CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 60.Akhir Kisah Bima dan Vania


__ADS_3

"Vania! Apa yang kau lakukan disini! PERGI DARI HADAPANKU!" teriak Bima dengan lantang.


"NGGAK! AKU NGGAK AKAN PERGI! AKU MAU BUAT PERHITUNGAN DENGAN KAMU!" teriak Vania tak mau kalah.


"Nggak ada yang harus dibicarain lagi! Hubungan kita udah kelar!"


"Hei pec*n! Pergi lo atau gue laporin ke polisi lo! Bima itu suami gue!" ancam Vania pada wanita yang dibawa Bima itu lalu mendorongnya agar menjauh dari Bima.


"VANIA! JANGAN MACEM-MACEM KAMU! KAMU ITU BUKAN.."


"PERGI NGGAK LO!"


Vania melotot sembari meneriaki wanita itu lagi, sehingga teriakan Bima pun terpotong dan sontak wanita itu lari ketakutan melihat kemarahan Vania.


"AARRRRGHHHHH!!"


"APA SIH MAU KAMU! AKU UDAH NGGAK ADA URUSAN SAMA KAMU! KAMU NGGAK BISA SEENAKNYA NGATUR-NGATUR AKU LAGI!" kesal Bima.


"Kita masih ada urusan yang belum kita selesein Bim!" Vania menatap tajam Bima tapi Bima dia tidak peduli dan masuk ke mobilnya.


Bima berjalan masuk ke mobilnya dan Vania pun ikut masuk ke dalam Mobil Bima dan duduk di kursi penumpang.


"Mau apa lagi kamu! KELUAR!"


"Aku nggak mau! Aku bakal ngikutin kamu kemana kamu pergi!" Vania bersikukuh.


Bima akhirnya menyerah membiarkan Vania mengikutinya dan dia pun mulai melajukan mobilnya.


"Kamu udah berhasil membuatku hancur Bim! Kamu puas kan aku kayak gini! Setelah semua yang kamu lakuin padaku aku kehilangan papaku juga semua hartaku. Kamu benar-benar nggak punya hati!"


"Cihhh! Kenapa kamu jadi nyalahi aku! Kamu yang harusnya nyalahin diri kamu sendiri kenapa kamu selingkuh dibelakangku padahal aku sepenuh hati mencintai kamu dan meninggalkan keluargaku demi kamu, tapi apa! Balasan kamu malah kayak gitu!"


Mendengar ucapan Bima, Vania mengingat semua kesalahannya pada Bima dan dia benar-benar menyesal.


"Aku minta maaf Bim, waktu itu aku cuma nggak bisa hidup susah denganmu, hidup kita pas-pasan, anak kita sakit dan aku yang terbiasa hidup mewah jadi bener-bener frustasi ! Tapi sekarang aku nyesel banget udah hianatin kamu, kita bisa mulai lagi dari awal Bim, aku mohon!"


"Mulai dari awal? Hahaha! Mimpi aja sana! Emang kamu kira aku nggak tau, kamu udah berhubungan dengan laki-laki itu sewaktu bayi kita berumur 2 bulan? Aku nggak sudi balik lagi ama wanita j****ng kayak kamu!"


"Da.. darimana kamu tau?"


"Nggak penting darimana aku tahu! Yang pasti aku benci banget sama kamu dan jangan pernah berharap aku mau sama kamu lagi! Semua sakit hatiku udah terbalaskan, AKU PUAS!" Bima berteriak sembari tersenyum dengan rasa puas.


"Dasar kamu laki-laki br****sek! Nggak punya hati! Setelah semua yang kamu lakuin sekarang kamu tertawa diatas kesusahan aku! Aku benci sama kamu Bim! Nggak ada yang bisa miliki kamu selain aku!"


Kemudian mereka berteriak dan berdebat terus selama berada di jalan hingga mereka tidak menyadari jika ada sebuah truk besar tengah oleng dan melintas melewati pembatas jalan.


"BIMA AWAS!" teriak Vania yang memperlihatkan Bima.


Bima yang masih dalam keadaan mabuk tidak begitu fokus sehingga tabrakan itu pun tak bisa mereka hindari.


"Ckitttttt!!!"

__ADS_1


"Brraaakkkkk!!!"


Mobil mereka pun akhirnya bertabrakan dengan truk besar itu. Dan semua pengendara yang lainnya pun berhamburan untuk menyelamatkan keduanya. Mereka segera menelpon ambulan dan pihak yang berwajib.


Setelah satu jam berlalu, akhirnya Pak Prabu dan Bu Helena datang ke rumah sakit dengan berlari tergesa-gesa dan sebelumnya mereka juga telah menghubungi Erlangga agar segera menyusul ke rumah sakit.


Mereka mondar-mandir ke depan ruangan UGD dimana Bima diberikan tindakan.


Lalu dua orang petugas kepolisian menghampiri mereka.


"Selamat malam Tuan Prabu, saya tidak menyangka jika korban kecelakaan tadi adalah putra anda," sapa salah satu polisi yang terlihat mengenal Pak Prabu.


"Selamat malam juga Pak Polisi, benar Pak, Bima memang putra saya. Kalau boleh tahu bagaimana kronologi kejadiannya." tanya Pak Prabu.


Lalu polisi itu menjelaskan tragedi kecelakaan yang menimpa Bima dan Vania melalui rekaman CCTV jalanan yang telah mereka lihat.


"Putra anda menyetir dalam keadaaan mabuk Pak dan saya harus mengabarkan hal yang lebih buruk lainnya, jika kekasih Tuan Bima telah meninggal di tempat,"


Mendengar ucapan Polisi itu Pak Prabu dan Bu Helena sontak begitu terkejut, mereka tidak menyangka Bima mabuk membawa pacar barunya.


"Apa anda menemukan identitas wanita yang bersama putra saya, Pak?" tanya Bu Helena.


"Iya Nyonya, wanita yang bersama Tuan Bima bernama Nona Vania,"


"Degg!!"


Lagi-lagi ucapan polisi itu membuat Pak Prabu dan Bu Helena terkejut, mereka bertanya-tanya dalam hati, kenapa Bima masih berhubungan dengan Vania, mantan istrinya. Padahal Bima pernah mengatakan pada kedua orangtuanya jika dia tidak akan pernah berhubungan dengan Vania lagi, karena dia sangat membenci Vania.


"Apa anda sudah memberi kabar pada keluarganya Pak?"


"Baik Pak, terimakasih atas informasi anda. Saya harap anda memberikan kabar jika jenazah Vania sudah diambil keluarganya," ucap Pak Prabu kemudian kedua polisi itu pamit lalu berjalan pergi.


Selama dua jam lebih, Dokter masih di dalam ruangan untuk memberikan pertolongan pada Bima, Pak Prabu dan Bu Helena hanya bisa menunggu dengan perasaan takut dan cemas.


Hingga suara seseorang yang dikenalnya terdengar ditelinga keduanya.


"Mom.. Dad.." panggil Erlangga.


"Lang!" Kedua orangtuanya Erlangga menghampiri Erlangga yang berjalan ke arah mereka.


"Adikmu Lang!" Bu Helena tidak bisa menahan tangisnya dan memeluk putranya dengan Erat.


"Mommy yang sabar, kita semua berdoa agar Kak Bima bisa melewati masa kritisnya," ucap Risty dari balik punggung Erlangga dan sontak Pak Prabu maupun Bu Helena terkejut melihat kedatangan Risty bersama putra sulung mereka.


"Risty!" panggil Bu Helena.


Risty tersenyum sembari mencium tangan kedua mantan mertuanya itu, lalu Bu Helena memeluk Risty dengan erat dan menangis dipelukan mantan menantunya itu.


"Mommy sabar ya!"


Bu Helena dan Pak Prabu begitu penasaran bagaimana bisa Risty datang bersama Erlangga, sebenarnya ada hubungan apa mereka berdua. Tapi mereka menahan untuk tidak menanyakannya karena saat ini yang terpenting bagi mereka adalah keselamatan Bima, putra bungsunya.

__ADS_1


Setelah tiga jam berlalu akhirnya dokter keluar dari ruangan Bima. Dia mengatakan jika harapan hidup Bima sangat kecil, karena dia sudah banyak kehilangan darah, tulang rusuk dalam tubuhnya pun patah dan luka di kepalanya pun tak kalah parahnya.


Dan ajaibnya Bima masih bisa sadar dan terus memanggil nama kedua orangtuanya dan nama Risty. Sehingga Dokter mengijinkan semua anggota keluarga untuk masuk.


Bu Helena lemas seketika mendengar ucapan dokter, dan Pak Prabu memegangi badan istrinya agar tidak sampai terjatuh. Kemudian mereka menguatkan hati dan raga mereka untuk masuk ke dalam ruangan Bima.


Kedua orangtua Bima mendekati bangkar Bima, dia terlihat sangat lemah dan memanggil kedua orangtuanya.


"Mom.. Dad.." panggil Bima lirih.


"Iya sayang kami disini!" ucap keduanya dengan menahan segala airmata mereka.


Mereka tidak ingin Bima melihat kesedihan mereka.


Bima meminta maaf berkali-kali pada kedua orangtuanya, mereka pun memaafkan Bima dengan sepenuh hati, memberikan semangat kepada Bima dan mengatakan jika mereka sangat menyayangi Bima dan dia akan segera sembuh nantinya. Pak Prabu juga berjanji akan membawa Bima ke rumah sakit yang lebih baik agar dia lekas sembuh. Sedangkan Risty terus menangis dalam diam bersembunyi dibalik punggung Erlangga yang besar dan tinggi.


"Kakak mana Dad?" tanya Bima.


"Hei Bocah tengil! Aku disini! Apa kau merindukanku?" ucap Erlangga yang mendekat ke arah adik kesayangannya.


"Aku kangen jalan bareng sama kakak!" balas Bima dengan suara yang semakin lemah.


"Kalau begitu kamu harus sembuh, biar kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk bersama kayak dulu lagi Bim,"


"Iya kak, aku akan sembuh. Kakak, bisakah kakak panggilan Risty untukku? Aku ingin meminta maaf padanya, aku banyak salah padanya kak,"


"Aku udah disini Kak Bim!" ucap Risty mendekati bangkar Risty dan tersenyum manis padanya.


Senyuman yang selalu dia rindukan, tapi senyuman itu bukan miliknya lagi. Dia sangat menyesal atas segala perbuatan buruknya dimasa lampau kepada Risty.


Bima meminta maaf dengan tulus kepada Risty, dia mengatakan jika sangat menyesal pernah menyakiti dan menyia-nyiakannya. Dan Ristypun mengatakan pada Bima jika sudah lama memaafkan segala kesalahan Bima yang dulu. Dia mendoakan kesembuhan Bima dengan tulus dan Bima pun berterimakasih padanya.


"Kak!"


"Iya Bim!"


"Apa kakak bisa berjanji untukku?"


"Demi kamu akan kakak lakukan Bim, apapun itu!"


Mata Erlangga mulai memerah dan berkaca-kaca, dia menahan kuat agar airmatanya tidak jatuh begitu juga dengan Risty.


"Berjanjilah padaku jika kakak akan selalu mencintai, menjaga dan membahagiakan Risty untukku," ucap Bima yang kemudian menyatukan satu tangan Risty dan satu tangan kakaknya agar bertautan.


"Aku janji Bim, aku akan melakukan semua yang kamu inginkan. Tapi berjanjilah jika kita semua akan bahagia setelah ini,"


"Terimakasih banyak Kak, aku juga akan bahagia setelah ini. Aku sangat menyayangi kalian semua, terimakasih kalian selalu ada untukku," ucap Bima kemudian dia menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya.


"Bim.. Bim.. bangun Bim! BIMA BANGUN BIM!" teriak Erlangga dengan frustasi sedangkan airmata Risty semakin deras mendengar teriakan Erlangga.


Pak Prabu berlari keluar untuk memanggil perawat, dan benar saja perawat itu mengatakan jika Bima sudah meninggal dunia.

__ADS_1


"BIMA JANGAN TINGGALIN MOMMY SAYANG! BIMA BANGUN!" teriak Bu Helena sembari mengoyang-goyangkan tubuh putranya yang telah terbujur kaku di atas bangkar.


"Brukkkkkk!!"


__ADS_2