono-gini yang berasal dari Bima dulu juga akan dia jadikan modal untuk usaha barunya nanti.


Siang itu, setelah Risty berkeliling menemui beberapa relasinya bersama Reifan adik laki-lakinya. Dia mampir di kedai bakso yang terletak di desa tetangga, panas terik matahari membuatnya ingin segera membasahi tenggorokannya dengan rasa manis dan segar dari es kelapa muda yang juga disuguhkan di kedai itu.


Sembari menunggu pesanan makanan mereka sampai Risty membuka chat dari Erlangga dan membalasnya seperti biasa. Sedangkan Reifan pamit untuk ke belakang karena tiba-tiba dia harus memenuhi panggilan alamnya.


Saat Risty fokus dengan ponselnya, seseorang laki-laki yang begitu familiar baginya tiba-tiba datang menyapanya.

__ADS_1


"Hai Ris! Sejak kapan kamu pulang kesini?" tanya laki-laki itu dengan senyuman manisnya, dan sontak Risty pun mendongkakkan kepalanya untuk melihat wajah laki-laki itu.


"Hai juga Iqbal! Sudah hampir satu minggu sih aku disini!" jawab Risty tersenyum samar membalas sapaan Iqbal mantan kekasihnya dulu.


"Oh aku kok nggak tahu ya kamu udah lama pulang, duh aku jadi nyesel nih baru tahu sekarang,"


Mendengar ucapan Iqbal, Risty hanya tersenyum kaku dan tidak tahu maksud dia apa mengatakan itu. Padahal Iqbal sendiri sudah memiliki istri.


"Kamu sendirian aja Ris?" tanya Iqbal lagi.


"Nggak kok, aku sama Rey. Dia masih ke belakang bentar katanya,"


"Aku duduk sini boleh ya? Daripada aku duduk sendirian kok rasanya nggak enak gitu," ucap Iqbal yang tiba-tiba duduk didepan Risty tanpa menunggu persetujuan Risty terlebih dulu.


"Hmm.. Iya duduk aja! Ini kan tempat umum jadi semua orang berhak duduk dimanapun!" jawab Risty asal, lalu dia kembali sibuk dengan ponselnya.


Dia benar-benar terlalu muak melihat wajah mantan pacarnya itu, laki-laki itu seolah sedang tebar pesona padanya.


"Ris, maaf ya sebelumnya kalo pertanyaanku menyinggung kamu. Aku denger dari para tetangga kamu udah cerai dari suamimu satu tahun lalu, apa bener berita itu?" tanya Iqbal dengan raut wajah serius.


"Ya begitulah, karena jodoh itu rahasia illahi!" jawab Risty asal.


"Maaf ya Ris, aku jadi membuka luka lama kamu!"


"Hmm, santai aja! Semua udah berlalu buatku!"


"Aku juga lagi masa cerai dengan istriku saat ini Ris," sahut Iqbal tiba-tiba.


"Ah benarkah?" Risty berpura-pura kaget padahal dia sama sekali tidak peduli, sedangkan Iqbal mengangguk, "Aku doain yang terbaik buat kalian!" ucap Risty singkat agar Iqbal tidak menceritakan hal-hal tidak penting untuk dia dengar.


Kemudian tak berapa lama, seorang wanita dengan wajah marah dan mata berapi-api menggebrak meja Risty dengan kencang.


"Brraaakkkkk!"

__ADS_1


"Astagfirullah hal'adzim!" Risty beristiqfar karena sangat terkejut sedangkan Iqbal pun tak kalah terkejutnya.


__ADS_2