
"Bangun kamu! Pakai bajumu! Kakak benar-benar kecewa padamu Ria!" teriak Risty penuh amarah.
"Braakkkkk!"
Risty membanting pintu kamar Beny dengan keras.
Sedangkan Riana hanya diam tidak berani menjawab, dia segera bangun dari ranjang Beny perlahan sembari menahan rasa nyeri pada inti tubuhnya. Dia mulai memakai pakaiannya kembali, walaupun baju dalamnya sudah basah tapi dress hitamnya masih kering jadi dia tidak akan terlalu kedinginan.
Apa yang sudah dia dan Beny lakukan tadi?
Apa efek alkohol sekuat itu? sampai dia sendiri tidak bisa mengendalikan diri dan membiarkan dirinya disentuh pria yang bukan suaminya.
Sungguh membuatnya frustasi, dan tiba-tiba merasa sangat kotor membayangkan penyatuan p**as mereka beberapa menit lalu. pikirannya terus menerawang dengan berbagai pertanyaan.
Sementara di luar Risty menghampiri Erlangga, dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa sayang? Apa Riana baik-baik aja?" tanya Erlangga dengan nada panik.
Dan Risty hanya menjawab dengan gelengan kepala saja dan tak terasa airmatanya pun jatuh hingga membuat Erlangga semakin panik dan seketika tersulut emosi.
"DASAR B4J1-N94N KAU!" teriak Erlangga dan detik berikutnya dia menghadiahi bogem mentah pada Beny sepupunya.
"Bughhhh!"
"Bugghhh!"
"BANG! Sudah hentikan!" Risty berteriak histeris dan menarik tangan suaminya.
Sedangkan Riana hanya bisa menangis sembari menunduk melihat pertengkaran kakak iparnya dengan Beny, dia binggung harus menjelaskan darimana. Dia sadar jika ini bukan hanya kesalahan Beny, tapi dia juga bersalah disini. Dia sedikit bisa mengingat jika memang dialah yang awalnya mencegah Beny, saat pria itu akan menghentikan sentuhannya.
"Aku sudah pernah memperingatkan kamu agar tidak mendekati adik iparku tapi sekarang kamu malah merusaknya! Dasar laki-laki br****sek!" teriak Erlangga penuh amarah.
"Maafkan aku Bang, ini tidak seperti yang Bang Angga pikirkan!" ucap Beny mengiba.
"Diam kau bede*bah! Besok pagi sebelum aku datang, surat pengunduran dirimu harus ada di mejaku! KAMU AKU PECAT! JANGAN MENAMPAKKAN WAJAH KAMU LAGI DIDEPANKU!" teriak Erlangga penuh emosi dan membawa istri serta adik iparnya segera pergi dari apartemen sepupunya.
"Aarrrghhh.. S14L!" teriak Beny penuh frustasi.
***
Selama ada di mobil baik Risty maupun Erlangga hanya diam sembari mengepalkan tangannya menahan emosi.
Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi Erlangga akan memastikan jika laki-laki playboy semacam Beny akan dia jauhkan dari adik iparnya bagaimanapun caranya.
Sedangkan Risty tiba-tiba teringat, jika dia harus segera menelpon Bu Hana untuk mengabari Bu Hana jika Riana saat ini bersamanya dan ingin menginap di mansionnya.
Dia beralasan pestanya memang baru berakhir, karena Riana yang keasikan ngobrol dia jadi lupa untuk pulang, dan terdengar ucapan kelegaan Bu Hana dari seberang telpon.
Risty menyodorkan ponselnya pada Riana dan memberikan kode pada Riana untuk berbicara sebentar pada mamanya, agar Bu Hana semakin tenang mendengar langsung suara Riana.
__ADS_1
Setelah selesai berbincang sebentar, Riana mengembalikan ponsel kakaknya.
"Terimakasih kak," ucap Riana lirih sedangkan Risty tidak menjawab.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya mereka telah sampai dan Risty menyuruh Riana masuk ke kamar tamu untuk berbicara empat mata.
"Duduk kamu!" ucap Risty dengan lantang.
"Ba.. baik kak," Riana menunduk ketakutan, pening dikepalanya masih belum hilang tapi panas tubuhnya sudah menghilang.
"Kemana mobilmu?" tanya Risty.
"Sepertinya masih ada di Club kak,"
"Kamu tahu, selama ini kami membesarkanmu penuh kasih sayang dan aku bekerja keras untuk mencukupi semua kebutuhanmu agar kamu tidak lagi merasakan kesusahan kita dulu. Tapi apa balasan kamu? Kamu malah mempermalukan nama keluarga kita didepan suamiku, dengan pergi ke Club, mabuk-mabukan lalu berakhir tidur dengan pria yang bukan suami kamu! Apa kamu sadar kalau kesalahanmu sangat fatal, RIA!"
"Iya kak, maafkan aku! Maafkan aku tidak sengaja meminum minuman terlarang itu, aku menyesal kak." Riana berlutut dihadapan Risty dan terisak keras.
"Ria, harga diri seorang wanita adalah dengan menjaga kehormatannya. Tapi sekarang kehormatan kamu sudah hancur, apa yang mau kamu berikan pada suami kamu kelak? Bagaimana kalau keluarga kita tahu kelakuanmu seperti ini?"
"Maafkan aku kak, tolong jangan katakan pada ibu dan mama! Mereka pasti akan kecewa padaku, aku tidak ingin mereka bersedih karenaku." ucap Riana mengiba.
Risty terdiam lalu menghela nafasnya, dia marah dan kecewa, tapi semua sudah terjadi dan tidak akan bisa kembali seperti semula lagi.
"Aku janji kak tidak akan pergi ketempat seperti itu lagi, maafkan aku kak! Aku minta maaf, aku janji akan menjadi orang yang lebih baik." Riana masih menangis.
"Baik kak,"
Risty berjalan keluar meninggalkan adiknya, bukan tanpa alasan Risty memberikan cuti pada adiknya. Tapi Risty begitu risih melihat banyak tanda kissmark yang ada dileher putih adiknya. Jika tanda itu berasal dari pasangan yang sudah menikah, mungkin dia biasa saja, tapi tanda itu berasal dari sepasang laki-laki perempuan tanpa ikatan pernikahan.
Erlangga menghampiri istrinya yang berjalan keluar dari kamar tamu.
"Sayang, bagaimana Riana? Apa dia baik-baik saja?" tanya Erlangga.
Risty terdiam memandang wajah teduh suaminya, lalu memeluk leher suaminya dan tiba-tiba terisak disana. Dan seketika itu Erlangga tak lagi menginginkan jawaban istrinya lalu membiarkan istrinya menangis sepuasnya dibahunya.
Setelah tangis istrinya reda, dengan sigap Erlangga menggendong tubuh istrinya ke kamar mereka dan membaringkan Risty perlahan lalu mendekapnya dengan erat. Erlangga tahu istrinya sedang merasa sedih dan kecewa, hal yang saat ini dia butuhkan hanyalah sebuah pelukan hangat untuk menenangkan hatinya. Dan beberapa menit berikutnya, keduanya pun tertidur pulas dengan berpelukan.
***
Di apartemen Beny, dia baru saja selesai mandi untuk membersihkan keringat dan aroma percintaannya bersama Riana. Dia melihat sebuah noda merah di sprei putihnya, ada rasa bangga sekaligus berbunga-bunga dihatinya, mengingat kejadian panas beberapa jam tadi.
Tubuhnya meremang dan gairah dalam tubuhnya tiba-tiba muncul kembali, tapi dengan cepat dia menyambar rokoknya dan kopi panas yang dia buat, supaya pikirannya bisa teralihkan.
Kini dia semakin menyadari jika dia benar-benar jatuh cinta pada wanita itu, dulu dia merasa jika dia hanya kagum saja pada Riana karena kecantikan, sifat jutek dan kecerdasan wanita itu, tapi kini dia tidak ragu lagi dengan perasaannya. Riana wanita pertamanya dan cinta pertamanya, dia ingin memiliki wanita itu, bagaimanapun caranya.
Pagi telah menjelang, Beny tidak bisa tidur semalam, dia terus memikirkan Riana. Dia tidak sabar ingin menemui kakak sepupunya untuk melamar langsung adik ipar pria itu.
Beberapa jam kemudian, Beny telah berada di perusahaan Erlangga dan menunggunya datang.
__ADS_1
"Bang!"
Beny beranjak dari duduknya dan menghampiri Erlangga yang akan masuk ke dalam ruangannya.
"Mau apa lagi kamu! Apa ucapanku belum jelas kemarin?" Erlangga menatap tajam Beny.
"Tolong ijikan aku masuk ke ruangan Bang Angga sebentar, aku ingin bicara denganmu," pinta Beny.
"Nggak ada yang perlu kita omongin lagi! Semua sudah jelas!"
Kemudian Beny mendekati telinga Erlangga dan membisikkan sesuatu padanya dan membuat Erlangga akhirnya mengijikan Beny berbicara dengannya di dalam ruangannya.
Dan kini keduanya telah berada di ruangan Presdir milik Erlangga, Erlangga menyulut rokoknya sembari berdiri dan memandang sepupunya yang selama ini bertahun-tahun sudah menemaninya mengurus perusahaan. Sebenarnya dia tidak tega memecat sepupunya itu, tapi dia tidak punya pilihan.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu? Atau kau ingin membela diri agar kau tidak sepenuhnya disalahkan disini," ucap Erlangga memicingkan mata.
"Kita ini sepupu dan sedikit banyak kau sudah mengenalku sejak kecil, mana mungkin aku bohong padamu Bang!"
"Kamu tetap aku pecat dan aku sendiri yang akan menyelidiki insiden ini! Jika terjadi apa-apa pada adik iparku, aku sendiri yang akan menghancurkanmu!"
"Tapi Bang, aku mau bertanggungjawab dengan apa yang udah aku lakuin pada Ria. Aku bersedia menikahinya Bang!"
"Ck! Mimpi saja kau! Aku nggak akan biarin Riana nikah dengan playboy cap kadal sepertimu," cibir Erlangga.
"Bang, kau sendiri tahu, jika aku punya alasan kenapa aku seperti ini! Lagipula kenapa kau semudah itu membuangku begitu saja, setelah bertahun-tahun aku mendampingimu, tidakkah kau pertimbangkan semua yang sudah aku lakuin untukmu Bang? Aku kecewa ternyata pikiranmu sepicik itu Bang!"
"Tutup mulutmu! Tanyakan pada papimu kenapa dia menyuruhku untuk memecatmu! Tadinya aku berfikir sudah gegabah karena sudah memecatmu, tapi paman Chandra menghubungiku agar aku tidak mencabut keputusanku,"
"Ck! Pak tua itu selalu saja menyebalkan! Dia selalu saja tau apapun yang terjadi padaku, sepertinya anak buahnya selalu ada di sekitarku." ucap Beny mendengus kesal.
"Sudahlah pergi sana! Lebih baik kamu kembali pada keluargamu, lagipula aku juga tidak akan mengijinkan Riana menikah denganmu, karena sifat playboymu itu sudah mendarah daging!"
"Ck! Bang!"
"PERGI! Atau akan ku panggil keamanan untuk menyeretmu keluar!"
Dengan terpaksa Beny pergi, bukan untuk menyerah tapi dia akan kembali lagi dan berusaha untuk meminta restu pada keluarga Riana.
***
Di mansion Erlangga dan Risty, Riana telah terbangun dari tidurnya. Badannya terasa remuk redam dan inti tubuhnya pun masih terasa nyeri, dia mengisi bathtub dengan air hangat dan merendam seluruh tubuhnya ke dalam bathtub itu.
"Ah.. Nyaman sekali rasanya!" gumam Riana.
Saat dia melihat tanda merah didadanya, tiba-tiba dia teringat dengan kegiatan panasnya bersama Beny. Tubuhnya meremang, diakui atau tidak sebenarnya dia sedikit menikmati penyatuan mereka, walaupun dia sendiri tidak terlalu ingat detail prosesnya.
Tapi kala mengingat Beny yang sering berganti-ganti pacar dan sering bermesraan dengan pacar-pacar disembarang tempat, Riana jadi bergidik ngeri. Dia tidak bisa membayangkan memiliki suami yang sudah banyak dicium dan disentuh banyak wanita. Dan yang terpenting baginya, jika suatu saat mereka diharuskan menikah, tidak ada yang menjamin Beny bisa berubah.
"Duh amit-amit aku punya suami playboy kayak gitu! Bisa makan ati tiap hari,"
__ADS_1