
"Iya mi," Riana memandangnya gadis itu lalu tersenyum
"Dia adalah Arletta, calon istri Beny tapi gara-gara kamu, Beny dan Arletta gagal menikah." ucapan Bu Gendhis menohok hatinya.
Riana terdiam dan terkejut, dia tidak menyangka jika suaminya telah memiliki calon istri, dan mereka gagal menikah karena kehamilannya.
"Apa kamu tahu karena perbuatanmu menjebak Beny, banyak orang yang tersakiti? Semua wanita disekitar Beny sama saja, mengincar harta dan ketampanan putraku saja, tapi berbeda dengan Arletta dia gadis baik-baik dan bukan gadis gampangan."
Arletta tersenyum puas karena pujian Bu Gendhis, sedangkan Riana harus menahan airmatanya agar tidak terjatuh. Bu Gendhis terang-terangan menganggapnya sebagai wanita murahan dan menuduhnya mengincar harta sang putra. Padahal dia tidak pernah memandang seorang laki-laki dari kekayaannya, dia bahkan mengira jika Beny hanyalah seorang asisten biasa.
"Ta.. Tapi saya tidak menjebak Kak Beny mi, apa Kak Beny tidak menceritakan yang sebenarnya?" ucap Riana dengan suara bergetar.
"Aku sih nggak percaya dengan ucapan Beny, bisa jadi ceritanya hanya untuk menutupi keburukanmu. Karena dari awal aku memang tidak pernah setuju Beny menikahimu,"
Lagi-lagi ucapan Bu Gendhis membuatnya sangat terluka, ternyata ibu mertuanya selama ini hanya berpura-pura menyukainya. Dia terdiam, untuk membela diri pun juga percuma, sebaik apapun dia tidak akan merubah cara pandang sang mertua terhadapnya.
"Setelah anak dalam kandunganmu itu lahir, tinggalkan putraku! Biarkan dia bahagia bersama Arletta!" ucap Bu Gendhis menatap tajam sang menantu.
"Tapi.."
"Nggak ada tapi-tapian! Memangnya aku nggak tau seperti apa hubungan kalian? Aku ini ibunya, aku tahu bagaimana dia biasa bersikap pada wanita yang dicintainya! Tapi denganmu dia sangat dingin, seolah menjaga jarak. Harusnya kamu sadar kalau putraku tidak mencintaimu! Jadi tinggalkan dia!"
"Maaf, saya tidak bisa mi. Saya permisi dulu,"
Riana segera berjalan cepat naik ke kamarnya tanpa mendengar jawaban mama mertuanya.
"Dasar wanita kampung nggak sopan! Nggak tahu diri! Lihat aja sifat aslinya mulai kelihatan," Bu Gendhis mendengus kesal karena diabaikan begitu saja.
Riana sudah tidak tahan untuk tidak menangis, ucapan mama mertuanya sangat menyakiti hatinya. Dengan mudahnya wanita itu mempermalukannya didepan banyak orang.
Dia sadar jika suaminya memang bersikap dingin padanya tapi dia akan terus sabar dan berusaha agar suaminya mencintainya juga.
"Ya Allah, kenapa sakit sekali rasanya? Disaat saya sudah mulai mencintai suami saya, saya harus mengetahui kenyataan ini. Saya harus bagaimana? Mohon kuatkan hamba Ya Rabb," gumam Riana yang masih menangis.
"Ibu, Mama, Kakak, aku merindukan kalian," gumamnya.
Dia menangis sampai dia tertidur hingga dia melewatkan makan siangnya.
Saat sore hari tiba, sebuah ketukan pintu membangunkan tidurnya.
"Tok! Tok! Tok!"
"Ria! Ria!" teriak Bu Gendhis dari luar.
Sedangkan Riana yang mendengar teriakan ibu mertuanya, sontak bangun dengan tergesa-gesa dan membukakan pintu kamarnya.
"Ceklek!"
"Iya mami, ada apa?" tanya Riana.
"Ini udah sore! Jangan malas-malasan kamu! Cepat pel semua lantai bawah sampai bersih!" perintah Bu Gendhis.
"Baik mi,"
Riana tidak bisa membantah perintah sang mertua, dia bergegas turun ke lantai bawah, mengambil alat pel dan timba lalu mulai mengepel semua lantai itu.
Perutnya keroncongan karena dia belum makan siang, tapi dia takut dia akan terkena marah jika tidak segera menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Dan setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia naik lagi ke kamarnya untuk mandi karena Bu Gendhis melarang pelayan memberikan makan pada Riana saat Riana pergi ke dapur meminta makan siangnya.
Tubuhnya semakin lemah dan wajahnya pucat karena dia terlalu kelelahan apalagi dia tidak mendapatkan asupan makanan.
Dia meringkuk di ranjangnya hingga malam menjelang, karena tiba-tiba demam tinggi menyerangnya.
"Ceklek!"
Dia bahkan tidak menyadari jika sang suami masuk ke dalam kamarnya, tubuhnya terlalu lemah untuk mendengarkan hal disekitarnya.
Beny yang melihat istrinya yang sedang berbaring memakai selimut hanya melewatinya saat menuju kamar mandi.
"Tumben dia tidak menyambutku pulang, masih jam 6 petang malah tiduran," gumam Beny dalam hati.
Setelah dia menyelesaikan mandinya dan telah berganti baju, Beny membangunkan Riana untuk mengajaknya makan malam.
"Hei! Bangunlah, ini udah jam makan malam. Makanlah sedikit biar bayi kita nggak kelaparan," ucap Beny menggoyang tubuh Riana yang terbungkus selimut.
Riana tidak menjawab ucapan Beny, tapi dia malah merintih seolah kesakitan.
"Hhmm.."
"Hei kau kenapa?" Seketika Beny panik mendengar Riana yang mengeluarkan rintihan pelan.
Beny menyingkap selimut istrinya dan melihat wajah Riana yang bergetar dan kemerahan.
"Astaghfirullah.. panas banget badan kamu, ayo kita kerumah sakit Ria," seru Beny dengan panik.
Dia menyentuh pipi istrinya yang terasa panas, dan menepuknya pelan agar wanita itu membuka matanya.
"Kak, a.. aku nggak papa. Aku hanya lapar," ucap Riana dengan suara yang sangat pelan.
Beny berlari tergesa-gesa turun ke dapur, dia benar-benar marah dengan para pelayan yang mengabaikan kebutuhan istrinya yang sedang hamil.
"SEMUA DENGARKAN! KENAPA ISTRIKU SAMPAI KELAPARAN SEPERTI ITU! APA KERJA KALIAN SEBENARNYA!" teriak Beny penuh amarah pada beberapa pelayan di mansionnya.
Semua takut dan menunduk mendengar teriakan Beny, semua tahu jika Nona mudanya memang melewatkan makan siangnya. Mereka berinisiatif akan memberikan susu hamil dan makanan untuk nona mudanya saat dia telah menyelesaikan tugas dari Bu Gendhis tapi sayang Nyonya besar mereka melarang mereka memberikan jatah makan siang untuk Riana.
"Ada apa sih ini Ben kok marah-marah?"
Bu Gendhis menghampiri putranya dan memberi kode pada para pelayannya agar tidak buka suara.
"Riana sakit mi badannya demam, sepertinya dia telat makan makanya sakit. Apa sih kerja mereka mengurus satu orang aja nggak becus!"
"Jangan salahkan orang lain Ben! Riana tadi ketiduran makanya dia melewatkan makan siangnya. Tadi mami sempat bangunin dia tapi nggak ada jawaban dari kamarnya, jadi mami nggak ingin menganggu tidurnya."
Beny hanya menghela nafasnya mendengar ucapan mamanya, dia binggung siapa yang harus disalahkan disini. Harusnya dia bisa lebih perhatian pada istrinya tapi dia terlalu gengsi melakukan itu.
"Cepat kalian bawakan makanan sama susu hamilnya ke atas!" ucap Beny pada para pelayan.
"Biar mami panggilkan dokter pribadi kita Ben, jangan cemas!"
"Iya mi, makasih. Aku ke atas dulu,"
Bu Gendhis pun membalas dengan anggukan.
Beny masuk kedalam kamarnya dan menghampiri Riana yang masih terbaring lemah.
__ADS_1
"Ria, ayo bangun dulu. Aku akan menyuapimu makan."
Beny mengangkat tubuh Riana agar tubuh lemah itu bersandar pada dada bidangnya.
"Ayo minum dulu sedikit!" Beny menyodorkan susu hamil untuk Riana.
Riana mengangguk dan mulai meminum susu hangat itu, susu itu terasa sangat enak di tenggorokan dan perutnya. Lalu Beny dengan telaten menyuapinya dengan sup daging dan sayur yang begitu gurih dan menggugah selera.
Setelah menyelesaikan makannya, keadaan Riana mulai membaik tapi demamnya belum turun, Beny berkali-kali menempelkan punggung tangannya pada dahi istrinya.
"Apa benar kamu tadi ketiduran sampai melewatkan makan siangnya?" tanya Beny memandang wajah sayu itu.
"Iya Kak, aku tadi ketiduran."
"Aku mohon usahakan makan tepat waktu demi kesehatanmu dan bayi kita. Aku tidak ingin dia sampai kekurangan nutrisi," pinta Beny.
"Baik kak, maafkan aku."
"Tok! Tok!"
Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk!" jawab Beny dari dalam kamar.
Ternyata Bu Gendhis datang bersama seorang dokter wanita, dokter itu memeriksa keadaan Riana dan memberikan obat agar demamnya cepat turun.
"Bagaimana kondisi menantu kesayangan saya dok?" ucap Bu Gendhis yang berpura-pura peduli.
"Syukurlah tidak ada yang serius Nyonya, hanya karena telat makan dan kecapekan saja. saya harap nona muda harus banyak beristirahat agar kondisinya cepat pulih," ucap sang dokter.
"Baik dok, terimakasih banyak."
"Sama-sama Nyonya, saya permisi dulu." pamit sang dokter.
Setelah dokter itu keluar kamar Beny, Bu Gendhis menghampiri Riana dan berpura-pura peduli.
"Ria sayang, gimana keadaanmu? Cepat sembuh ya menantu mami, jangan telat-telat makan lagi," ucap Bu Gendhis membelai lembut kepala menantunya.
"Iya mi, terimakasih!"
"Astaga wanita itu bermuka dua, semoga aku selalu kuat menghadapi wanita seperti itu," gumam Riana dalam hati.
Setelah Bu Gendhis pergi, Beny masih duduk disamping istrinya.
"Sini minum obat dulu, biar demamnya cepat turun,"
Riana mengangguk lalu Beny memberikan obat penurun demam dan air putih pada istrinya.
"Apa ada wanita yang kakak cintai saat ini?" tanya Riana tiba-tiba.
Dia penasaran apa suaminya mencintai gadis bernama Arletta itu.
"Kenapa menanyakan itu?" Beny mengernyit heran.
"Nggak apa-apa, aku cuma penasaran aja," ucap Riana
"Kamu nggak perlu tahu siapa yang aku cintai, nggak ada pentingnya juga buatmu!" jawab Beny dengan ekspresi datar.
__ADS_1
Riana terdiam mendengar ucapan Beny, dia bisa menebak jika suaminya memang mencintai wanita lain. Jika ditanya kecewa pasti dia kecewa dan sakit hati, karena dia mulai mencintai pria ini. Pria yang berstatus suaminya, walaupun terlihat dingin dan datar tapi dia selalu mengkhawatirkannya saat dirinya sedang sakit.
"Kalau kakak ingin mengejar wanita yang kakak cintai itu, aku rela jika kita harus bercerai setelah bayi ini lahir."