CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 10. Ditolak Lagi


__ADS_3

Keesokan paginya, keadaan Riana sudah lebih baik, tapi dokter belum mengijinkannya pulang, karena Riana masih sering memuntahkan makanannya dan hidungnya sangat sensitif dengan bau yang ada disekitarnya.


Dengan telaten Bu Hana menyuapi putri kesayangannya dan menawarkan berbagai makanan yang mungkin Riana ingin makan, Riana pun semakin manja pada Bu Hana.


"Sayang, Ibu Aminah harus tahu keadaanmu, tidak seharusnya kita menyembunyikan ini darinya. Apa kamu sudah siap jika aku mengatakan semuanya pada Ibumu sayang?" kata Bu Hana dengan lembut.


Riana menjadi tegang dan Bu Hana bisa merasakan itu.


"Jika belum siap berterus terang pada Ibu, Mama tidak akan memaksa. Yang terpenting kamu merasa nyaman dulu, mama akan selalu disisimu untuk merawatmu dan calon cucu mama," ucap Bu Hana menggenggam tangan Riana.


"Terimakasih banyak mama, Ibu dan Mama Hana sangat penting buatku. Aku siap jika ibu tahu dengan keadaanku, mau menghindar bagaimana lagi, pada akhirnya mereka juga akan tahu."


Riana memeluk mamanya agar hatinya merasa nyaman dan Bu Hana mengelus lembut kepala putrinya.


**


Pagi itu Beny sedang bersama Hasan asisten pribadinya, mereka sedang membicarakan meeting yang akan dia adakan siang nanti bersama para petinggi perusahaan yang lain.


"Drrtt.. Drtttt.."


Ponsel Beny berdering dan membuat perbincangannya terhenti, dia melihat sosok nama yang sangat dia kenali muncul di layar ponselnya.


📞"Assalamualaikum Bang," sapa Beny.


"Wa'alaikumsalam.. Ben, bagaimana kabarmu? Aku kesusahan tanpa kamu, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak ada pilihan." keluh Erlangga berterus-terang.


Sedangkan Beny hanya terkekeh mendengar keluhan sepupu sekaligus mantan Bossnya itu.


"Alhamdulillah kabarku baik Bang, tumben Bang Angga menghubungiku?" tanya Beny penasaran.


"Datanglah ke ibukota sekarang juga!" perintah Erlangga tanpa basa-basi lagi.


"Hah! Mendadak begini? Emangnya ada apa Bang?"


"Udahlah dateng aja sekarang, jangan ditunda lagi! Carilah penerbangan yang tercepat dan anak buahku akan menjemputmu di Bandara."


"Sebenarnya ada masalah apa Bang? Apa ada hubungannya sama Riana?" tebak Beny karena pikiran laki-laki itu dari kemarin hanya tertuju pada Riana saja.


"Tepat sekali! Aku sangat menyukai instingmu! Ya udah aku tutup dulu, pekerjaanku masih banyak,"


"Eh tunggu Bang, apa ini masalah serius?" Beny memastikan.


"Iya memang serius makanya aku menyuruhmu cepat datang,"


Seketika perasaan Beny semakin gelisah dan khawatir.


"Hah? Apa ada yang buruk yang menimpa Riana Bang?" tanya Beny lagi.


📞"Udah jangan banyak nanya! Nanti tanyakan semua kalau kamu udah sampai kesini,"


"Tut!"


Belum sempat Beny membuka suaranya lagi, Erlangga sudah menutup panggilan teleponnya sepihak.


"Aargghhhh! Dasar sepupu menyebalkan! Bikin penasaran aja! Semoga aja dia baik-baik aja disana," Beny mendengus kesal.


"Ada apa Boss?" tanya Hasan yang melihat Bossnya sedang kesal.


'Batalkan saja jadwal meeting kita hari ini, aku mau ke ibukota sekarang dan tolong segera pesankan tiket tercepat untukku," ucap Beny pada sang asisten.


"Baik Boss,"

__ADS_1


Setelah 4 jam berlalu, kini Beny telah sampai di perusahaan Erlangga, semua karyawan juga tersenyum dan menyapa Beny penuh hormat seperti biasanya. Ada rasa rindu saat dia menginjakkan kakinya disana, selama tiga tahun belakangan ini dia mendampingi sang kakak sepupu untuk memajukan perusahaan, dia bangga dengan semua pencapaiannya, Erlangga bahkan selalu memuji kerja kerasnya.


"Tok! Tok!"


"Masuk!" jawab Erlangga dari dalam.


"Bang!" Beny memeluk Erlangga dan dia menepuk bahu Beny sekilas.


"Duduklah,"


Beny mengangguk dan setelah itu keduanya duduk berhadapan di sofa yang ada di ruang kerja Erlangga. Beny terdiam sembari memandang intens wajah sepupunya.


Sedangkan Erlangga menghela nafasnya panjang melihat Beny yang menatapnya tanpa berkedip.


"Riana hamil," akhirnya Erlangga membuka suaranya.


"Apa? Hamil!" Beny terkejut luar biasa.


"Sudah pasti bayi itu adalah anak kamu, karena kau tau sendiri jika Riana dibawah pengawasanku hampir 2 bulan ini, jadi aku minta nikahi adik iparku!" pinta Erlangga.


"Ba.. bayi.. Anak aku?" suara Beny bergetar, dia bahagia luar biasa mendengar Riana mengandung putranya.


"Baik aku akan menikahinya, tapi apa dia akan setuju menikah denganku karena satu bulan lalu dia telah menolak lamaranku?" ucap Beny dengan sedih.


Sedangkan Erlangga malah tertawa terbahak-bahak.


"Playboy cap kadal pujaan para wanita akhirnya ditolak seorang wanita, Hahaha! Langka banget ini!"


"Bully terosss! Seneng banget kalo ada sodara kesusahan!" Beny mendengus kesal.


"Biasanya kamu kan dikejar-kejar dan ditangisi para wanita, sekarang gantian kamu yang ngalamin itu. Terima ajalah, kena karma kamu itu!" cibir Erlangga terkekeh.


"Bodo ah Bang! Eh apa aku bisa ketemu Riana sekarang Bang?"


"Riana di rumah sakit?"


"Iyalah siapa lagi! Kami tahu Riana hamil karena kemarin dia pingsan setelah meeting dengan Risty, dia membawa adiknya ke rumah sakit,"


"Apa dia dan bayiku baik-baik aja Bang?"


"Kamu tenang aja, semua sehat, Riana hanya perlu istirahat sejenak dari pekerjaannya. Mama Hana dan istriku menjaganya dengan baik,"


"Alhamdulillah," Beny bernafas lega.


Setelah selesai berbincang sejenak mengenai pekerjaan, akhirnya mereka menuju perusahaan Risty untuk menjemputnya.


Erlangga menunggu di luar dan Risty yang telah berada di lobby perusahaan segera menghampiri mobil suaminya.


Saat Risty mulai duduk dikursi penumpang bersebelahan dengan Erlangga, Beny menyapanya.


"Hallo kakak ipar! Bagaimana kabarmu?" ucap Beny tersenyum manis pada Risty.


"Alhamdulilah aku baik, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakuin sekarang?" tanya Risty tanpa basa-basi.


"Aku tahu kak, aku akan dengan senang hati menikahi Riana,"


"Awas kamu menyakiti adikku, walau segores aja! Bisa fatal akibatnya!" ancam Risty.


"Iya kak, aku janji! Kalo aku macam-macam bukan hanya kakak aja yang akan memusuhiku, Bang Angga dan Pakde Prabu bisa lebih kejam dari siapapun." ucap Beny dengan raut wajah pasrah.


"Bagus! Anak pintar!" ucap Risty pada Beny, seolah seperti ucapan ibu pada anaknya, sedangkan Erlangga terus terkekeh.

__ADS_1


Setelah 30 menit berlalu, akhirnya mereka bertiga telah sampai di rumah sakit. Mereka melihat Bu Hana sedang berada di kursi yang ada di depan ruangan Riana dan terlihat sedang menelpon seseorang.


"Mama kenapa diluar?" tanya Risty pada Bu Hana lalu mencium pipi mamanya.


"Riana ada tamu di dalam, seorang laki-laki menjenguknya,"


"Tamu laki-laki? Siapa Ma?" tanya Risty penasaran.


Sedangkan Beny tiba-tiba menjadi kesal mendengar ada laki-laki yang menjenguk Riana, calon istrinya.


"Mama nggak tahu sayang, sepertinya teman kerjanya. Pasti kamu juga kenal,"


"Iya Ma,"


"Sayang, kenapa kamu nggak pulang aja? Kamu harusnya beristirahat di rumah, lagipula adikmu kan sudah membaik."


"Aku nggak capek ma, lagipula ada yang ingin kami bicarakan bersama."


Bu Hana mengangguk dan ekor matanya melihat seorang pria yang tak asing buatnya, laki-laki ini yang sering bersama Erlangga dan sering terlihat akrab dengan Riana. Bu Hana ingat jika dia adalah pria yang bernama Beny, sepupu sekaligus mantan asisten Erlangga yang akan bertanggungjawab dengan masalah ini.


"Ini Nak Beny kan?" tebak Bu Hana.


"Assalamualaikum Tante Hana, bagaimana kabar anda?" sapa Beny.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. Alhamdulillah kabarku baik, ayo kita masuk! Pasti Riana akan senang dengan kedatangan kalian," ajak Bu Hana.


Mereka berempat pun masuk ke ruangan Risty dirawat dan melihat seorang laki-laki yang sedang duduk di samping bangkar Riana dan memegang tangannya.


Risty dan Erlangga belum mengenali pria itu, sedangkan Beny langsung tahu jika laki-laki itu adalah Faisal, serigala berbulu domba. Dia terbakar cemburu, melihat secara langsung Faisal yang memegang tangan Riana.


"Ria!" panggil Risty yang berjalan mendekat pada mereka.


Saat keduanya menoleh, alangkah terkejutnya Risty melihat Faisal Sang Kepala Divisi Marketing di perusahaannya menjenguk adiknya. Dia langsung tahu jika hubungan keduanya bukan hubungan yang biasa. Sedangkan Erlangga langsung tahu wajah pria itu, dan tersenyum sinis.


"Kakak," Riana langsung melepas genggaman tangan Faisal dan merasa tegang.


"Selamat sore Bu Presdir," sapa Faisal yang berdiri dan menunduk hormat pada Risty.


"Sore juga Pak Faisal! Aku tidak menyangka anda memiliki hubungan khusus dengan adik saya," ucap Risty tanpa basa-basi.


"Maaf, saya memang mencintai adik anda Bu. Saya kesini menjenguk Nona Riana sekaligus ingin melamarnya didepan anda," ucap Faisal dengan yakin.


Semua orang terkejut mendengar Faisal yang melamar Riana secara langsung didepan mereka. Sedangkan hati Beny semakin panas melihat Faisal yang sudah berani melamar calon istrinya.


"Apa kau sadar apa yang kau ucapkan Pak Faisal? Yang kau lamar itu bukan seorang gadis lagi, tapi seorang calon ibu,"


"Saya tahu Bu Presdir, saya tahu Riana adalah calon ibu. Tapi kami saling mencintai, jadi saya putuskan bersedia menjadi ayah pengganti untuk bayinya dan menikahinya," ucap Faisal sedikit gugup.


Semua melotot dan mengaga tak percaya dan detik berikutnya tiba-tiba..


"Bughhh!"


"EH!" seru Risty dan Bu Hana, sedangkan Riana terkejut melihat Beny yang tiba-tiba didepannya dan memukul Faisal.


Beny yang daritadi susah payah meredam amarahnya seketika hilang kendali, saat calon bayinya akan diambil alih laki-laki lain.


"Arrrrghhhh! S14L!" teriak Faisal kesakitan.


"HENTIKAN BEN! Jangan buat keributan disini!" Erlangga memegangi Beny yang terlihat marah luar biasa.


"Aku tidak akan membiarkan kamu mengambil bayiku dan menikahi Riana. Bayi itu dan Riana adalah tanggungjawabku, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa menikahi Riana!" ucap Beny yang menunjuk muka Faisal dari jauh sembari menatapnya tajam.

__ADS_1


"Kata siapa Bang Faisal tidak bisa menikahiku, aku juga mencintainya dan aku bersedia menikah dengannya!" Riana melemparkan tatapan tajam pada Beny yang sudah memukul pria yang dicintainya.


Mendengar ucapan Riana, tangan Beny mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, lagi-lagi Riana menolaknya dan malah memilih laki-laki licik itu. Dia sangat kecewa dan marah luar biasa kali ini, dia mengira setelah kejadian ini, Riana akan menerimanya tapi tetap saja Riana menolaknya lagi.


__ADS_2