
"Tapi kita bisa dikejar pihak berwajib mas," Hasan memperingatkan.
"Udah nggak papa biar itu urusan papaku! Dia kan ada di belakang!" Erlangga tak peduli yang terpenting adalah keselamatan istrinya.
"Baiklah mas!" Hasan pun melajukan kembali mobilnya dengan kencang.
"Eh kenapa harus kamu yang mengantarkan kami ke rumah sakit? Bukannya hari ini kamu yang menikah?" tanya Erlangga yang baru menyadari.
Risty yang sedang kesakitan pun ikut menoleh ke arah Hasan dengan sedikit terkejut.
"Lah tadi Mas Angga teriak sambil lemparin kuncinya ke aku, aku reflek aja ikutin kalian!" ucap Hasan yang kini senyum-senyum di kursi kemudi.
"Astaghfirullah Hal'adzim..!" seru Erlangga dan Risty bersamaan.
"Apaan sih kamu yang! Ganggu pengantin baru aja!"
"Aku kan nggak sadar yang! Namanya juga lagi panik,"
"Kan kasihan pengantin wanitanya jadi nemuin tamu sendirian, lain kali tuh liat-liat dulu! Jangan asal nyuruh aja!" Risty kesal karena tak enak pada Hasan dan Alfi.
Risty dan Erlangga malah berdebat kecil hingga Risty sedikit melupakan rasa sakitnya
"Nggak papa Mbak, nanti setelah aku anterin kalian. Aku bisa langsung balik." Hasan menengahi perdebatan kecil mereka.
"Maaf ya Hasan, kami jadi ngerepotin kamu!" ucap Risty merasa tidak enak.
"Nggak ngerepotin kok mbak, santai aja! Yuk turun kita udah sampai!" Hasan mengingatkan.
"Arrrrghhhh!"
Kontraksi hebat menyerang Risty kembali, Erlangga dan Hasan pun panik lalu Erlangga segera menggendong istrinya ke dalam rumah sakit.
Hasan pun mengikuti mereka berdua dengan perasaan tak kalah cemasnya.
"Duh kasian Mbak Risty, pasti sakit banget itu. Kok aku tiba-tiba jadi nggak tega liat Alfi harus kesakitan begitu. Kalo dia nggak mau punya anak lagi, aku nggak apa-apa deh, kami kan udah punya Ardy." gumam Hasan dalam hati.
Saat Risty dan Erlangga akan masuk ke kamar bersalin, Erlangga menghentikan langkahnya.
"Eh kenapa kamu masih mengikuti kami kesini! Kembali ke istri kamu sana!" Erlangga mengingatkan Hasan.
"Eh iya mas, kok aku jadi lupa!" Hasan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bertepatan dengan datangnya kedua keluarga besar.
__ADS_1
"Eh San! Kok kamu masih disini? Cepet balik!" ucap Beny.
"Iya Boss! Ini juga mau balik!"
Hasan pun bergegas ke parkiran dan segera kembali ke gedung tempat resepsi pernikahannya.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Hasan tiba di gedung kembali. Dia berjalan menghampiri istrinya yang berada di kursi pengantin sendirian.
"Sayang, maaf aku jadi ninggalin kamu sendirian," Hasan merasa bersalah.
"Nggak apa-apa sayang, aku seneng kok kamu bantuin nganter Mbak Risty yang mau melahirkan. Semoga aja kalau aku melahirkan nanti, jika kamu nggak di rumah, banyak yang bantuin aku juga." ucap Alfi tersenyum lembut ke arah suaminya.
"Kamu serius mau punya anak lagi sayang? Aku nggak papa kok kalau kamu nggak mau punya anak lagi, kita kan udah punya Ardy yang," sahut Hasan dengan cepat.
"Emangnya mas nggak mau punya buah cinta sendiri? Darah daging mas sendiri?" tanya Alfi heran.
"Ya mau sih yang, tapi aku nggak tega liat kamu kesakitan kayak Mbak Risty tadi, ngilu banget rasanya yang, denger perempuan berteriak kesakitan. Apalagi kamu yang ada diposisi itu, bisa-bisa aku pingsan nanti." keluh Hasan.
Hasan masih memiliki sedikit trauma, saat melihat adik perempuannya meregang nyawa di rumah sakit karena kecelakaan. Adiknya juga berteriak kesakitan tapi dia hanya bisa menenangkan adiknya tanpa bisa berbuat apapun.
"Ya jangan pingsan donk sayang!" ucap Alfi sedikit kesal dan Hasan hanya nyengir kuda, "Rasa sakit saat melahirkan itu wajar sayang! Semua wanita juga merasakannya, aku bisa tahan sayang demi mendapatkan buah cinta kita. Semoga Allah memberi amanah lagi pada kita ya sayang,"
"Amin Ya Robbala'laminn.. Iya sayang, aku usahain nggak pingsan nanti Makasih ya sayangku, istriku, ibu dari anak-anakku!" ucap Hasan mengenggam tangan istrinya lalu menciumnya dengan lembut dan Alfi pun mengangguk dengan binar bahagia.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya acara pernikahan pun selesai.
Alfi tampak malu-malu duduk di samping ranjang setelah menyelesaikan mandinya, sedangkan Hasan masih sibuk dengan ponselnya.
Saat menyadari istrinya telah duduk membelakanginya, Hasan segera menaruh ponselnya di nakas, lalu tiba-tiba memeluk istrinya dari belakang.
"Aahh!"
Alfi yang tak siap dan terkejut saat mendapat pelukan mendadak dari sang suami.
"Jangan tegang sayang!" bisik Hasan pada telinga Alfi dan membuat tubuh Alfi semakin meremang.
Hasan mulai menc**mi istrinya dengan lembut, dan tak melewatkan sedikitpun dari t**uh sang istri.
Setelah puas menc**mi seluruh t**uh istrinya, dia mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.
Ini memang bukan kali pertama bagi Hasan, tapi rasanya tetap saja luar biasa baginya. Wanita ini adalah wanita yang sangat dicintainya dan wanita yang kini sah menjadi miliknya. Dia berharap wanita yang sedang berada dibawahnya ini, akan menjadi wanita terakhir dalam hidupnya.
Alfi pun merasakan hal yang sama, dia merasakan hal yang sangat luar biasa pada t**uhnya, setelah sekian lama dia tak mendapatkan sentuhan sama sekali. Rasa 'haus'nya kini telah terobati bersama orang yang tepat, dan dia tak ingin terlepas sedikitpun dari pria kesayangannya.
__ADS_1
Dia juga sangat mencintai suaminya, dan berharap hubungan mereka langgeng sampai maut memisahkan nantinya.
Setelah hampir setengah jam saling beradu dan bertautan, akhirnya keduanya pun melepaskan rasa nikmat mereka secara bersamaan dengan diiringi kata-kata cinta yang terucap dari kedua bibir pasangan pengantin baru itu.
"Aku mencintaimu sayang! Aku sangat mencintaimu istriku, ibu dari anak-anakku!" ucap Hasan sembari mengecup singkat b***r sang istri.
"Aku juga mencintaimu mas," balas Alfi yang kemudian merapatkan tubuhnya kedalam pelukankan sang suami.
Dan keduanya pun tertidur dengan satu selimut bersama.
***
Setelah dua bulan pernikahan mereka, hidup Hasan, Alfi dan Ardy semakin bahagia.
Hasan membeli sebuah rumah yang tak jauh dari mansion Pak Chandra, dengan halaman yang luas untuk tempat bermain Ardy dan calon buah hatinya kelak.
Hasan sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan Beny dan Alfi juga sama sibuknya dengan pekerjaannya di perusahaan Riana dan online shopnya.
Setiap hari Ardy diantar ke sekolah oleh kedua orangtuanya dan pulangnya dijemput oleh supir Pak Chandra. Sepanjang hari, sepulang sekolah, Ardy selalu berada mansion Pak Chandra saat kedua orangtuanya tengah bekerja.
Pak Chandra dan Bu Gendhis ingin merawat cucunya dengan tangan mereka sendiri, mengganti semua kasih sayang sang papa kandung yang tidak dia dapatkan dengan semua kasih sayang mereka, agar bocah laki-laki itu tidak merasa kekurangan kasih sayang.
Dan menjelang petang Hasan dan Alfi menjemput putranya untuk kembali ke rumah mereka.
Malam itu, Alfi terlihat begitu murung saat berada di kamarnya, dia duduk termenung di depan meja riasnya.
"Kenapa sayang?" tanya Hasan yang langsung mengetahui kegundahan hati istrinya.
"Aku belum mendapatkan tamu bulananku, lalu aku tadi nyoba test kehamilan, tapi ternyata hasilnya negatif yang. Padahal aku berharap bulan ini bisa cepat hamil," ucap Alfi dengan raut wajah sedihnya.
"Kok udah di test? Emangnya udah telat berapa minggu sayang?" tanya Hasan.
"Satu minggu yang,"
"Kan baru satu minggu sayang, lagian kenapa harus terburu-buru hamil? Kita kan baru dua bulan menikah, harusnya kan bisa puas-puasin pacaran halal dulu sayang!"
"Aku takut kamu diambil pelakor kalau aku nggak keburu hamil yang!" keluh Alfi, "Apalagi karyawan Kak Beny cantik-cantik di perusahaan, bisa jadi mereka ngerebut kamu dari aku!"
"Astaga sayang! Pikiran macam apa itu! Kamu hamil atau nggak, tetep cuma kamu yang ada di hatiku sayang! Cuma kamu yang aku cintai bidadariku! Aku udah janji dihadapan Allah akan mencintaimu sampai aku menutup mata. Kurang serius apa coba? Kenapa masih khawatir?" ucap Hasan berusaha menenangkan hati istrinya.
"Sayang, yang istrinya cantik dan anaknya banyak aja bisa kegoda sama pelakor, apalagi aku yang belum memiliki anak dari kamu? Bisa mudah mereka merebut kamu dariku!" ucap Alfi yang gusar.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Jangan berfikir terlalu jauh sayang! Kita nikmati aja kebahagiaan kita yang sekarang, lagipula aku bukan pria seperti itu. Aku memang bukan pria suci dan polos, ya.. kamu pasti tahu kan kehidupan laki-laki dewasa seperti apa! Tapi Aku bukan tipe pria yang mudah tergoda sama wanita! Aku cuma mencintai kamu sayang, cuma kamu aja sekarang dan selamanya." ucap Hasan meyakinkan istrinya.
__ADS_1
Dia mencium lembut istrinya lalu membawanya ke ranjang favorit mereka. Melakukan kegiatan favorit mereka, lagi dan lagi hingga keduanya pun terlelap karena kelelahan.
END