CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 17. Skak Mat


__ADS_3

Riana sadar, dia sangat cemburu melihat kemesraan suaminya dengan gadis bernama Arletta itu. Dia kesal, marah dan kecewa tapi hanya bisa dia pendam dalam hati. Dia memilih buru-buru pergi dari mall sebelum kondisi hatinya semakin memburuk.


"Ayo Mbak Tina kita pulang!"


"Lha katanya mau beli persediaan skincare sama kosmetik non?" tanya Mbak Tina heran.


"Nggak jadi! Udah nggak mood!" ucap Riana dengan ketus.


Wajah Riana yang cantik semakin imut saat dia merasa kesal, beruntungnya Beny melihat ekspresi wajah yang cemburu itu dan dia sangat menikmatinya.


Sedangkan Pak Gino dan Tina heran melihat perubahan mood nona mudanya. Mereka berjalan mengikuti nona mudanya dari belakang.


"Kenapa nona?" tanya Pak Gino pada Tina tanpa mengeluarkan suara dan Tina hanya membalas dengan menggedikkan bahunya.


Hasan dari toilet, dia menghampiri Beny dan Arletta yang terlihat menempel pada sang atasan.


"Ehemm!" Hasan berdehem.


"Letta, bersikaplah profesional! Kamu harus ingat aku ini siapa!" ucap Beny dengan tatapan dinginnya lagi.


"Baik Pak Ben, maaf!" ucap Arletta menjauhkan tempat duduknya lagi.


Sebenarnya hari ini mereka bertiga ada meeting dengan beberapa klien di sebuah restoran mewah di Mall, tapi klien mereka belum datang. Jadi Beny berpura-pura perhatian dengan Arletta, sengaja untuk membuat Riana cemburu padahal kenyataannya Beny sama sekali tidak tertarik dengan gadis itu.


"Inget istri lagi hamil di rumah Boss! Jangan kambuh lagi playboy-nya!" bisik Hasan pada Beny.


"Hmm!"


Beny memutar malas bola matanya.


***


Saat perjalanan pulang, Riana memutuskan untuk tidak pulang dulu ke mansion, dia membutuhkan sesuatu untuk meredam rasa cemburunya.


"Pak Gino, rumah bapak jauh nggak dari sini?" tanya Riana.


"Tidak terlalu jauh non, sekitar 20 menit sampai,"


"Oh oke, kalau gitu ajak saya ke rumah bapak ya!" ucap Riana.


Tina dan Pak Gino tiba-tiba terkejut dengan permintaan wanita hamil itu, mereka bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya akan di lakukan nonanya itu, tapi Pak Gino menurutinya tanpa banyak bertanya.


"Tapi kontrakan kami jelek dan sempit nona, maaf jika nanti nona tidak nyaman berada disana,"


"Nggak masalah pak, santai saja!"


Saat 20 menit berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah kontrakan Pak Gino. Terlihat anak-anak Pak Gino sangat bahagia dan antusias melihat kedatangan ayahnya.


"Hallo, anak manis! Namanya siapa?" tanya Riana pada putri Pak Gino yang berusia 7 tahun.


Bukannya dia menjawab, dia malah memanggil ibunya.


"Ibu.. ibu! Bapak pulang! Lihat Bu bapak bawa nona cantik Bu, seperti artis yang ada di TV!" ucap putri Pak Gino yang berusia 7 tahun dengan binar bahagia.


Sedangkan Riana dan semua yang ada disitu malah tersenyum lucu melihat tingkahnya.


Istri Pak Gino berjalan tergesa-gesa dari arah belakang untuk menyambut kedatangan mereka.


"Wah tumben bapak pulang, apa ada masalah pak?" ucap istri Pak Gino merasa khawatir, karena tidak biasanya sang suami pulang saat siang hari.


"Nggak ada apa-apa Bu, kenalkan ini istri Tuan Muda Beny namanya Nona Riana."


"Selamat siang Bu, perkenalkan saya Riana," Riana mengulurkan tangannya didepan istri Pak Gino.

__ADS_1


"Selamat siang juga nona muda, saya Yayuk istri Pak Gino," ucap Bu Yayuk dan menyambut uluran tangan nona mudanya.


"Mari nona silahkan duduk, mbak Tina ayo duduk juga!" Bu Yayuk membawa mereka duduk di sofa usang miliknya, "Maaf rumahnya seperti ini, saya merasa tersanjung sekali nona mau mampir ke gubuk kami,"


"Tidak apa-apa Bu Yayuk, saya nyaman kok disini. Oia ini saya bawa makan siang buat anak-anak dan sepotong baju buat ibu dan mereka bertiga," ucap Riana lalu menyerahkan bungkusan itu pada Bu Yayuk.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak nona. Kenapa kok jadi merepotkan nona seperti ini," Bu Yayuk merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Bu, tidak merepotkan sama sekali," Riana tersenyum manis.


"Ayo anak-anak nasinya di makan dulu!" ucap Riana pada ketiga anak Pak Gino.


"Hore! Aku makan ayam goreng kayak Upin Ipin Bu!"


"Bilang apa dulu sama Nona Riana," ucap Bu Yayuk pada ketiga anaknya.


"Terimakasih Nona Riana," ucap ketiga bocah itu bersamaan.


"Sama-sama sayang! Eh panggilnya Tante Ria aja ya!" pintanya.


"Baik Tante Ria,"


Dan siang itu, suasana hati Riana kembali membaik karena celoteh lucu putri Pak Gino.


**


Pukul 4 sore, Riana telah sampai di mansion Beny dengan membawa beberapa kantong belanjaan ditangannya dengan dibantu oleh Tina.


"Istri macam apa kamu keluyuran seharian nggak tahu waktu! Seenaknya menghabiskan uang suami untuk berfoya-foya!" ucap Bu Gendhis menatap tajam menantunya.


Riana terdiam lalu menghembuskan nafasnya pelan untuk meredakan emosinya.


"Maaf mi, saya tadi sudah ijin sama suami saya," Riana menundukkan kepalanya.


Riana menghela nafasnya lagi, dia selalu diremehkan dan dia mencoba bersabar, tapi semakin lama ibu mertuanya semakin keterlaluan, menuduh dan memojokkan dirinya seenak hati.


"Maaf mami, bukannya saya sudah berani menjawab ucapan mami, tapi saya akan menyangkal tuduhan yang tidak benar dari mami. Saya belanja sebanyak ini tidak memakai uang dari suami saya sepeserpun, ini kartu pemberian darinya dan uang yang dia beri selama ini utuh tak berkurang sama sekali. Selama ini saya menggunakan black card milik saya untuk belanja semua keperluan saya," ucap Riana yang menunjukkan kartu black card yang ada ditangannya.


Skak Mat!


Mendengar ucapan Riana, Bu Gendhis terdiam dengan wajah kemerahan karena malu. Dia tidak menyangka Riana memiliki kartu tak banyak dimiliki orang itu. Bahkan dia saja tidak memiliki kartu semacam itu.


"Kalau begitu saya permisi dulu mami," pamit Riana pada sang mertua.


Sedangkan Tina dan para pelayan yang ada di mansion Bu Gendhis seketika takjub melihat black card yang ada ditangan nona mudanya.


"Wah aku tidak menyangka nona muda sekaya itu, tapi dia sangat ramah dan tidak sombong sama semua orang. Aku salut sama nona," gumam lirih dari salah satu pelayan yang menyaksikan kejadian tadi dan masih bisa didengar oleh Bu Gendhis.


"Apa kalian gosip terus! Kerja sana yang bener! Atau kalian mau aku pecat!" seru Bu Gendhis dengan kesalnya.


"Maaf nyonya besar, maafkan kesalahan kami," ucap si pelayan dengan takut.


Sedangkan Riana yang sudah berada di kamarnya, tersenyum sangat bahagia melihat raut wajah kesal sang mama mertua.


"Makan tuh Black card! Emang enak dibohongin! Untung ini kartu masih di aku, makasih kakakku sayang!" Riana melenggang pergi ke kamar mandi dengan hati bahagia.


Kartu itu jelas bukan miliknya, karena dia saja menjadi CEO baru beberapa bulan saja tapi tabungan Riana sendiri masih cukup jika untuk membangun coffe shop dan butik besar di tengah perkotaan.


Kartu itu sebenarnya milik Erlangga yang diberikan pada kakaknya, tapi sewaktu mereka belanja berdua, kartu itu tak sengaja terbawa oleh Riana karena semua pengeluaran Risty, dia yang menghandle. Dia sempat ingin mengembalikan, tapi Risty malah menyuruh Riana menyimpannya dulu. Dan sekarang kartu itu tiba-tiba menjadi spesial dimatanya bukan karena nilai materi didalamnya tapi kartu itu sudah menyelamatkan harga dirinya.


Malam pun tiba, seperti biasa Beny pulang larut lagi dan melewatkan makan malam mereka. Riana sering makan sendiri di meja makan, karena Bu Gendhis tidak ingin makan bareng dirinya dan Bella sedang magang di luar kota.


"Ceklek!"

__ADS_1


Beny membuka pintu kamarnya dengan wajah yang lelah dan mengantuk.


"Selamat datang Kak Ben!" Riana berbinar bahagia.


Wajah tampan dan aroma tubuh suaminya yang selalu dia rindukan, membuatnya lupa dengan kejadian tadi siang


Riana segera mengambil tas suaminya dan melepaskan jas yang dikenakan sang suami.


"Hmm!"


"Capek ya?"


"Hmm!"


"Apa mau mandi sekarang? Biar aku siapkan air hangatnya ya?" tanya Riana memandang lembut sang suami.


"Iya boleh,"


Sesaat setelah Beny menyelesaikan mandinya, dia merebahkan tubuhnya di sofa kesayangannya.


"Kak Ben boleh aku tanya sesuatu?"


"Hmm,"


"Siapa wanita yang bersama kakak di restoran tadi siang?"


"Sekretarisku,"


"Hah! Sekretaris?"


"Iya sekretarisku, memangnya kenapa? Kamu cemburu?" tanya Beny.


"Bu.. bukan itu maksudku." Riana gugup melihat Beny yang tiba-tiba mendekat dan duduk di sampingnya.


"Maksudku, sejak kapan gadis bernama Arletta itu menjadi sekretaris kakak?" tanya Riana penasaran.


Yang dia tahu Arletta adalah calon istri Beny yang gagal Beny nikahi, putri tunggal dari salah satu teman sosialita mama mertuanya, jelas Arletta bukan gadis sembarangan. Jadi dia berfikir bagaimana mungkin Arletta tiba-tiba jadi sekretaris suaminya.


"Kamu kenal Arletta?" tanya Beny heran.


"Mami sempat mengenal kami saat Arletta dan mamanya berkunjung kemari."


"Lalu?"


"Mami bilang kalau Arletta sebenarnya adalah calon istri kakak tapi karena kehamilanku ini, kalian tidak jadi menikah. Maafkan aku, gara-gara aku kalian gagal menikah," ucap Riana merasa bersalah.


"Cihh wanita tua itu, belum menyerah juga ternyata. Jadi ini tujuannya memaksa Arletta untuk jadi sekretarisku. Mami ingin aku jatuh cinta pada gadis itu agar aku meninggalkan istriku, ternyata hanya trik lama! Mudah sekali ditebak," gumam Beny dalam hati.


"Lupain aja! Semua udah berlalu, kami hanya bekerja secara profesional,"


Beny kembali ke sofanya dan membuka beberapa email miliknya. Dia tidak mengatakan sebenarnya pada Riana, karena dia hanya ingin melihat sejauh mana rasa cemburu istrinya pada Arletta.


"Apa wanita itu yang kakak cintai?" tanya Riana ragu-ragu.


"Kamu nggak berhak tau isi hatiku, jadi jangan berharap aku menjawabmu!"


"Bulan depan aku akan pergi Bali 3 hari, untuk memenuhi undangan pesta ulangtahun perusahaan milik kolega bisnisku. Jadi.."


"Aku ikut!" sela Riana.


Dia tahu jika Arletta pasti akan ikut dalam acara itu, dia tidak ingin suaminya jatuh ke pelukan wanita lain. Baru melihat suaminya duduk bersama wanita lain saja dia sudah terbakar cemburu dan membuatnya yakin jika dia memang benar-benar telah jatuh cinta pada sang suami. Lalu bagaimana kalau mereka melakukan hal yang lebih? Dia tidak ingin membayangkan itu terjadi.


"Nggak boleh! Apa kamu lupa kalau kamu lagi hamil? Aku nggak ingin terjadi apa-apa sama bayiku!" tolak Beny.

__ADS_1


__ADS_2