CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 9. Firasat


__ADS_3

Di kantor Beny, terdengar pecahan gelas jatuh dilantai.


"Prankkkk!"


"Ah s14l!"


Tanpa sengaja Beny menyenggol gelas yang berada di meja kerjanya, dan seketika firasatnya menjadi tak baik. Tiba-tiba bayangan Riana melintas dipikirkannya.


"Bagaimana ya kabar gadis jutek itu? Kenapa aku tiba-tiba keinget dia? Aku harap dia baik-baik saja disana," gumam Beny.


**


Didepan pintu UGD, terlihat Risty mondar-mandir dengan perasaan gelisah. Dia takut ada penyakit serius yang disembunyikan adiknya selama ini, dia terus berdoa semoga sang adik baik-baik saja.


Dia berjanji pada dirinya sendiri, akan mengurangi pekerjaan Riana. Dia tidak ingin Riana terlalu capek dengan double job-nya, dia takut gara-gara terlalu banyak pekerjaan, Riana malah sakit.


Apalagi beberapa hari lalu Yona sahabatnya sekaligus mantan asistennya dulu bersedia kembali ke perusahaan, jadi dia bisa bernafas lega karena sebentar lagi Yona bisa membantu meringankan pekerjaan mereka.


Selang tak berapa lama, seorang dokter wanita keluar dari ruangan Riana dan menghampiri Risty.


"Selamat sore nyonya!" sapa sang dokter.


"Selamat sore juga dok!" balas Risty.


"Apa anda keluarga pasien bernama Riana Amartha?"


"Benar dok, saya kakaknya Riana. Apa penyakit adik saya dok? Apa ada hal serius dok?" tanya Risty dengan perasaan takut dan gelisah.


Dokter wanita itu malah tersenyum, lalu menjawab pertanyaan Risty dengan tenang.


"Alhamdulillah Nyonya Riana baik-baik saja, dia hanya perlu beristirahat dan cukup asupan makanan yang bergizi saja. Sedangkan mual dan sakit kepalanya hanya efek dari kehamilannya, jadi anda tidak perlu khawatir."


"Apa hamil? Adik saya hamil dok?" tanya Risty yang terkejut sekaligus memastikan lagi.


"Benar Nyonya, adik anda sedang mengandung, janinnya sangat baik dan usia kehamilannya memasuki 7 Minggu."


"Alhamdulillah Ya Allah.. Terimakasih atas karunia-Mu Ya Rabb.." ucap Risty meneteskan airmatanya.


Dia bersyukur adiknya sehat dan dia akan memiliki keponakan sebentar lagi.


"Terimakasih banyak dok, apa saya sudah boleh masuk ke dalam?"


"Sama-sama Nyonya, Oh iya boleh, silahkan anda masuk! Nyonya Riana juga sudah sadar tadi,"


"Baik dokter, terimakasih,"


Kemudian dokter itu pun pamit pergi, sebelum Risty masuk ke ruangan adiknya, dia mengabari sang suami jika dia berada di rumah sakit bersama adiknya.


"Ceklek!"


Risty berjalan ke arah bangkar Riana, terlihat Riana tak menyadari kedatangan kakaknya. Pandangannya kosong dan menerawang ke arah depan, dia tidak tahu harus bahagia atau sedih dengan kehamilannya saat ini.


"Ria sayang.." panggil Risty yang menggenggam tangan adiknya dengan kedua tangannya.


"Kakak," mata Riana tiba-tiba memanas dan mulai berkaca-kaca.


"Selamat atas kehamilanmu sayang! Kakak berdoa semoga kamu dan bayimu sehat selalu," doa Risty sembari memandang teduh kearah mata sang adik.


Bukannya menjawab, Riana malah menangis sejadi-jadinya, dan sontak Risty pun memeluk adiknya dengan erat. Dia membiarkan Riana meluapkan segala kesedihan dan kegelisahan dalam hatinya, berharap agar suasana hati sang adik lebih tenang.


Saat tangis Riana telah reda, dia melonggarkan pelukannya.

__ADS_1


"Kakak, aku.. aku udah bikin malu keluarga! Aku harus bilang apa sama Ibu, Mama Hana dan Kak Reifan. Aku takut kak," ucap Riana yang kembali meneteskan airmatanya.


"Sstt! Jangan berkata seperti itu, kamu dan bayi ini sangat berharga buat kami. Aku akan bicara pelan-pelan sama keluarga kita, aku yakin semua bisa mengerti. Yang sudah terjadi biar saja terjadi, untuk disesali lagi pun percuma, yang terpenting kamu berusaha berubah menjadi lebih baik kedepannya."


"Terimakasih banyak kak! Kakak selalu yang terbaik bagi kami!" Riana kembali memeluk kakaknya penuh sayang.


"Iya sayang, sama-sama. Udah jangan mikir macem-macem dulu, yang penting kamu sehat dulu, semua akan kita omongin lagi nanti, baiknya seperti apa!" ucap Risty dan Riana pun mengangguk.


"Tok! Tok!"


Seseorang mengetuk pintu ruangan Riana dirawat.


"Masuk!" jawab Risty dari dalam.


Ternyata sang supir yang membawa makanan pesanan Risty untuk Riana.


"Ini Bu pesanannya,"


"Baik pak, terimakasih."


"Sama-sama Bu,"


Kemudian sang supir pun pamit keluar lagi dari ruangan itu.


"Sayang makanlah! Kakak membelikan Sop buntut kesukaanmu, buah dan es krim, jangan sampai kamu nggak makan ya! Kasian nanti dedek bayinya,"


"Baik kak! Terimakasih banyak, aku sangat sayang kakak!" ucap Riana memeluk kakaknya lagi.


Dan setelah itu Risty dengan telaten menyuapi adiknya makan.


Dia sudah menghubungi suaminya, meminta agar suaminya bercerita yang sebenarnya pada Bu Hana dari awal hingga akhir. Dia juga meminta suaminya untuk mengantarkan mamanya ke rumah sakit.


***


Terlihat dia sangat bahagia, tak sabar dan sekaligus gugup, sesekali dia mengesap kopi cappucino-nya untuk meredam rasa gugupnya.


Saat seorang pria tampan berwajah campuran China-indo masuk ke dalam cafe dan menghampiri tempat duduknya, matanya berbinar bahagia.


"Hai! Apa kamu yang bernama Arletta?" tanya si pria tampan.


"Hai juga, benar Mas, ini Mas Beny kah?" tanya gadis bernama Arletta untuk memastikan.


"Iya, kenalin aku Beny putra Bu Gendhis." ucap Beny mengulurkan tangannya dan Arletta menyambutnya dengan senyuman manisnya.


"Mari duduk mas! Terimakasih udah mau datang,"


"Hmm, sama-sama!"


"Mas mau pesan apa?"


"Espresso aja satu,"


"Baik Mas, biar aku pesenin,"


Setelah pelayan mencatat pesanan mereka, keduanya pun berbincang lagi tentang pekerjaan dan kehidupan sehari-hari keduanya. Tapi kali ini Arletta yang terlihat lebih banyak bertanya dan Beny hanya menjawab seperlunya saja.


"Hmm! Maaf kalo aku tanya lebih pribadi, apa Mas Beny sudah punya kekasih?" tanya Arletta ragu-ragu.


"Belum,"


"Kenapa belum? Apa Mas tipe laki-laki pemilih banget ya, sampai nggak ada wanita yang sesuai dengan kriteria Mas Beny?"

__ADS_1


"Nggak juga sih, aku ngalir aja! Pengen pacaran ya pacaran, kalo lagi pengen punya pacar sebulan bisa 4 kali ganti pacar," ucap Beny dengan entengnya tanpa jaim.


Dia menceritakan kehidupannya yang dulu, agar gadis didepannya itu illfeel padanya dan tidak meminta bertemu lagi.


"Astaga, 4 kali ganti pacar?!" ucap Arletta terkejut.


"Iya, aku nggak pernah serius sama wanita! Semua sama aja buatku," ucap Beny mengesap espresso-nya dengan santai.


"Wow menarik banget pria ini! Aku jadi semangat pingin naklukin dia, aku bakal bikin dia jatuh cinta sama aku," gumam Arletta dalam hati.


Mendengar semua ucapan Beny dia tidak merasa illfeel sama sekali, tapi dia malah semakin jatuh cinta pada pria itu.


"Eh Mas kapan-kapan kita healing ke pantai yuk, pasti deh seru banget!"


"Hmm, boleh tapi kalo pas aku nggak sibuk."


Mereka pun melanjutkan untuk memesan makan malam mereka, Beny sedikit risih berdekatan dengan wanita setelah sebulan lebih tidak berinteraksi dengan wanita selain keluarganya. Arletta terlihat selalu menggodanya dengan senyuman dan pujian yang dia lontarkan, tapi yang Beny tidak merasa bahagia maupun tersanjung dengan pujian gadis itu.


Raganya memang bersama gadis lain tapi entah pikirannya hanya tertuju pada Riana, dia merasa jika wanita itu tidak sedang baik-baik saja.


***


Di rumah sakit tempat Riana dirawat, kini Bu Hana dan Erlangga telah datang, keduanya mengucapkan selamat dan doa atas kehamilannya.


Dan Riana pun tersenyum bahagia melihat tidak ada raut kemarahan dari Bu Hana maupun kakak iparnya. Mereka pun berbincang ringan seperti biasanya, Bu Hana terlihat membawa makanan yang dia masak untuk di makan bersama putri-putri kesayangannya dan sang menantu.


Saat malam menjelang, Bu Hana menyuruh Risty untuk pulang bersama suaminya, sedangkan Bu Hana akan menjaga Riana di rumah sakit.


Setelah kepergian Risty dan Erlangga, Bu Hana mengenggam erat tangan keponakannya yang sudah dianggapnya putri sendiri itu, dia ingin Riana merasa nyaman dan tidak bersedih lagi.


"Kalau mama mengantuk mama bisa beristirahat dulu, aku juga akan tidur sebentar lagi," ucap Riana pada Bu Hana.


"Baik sayang, mama istirahat dulu ya! Kamu jangan tidur terlalu malam,"


Riana mengangguk lalu kemudian mengambil ponselnya yang tidak dia sentuh daritadi siang. Dia melihat banyak panggilan dan chat dari Faisal di aplikasi WhatsApp miliknya.


Terlihat Faisal begitu khawatir karena selama berjam-jam, Riana tidak menghubunginya.


πŸ’Œ Riana : "Maaf Bang Ical, aku baru bisa balas. Aku di rumah sakit sekarang," balas Riana.


Setelah pesan Riana sudah Faisal baca, terlihat Faisal menelponnya kembali tapi Riana malah menolak panggilan telponnya.


Riana mengirim satu pesan lagi.


Riana : "Bang maaf aku lagi nggak bisa nerima panggilan Abang, soalnya ada mama disini."


Bang Faisal : "Kamu sakit apa sayang? Apa perlu aku kesana, serius aku khawatir banget sayang."


Riana: "Aku nggak papa Bang, cuma kecapekan aja, Abang nggak perlu sampek kesini, ini juga kan udah malem. Aku juga mau istirahat juga,"


Bang Faisal : "Ya udah deh sayang, yang penting kamu udah baikan sekarang. Semoga kamu cepet sembuh ya sayang, banyak istirahat dan jaga pola makan, jangan lupa minum vitamin juga,"


πŸ’ŒRiana : "Amin, baik bang! Terimakasih,"


Setelah mengirim beberapa chat basa-basi akhirnya Riana mengakhiri chat mereka dan pamit untuk beristirahat.


Satu jam berlalu tapi mata Riana belum juga bisa terlelap, entah kenapa tiba-tiba dia merindukan Beny. Rasanya ingin tidur dipelukan laki-laki itu dan menc**m aroma tubuhnya, pasti sangat nyaman pikirnya.


"Duhh apa sih yang aku pikirkan? Aku kan nggak cinta sama ayah bayi ini, kenapa aku tiba-tiba pengen dipeluk sama dia?" ucap Riana dalam hati.


"Hai kesayangan bunda, kok bunda jadi melow gini sih, kamu lagi kangen ayah kamu ya sayang?" gumam Riana lirih sembari mengelus perutnya yang masih rata.

__ADS_1


Di kamar pribadi Beny, dia masih merasa tidak nyaman dan gelisah sejak tadi siang. Dia susah tidur dan terus memikirkan Riana, dia ingin menghubungi wanita itu tapi sayangnya dia lupa mengingat nomor Riana, karena dia menghapus nomor Riana saat dia memutuskan akan melupakannya.


"Ria, kamu baik-baik aja kan? Padahal aku udah berusaha ngelupain kamu, tapi kenapa susah banget sih!" gumam Beny mengacak rambutnya penuh frustasi.


__ADS_2