
"TIDAK!" seru Pak Budi dengan suara meninggi.
Ucapan penolakan Pak Budi mengejutkan semua orang yang ada disitu terutama Yona dan Rizal. Hati keduanya begitu sakit dan perih, lagi-lagi mereka mendapatkan penolakan dari keluarga Rizal.
"Bapak aku mohon! Restui kami!" ucap Rizal berlutut dihadapan Pak Budi.
Yona pun ikuti berlutut pula di belakang Rizal, matanya mulai berkaca-kaca. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apalagi untuk mendapatkan restu kedua orangtua Rizal, apakah dia begitu buruk dimata mereka sampai restu itu tak kunjung dia dapat? Dia terus bertanya dalam hatinya.
"Bapak, tolong restui putra kita! Putra kita usianya sudah matang untuk menikah, lalu kita mau cari menantu yang bagaimana lagi? Dia sudah menemukan kebahagiaannya Pak, kita orangtua harus mendukung apapun yang membuatnya bahagia," akhirnya Bu Desi bersuara untuk membela keduanya.
Mendengar ucapan istrinya dan tingkah kedua pemuda dihadapannya, Pak Budi hanya terdiam tanpa ekspresi.
"Saya tidak akan merestui kalian jika kalian tidak memenuhi syarat dari saya," ucap Pak Budi dengan ekspresi datar.
"Syarat apa itu pak? Insyaallah kalau saya mampu, saya akan lakukan agar bapak merestui hubungan kami," ucap Rizal yang memandang teduh wajah Bapak angkatnya itu.
*Flashback On
POV Rizal
Aku adalah anak yatim piatu, aku diambil oleh Bu Desi dan Pak Budi di panti asuhan saat aku berusia satu tahun. Kedua orangtua angkatku menikah sudah 10 tahun dan belum dikaruniai anak, hingga mereka memutuskan untuk mengadopsiku dan membawaku ke rumah mereka.
Mereka sangat menyayangiku seperti putranya sendiri. Hingga suatu hari saat aku berumur 6 tahun, keajaiban terjadi, Bu Desi dinyatakan hamil. Dan betapa bahagianya mereka akhirnya mereka memiliki putra dari darah daging mereka sendiri, yang mereka beri nama Farid.
Di tahun ke kedua usia Farid, Bu Desi hamil kembali dan mereka mendapatkan seorang putri cantik yang mereka beri nama Dea. Bagi orangtua angkatku hidup mereka benar-benar sudah lengkap memiliki tiga putra yang mengisi kehidupan mereka, dan Bu Desi memutuskan untuk melakukan program KB. Tapi KB itu tidak berhasil karena di usia Dea satu tahun, Bu Desi dinyatakan hamil kembali dan Firman lahir ke dunia saat kakak perempuannya berusia 2 tahun.
Rumah kami semakin ramai dengan kehadiran kami buah hati mereka. Kebutuhan dan biaya sekolah pun semakin hari semakin bertambah. Gaji Pak Budi seorang PNS yang bekerja di dinas pendapatan daerah pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi Pak Budi masih memiliki cicilan rumah dan motor. Kadang jika uangnya habis sebelum bulan berganti, bapak harus meminjam beberapa teman atau saudara untuk menyambung hidup keluarganya.
Hingga suatu hari saat aku telah lulus sekolah SMA, aku meminta ijin pada kedua orangtua angkatku untuk melanjutkan kuliah di Ibukota. Dan tentu saja Pak Budi mengatakan jika dia tidak mampu membiayai kuliahku, karena adik-adikku masih kecil dan membutuhkan banyak biaya. Tapi aku bertekad, ingin sekolah yang lebih tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang bagus agar aku bisa membantu membiayai sekolah adik-adikku.
Aku mengatakan pada Pak Budi akan bekerja dan membiayai kuliahku sendiri, beruntungnya Pak Budi dan Bu Desi mengijikannya dan sejak itu aku merantau ke Ibukota guna mencari pekerjaan dan melanjutkan studi-ku.
Didalam perjalanan hidupku merantau di Ibukota aku bertemu dengan Yona yang baik hati yang merupakan tetangga kosku dan ternyata teman satu kampus juga denganku.
Yona sering merawatku dikala aku sakit dan sering membagikan untukku makanan yang dia masak atau dia beli. Awalnya kami saling bantu membantu karena nasib kami sama, sama-sama anak perantauan. Tapi lama-lama kami saling jatuh cinta karena terbiasa bersama. Itulah sebabnya Aku tidak pernah berpaling pada Yona, karena Yona selalu ada disaat susah, senangku atau disaat tidak ada seorangpun yang peduli padaku.
__ADS_1
Dan kini waktunya aku memperjuangkan wanita baik hati itu dihadapan orangtua angkatku, aku ingin membahagiakan dan hidup bersama orang yang beberapa tahun ini selalu ada untukku.
*Flashback Off
"Setiap bulan kamu memberikan bapak uang untuk membantu biaya adik-adikmu sekolah. Bapak hanya takut disaat kamu sudah menikah nanti, kamu melupakan kami dan istrimu melarangmu untuk memberikan uang biaya sekolah adik-adikmu. Bapak sudah tua nak, untuk membuat usaha yang lain bapak sudah tidak sanggup. Maaf jika bapak jadi membebani kalian, bapak bukan bermaksud tidak merestui pernikahan kalian, bapak hanya ingin memberi tahu pada calon istrimu agar tidak ada pertengkaran dikemudian hari nantinya," ucap Pak Budi dengan tatapan sendu.
"Bapak jangan khawatir, aku akan terus membantu biaya sekolah adik-adik pak! Dan calon istriku pasti juga bisa mengerti." ucap Rizal meyakinkan Pak Budi.
"Pak, Bu.. Saya dengan senang hati mendukung Bang Rizal membiayai sekolah adik-adiknya. Jika saya sudah menjadi istrinya kelak, saya janji tidak akan melarangnya jika itu berhubungan dengan bapak, ibu dan adik-adik. Bang Rizal tetap milik bapak dan ibu, jika dia lalai terhadap kalian, saya yang akan mengingatkan," ucap Yona dengan lembut.
Bu Desi meneteskan airmata mendengar ucapan Yona dan begitu juga Pak Budi menjadi terenyuh. Mereka tidak menyangka calon menantu yang dulu mereka tolak ternyata berhati baik dan lembut.
"Matursuwun nduk, sampean wes ngerteni! Tak dongakno sampean karo Rizal di paringi Gusti Allah kebahagiaan lan rejeki seng barokah.. Amiinn.. Ya Robbala'laminn.." doa tulus dari Bu Desi dan Pak Budi pun ikut mengamini.
*(Terimakasih nak, kamu sudah pengertian! Aku doakan kamu sama Rizal diberikan Allah kebahagiaan dan rejeki yang berkah.)
Sedangkan Yona hanya ikut-ikutan mengamini walaupun dia hanya sedikit-sedikit mengerti ucapan ibu dari kekasihnya itu.
"Maafkan bapak dan ibu jadi membebankan kehidupan kalian, bapak sangat berterimakasih padamu nak!" ucap Pak Budi dengan sedih.
"Alhamdulillah.. sama-sama le!"
(*Le : adalah panggilan untuk anak laki-laki. *Nduk : adalah panggilan untuk anak perempuan.)
"Baiklah, kapan bapak bisa melamarnya le? Bapak udah nggak sabar ini pengen gelar hajatan," ucap Pak Budi dengan konyolnya.
"Walah pak, kok Yo gupuhi se sampean iki! Paling sampean wes gak sabar pengen nyewo orkes terus joged nang panggung karo biduan seng ayu-ayu!" ucap Bu Desi dengan ketus.
*(Alah pak, kok tergesa-gesa sih kamu itu! Paling kamu udah nggak sabar ingin sewa orkes terus joged di panggung sama biduan yang cantik-cantik!)
"Walah Buk, Ojo su'udzon terus karo aku! Aku Iki wes tuo, kate joged-joged nang panggung yo isin to karo anak mantune,"
*(Alah Bu, jangan su'udzon terus sama aku! Aku ini udah tua, mau joged-joged di panggung ya malu sama anak menantu kita)"
Perdebatan kedua paruh baya itu membuat Yona dan Rizal tersenyum lucu, walaupun tidak mengerti bahasa mereka Yona bisa melihat ekspresi keduanya yang terlihat konyol.
__ADS_1
"Wes buk Ojo ngejak gelut ae, Iki lho diwasno mantune! Sampean gak isin ta?" Pak Budi memperingatkan istrinya.
*(Udah Bu, jangan ngajak bertengkar aja, ini lho diliatin mantu kita! Kamu nggak malu apa?)
Dan akhirnya mereka makan ngobrol dan makan bersama dengan hati bahagia malam itu. Pak Budi dan Bu Desi memutuskan akan melamar Yona secara resmi ke kampung halamannya dalam dua bulan mendatang.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Rizal meminta ijin pada orangtuanya untuk membawa Yona jalan-jalan mengitari Kota Surabaya dengan mengendarai motor matic milik Farid. Hanya perlu satu jam perjalanan saja dari desa tempatnya tinggal, dia sudah berada di pusat Kota Surabaya.
Rizal mengajak Yona ke Jalan Tunjungan, Jalan Tunjungan menjadi wisata favorit pada malam hari. Perpaduan antara tempat makan yang aesthetic dan keramaian akan pengunjung. Membuat Jalan Tunjungan terus ramai dan hidup pada malam hari.
Banyak cafe dan tempat nongkrong asik dengan gemerlap lampu pada malam hari. Tempat kumpul yang asik ini ada di sepanjang jalan Tunjungan.
Setelah bosan berjalan-jalan di Jalan Tunjungan Rizal mengajak Yona ke Alun-alun Kota Surabaya. Alun-alun itu memiliki ruangan bawah tanah.
Ruangan bawah tanah diisi dengan berbagai pajangan museum yang apik dan aesthetic untuk di jadikan spot foto. Pada malam hari, foodcourt lantai atas yang bertema outdoor akan buka.
Melengkapi malam dengan makan makanan foodcourt outdoor ini dengan suasana sejuk dan angin sepoi-sepoi.
Malam itu mereka begitu bahagia, seakan semua perjuangan dan doanya telah dikabulkan hari ini. Keduanya berharap semua akan berjalan lancar sampai ijab qobul diikrarkan.
"Gimana sayang udah ngantuk?" tanya Rizal pada Yona yang sedang asik memandangi keramaian kota dari tempatnya makan.
"Belum sih, cuma nggak enak aja sama Bapak ibu! Masa kita mau pulang tengah malem? Bisa-bisa mereka diomongi tetangga kalo liat anaknya bawa pacarnya sampai tengah malem," Yona memperingatkan.
"Iya juga ya! Udah kebiasaan nongkrong sampek tengah malem di Ibukota jadi lupa kalo udah di kampung,"
"Yuk kita pulang sekarang! Mumpung masih jam 10 nanti sampe rumah jam aja udah jam 11 jadi belum sampe tengah malem," ajak Rizal dan Yona mengangguk mengikutinya ke parkiran motor.
***
Yona dan Rizal berencana menginap di selama 5 hari di kampung keluarga Rizal, Yona juga membantu Dea dan Ibu Desi memasak di dapur.
Semakin hari hubungan Yona dan keluarga Rizal semakin akrab, mereka sangat menyukai kepribadian Yona yang baik dan lucu. Di malam ketiga disana, Yona juga mengajak keluarga Rizal untuk jalan-jalan dan berbelanja ke Departemen Store di Kota Surabaya.
Awalnya Pak Budi dan Bu Desi menolak ajakan Yona karena merasa tidak enak, tapi ketiga adik Rizal begitu antusias saat mendengar akan dia ajak berbelanja oleh calon kakak iparnya dan itu membuat Yona semakin bahagia.
__ADS_1
"Ndak usah menghamburkan uang buat adik-adikmu nduk! Lagipula kan baju-baju mereka masih bagus! Mending uangnya ditabung buat nikahan kalian nanti!" nasehat Bu Desi.