CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 51.Rencana


__ADS_3

"Jangan sok drama kamu Van! Kamu senang kan sekarang, tujuanmu membunuh Selena sudah tercapai! Cihhh! Dasar wanita iblis!" teriak Bima dengan kebencian luar biasa.


"Apa maksudmu aku memb**uh Selena? Aku tidak pernah memb**uh putriku sendiri, BIMA!"


"Memangnya aku nggak tahu semua obat-obat mahal yang aku beli dengan hasil kerja kerasku siang malam untuk kesembuhan Selena hanya berakhir di tempat sampah! Hah! Ayo ikut aku ke kantor polisi! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" sahut Bima kemudian menarik tangan Vania dari ranjangnya.


"Aarrrrghhhhh!! Br****sek kamu Bim! LEPASIN!" teriak Vania mengaduh karena Bima mencengkeram tangannya.


"Bim! Lepasin Bim! Lihat itu! Vania masih telanjang! Ayo kita pergi aja dari sini! Yang penting kamu udah tahu siapa Vania yang sebenarnya!" ucap Teman Bima yang melepaskan cengkraman tangan Bima pada Vania.


"Dasar wanita *******! *******! *******!" Bima berteriak mengumpati Vania dan akan melayangkan tamparan pada wanita itu, tapi dengan cepat temannya menarik Bima untuk pergi dari kamar itu.


"Kamu jangan bertindak bodoh Bim! Vania bisa melaporkan kamu atas tindak penganiayaan, kalo kamu nggak bisa menahan emosimu seperti itu! Ingat kita akan membalasnya sesuai rencana kita!" ucap Teman Bima memperingatkan.


Bima menghela nafasnya panjang untuk meredam segala emosinya. Dia pergi bersama teman-temannya tapi sebelum dia pergi, dia menatap sinis pada selingkuhan Vania seolah menyiratkan sebuah rencana licik di otaknya.


Sedangkan petugas keamanan tadi meminta tolong pada Carlos, selingkuhan Vania, agar dia dan Vania untuk sementara tidak tinggal di apartemen karena takut menganggu penghuni apartemen lainnya jika terjadi keributan lagi.


***


Setelah 3 jam tak sadarkan diri, akhirnya Risty mulai sadar dan mencoba membuka matanya perlahan.


"Arrrrghhhh! Dimana aku ini?" erang Risty yang menahan rasa sakit di punggungnya.


"Nona Risty, kamu udah sadar?" tanya Vincent mendekati bangkar Risty dan menekan tombol untuk memanggil salah satu perawat agar memeriksa kondisinya.


Risty melihat wajah Vincent yang terlihat sangat cemas, lalu dia mengingat sekilas kejadian yang menimpanya sore tadi.


"Bagaimana keadaan mamaku Pak Vincent? Tolong lindungi mamaku!" ucap Risty yang akan bangun dari ranjangnya.


"Nona.. nona jangan bangun dulu! Lukamu baru selesai dijahit, tolong nona hati-hati! Kamu jangan khawatir nona, Bu Hana tidak terluka sedikitpun dan aku sudah menyuruh anak buahku untuk menjaga Bu Hana di depan ruangannya selama 24 jam." ucap Vincent menenangkan hatinya.


"Terimakasih Pak Vincent! Terimakasih banyak sudah banyak membantu saya!" ucap Risty dengan mata berkaca-kaca dan memegang tangan Vincent dengan spontan.


"Ceklekk!!"


"Maaf sa.."


Ucapan Erlangga terhenti, saat dia masuk ke dalam ruangan Risty dan tak sengaja melihat Risty yang memegang tangan Vincent.


"Bang Angga," panggil Risty dengan suara lemahnya tanpa melepaskan tangannya yang masih menggenggam tangan Vincent.

__ADS_1


Erlangga menghela nafasnya panjang, disaat situasi yang seperti ini, tidak seharusnya dia cemburu dengan hal yang sepele. Dia tahu jika Risty hanya tak sengaja memegang tangan polisi muda itu.


Sedangkan Vincent mendadak salah tingkah karena Erlangga melihat tangannya yang masih dipegang oleh Risty.


"Baiklah, karena Tuan Erlangga udah datang, saya keluar dulu ke ruang CCTV untuk mencari informasi lagi!" ucap Vincent yang melepaskan tangannya perlahan dari genggaman Risty.


Seketika Risty baru tersadar jika dia sudah memegang tangan pria lain di depan calon tunangannya, dia pun sedikit merasa bersalah pada Erlangga walaupun dia melihat ekspresi Erlangga yang tenang, seperti biasa.


"Baik Pak Vincent! Terimakasih sudah menjaga Risty untuk saya, jika ada informasi terbaru tolong anda segera kabari saya!" pinta Erlangga.


"Itu pasti Tuan Erlangga! Saya permisi dulu Tuan Erlangga, Nona Risty!" ucap Vincent tersenyum mengangguk dan berlalu pergi.


*


*


Setelah Risty mendapat pemeriksaan dari dokter, dokter mengatakan jika kondisinya sudah stabil, perasaan Erlangga begitu lega dan dia mulai menyuapi Risty dengan telaten, berharap agar sang kekasih hati segera sehat kembali.


Ada rasa bersalah yang teramat besar di dadanya saat dia tidak bisa melindungi wanita yang dicintainya itu, ingin rasanya dia membawa Risty kemanapun dia pergi. Tapi untuk saat ini belum bisa karena mereka belum sah menjadi suami istri.


Erlangga menyuapi Risty dengan mode diam tanpa berkata apapun, dia masih terus menyalahkan dirinya dalam hatinya. Ingin rasanya dia segera merengkuh tubuh Risty ke dalam pelukannya, tapi dia tahu belum bisa melakukannya karena luka Risty masih basah.


Sedangkan Risty malah berpikiran lain, dia mengira Erlangga marah karena dia telah memegang tangan Vincent di depan matanya. Risty semakin sedih, ingin sekali dia memeluk pria itu dan mengatakan jika hanya Erlangga saja yang dicintai, hanya Erlangga saja yang saat ini dia butuhkan untuk menyembuhkan segala luka fisik dan psikisnya.


"Baik," ucap Risty dengan suara bergetar.


Matanya mulai berkaca-kaca, sedangkan Erlangga yang melihat Risty yang akan menangis menjadi panik.


"Ada apa sayang? Apa ada yang sakit Coba katakan!" tanya Erlangga dengan cemas.


Sedangkan Risty hanya menggelengkan kepalanya dan airmatanya pun tumpah tak terbendung.


"Sayang jangan takut! Aku akan selalu bersamamu, menjagamu! Kamu jangan khawatir! Aku sangat mencintaimu dan kita akan selalu bersama," ucap Erlangga yang berjongkok, dia menaruh box makan Risty dan mengenggam tangan Risty lalu menciumi tangannya bertubi-tubi.


Mendengar ucapan Erlangga, hati Risty begitu sangat lega. Dia sangat bersyukur kini ada laki-laki yang begitu tulus mencintainya dan akan selalu ada untuknya disaat suka dan dukanya.


Erlangga menghapus airmata Risty, mengenggam tangan Risty dengan erat dan kembali duduk di kursi yang ada disamping bangkarnya.


"Apa sudah lebih baik sayang?" tanya Erlangga dengan lembut dan Risty mengangguk tersenyum.


"Maaf aku nggak bisa selalu melindungimu! Aku benar-benar seperti laki-laki yang nggak berguna buatmu!" ucap Erlangga penuh penyesalan.

__ADS_1


"Jangan menyalahkan diri sendiri Bang! Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan dan kita juga tidak akan bisa kembali untuk merubah masa lalu! Kita jalani aja semuanya dengan semestinya, berusaha lebih baik dan selalu berdoa pada Allah agar selalu dilindungi oleh-Nya. Allah masih menyayangiku dan memberiku kesempatan untuk lebih lama di dunia, dan aku sangat bersyukur,"


"Kamu benar sayang, aku akan lebih berusaha lagi untuk melindungimu dan keluargamu! Jadi sekarang jangan menolak lagi jika aku ingin melindungi kalian dari segala macam bahaya di luar sana."


"Apa maksud Abang?" tanya Risty tak mengerti.


"Seperti kataku dua minggu lalu, aku akan bawa Bu Hana ke Singapura agar mendapatkan pengobatan yang terbaik disana. Lagipula berada disini sudah tidak aman baginya, jadi kamu ikuti aja semua rencanaku agar kalian berdua akan tetap aman," usul Erlangga.


"Baik Bang, aku serahkan semua pada Abang! Aku hanya takut masalahku jadi ngebebanin Abang, karena Bang Angga sendiri sangat sibuk dengan pekerjaan."


"Sssttttt! Sayang aku nggak terbebani sama sekali, aku akan sangat bahagia kalo aku jadi orang yang berguna buat calon istriku ini!" sahut Erlangga sembari mencubit gemas hidung Risty.


Setelah mereka berbincang sedikit lama, akhirnya Risty tertidur karena pengaruh obat yang telah di minumnya. Erlangga keluar ruangan Risty dan menyuruh dua bodyguardnya berjaga di depan ruangan Risty dirawat. Sedangkan dia menelepon Vincent dan beberapa anak buahnya untuk bertemu di suatu tempat tak jauh dari rumah sakit.


***


Hanya dalam 30 menit, akhirnya Erlangga dan Asistennya berkumpul bersama Vincent berserta beberapa anak buah mereka.


"Selamat malam Pak Vincent! Maaf saya jadi mengganggu anda malam-malam begini." ucap Erlangga mengawali pembicaraan mereka.


"Tidak masalah Tuan Erlangga! Kami yang bekerja sebagai abdi masyarakat, sudah biasa mendapatkan panggilan darurat seperti ini," balas Vincent dan Erlangga pun mengangguk tersenyum.


"Soal video CCTV yang anda kirimkan tadi, anak buah saya sudah menemukan siapa pelaku yang menyerang Risty tadi! Dia adalah salah satu anak buah Dari Geng Naga merah, sebenarnya Geng itu bukan geng pemb***uh bayaran, mereka hanya sekumpulan preman yang biasa melindungi orang-orang penting jika ada suatu acara privat maupun acaranya besar. Mereka akan menolak jika terang-terangan disuruh menghabisi ny**a seseorang, tapi jika tersedak atau di serang mereka juga tak segan untuk balas menghabisi musuhnya. Jadi menurut saya Boss dari pelaku penyerangan Risty tidak tahu jika anak buahnya sudah menerima job diluar aturan yang mereka tetapkan." opini Erlangga.


"Ceroboh sekali laki-laki itu! Apa dia tidak takut jika Bossnya tahu bisa-bisa nyawanya lenyap dalam sekejap," timpal Vincent.


"Sepertinya laki-laki itu benar-benar membutuhkan uang, sampai dia lupa akan keselamatannya sendiri," sahut Asisten Erlangga, yang bernama Beny.


"Kita akan menangkap laki-laki itu diam-diam dan bernegosiasi dengannya, agar kita tahu siapa dalang dibalik ini semua!" ucap Erlangga berapi-api.


"Baik, saya serahkan semua pada anak buah anda dulu Tuan Erlangga, saya akan menutup mata terlebih dulu biar anda bisa bergerak dengan bebas!" ucap Vincent tersenyum penuh arti dan Erlangga mengangguk membalas senyuman Vincent.


Dia tahu, orang seperti Erlangga akan mudah menemukan seorang penjahat seperti apapun, tapi jika penjahat itu tertangkap tangan oleh pihaknya. Dia takut jika permasalahan ini malah akan semakin runyam dan semakin sulit terungkap.


***


Keesokan paginya, Risty dan Erlangga naik dengan jet pribadi milik keluarga Erlangga untuk membawa Bu Hana ke Singapura secepatnya.


"Apa kau yakin, kuat untuk melakukan perjalanan ke Singapura sayang?" tanya Erlangga sebelum jet pribadinya membawa mereka ke Singapura.


"Jangan khawatir sayang, aku udah lebih baik," ucap Risty berpura-pura baik.

__ADS_1


Padahal dia tahu jika luka itu masih terasa sangat sakit, tapi dia mencoba menahannya sekuat mungkin. Karena yang terpenting baginya saat ini adalah keselamatan mamanya.


__ADS_2