
📞"Hhmm.. iya Hallo! Siapa ini? Orang lagi tidur malah digangguin! Nggak ada kerjaan apa gimana nih!" teriak laki-laki dari seberang telpon dengan suara khas bangun tidurnya.
"Woy Ben! Ini Gue Erlangga! Anjr** lo malah teriak-teriak, sakit telinga gue!" maki Erlangga ada asistennya Beny.
"Ya ampun Boss! Lo nih ganggu orang lagi tidur aja! Nggak tau apa kalo ini udah jam 2 pagi! Emang nggak ada jam di tempat lo?" seru Beny mendengus kesal.
Beny adalah sepupu Erlangga sekaligus asistennya jadi mereka begitu akrab layaknya saudara pada umumnya, bukan seperti Boss dan bawahannya.
"Dahlah jangan banyak bac*t lo! Gue perlu detektif swasta yang paling bagus! Nanti agak siangan lo hubungin dia, gue mau ketemu langsung!"
📞"Ck! Iya nanti gue teleponin! Dah gue mau lanjut tidor!"
"Tut!"
Beny mematikan sambungan teleponnya sepihak dan membuat Erlangga menjadi emosi.
"Br****sek! Belom juga kelar ngomong udah dimatiin! Dasar asisten gila!" sungut Erlangga dan memukul bantalnya berkali-kali.
***
Pagi itu Bima ke luar kota untuk mendatangi rumah kontrakannya yang lama bersama tiga pekerja yang akan membantunya, dia membereskan semua barangnya untuk diangkut di mansion papanya. Saat dia masuk ke dalam kamar yang biasa di tempati Selena, mendadak hatinya mendung lagi mengingat putri kesayangannya itu.
Dia mulai mengemasi semua barang-barangnya dan barang-barang putrinya untuk sekedar mengenangnya. Tak sengaja seorang pekerja yang mengangkut barang-barang milik putrinya menabrak tempat sampah kecil yang biasa untuk membuang tisu bekas.
"Braaakkkk!"
Bima menoleh ke arah sumber suara.
"Maaf Tuan muda, saya tidak sengaja! Biar saya bereskan dulu tong sampahnya,"
Bima memperhatikan tong sampah yang terguling dan isinya sudah tumpah itu. Dia melihat sesuatu yang sering dia lihat, berserakan dilantai begitu banyak.
"Tunggu! Jangan dibereskan dulu!"
Ucapan Bima membuat si pekerja itu menghentikan gerakannya.
Bima mendekati tong sampah yang tergeletak dilantai, dan benar saja, obat yang selama ini dia beli dengan harga mahal demi kesembuhan putrinya malah berakhir di tong sampah. Dia mengambil salah satu obat itu dan meremasnya dengan kuat, dia benar-benar kesal dan marah luar biasa. Jika Vania saat ini dihadapannya, dia ingin sekali mencekik wanita itu sampai menyusul putrinya ke alam baka.
Setelah semuanya selesai, para pekerja Bima pergi mengantarkan semua barangnya ke mansion dengan menggunakan mobil box.
Sedangkan Bima masih berada dirumah itu sembari berfikir kemana Vania berada. Dia mengotak-atik sosial media milik Vania untuk mencari info tentang Vania, tapi hasilnya nihil karena Vania tidak pernah memperbaharui informasinya.
"Br***sek kemana wanita itu! Apa dia pulang ke apartemennya? Atau kerumah papanya? Kemanapun kamu pergi aku akan nyari kamu walau ke ujung dunia sekalipun Van!" gumam Bima dengan penuh dendam.
***
"Bang Angga bangun!" teriak Risty dari luar kamar.
Sudah ketiga kali ini Risty membangunkan Erlangga, tapi setiap satu jam Risty datang ke kamarnya, Erlangga selalu berkata ingin tidur lagi satu jam.
__ADS_1
"Ceklek!!"
Akhirnya Risty masuk ke dalam kamar yang ditiduri oleh Erlangga.
"Ayo bangun sekarang! Nggak ada ya satu jam satu jam an lagi!" sungut Risty sembari berkacak pinggang.
"Hmm! Iya sayang dikit lagi! Aku masih ngantuk! Aku tadi baru bisa tidur habis sholat subuh! Sekarang aku masih ngantuk!" ucap Erlangga dengan suara khas bangun tidurnya. Tubuhnya masih bergulung didalam selimut tebal milik Risty.
"Emang Abang nggak kerja? Kemarin aja udah nggak kerja seharian nemenin aku, sekarang nggak kerja lagi! Nanti rejekinya dipatok ayam lho!" ujar Risty masih bersabar.
"I'm the Boss baby! Jadi mau libur bertahun-tahun juga nggak masalah!"
"Cihhh.. dasar sombong! Udah ayo bangun, aku udah siapin sarapan buat abang!"
Risty menarik selimut Erlangga dengan kuat, sedangkan Erlangga juga mempertahankan selimutnya sama kuatnya. Dan tiba-tiba ide jahil muncul di otaknya, dengan senyumnya yang menggoda, Erlangga melepaskan selimut itu sehingga membuat Risty menjadi tak seimbang lalu jatuh di atas dada Erlangga.
"Aarrrrghhhhh!"
Risty berteriak karena tak seimbang lalu jatuh di dada sang kekasih dan dengan sigap Erlangga memeluk tubuh Risty dengan erat.
Risty berusaha keras melepaskan pelukan Erlangga, tapi Erlangga malah mengeratkan pelukannya.
"Bang, lepasin! Ayo bangun! Ini udah siang!"
"Peluk bentar sayang! Nyaman banget kayak gini!" ucap Erlangga yang masih memejamkan matanya sembari tersenyum bahagia.
3 menit keadaan menjadi hening, keduanya benar-benar merasakan kenyamanan yang belum pernah mereka temukan sebelumnya.
"Sayang, katakan kamu mencintaiku!" bisik Erlangga kemudian memandang mata teduh sang kekasih hati.
Saat mata keduanya bertemu, Risty begitu salah tingkah hingga dia memalingkan wajahnya tapi Erlangga menahannya agar tetap menatapnya.
"Katakan! Setelah itu aku bangun!" pinta Erlangga sembari membelai pipi Risty dengan jarinya.
Lidah Risty begitu keluh untuk mengatakan itu, dia sangat malu karena tidak pernah mengatakan cinta segamblang itu pada seorang pria.
"Ayo sayang! Apa kamu masih ingin seharian berpelukan seperti..!"
Sebelum Erlangga meneruskan ucapannya, Risty membekap mulut Erlangga dengan tangannya.
"Aku sangat mencintaimu!"
"Cupp!!"
Risty mencium pipi Erlangga dan segera berdiri dari posisinya karena dia benar-benar malu dan wajahnya bersemu merah.
"Aku siapkan dulu air hangatmu untuk mandi bang!"
Risty masuk kedalam kamar mandi dan menetralkan detak jantungnya yang berdegup tidak karuan.
__ADS_1
Sedangkan Erlangga hanya tersenyum lucu melihat tingkah janda muda itu, dia heran kenapa Risty terlihat seperti gadis yang belia yang baru merasakan cinta dan sentuhan, padahal Risty pernah menikah sebelumnya.
"Bang, mandilah! Air hangatnya sudah siap!" ucap Risty yang baru keluar dari kamar mandi.
Erlangga tidak pernah bosan memandang wanita cantik itu, apapun Risty, dia akan terus mencintainya dengan segenap jiwanya. Dia tak ingin lagi kehilangan wanita yang selalu mengisi mimpi-mimpinya itu.
"Terimakasih istriku! Aku mandi dulu!" jawab Erlangga dan masuk ke dalam kamar mandi.
Dan Risty hanya menggelengkan kepalanya sembari merapikan ranjang yang Erlangga tempati.
Pagi itu setelah selesai sarapan bersama, Risty ke rumah sakit seperti biasanya dan Erlangga bekerja di Perusahaan lamanya yang berada di Ibukota, dia kembali menjadi Presdir disana. Mereka berangkat dengan mobil milik Erlangga, dan dia berjanji akan menjemput Risty sepulang dia dari kantornya.
***
Satu Bulan telah berlalu..
Perkembangan kasus kecelakaan itu mengalami jalan buntu, padahal Erlangga juga sudah menyewa seorang detektif swasta untuk menanganinya. Semua bukti dan jejak seolah sengaja dihilangkan.
Di Kantor pusat PT Adhytama group, Clara menjabat sebagai owner sekaligus Presdir menggantikan ayahnya, dia dibantu para petinggi perusahaan untuk mengatur jalannya perusahaan. Semakin lama perusahaan mengalami penurunan profit karena tak sedikit klien yang kecewa dengan kinerja Clara, Clara hanya seorang gadis muda yang tak memiliki pengalaman dalam berbisnis maupun bakat negoisasi.
Bahkan Beberapa perusahaan malah mengundurkan diri dari kerjasama dengan PT Adhytama group karena mereka hanya nyaman jika bekerja sama dengan Risty, mantan CEO yang telah lama memimpin perusahaan itu.
Sedangkan Clara tidak peduli dengan nasib perusahaannya, yang terpenting baginya dia bisa hidup mewah dan membeli semua yang di inginkan dengan kekayaan milik papanya. Dan Rosa Febriana, ibunya selalu mendukung semua yang putrinya lakukan.
*
*
Di Rumah sakit tempat Bu Hana dirawat, semua masih sama, tidak ada perubahan pada keadaan Bu Hana, Risty masih setia menemani mamanya setiap hari. Dia begitu sedih dan harapannya semakin menipis. Tabungan untuk membuka perusahaan kecil pun tinggal separuh, karena biaya rumah sakit Bu Hana yang begitu mahal. Apalagi Risty belum bekerja sama sekali, jadi dia tidak ada pemasukan sama sekali.
Erlangga sempat memberikan uang pada Risty tapi Risty menolaknya mentah-mentah karena Risty berdalih jika Erlangga belum sah menjadi suaminya, jadi Risty tidak mau memanfaatkan kekayaan Erlangga untuk kepentingan pribadinya.
Erlangga juga menawarkan pekerjaan Risty untuk menjadi sekretaris pribadinya, tapi Risty juga menolaknya. Semua orang di kantor itu tahu jika Risty dulunya adalah istri Bima, jika mereka tahu Risty sekarang dekat dengan Erlangga bisa-bisa satu kantor akan berfikir buruk padanya dan menjulukinya wanita tidak baik, karena menggoda mantan kakak iparnya.
Cibiran dan cemoohan semua orang tidak akan bisa terhindarkan, jadi Risty memiliki jalan aman untuk tidak satu kantor dengan Erlangga. Lagipula dia ingin memulai usahanya sendiri dari nol tanpa bergantung pada orang lain maupun pada Erlangga, calon suaminya sendiri.
Sore itu, Risty pulang dari rumah sakit setelah menemani Bu Hana seperti biasanya.
Dia menuju parkiran mobil dan akan pulang sendiri dengan mobilnya tanpa dijemput oleh calon tunangannya. Karena sudah satu minggu ini Erlangga kembali ke Australia untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan penting yang tidak bisa dilakukan oleh wakilnya.
Saat sudah masuk di dalam mobilnya, dia baru ingat jika laptopnya ketinggalan di ruangan mamanya di rawat dan dia pun bergegas masuk kedalam lagi untuk mengambil laptop miliknya.
Saat dia berjalan ke arah ruangan mamanya, dari jauh dia melihat seseorang berpakaian perawat yang mencurigakan masuk ke dalam ruangan mamanya.
Risty segera berlari kecil mendekati ruangan itu untuk mengetahui apa yang akan dilakukan si perawat, padahal dia ingat jika mamanya sudah mendapat kunjungan perawat satu jam lalu.
Dengan jantung yang berdebar-debar, dia mengendap-endap berjalan ke dalam ruangan mamanya dan membuka pintu ruangan itu pelan-pelan. Dan benar saja, Risty melihat perawat itu akan menyuntikkan sesuatu pada tubuh mamanya.
"WOY!! MAU APA KAMU!"
__ADS_1