CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 61.Saling Rindu


__ADS_3

"Brukkkkkk!!"


Bu Helena terjatuh pingsan melihat putra bungsunya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Pak Prabu membawa istrinya ke sofa, dengan berderai airmata Risty mendekati mantan mama mertuanya itu. Mengoleskan minyak angin yang ada didalam tasnya, menggosok kaki tangan mama mertuanya dengan lembut. Perawat yang masih berada di dalam ruangan Bima juga membantu agar Bu Helena cepat sadar dari pingsannya.


Setelah melalui proses yang panjang berjam-jam, Erlangga, Risty dan Pak Prabu terjaga semalaman mengurus Bu Helena yang masih lemah, mengurusi beberapa administrasi hingga mengurus kepulangan jenazah Bima ke Mansion Papanya.


Saat telah berada di mansion, terlihat banyak pelayat dari kerabat hingga relasi bisnis yang datang mengucapkan belasungkawa. Bu Helena masih terus menangis dan berkali-kali kehilangan kesadarannya. Erlangga dan Pak Prabu pun juga menangis dalam diam, mata keduanya memerah dan sekali-kali menyeka airmata mereka yang tiba-tiba jatuh tanpa sadar. Ibu Risty pun datang bersama kedua adik kembarnya untuk turut mengucapkan belasungkawa mereka.


Setelah semua proses telah dilakukan, akhirnya dengan membesarkan hati mereka masing-masing, mereka mengantarkan jenazah Bima ke peristirahatan terakhirnya.


Setelah beberapa jam berlalu, kini Mansion Pak Prabu telah sepi kembali, Ibu Risty dan kedua adik kembarnya pun juga telah pamit untuk kembali ke kampung halaman mereka. Risty masih berada disana di dalam kamar tamu, Erlangga berdiam diri mengenang semua masa-masa saat bersama adiknya. Kedua orangtua Bima pun juga sama, mereka kembali menangisi kepergian putra tercintanya, berpelukan dan memberikan kekuatan satu sama lain.


*


*


*


Hingga 7 hari pun telah berlalu..


Pagi itu setelah sarapan bersama, Erlangga berpamitan pada mamanya jika besok dia harus kembali ke Ibukota untuk bekerja lagi, sedangkan Risty juga akan pulang ke kampung halamannya sampai jadwal sidang berikutnya tiba.


"Mommy berharap kamu bisa pulang setiap hari untuk menemani mommy, jika perlu mommy akan mengajak daddy ikut kamu ke ibukota. Mommy hanya nggak ingin melewatkan setiap moment kebersamaan kita." ucap Bu Helena pada putranya.


Erlangga dan Pak Prabu hanya bisa pasrah mendengar ucapan orang tercinta mereka. Memang kehilangan seseorang itu rasanya sangat berat, tapi mereka sadar, jika waktu terus berjalan dan banyak hal di masa depan yang harus terus dijalani.


"Nanti setelah doa 40 hari Bima, kamu bisa ikut putramu ke Ibukota sayang. Untuk sekarang biar dia saja yang pulang ke Mansion, tapi jangan memaksanya untuk pulang setiap hari. Pekerjaan putramu sangat banyak, apa kamu nggak kasihan jika dia kelelahan dijalan? Ya.. walaupun dia juga memakai supir tapi tidur didalam mobil juga akan membuat tubuh nggak nyaman." Pak Prabu menasehati istrinya sembari mengusap lembut punggungnya.


"Baiklah, mommy nggak akan memaksa dia pulang setiap hari, tapi kamu harus sering temani mommy disini."


"Iya mom, tenang aja! Kalo aku nggak banyak kerjaan, aku akan pulang temani mommy!" ucap Erlangga sembari memeluk mamanya penuh sayang.


Sedangkan Risty hanya memperhatikan interaksi ketiga orang di depannya, dia merasa menjadi orang asing beberapa hari ini, karena semua masih sibuk bersedih dan menerima tamu yang hilir mudik datang untuk mengucapkan belasungkawa.


"Risty sayang! Kemarilah nak!"


Akhirnya Bu Helena memanggil Risty agar mendekat padanya dan Risty pun mengangguk lalu duduk di kursi yang telah di tempati Erlangga tadi.


"Maaf kalo beberapa hari ini mommy nggak peduliin keberadaan kamu, mommy masih harus menguatkan hati untuk menerima semuanya ini," ujar Bu Helena sembari menggenggam tangan Risty.


"Mommy jangan khawatir soal itu, aku bisa mengerti mom! Yang terpenting buatku mommy baik-baik saja dan ikhlas menghadapi semua ini," ucap Risty sembari membalas genggaman tangan Bu Helena.

__ADS_1


"Tunggu tiga bulan lagi ya! Mommy akan datang ke rumah ibumu untuk melamarmu,"


Mendengar ucapan Bu Helena, sontak membuat wajah Risty bersemu merah, dia berfikir jika bukan waktu yang tepat saat ini untuk membahas hubungan dengan Erlangga.


"Mommy jangan terburu-buru, aku sama Bang Angga masih santai menjalani hubungan kami yang seperti ini." ucap Risty merasa tidak enak.


Sedangkan Erlangga hanya tersenyum cengar-cengir.


"Nggak sayang! Erlangga udah menceritakan semuanya pada mommy, mommy dan daddy sangat bahagia Erlangga telah memilih wanita yang tepat. Apalagi kamu begitu penting buat kami terutama Erlangga, kami nggak akan menyia-nyiakan wanita baik sepertimu lagi."


"Daddy juga nggak sabar ingin membawamu ke rumah ini lagi," Pak Prabu tersenyum lembut.


"Terimakasih mom.. dad.. !" Risty membalas senyuman Pak Prabu lalu memeluk Bu Helena penuh sayang.


Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Bu Helena dan Pak Prabu bersantai di taman bunga milik mereka, Erlangga pamit pergi ke ruang kerjanya untuk mengecek pekerjaan yang menumpuk beberapa hari ini, sedangkan Risty bertukar kabar dengan adiknya mengenai progres pembangunan perusahaan kecilnya.


"Sayang, aku tinggal bentar ya ke ruang kerja, kalo kamu bosen ngobrol aja sama mommy dan daddy di taman atau kamu bisa pake mobilku untuk cari angin diluar,"


"Iya bang, jangan khawatir soal aku! Abang kerja dulu sana!"


Erlangga tersenyum manis sembari menyentuh lembut pipi Risty sekilas, lalu berjalan ke ruang kerja papanya. Sebelum dia masuk dia berpapasan dengan salah satu ART dan meminta dibuatkan kopi untuknya.


Mendengar hal itu, Risty segera ke dapur meminta pada ART itu agar dirinya saja yang membuatkan kopi untuk Erlangga.


"Nona, bagaimana kabar anda?" tanya salah satu ART.


"Alhamdulillah baik," Risty tersenyum manis.


"Sudah lama nona nggak pernah kemari, kami merindukan anda nona, nona selalu cantik dan baik seperti biasanya!"


"Ahh benarkah?" mata Risty berbinar.


Dan semua yang disitu pun mengangguk.


"Terimakasih sudah merindukanku!" ucap Risty mengusap lengan ART itu sekilas. Sikapnya selalu hangat kepada siapapun, itu yang membuat orang selalu menyukainya.


"Maaf jika kami lancang bertanya, apa benar nona akan menikah dengan tuan muda?"


"Doakan saja ya!" Risty tersenyum manis.


"Alhamdulillah, kami sangat senang nona! Semoga semuanya berjalan lancar sampai hari pernikahan nanti ya nona!"


"Amiinnn Ya Robbala'laminn.. Masih lama Bi, tapi terimakasih banyak ya doa kalian!" ucap Risty dan mereka semua pun mengangguk.

__ADS_1


"Bentar ya! Mau anter kopi dulu," pamit Risty pada mereka, lalu berjalan ke arah ruang kerja Pak Prabu.


"Tok! Tok!"


"Iya, masuk!" jawab Erlangga dari dalam ruangan.


Dia terlihat begitu serius memandangi laptopnya.


"Ini kopinya Tuan muda!" ucap Risty sembari meletakkan kopi pesanan Erlangga di meja kerjanya.


Dia terkekeh dan berlagak seperti seorang pelayan didepan Erlangga.


Erlangga yang mendengar suara wanita kesayangannya sontak mendongkakkan kepalanya dan melihat Risty yang terkekeh dengan tatapan menggodanya.


"Eh ada ART baru! Kok wajahnya mirip sama tunanganku sih, kan aku jadi gemes!" goda Erlangga.


"Hmm, mungkin cuma mirip aja Tuan muda! Tapi kami beda," Risty terkikik.


"Ya udah nggak papa mirip dikit, sini aku cium biar kangennya ke tunanganku bisa berkurang. Soalnya beberapa hari ini kami nggak ada kesempatan buat berduaan," ucap Erlangga yang tiba-tiba sudah berdiri didepan Risty dengan tatapan nakalnya.


Saat Erlangga akan mendekatkan wajahnya ke wajah Risty, sontak Risty mendorong pelan dada kekasihnya.


"Isshhh kurang ajar! Masa nanti kalo ada ART yang mirip aku terus main sosor aja!" ucap Risty kesal dan melipat tangannya membelakangi Erlangga.


"Astaga sayang! Ya nggak gitu juga lah sayang! Aku kan bercanda tadi, kamu segalanya buatku sayang! Mana mungkin aku bermesraan sama wanita lain, nggak ada yg aku inginkan di dunia ini selain kamu!"


"Dasar tukang gombal!" cibir Risty.


Erlangga memeluk Risty dari belakang lalu mencium leher Risty yang wangi, dan membuat tubuh Risty pun meremang. Dia selalu merindukan semua perlakuan manis calon tunangannya yang tampan ini.


"Aku kangen banget sayang," ucap Erlangga yang kini sudah membalikkan tubuh Risty agar berhadapan dengannya.


"Aku juga kangen abang,"


Wajah Risty yang putih dan cantik bersemu merah. Selama beberapa hari ini mereka tak banyak berinteraksi, keduanya merasakan rindu tapi hanya bisa saling memendam satu sama lain. Saling mencuri pandang jika tak sengaja berpapasan, tapi kini mereka berpelukan untuk meluapkan segala kerinduan mereka.


Pada akhirnya mereka duduk berdua di sofa yang ada diruang kerja papanya, Risty membantu semua pekerjaan Erlangga, mengambil alih laptop yang ada dipangkuan Erlangga. Dengan cekatan dia membalas satu persatu Email yang masuk dengan komando dari Erlangga dan mengecek semua laporan yang dikirim oleh asisten maupun karyawan Erlangga yang lain.


"Sayang, tawaranku masih berlaku lho! Kamu bisa jadi CEO di perusahaan milikku," ucap Erlangga yang bermalas-malasan sembari memeluk Risty dari belakang.


"Aku nggak mau Abang! Jangan memaksa!" Risty memicingkan matanya.


"Kamu jangan khawatir sayang, nggak ada yang bakal omongin kamu di perusahaan. Kalo aku denger ada yang ngomongin kamu, langsung aku pecat orang itu!"

__ADS_1


"Dasar arogan!" cibir Risty.


__ADS_2