CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 56.Restu


__ADS_3

"Hei kamu! Kamu kan yang namanya Vania!" tanya Caroline menunjuk Vania dengan gaya angkuhnya.


"Iya benar! Emangnya ada apa!" sahut Vania yang ikut berdiri dengan gaya yang tak kalah angkuhnya.


Dia bertanya-tanya dalam hati, siapa wanita ini, kenapa tiba-tiba mencarinya. Seingatnya dia tidak memiliki rasa teman maupun rival seorang wanita yang seumuran dengan mamah-nya. Dia malah bernegatif thinking jika wanita didepannya adalah selingkuh papanya.


"Tante lo Van?" sahut salah satu teman sosialitanya.


"Atau istri dari pacar baru lo?" goda temannya yang lainnya kemudian tertawa.


Sedangkan Caroline hanya tersenyum sinis.


"Sayangnya ucapan temanmu itu benar! Aku emang istri dari kekasihmu, Carlos!" ucap Caroline dengan melipat tangannya didadanya.


Mendengar ucapan Caroline sontak membuat Vania terkejut setengah mati, dia tidak menyangka akan didatangi istri dari selingkuhannya itu. Dia pikir selama ini istri Carlos tidak mengetahui hubungannya dengan Carlos, karena Carlos juga sempat bercerita jika istrinya sangat percaya padanya dan sangat mencintainya hingga apapun yang diinginkan Carlos, istrinya selalu menurutinya.


Sedangkan beberapa teman sosialitanya memekik tidak percaya, karena Vania pernah berkata jika pacarnya adalah seorang duda kaya raya, bukan laki-laki beristri


"Emang benar aku kekasih Carlos! Lalu apa masalahmu, sampai menemuiku kesini?" Vania masih dengan sikap angkuhnya.


"Cihh dasar pelakor nggak tau malu! Masih berstatus istri orang, malah tidur dengan suamiku! Dasar wanita ja***ng murah**n!" ejek Caroline pada Vania.


"Apa benar lo belum cerai sama Bima, Van? Bukannya lo bilang kalian udah bercerai udah lama?" tanya salah satu temannya.


"Lo kan juga bilang kalau Carlos itu seorang duda! Apa sifat pelakor lo udah mendarah daging ya!" sahut yang lainnya dengan rasa jijik.


Vania diam tak bisa menjawab semua pertanyaan teman-temannya, Sedangkan Caroline menyuruh bodyguardnya menunjukkan video rekaman yang telah diberikan Bima waktu lalu, tentang penggerebekan Vania dan Carlos di apartemen Carlos kepada teman-teman sosialita Vania.


Melihat Video itu semua temannya memekik kaget dan memandang Vania dengan jijik. Mereka tidak menyangka Vania yang terkenal dengan wanita sosialita kelas atas berbuat sekeji itu dengan suami orang bahkan disaat statusnya masih menjadi istri Bima.


Melihat Caroline memperlihatkan videonya kepada teman-temannya, dia malu dan marah. Kemudian dia merebut ponsel itu dan membanting ponsel Caroline dengan keras.


"Praaankkkk!!"


"Br****sek!!"


Dia mendekat dan akan melayangkan tamparan pada Caroline tapi dengan sigap, bodyguard Caroline menangkap tangan Vania dan mendorongnya hingga dia jatuh dilantai.


"Aarrrghh!" Vania mengaduh kesakitan, "Apa maumu datang menemuiku kesini? Apa kamu nggak terima Carlos lebih mencintaiku daripada kamu! Asal kamu tahu Carlos udah janji akan menikahiku dan meninggalkanmu! Semua uangnya juga telah diberikan padaku jadi tinggalkan saja dia karena kamu tidak berarti sama sekali baginya!" Seru Vania yang masih terduduk dilantai.


"Hahahaha!" Caroline menertawakan Vania, "Aku suka rasa percaya dirimu yang berlebihan itu! Carlos tidak akan meninggalkanku demi j****ng sepertimu! Karena selama ini Carlos tak memiliki apapun dan semua uang yang dia berikan padamu adalah uangku! Dan kamu jangan pernah menyentuhku sedikitpun karena sebentar lagi aku akan menghancurkan kamu!" ucap Caroline menatap tajam Vania kemudian berlalu pergi.


Setelah kepergian Caroline semua teman Vania memandangnya dengan tatapan jijik dan mencibirnya.

__ADS_1


"Maaf ya Van lebih baik lo nggak usah masuk geng kita lagi deh! Kita semua jadi takut suami kita-kita diembat sama elo!" cibir salah satu temannya.


Sedangkan Vania hanya bisa diam menahan segala rasa malunya.


"Yuklah kita cabut! Gue alergi temenan ma pelakor!" sahut temannya yang lain kemudian mereka pun pergi meninggalkan Vania sendiri.


"Br****sek lo BIMA! Awas lo Bim! Tunggu pembalasan gue!" gumam Vania dengan rasa marah luar biasa.


***


Erlangga melajukan mobilnya menuju kediaman Risty dan ibunya. Terlihat tangan kanannya terus menggenggam tangan Risty dan sesekali mencium tangannya.


"Gimana abang tau aku di kedai bakso itu?" tanya Risty penasaran.


"Sebenarnya, aku memerintahkan dua anak buahku untuk menjaga kamu tanpa terlihat olehmu maupun orang lain. Selama satu minggu ini mereka melaporkan semua yang kamu lakuin diluar rumah, bahkan saat banyak orang yang menghina dan mencibirmu karena statusmu aku pun tahu. Rasanya ingin sekali aku langsung membawa kedua orangtuaku untuk melamarmu pada ibu, tapi waktunya belum tepat dan masih banyak hal yang harus kita selesaikan terlebih dulu." Erlangga menjelaskan dan Risty hanya mengangguk.


"Apa Abang dari bandara langsung ke kedai?" tanya Risty lagi.


"Nggak, aku tadi menemui ibu dulu dan ngobrol lama dengan ibu,"


"Hah?! Abang udah ketemu dan ngobrol sama ibu?" tanya Risty terkejut dan Erlangga malah mengangguk tersenyum.


*Flashback On


Erlangga memutuskan untuk menjemput Risty pada hari Minggu dan dia berencana mengatakan langsung pada Bu Aminah tentang hubungannya dengan Risty.


"Ting tong! Ting tong!"


Erlangga menekan bel pintu rumah Bu Aminah dan ternyata Bu Aminah sendiri yang membukakan pintu.


"Assalamualaikum Bu.." salam Erlangga.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. iya nak, maaf mau cari siapa?" tanya Bu Aminah.


"Saya mau cari Risty Bu, apa Risty ada dirumah?"


"Risty masih keluar dengan adik laki-lakinya nak, mari silahkan masuk, duduk di dalam dulu! Pasti sebentar lagi mereka juga pulang." Bu Aminah mempersilahkan.


"Baik Bu, terimakasih!"


Kemudian Erlangga duduk dihadapan Bu Aminah, Bu Aminah memandang wajah Erlangga dengan intens. Wajah itu benar-benar mirip dengan wajah mantan menantunya dulu, sama-sama berparas blasteran, tapi bedanya Erlangga terlihat lebih kalem dan dewasa.


"Maaf kalo saya boleh tahu, apa anak muda ini, teman anak saya?" tanya Bu Aminah penuh penasaran.

__ADS_1


"Iya Bu, Perkenalkan saya Erlangga. Saya teman dekat putri anda dan saya juga kakak kandung dari Bima mantan menantu anda." ucap Erlangga tanpa basa-basi.


Mendengar ucapan Erlangga sontak membuat Bu Aminah begitu terkejut. Dia benar-benar khawatir dan takut jika putrinya akan disakiti untuk yang kedua kalinya.


"Ka.. kamu kakaknya Bima, putranya Pak Prabu juga?" tanya Bu Aminah dengan bergetar.


"Iya Bu, sebelumnya saya minta maaf jika membuat ibu tidak nyaman dengan kehadiran saya, saya kesini selain untuk menjemput Risty kembali ke Ibukota juga ingin mengatakan keseriusan saya pada putri anda. Saya sangat mencintai putri anda Bu, saya mohon ijinkan saya untuk melamar putri anda dalam waktu tiga bulan lagi." ucap Erlangga dengan yakin.


Bu Aminah masih terdiam, dia kembali terkejut mendengar ucapan Erlangga. Dia tidak tahu, harus menolak atau mengiyakan, dia hanya tidak ingin putrinya disakiti lagi oleh keluarga mantan suami Risty dulu.


"Ibu.. Ibu jangan khawatir, saya dan Bima itu berbeda. Saya mencintai Risty jauh sebelum Bima dan Risty saling mengenal dan kami memiliki alasan kenapa kami dulu tidak memutuskan bersama. Sekarang kami telah dipertemukan lagi oleh takdir dan saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, saya berjanji pada ibu dengan segenap jiwa raga saya, saya tidak akan membuat putri anda meneteskan airmata kesedihan ataupun menyakitinya walau sedikitpun. Saya mohon berikan saya kesempatan untuk membahagiakan putri ibu!" ucap Erlangga yang sudah berlutut di depan Bu Aminah.


Bu Aminah masih terdiam tak percaya, laki-laki tampan, kaya dan berwibawa ini sampai berlutut dihadapannya hanya untuk mendapatkan restu darinya. Dia bisa melihat keseriusan dan ketulusan dari mata pemuda itu. Akankah dia merestui? Dan bisakah pemuda ini menepati semua janjinya? Semua pertanyaan itu berputar-putar dikepalanya.


"Bangunlah anak muda, laki-laki kaya sepertimu tidak pantas berlutut didepan wanita biasa seperti kami," ucap Bu Aminah sedikit tidak enak, sedangkan Erlangga hanya menggelengkan kepalanya kemudian menunduk.


"Saya tidak tahu sejauh apa hubungannya kalian selama ini, tapi jika Risty merasa bahagia hidup bersamamu dan kamu juga bisa menepati janjimu, saya akan dengan senang hati merestui kalian."


Mendengar ucapan Bu Aminah, Erlangga pun mendongkakkan kepalanya.


"Benarkah ibu akan merestui kami?" tanya Erlangga berbinar bahagia dan Bu Aminah pun mengangguk.


"Tapi jangan pernah lupakan janjimu untuk tidak menyakiti putriku karena dia adalah perisai kami, kebahagiaan kami dan kesedihan kami. Ibu dan adik-adiknya akan sangat sedih jika seseorang menyakiti hatinya, karena putriku adalah wanita yang baik dan tulus, dia juga wanita yang kuat dan pekerja keras. Selama ini kami semua hidup berkecukupan karena kerja kerasnya." ucap Bu Aminah tiba-tiba bersedih.


"Itu pasti Bu, ibu jangan khawatir dan tolong ibu jangan meragukan saya, Risty adalah wanita yang sangat pantas saya jadikan istri dan tidak mungkin bagi saya untuk menyakitinya." ucap Erlangga dengan yakin.


"Baik nak ibu akan percaya padamu seiiring berjalannya waktu, terimakasih sudah mencintai putri ibu dengan tulus!"


Bu Aminah menyuruh Erlangga kembali duduk di sofanya dan Dia pamit ke dapur untuk membuatkan Erlangga kopi.


Setelah dua jam menunggu dan berbincang lama dengan Bu Aminah akhirnya Erlangga pamit pada Bu Aminah untuk menyusul Risty ke tempat yang telah diinformasikan anak buah suruhannya.


*Flashback Off


Mendengar cerita Erlangga Risty menjadi terharu, dia benar-benar telah menemukan laki-laki yang tepat untuknya. Laki-laki yang sangat baik, gentle dan bertanggungjawab.


"Terimakasih Abang telah meyakinkan ibu dan meminta restu padanya, aku bersyukur bertemu laki-laki sebaik Abang!" ucap Risty sembari membelai pipi calon tunangannya.


"Sama-sama sayang! Aku juga beruntung bertemu wanita yang luar biasa sepertimu."


Dan hari itu Erlangga menginap di rumah Risty dan Erlangga juga memperkenalkan diri kepada kedua adik kembar Risty. Erlangga mungkin bukan orang yang biasa bercanda seperti Bima kakak iparnya dulu, tapi Erlangga juga orang yang mudah akrab dan dia memberikan banyak nasehat tentang pekerjaan kepada adik kembar Risty.


***

__ADS_1


Pagi itu Caroline datang ke sebuah perusahaan besar bersama beberapa anak buahnya untuk bertemu seseorang.


"Selamat pagi mbak! Boss kami ingin bertemu Bapak Anton Nursalim. Apa beliau ada?" ucap salah satu anak buah Caroline pada seorang resepsionis di perusahaan itu.


__ADS_2