
Pagi menjelang, Riana bangun subuh untuk mandi dan menunaikan ibadahnya, tentu saja dia juga membangunkan sang suami untuk mengajaknya beribadah bersamanya.
Ini kali pertama Beny menjadi imamnya, setelah berbulan-bulan menjadi suami istri.
Suara Beny yang merdu saat membaca ayat-ayat suci membuat hati Riana tenang dan bahagia.
Dan setelah menyelesaikan ibadah mereka, Riana mencium khusuk tangan sang suami dan Beny pun mencium lembut pucuk kepala sang istri.
Mereka mulai bersiap-siap akan kembali ke Ibukota, Beny membantu istrinya mengemasi barang-barang sang istri, dan tak sengaja ekor matanya memandang kotak hitam yang pernah dilihatnya di pesta, jelas kotak itu pemberian dari Christian. Saat dia membukanya ternyata sebuah jam mahal nan mewah dari salah satu brand terkenal.
"Sayang, kau berhutang penjelasan padaku!" ujar Beny.
"Penjelasan apa sayang?" tanya Riana menatap intens suaminya.
"Ini dari Christian kan?" tanya Beny mengangkat kotak hitam kecil yang ada di tangannya dan Riana pun mengangguk.
"Ada hubungan apa kalian di masa lampau sampai-sampai Christian memberimu jam mahal ini? Jangan bilang kalian pernah berkencan!"
Riana tertawa melihat raut wajah suaminya yang sedang cemburu, terlihat semakin tampan dan menggemaskan.
"Jawab baby! Jangan malah menertawakanku!"
Beny mendadak mencium istrinya agar dia berhenti tertawa.
"Hhmmppp!"
Awalnya Riana terkejut karena serangan tiba-tiba suaminya, tapi setelah itu mereka berdua menikmatinya sampai keduanya hampir kehabisan oksigen lalu melepaskan tautan mereka.
Reflek Beny melihat jam yang ada ditangannya, karena hasr**-nya mendadak muncul karena rasa cemburunya dan c**man mereka tadi.
"Sepertinya waktunya masih cukup jika kita menyempatkan olahraga pagi sebentar sayang,"
"Hah!"
Otak Riana yang biasa cerdas menjadi lemot seketika.
Tanpa banyak berkata-kata lagi Beny segera menyerang istrinya dengan intens sampai Riana hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan lembut sang suami.
Dan pagi itu diawali dengan suara-suara indah dari kedua insan yang sedang dimabuk cinta dan saling memberikan rasa nikmatnya.
Entah sampai berapa kali mereka terbang ke awang-awang bersama, Riana tidak bisa menghitungnya. Dia sangat lelah dan tak bertenaga, bagaimana dia bisa berjalan ke bandara nanti jika keadaan sudah lelah begini? begitu pikirnya.
"Dasar monster!" umpat Riana yang bergelung dalam selimutnya dan suaminya hanya terkekeh.
"Salahmu sendiri membuatku cemburu!"
"Aku? Kenapa jadi aku yang salah, kakak tuh yang dari semalam bikin aku cemburu! Aku dengan Tuan Chris tidak ada hubungan apapun sekarang maupun di masa lampau, hubungan kami profesional sebagai rekan bisnis, walau sebenarnya aku tahu dia menyukaiku tapi aku pura-pura tidak tahu aja. Karena aku tidak akan pernah memberikan celah pada seseorang jika aku tidak tertarik padanya," ucap Riana jujur.
"Kenapa kamu tidak menyukai Christian yang sangat mempesona dan kaya raya? Aku yang seorang laki-laki saja sangat iri melihat wajahnya yang tampan tanpa celah."
"Apa cinta itu memandang fisik? Atau materi? Ya mungkin bagi besar sebagian orang memang iya, tapi aku nggak. Semua orang tahu jika Tuan Christian adalah seorang Cassanova sejati, hidupnya berputar pada wanita malam dan dunia malam aja, dia bukan tipeku dan banyak perbedaan diantara kami. Jadi nggak ada alasan aku harus jatuh cinta padanya."
Beny pun bernafas lega, istrinya memang wanita yang berbeda, tidak silau harta dan fisik seseorang, dia bangga memiliki wanita cantik itu.
__ADS_1
"Beristirahatlah sebentar sayang, ini masih pukul 6 pagi. Nanti kita akan ke dokter pukul 8 untuk memeriksakan kandunganmu!"
"Katanya kita mau balik ke Ibukota? Kenapa jadi ke dokter?" Riana menatapnya heran.
"Aku masih ada urusan disini sayang,"
"Urusan apa kak?"
"Nanti kamu juga akan tahu! Tidurlah sayang,"
Riana mengangguk lalu memejamkan matanya.
Tepat pukul 8 pagi, Beny mengantarkan Riana ke dokter kandungan yang berada di sekitar Pulau Bali, seperti biasa Hasan yang mengemudikan mobilnya.
"Arletta kok nggak kelihatan kemana dia?" tanya Riana pada Hasan.
"Pihak hotel bilang kalau dia sudah check out pagi-pagi buta tadi nona,"
Beny tak peduli sedangkan Riana penasaran.
"Hah benarkah?"
"Sepertinya dia takut kena amukan lagi nona, nona kemarin sangat luar biasa, saya jadi kagum liat nona," ucap Hasan yang tersenyum lucu dan Riana pun ikut tersenyum juga.
"Lancang sekali dia mengatakan kagum pada istriku, apa dia mau cari mati!" gerutu Beny dalam hati.
"Ehemm!" Beny berdehem keras untuk memperingatkan.
"Eh maaf Boss saya tidak bermaksud macam-macam," Hasan menyadari kesalahannya, sedangkan Riana terkekeh.
**
Saat berada di ruang pemeriksaan, dokter kandungan berkata jika bayi Riana sangat sehat dan semuanya normal, jadi mereka bisa melakukan hubungan suami istri kapanpun tapi tetap harus dikontrol dan tidak boleh dilakukan dengan kasar agar tidak berdampak pada janinnya.
Beny dan Riana pun sangat bersyukur, calon buah hati mereka dalam keadaan sehat.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan pada kandungan istrinya, Beny segera menuju suatu tempat yang letaknya lumayan jauh dari pusat kota, mereka membutuhkan waktu satu jam setengah untuk sampai di tempat tujuan.
"Ini kita mau kemana sayang?" tanya Riana.
"Menemui seseorang yang aku benci dan gara-gara dia pula aku tidak percaya wanita dan cinta, sehingga aku yang dulu jadi pria bre***sek yang suka mempermainkan wanita,"
"Apa dia mantan kekasihmu sayang?"
Riana menjadi tegang, kenapa suaminya ingin menemui mantannya, apa tujuannya?
"Bukan sayang, bukan mantanku! Jangan khawatir!" Beny membelai wajah istrinya yang terlihat tegang, "Hanya mantan almarhum kakakku, Kak Bisma."
"Ah aku ingat, Bella pernah bercerita soal meninggalnya Kak Bisma padaku,"
"Iya sayang, sekarang aku ingin menemuinya untuk menyelesaikan segala rasa dendam dan penasaranku,"
"Tolong jangan ada kekerasan! Walau gimanapun dia seorang wanita," Riana memperingatkan.
__ADS_1
"Iya aku tahu sayang. Sekarang beristirahatlah lagi, baringkan kepalamu di pangkuanku! Aku akan membangunkanmu kalo kita sampai,"
Riana mengangguk dan mulai membaringkan tubuhnya di kursi penumpang dan tubuhnya meringkuk seperti udang dan kepalanya bertumpu pada pangkuan suaminya. Bekerja keras menyenangkan suaminya malam dan pagi hari membuat tubuhnya sangat lelah dan mengantuk.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di sebuah rumah sederhana bercat biru, terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 3 tahun lebih sedang bermain di sekitar rumahnya.
Beny bisa menebak jika anak itu adalah putra dari wanita bernama Alfi, tapi dia merasa aneh karena wajah anak laki-laki itu sangat mirip dengan wajah kakaknya semasa kecil.
"Hai dek, dimana mamamu?" tanya Hasan pada bocah laki-laki itu.
"Mamah, ada. Bentar ya," ucap anak itu kemudian berlari ke dalam rumahnya untuk memanggil sang ibu.
"Mamah! Ada om di depan cari mamah," teriaknya saat masuk ke dalam rumah.
Terlihat wanita bernama Alfi itu berjalan tergesa-gesa, untuk mengetahui siapa yang telah mencarinya.
Saat Alfi telah keluar dari dalam rumahnya dan melihat wajah yang tak asing baginya, seketika wajah menjadi pucat pasi, "Ma.. Mas Beny,"
"Bagaimana kabarmu Alfi? Apa kau terkejut dengan kedatanganku?" Beny tersenyum sinis.
"Mari silahkan masuk dulu," ajak Alfi.
"Ardi main di luar dulu ya sayang, mama mau bicara sebentar sama om." ucap Alfi pada putranya, dan bocah itu pun mengangguk menuruti perkataan sang ibu.
"Ada perlu apa Mas Beny datang kesini?" tanya Alfi.
"Jangan berpura-pura nggak tahu kamu! Kamu bertanggungjawab atas kematian kakakku! Apa alasanmu meninggalkannya? Kamu itu wanita kejam? Kurang baik apa kakakku segalanya dia kasi buat kamu!" seru Beny dengan mata memerah karena tersulut emosi.
"Sayang, kendalikan emosimu!" ucap Riana dengan lembut dan menggenggam tangan suaminya.
Alfi memejamkan matanya dan menghela nafasnya panjang.
"Apakah jika aku mengatakannya kamu bisa menjamin keselamatanku dan putraku?"
Alfi membalas pandangan mata Beny, dia tidak peduli apapun yang akan dilakukan pria itu yang terpenting baginya putra baik-baik saja.
"Apa maksudmu?" Beny mengernyit heran.
"Aku rasa Mbak Alfi sedang berada dibawah ancaman sayang," tembak Riana.
"Tepat sekali tebakan anda nona," puji Alfi.
"Siapa yang berani mengancammu?" tanya Beny penasaran.
"Jawab dulu pertanyaanku! Nanti aku akan katakan,"
"Oke, aku akan menjamin keselamatanmu dan putramu, aku janji!"
"Aku meninggalkan Mas Bisma karena diancam oleh Bu Gendhis,"
Akhirnya Alfi mengungkapkan kebenarannya.
Mendengar ucapan Alfi, sontak semua orang yang ada didepannya sangat terkejut luar biasa.
__ADS_1
"Jangan asal ngomong kau Alfi! Jangan memfitnah mamiku!" Beny menunjuk wajah Alfi dengan kesal.