
"Buat apa aku memfitnah ibumu! Kekuatan dia lebih besar dariku aku hanya seorang serangga baginya, jika aku macam-macam tamat sudah semua milikku, tapi kenyataannya ibumu yang menyuruhku meninggalkan kakakmu! Awalnya aku dan Kak Bisma ingin mengutarakan keinginan kami untuk menikah karena aku sudah hamil anak kakakmu, tapi Bu Gendhis menolak karena aku dan kakakmu tidak sepadan. Aku hanya gadis miskin sedangkan kalian dari pebisnis sukses dan berdarah biru. Lalu.." Alfi mulai bercerita.
*Flashback On
Di suatu siang, tepatnya sekitar 5 tahun lalu sebelum Bisma meninggal karena bunuh diri.
Bisma membawa Alfi ke butik besar milik ibunya.
"Mami," sapa Bisma pada yang mama yang sedang berbincang dengan pelanggan butiknya.
"Bisma, tumben kamu kesini?" tanya Bu Gendhis dengan tatapan bertanya lalu memandang wajah wanita muda yang ada disamping putranya.
"Aku ingin ngomong sama mami,"
Bu Gendhis mengangguk dan membawa keduanya ke ruangan pribadi Bu Gendhis yang ada di butik itu.
"Mau ngomong apa kamu?" tanya Bu Gendhis dengan ketus sehingga nyali Bisma sedikit menciut, dan Alfi semakin ketakutan.
Bisma adalah pria yang patuh dan penurut pada kedua orangtuanya.
"A.. aku..umm maksudku, pacarku udah hamil mi, aku minta ijin untuk menikahinya," ucapnya memberanikan diri.
"Apa? Hamil!"
Bisma mengangguk.
"Bisma mami menyuruh kamu mendekati Ayu putri Pak Wijaya untuk kau jadikan istri bukannya malah menghamili wanita miskin yang nggak jelas bibit, bobot dan bebetnya!"
"Tapi mi aku nggak bisa! Aku nggak suka sama ayu, aku dan Alfi udah pacaran 5 tahun, nggak semudah itu kami memutuskan hubungan kami mi!"
"Aku udah memperingatkan berkali-kali sama kamu agar meninggalkan gadis miskin itu! Tapi kamu malah menghamilinya! Apa kamu mau jadi anak durhaka!"
"Bukan begitu mi, tolong mami ngerti! Cinta itu nggak bisa dipaksakan mi!" protes Bisma
"Mami nggak mau tahu Bisma! Kamu pilih dia atau mami yang mati!"
"Mi, jangan memberiku pilihan yang sulit!" keluh Bisma.
"Pilih wanita itu atau aku, ibu yang sudah merawat dan melahirkan kamu!"
Ucapan Bu Gendhis membuat Bisma tidak bisa berbuat apa-apa.
"Hei siapa nama kamu!" tanya Bu Gendhis kepada Alfi.
"Alfi, Tante." Alfi tidak berani memandang wajah Bu Gendhis, dia hanya menundukkan kepalanya.
"Mulai detik ini, tinggalkan putraku! Aku akan memberikan kamu uang sebanyak yang kamu asal kamu mau menuruti perintahku dan gugurkan bayi yang ada dikandungnyamu itu, aku akan tanggung semua biayanya! Wanita sepertimu tidak pantas mengandung benih dari orang terpandang seperti kami!" ucap Bu Gendhis dengan tatapan tajam.
"Mami jangan bicara seperti itu, mami menyakitinya sama aja menyakitiku juga!" bela Bisma.
"Diam kamu Bisma! Dasar anak pembangkang!" ucap Bu Gendhis menunjuk wajah putranya.
"Ini cek untukmu! Tulis yang kau mau asal kau pergi jauh dari putraku!" ucap Bu Gendhis menyodorkan sebuah cek kepada Alfi.
"Mi!" Bisma hendak mengambil cek itu tapi Bu Gendhis memberikan isyarat agar dia tidak mendekat.
Sedangkan hati dan harga diri Alfi semakin terluka dan hancur berkeping-keping, wanita ini, ibu dari kekasihnya menganggapnya hanya sampah, dia ingin menangis tapi dia coba tahan sekuat tenaga.
"Maaf Nyonya Besar saya tidak membutuhkan uang anda, saya masih memiliki hati dan nurani, saya tidak akan membunuh calon bayi saya karena uang! Jadi simpan saja uang anda itu!"
"Krekk.. krekk!"
Alfi merobek cek yang diberikan Bu Gendhis dan membuangnya begitu saja, lalu pergi dari ruangan Bu Gendhis.
"Dasar wanita miskin nggak tau diri! Berlagak sombong! Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi menantuku, sampai kapanpun!" teriak Bu Gendhis penuh amarah.
__ADS_1
"Mi, tolong jangan menganggu hubungan kami! Aku nggak bisa meninggalkannya mi!"
Bisma hendak pergi mengejar kekasihnya.
Bu Gendis mengambil sebuah cutter di meja kerjanya dan mengarahkan cutter itu ke urat nadinya.
"Selangkah saja kamu pergi mengejarnya! Besok kamu akan melihat mayat mami! BERANI KAU BISMA!" teriak Bu Gendhis.
Bisma menghentikan langkahnya lalu mengacak rambutnya penuh frustasi, dia akan mengejar Alfi nanti untuk sekarang dia akan menenangkan hati ibunya agar tidak berbuat nekad.
"Mami, tolong jangan berbuat konyol! Tenangkan diri mami! Oke aku tak mengejarnya," ucap Bisma lalu merebut cutter yang ada ditangan mamanya.
Setelah kejadian itu, Bisma belum menemui Alfi karena pengawal suruhan mamanya selalu mengikutinya.
Beberapa hari setelahnya, Bu Gendis datang mencari Alfi di kosnya bersama beberapa anak buahnya. Lalu salah satu anak buah Bu Gendis mengetuk pintu kos Alfi.
"Tok.. Tok!
"Iya, sebentar."
Terlihat Alfi sedang bersiap akan berangkat kerja.
"Ceklek!"
"Ada apa ya mas?" tanya Alfi pada pria tinggi kekar, yang menutupi tubuh Bu Gendhis.
Pria itu menggeserkan badannya dan Bu pun Gendhis terlihat.
"Hei wanita miskin! Bagaimana kabarmu? Aku kira kamu sudah mati bunuh diri," ucap Bu Gendis tersenyum sinis.
"Maaf Nyonya besar, saya bukan wanita selemah itu!" ucap Alfi tak kalah dingin.
"Apa kau tidak mempersilahkan aku masuk?"
"Maaf, mari silahkan anda masuk Nyonya!" ucap Alfi mengajak masuk Bu Gendis ke kamar kosnya yang terlihat bersih dan rapi.
"Aku tidak akan basa-basi lagi sekarang, aku tahu kamu tidak akan mau mengugurkan kandunganmu dan putraku tidak akan berhenti mengejarmu! Tapi aku akan memberikan opsi lain untukmu, dan kamu tidak ada pilihan lagi! Tinggalkan putraku dan menikahlah dengan pria lain, ambil uang ini untuk biaya pernikahanmu dan kelahiran putramu!"
Anak buah Bu Gendis meletakkan sebuah koper hitam berisi penuh dengan uang.
"Kalau aku tetap tidak mau, anda mau apa!" tantang Alfi.
Bu Gendhis mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto pada Alfi.
"Ini Ibu dan adikmu kan! Jika kamu tidak ingin.."
"Apa sebenarnya mau anda! Jangan ganggu keluargaku! Mereka sangat berharga bagiku, mereka hartaku satu-satunya!" seru Alfi dengan nada panik.
Ayah Alfi telah meninggal sewaktu dia bersekolah SMA, dan Alfi sangat tahu orang didepannya adalah wanita yang berkuasa, licik dan menghalalkan segala cara demi semua tujuannya. Dia tidak ingin keluarganya menderita hanya karena dia mengejar cintanya.
"Aku kan sudah mengutarakan maksudku, kamu tinggal menuruti saja! Kurang apa coba, aku sudah berbaik hati memberimu banyak uang untukmu!"
"Baik, aku akan pergi jauh dari sini dan dari putra anda!"
Alfi tak punya pilihan lagi, ibu dan adiknya sangat penting baginya.
"Gadis pintar! Oh aku ingatkan kamu! Jika kamu mencoba mendekati putraku atau menceritakan semua yang terjadi hari ini, bukan hanya keluargamu yang habis tapi kamu juga akan ku pastikan habis!" ancam Bu Gendhis lalu meninggalkan Alfi dan sekoper uang yang dia berikan.
Dan semenjak itu, Alfi menghilang sampai berbulan-bulan dan Bisma selalu mencarinya, dan saat tak sengaja bertemu dengan Alfi, Bisma bertemu dengan Alfi, bayi dan suaminya.
Alfi mengatakan pada Bisma jika dia tidak ingin, dirinya dan keluarganya hancur karena memilih Bisma, dia meminta maaf karena menyerah dengan hubungan mereka dan memilih pria lain.
Hati Bisma hancur seketika, harapan memiliki wanitanya telah pupus, itu bukan salah sang wanita tapi salah dirinya dan keluarganya, Alfi di ancam dan Bisma tahu, dia tidak bisa melawan mamanya sendiri.
Setelah pertemuannya dengan Alfi, Bisma menjadi depresi dan dia memilih mengakhiri hidupnya daripada menanggung rasa sakit yang tak sanggup dia tahan lagi.
__ADS_1
*Flashback Off
Hati Beny begitu sakit luar biasa, seperti dihujam ribuan pisau, dia tidak menyangka Ibu yang melahirkannya, bisa berbuat sekejam itu pada putra dan cucunya. Jadi selama ini secara tidak langsung penyebab kematian kakaknya adalah mamanya sendiri, dia sangat kecewa.
"Ja.. Jadi anak kecil tadi anak kandung kakakku?" tanya Beny dengan suara bergetar, dia bahagia sekaligus terkejut ternyata dugaannya benar.
"Iya, dia putra Mas Bisma!"
"Hasan tolong panggilkan anak kecil itu!" suruh Beny pada Hasan.
"Baik Boss!"
"Dimana suamimu?"
"Kami sudah bercerai, aku membayarnya menjadi suamiku sementara agar Mas Bisma tidak mengejarku lagi, tapi saat aku tahu Mas Bisma meninggal aku memutuskan bercerai lebih awal dari kesepakatan. Bayangan Mas Bisma tidak pernah lepas dari pikiranku, rasa bersalahku padanya sangat besar." ucap Alfi yang kini sudah meneteskan airmatanya.
Riana mendekati wanita itu dan mengelus punggungnya untuk menenangkan hati Alfi.
"Kalian tidak punya pilihan, kita tahu kita tidak akan bisa memilih antara cinta atau keluarga karena jelas keselamatan keluarga kita yang akan menjadi prioritas. Jadi Kak Alfi jangan menyalahkan diri kakak sendiri," nasehat Riana dan Alfi membalas dengan anggukan.
Setelah itu putra Alfi masuk ke dalam rumahnya dengan raut wajah binggung.
"Ada apa mamah?"
"Om yang panggil kamu, kesini sayang!" Beny melambaikan tangannya kepada si bocah.
Bocah itu terlihat memandang wajah mamanya untuk minta persetujuan dan Alfi pun mengangguk.
Bocah laki-laki itu melangkah dengan ragu-ragu ke arah Beny.
"Hei jagoan! Siapa namamu?"
"Ardyansah Beny Atmaja, Om!"
"Nama yang bagus, bagaimana bisa kamu memakai namaku ditengah namaku?"
"Apa ini Om Beny, adik Papa Bisma?" tanya Ardy dengan berbinar bahagia.
"Benar sayang, aku pamanmu! Ayo peluk aku dulu!" ucap Beny dengan mata berkaca-kaca dan Ardy pun memeluk Beny dengan erat.
Sungguh bocah laki-laki itu sangat mirip dengan kakaknya sehingga membuatnya menjadi sedih mengingat penderitaan sang kakak dan putra kandungnya.
"Siapa yang mengatakan jika aku adik Papa Bisma?" tanya Beny yang saat ini membawa bocah itu pada pangkuannya.
"Mama sering menceritakan jika Papa Bisma sangat menyayangi adik-adiknya, Om Beny dan Tante Bella. Jadi dulu sewaktu papa belum meninggal, papa berpesan untuk memberikan nama Om untukku."
"Wah benarkah?" Beny tersenyum haru dan Ardy mengangguk, "Aku sangat senang mendengarnya,"
Beny memeluk bocah itu lagi untuk meluapkan kerinduannya kepada sang kakak, Ardy dan kakaknya seperti orang yang sama baginya.
"Bagaimana kalau kita beli mainan yang banyak sama-sama?" tawar Beny.
"Benarkah om?" tanya bocah laki-laki itu dengan raut wajah bahagia dan ceria.
Beny menggangguk dan tersenyum, lalu Ardy mencium pipi pamannya dan memeluknya dengan erat.
"Terimakasih Om!"
Akhirnya mereka pun jalan-jalan ke kota untuk menemani Ardy bermain dan membeli mainan kesukaannya.
***
Di sebuah mansion utama keluarga Atmaja, terlihat Bu Gendhis sedang berbicara dengan Arletta di Ruang kerjanya.
"Kurang ajar gadis bre***sek itu! Berani-beraninya mengancam kamu! Itu sama halnya dia juga mengancamku!" ucap Bu Gendhis dengan kesal.
__ADS_1
"Aku takut Tante, lebih baik aku mundur aja," keluh Arletta.
"Jangan mundur sayang! Aku kan selalu di belakangmu, apa yang kau takutkan? Ancaman gadis kurang ajar itu tak berarti untukku, kamu harus yakin dengan kekuasaan Tante. Eh Aku punya rencana lain untuk menyingkirkan wanita itu, sini aku kasih tahu!"