CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 25. Jabatan Baru


__ADS_3

Keesokan paginya, Beny dan Riana kembali ke Ibukota, sementara Hasan ditugaskan Beny tinggal 3 hari untuk mengurus segala keperluan Alfi dan keponakan tercintanya. Beny membelikan sebuah rumah di daerah tempat tinggal Alfi yang sekarang yang lebih besar dengan fasilitas lengkap didalamnya, karena rumah yang ditempati Alfi saat ini adalah rumah kontrakan kecil.


Beny juga akan membiayai Ardy setiap bulannya, memastikan bocah laki-laki kesayangannya itu tidak akan kekurangan materi juga kasih sayang. Dia berjanji pada Ardy akan sering berkunjung jika tidak ada pekerjaan dan bocah itu sangat senang sekali, seolah mendapatkan kasih sayang dari papanya sendiri.


Saat mereka jalan-jalan dan belanja mainan kemarin, Ardy terus menempel dan meminta untuk digendong pamannya, Beny pun sangat menyayangi Ardy seperti menyayangi kakaknya sendiri.


Sedangkan Riana yang melihat sisi kebapakan dari Beny menjadi terharu dan bangga memiliki pria itu, baru dengan keponakannya saja dia begitu perhatian dan sangat sayang, bagaimana dengan putranya sendiri nanti? Begitu pikirnya.


Selama berada di Mall kemarin Beny menggendong bocah laki-laki itu di tangan kirinya dan tangan kanannya menggenggam tangan istrinya. Sungguh pemandangan yang manis.


Setelah melalui kurang lebih 3 jam perjalanan udara dan darat, akhirnya Beny telah tiba di kediaman mamanya.


Dia sebenarnya enggan untuk tinggal di mansion itu karena mengingat kekejaman mamanya, tapi dia tahu mamanya tidak bisa dibantah, jelas mamanya tidak akan membiarkannya pergi dari mansionnya. Jadi Beny hanya bisa menahan emosi dan amarahnya, mencoba biasa seperti tidak tahu apa-apa di depan mamanya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Riana yang melihat raut gelisah di wajah sang suami.


"Aku nggak papa sayang, tenang aja!"


Beny mencium lembut bibir istrinya singkat untuk meredakan gemuruh didadanya, dia mengesap bibir lembut itu lama dan Riana pun menyambutnya dengan bahagia untuk meredakan kegelisahan suaminya.


"Eheemm! Bos sudah sampai," ucap supir pribadi Beny mengingatkan.


"Hm!" jawab Beny singkat tapi enggan melepaskan istrinya.


Riana baru menyadari jika mereka masih di mobil bersama orang lain, dia sontak melepaskan tautan mereka, mendorong pelan dada suaminya dan memalingkan wajah kemerahannya ke luar jendela. Dia merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya dia melupakan orang lain saat menerima sentuhan lembut suaminya.


Sedangkan Beny tersenyum lucu melihat istrinya yang selalu malu-malu itu.


Kini mereka berjalan beriringan memasuki mansion, Beny tak melepaskan tangan dari tangan istrinya dan Bu Gendhis melihat itu menjadi sangat kesal.


"Selamat datang putraku, menantuku! Gimana liburan kalian? Pasti menyenangkan kan?" ucap Bu Gendhis basa-basi.


"Iya mi, terimakasih sudah menyambutku!" jawab Beny memasang senyum palsunya.


"Iya mi, sangat menyenangkan." jawab Riana tersenyum bahagia.


"Baiklah kalian beristirahatlah, pasti capek kan?"


"Iya mi," Beny mencium singkat pipi mamanya dan Riana mengangguk.


**


Saat malam tiba, setelah menyelesaikan malam malam bersama, Bu Gendhis mengajak putranya untuk berbicara empat mata beralasan akan membicarakan masalah perusahaan, dan Beny pun menyuruh istrinya menunggunya di kamar.


"Apa yang ingin mami bicarakan denganku?" tanya Beny yang kini sudah duduk bersebelahan dengan mamanya di sofa yang ada di dalam ruang kerja Beny.


"Kenapa kamu membiarkan istrimu memecat Arletta, Ben? Istrimu tidak berhak memecat gadis terpandang seperti Arletta! Dia bukan siapa-siapa di perusahaan kita! Jangan sampai istrimu menguasaimu dan mengeruk seluruh hartamu!" Bu Gendhis mengingatkan.


"Mami jangan menuduh istriku yang tidak-tidak, dia bukan wanita seperti itu mi!" keluh Beny.


"Bela saja istrimu itu! Sampai-sampai kamu udah nggak mau dengerin aku, mamimu sendiri!"


"Bukannya begitu mi, tuduhan mami itu tidak berdasar! Mami pasti tahu Riana bukan gadis sembarangan! Tolong terima Riana sebagai menantu mami, jangan menyodorkan wanita lain untuk menggodaku! Aku bukan anak kecil lagi mi, jadi aku tahu tujuan mami menjadikan Arletta sekretarisku! Tolong mami berhenti memisahkan kami, atau mami akan menyesal sendiri,"


"Beraninya kamu menghardik mami! Mau jadi anak kurang ajar kamu Ben!" seru Bu Gendhis.

__ADS_1


"Ck! Mam.."


"Sudah! Mami kecewa sama kamu! Tinggalkan mami sendiri!"


"Mi, maafkan aku. Aku nggak bermaksud seperti itu sama mami. Maafkan aku mi!"


"Keluar kamu!" seru Bu Gendhis dengan rasa kesalnya.


Beny pun mengalah lalu keluar dari ruang kerjanya dan segera menyusul istrinya ke kamar.


Saat Beny masuk kedalam kamarnya, dia mengambil laptopnya untuk mengecek beberapa pekerjaan yang telah dia tinggalnya beberapa hari lalu, dia duduk disamping istrinya yang sedang berbaring sembari menatapnya.


Melihat wajah suaminya yang ditekuk, Riana jadi tahu jika hati suaminya sedang tidak baik-baik saja tetapi dia memilih tak menanyakannya.


"Sayang, apa pekerjaanmu masih banyak?" seru Riana yang mendekat ke telinga suaminya.


"Astaghfirullah!" Beny yang terlalu fokus dengan pikirannya mendadak terkejut, dia mengira istrinya telah tidur.


Riana malah terkekeh melihat wajah kaget suaminya.


"Aku kira udah tidur,"


"Baru juga jam 9 masa udah tidur! Aku lagi pengen sate ayam sayang!" Riana merajuk.


"Ya udah ayo kita beli! Aku ada langganan sate enak di area Malioboro," ucap Beny lalu menyambar kunci mobilnya.


"Aku nggak mau naik mobil sayang," tolak Riana.


"Lalu?"


"Tapi ini kan udah malem sayang, nanti kamu masuk angin! Yuk berangkat sayang!" ajak Beny.


"Ya udah nggak jadi!" Riana merajuk lagi.


"Astaga! Bumil cantik sayangku! Ya udah kita naik motor ya sayang! Tapi harus pake jaket!"


Riana mengangguk dengan tersenyum bahagia dan segera mengambil jaket tebalnya.


Akhirnya keduanya pun kini jalan-jalan mengelilingi pusat kota dengan mengendarai motor matic milik Beny.


Tak henti-hentinya Riana bersenyum bahagia dan memilih makanan di pinggir jalanan sekitar Malioboro. Dia juga berfoto bersama para seniman jalanan yang memakai kostum superhero dan tokoh-tokoh film lainnya.


Ini kali pertamanya dia jalan-jalan dengan sang suami, tangannya tak pernah lepas dari genggaman suaminya dan dia sangat bersyukur telah menjadi wanita yang paling bahagia.


"Apa kamu bahagia sayang?" tanya Beny yang kini duduk bersama Riana dipinggiran jalan dan menikmati suara petikan gitar dan suara merdu seorang seniman jalanan.


"Sangat bahagia sayang! Terimakasih banyak!" Riana mengecup pipi suaminya singkat.


"Sama-sama sayang, mudah sekali ya bikin kamu senyum hanya karena hal sederhana kayak gini, aku jadi semakin jatuh cinta sama kamu," ungkap Beny.


"Idih gombal!" Riana menjulurkan lidah dan tersenyum malu.


Dia tahu ungkapan suaminya memang tulus dari hati dan dia begitu berbunga-bunga mendengarnya.


"Apa aku perlu teriak nih biar kamu percaya aku cinta sama kamu?"

__ADS_1


Beny memandang wajah Riana dengan serius dan Riana malah terkekeh lucu.


Beny mulai berdiri seakan ingin meneriakkan sesuatu, tapi dengan cepat Riana membekap mulut suaminya dan menarik tangannya agar duduk kembali.


"Apaan sih kamu sayang! Norak tau nggak!"


"Habis kamu nggak percaya sama aku," keluh Beny.


"Ya ampun aku percaya sayang, tadi kan cuma bercanda!"


Beny pun akhirnya tersenyum konyol melihat istrinya yang panik, sebenarnya dia juga tidak akan berteriak seperti orang gila seperti itu, dia hanya menggoda istrinya.


Setelah lelah menikmati suasana malam yang ramai, akhirnya keduanya pun kembali ke mansion mereka dan segera beristirahat. Senyuman manis pun terukir sebagai penutup tidur keduanya.


***


Beberapa hari telah berlalu, hari ini Reifan menjemput Riana ke mansion suaminya untuk merayakan membukaan cabang baru perusahaan mereka.


"Hai Jutekku sayang! Bagaimana kabarmu hari ini? Apa kamu udah siap?" tanya Reifan yang melihat Riana sedikit gugup.


"Alhamdulillah aku baik Rey, udah lama aku nggak bicara di depan banyak orang. Duh nervous rasanya nih! Apa kamu udah siapin semuanya?" ucap Riana yang gugup.


"Udah tenang aja semua udah beres! Kamu tinggal pamit aja sama mertuamu dan suamimu, tapi jangan sampai mereka tahu semua ini,"


"Iya aku tahu! Kak Beny udah berangkat kerja tadi pagi, aku udah bilang padanya akan menemanimu untuk mengurus perusahaan,"


"Bagus!"


Kemudian Riana dan Reifan pamit pada Bu Gendhis untuk mengajak Riana ke tempat usaha baru miliknya, dan seperti biasa Bu Gendhis berpura-pura manis dan mengijinkannya.


Setelah kepergian Reifan dan Riana, Bu Gendhis menghubungi Arletta.


"Hallo, iya Tante!"


"Eh Letta, kamu tahu nggak sekarang Riana sibuk bantuin saudara kembarnya bikin usaha baru disini, sepertinya dia akan lebih banyak diluar dan akan sibuk. Jadi banyak kesempatan buat kamu deketin Beny,"


"Memangnya saudaranya itu bikin usaha baru apa Tante?" tanya Arletta yang tiba-tiba penasaran.


"Ish mana aku tahu Letta! Palingan juga cafe kecil atau apa gitu, aku nggak peduli sih sama urusan mereka. Yang terpenting kamu ada kesempatan deketin Beny kamu goda dia bagaimanpun caranya supaya dia jatuh dipelukan kamu.Sekarang kamu hubungin dia deh, minta sama dia agar kamu bisa kembali ke perusahaannya dan bilang aja aku yang nyuruh!"


"Siap Tante, makasih banyak ya!"


"Sama-sama sayang!" ucap Bu Gendhis dengan senyum kemenangan.


Dia merasa kali ini rencananya akan berhasil, dia benar-benar ingin memisahkan Beny dan Riana bagaimanapun caranya. Seperti dia memisahkan putra pertamanya dengan kekasih miskinnya.


***


Pagi itu Riana dan Reifan merayakan pembukaan cabang baru perusahaannya, sayangnya kakaknya Risty tidak bisa hadir karena dia tengah hamil dan mengalami morning sickness yang parah. Jadi dia hanya bisa menyaksikan pembukaan cabang perusahaan mereka lewat video call saja.


Reifan memperkenalkan Riana sebagai CEO di perusahaan itu pada karyawan barunya, dan dua orang kepercayaan Reifan bernama Dimas sebagai wakil CEO dan Shella sebagai asisten Riana. Dimas, Shella dan Riana sudah lama saling mengenal sejak bekerja di perusahaan Risty yang lama.


Riana memberi sambutan di depan karyawan barunya, menyapa mereka dengan ramah dan memberi semangat mereka agar perusahaan maju dan berkembang, semua kagum dengan kecantikan dan kepiawaian Riana berbicara saat dipanggung. Terdengar sangat cerdas dan berbobot.


"Duhh Ria, hamil kok malah makin cantik ya! Boleh nggak sih jatuh cinta sama binik orang," ucap Dimas dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2