
Bu Gendhis menatap Riana dengan tersenyum lembut dan wajah sendunya, dia merasa sangat bersalah pada menantunya itu, bahkan dia merasa sangat malu menampakkan wajahnya di depan sang menantu.
"Selamat putraku dan menantuku sayang, akhirnya bayi kalian lahir dengan selamat dan tidak kekurangan apapun," ucap Bu Gendhis yang sudah berada di hadapan Riana dan Beny.
Beny ingin sekali memeluk mamanya, tadi dia sedang menggendong sang putra.
"Terimakasih mami, bagaimana keadaan mami? Kami sangat cemas dan sangat merindukan mami," ucap Riana dengan tulus.
"Alhamdulillah mami udah lebih baik, berkat doa kalian semua." tiba-tiba Bu Gendhis mengenggam tangan Riana.
"Riana, menantuku sayang.. mami mohon maaf atas perlakuan jahat mami padamu, mami memang ibu yang tidak tahu diri. Sudah memiliki menantu baik dan luar biasa sepertimu mami masih saja tidak bisa bersyukur. Mami sangat teramat menyesal pernah menghina dan menyakitimu, maafkan mami sayang. Apapun hukuman yang kamu berikan pada mami akan mami terima asalkan kamu memaafkan mami, mami sudah siap jika polisi akan memproses semua kejahatan mami," ucap Bu Gendhis dengan berderai airmata.
"Mami, jauh sebelum mami minta maaf. Riana sudah memaafkan mami, mami jangan terus menyalahkan diri mami sendiri. Yang terpenting adalah mami sudah berubah menjadi lebih baik, aku berharap kedepannya keluarga kita selalu bahagia mi. Dan soal tuntutan Rey ke polisi, dia sudah mencabutnya, kami semua sudah memaafkan mami. Mami jangan khawatir," ucap Riana membalas genggaman tangan sang ibu mertua.
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah berlapang dada memaafkan kesalahan mami. Mami sangat malu dengan keluarga besarmu dan keluarga mami," ucap Bu Gendhis sembari menghapus airmatanya dan tersenyum lembut pada sang menantu.
"Sama-sama mami, sudah jangan dipikirkan lagi mi,"
Sedangkan Beny dan Pak Chandra pun ikut meneteskan airmatanya, mereka sangat bersyukur akhirnya kedua orang yang mereka sayangi kini telah berdamai dan saling menyayangi.
"Oeekk.. Oeeekk!"
Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan karena bayi Riana yang ada di gendongan suaminya sedang menangis seolah mencari sumber makanan di dada sang ayah.
"MasyaAllah.. kasian sekali cucu tampan Oma, dia sampai kehausan!" ucap Bu Gendhis tersenyum lucu.
Semua pun ikut tersenyum lucu sekaligus takjub melihat bayi tampan nan lucu itu.
"Baiklah Ayah Ben, sini berikan putramu!" Riana menadahkan tangannya dan menerima sang bayi dari gendongan suaminya lalu menyusui bayinya.
"Siapa nama cucu tampan papi ini Ben?" tanya Pak Chandra.
"Bryan Aditya Atmaja, Pi."
"Wah nama yang bagus Ben, simbol dari dua keluarga. Papi senang mendengarnya!"
"Terimakasih Pi,"
Kemudian Pak Chandra pun menyuruh Alfi dan Ardy ikut masuk ke ruangan Riana.
Ardy begitu takjub melihat bayi kecil yang berada di dekapan sang bibi.
"Hai jagoan bunda! Kesini sayang!" Riana melambaikan tangannya memanggil Ardy.
Ardy pun berjalan menghampiri Riana dengan pandangan yang tak putus dari si bayi mungil itu.
"Bunda, apa ini adik Ardy?"
"Iya sayang, ini adik baru Ardy. Apa Ardy senang punya adik baru?"
"Senang banget bunda! Ardy boleh gendong ya?" tanya Ardy dengan binar bahagia.
"Nanti ya sayang, kalau adik udah agak gedean kakak Ardy boleh gendong adik. Kalo sekarang belum boleh sama Bu dokter," sahut Beny.
"Iya ayah!" Ardy mengangguk dan membelai lembut tangan bayi Riana.
"Selamat ya Ri dan Kak Ben, atas kelahiran putra kalian. Aku juga senang sekali punya ponakan baru, semoga putra kalian menjadi anak yang Sholeh dan berbakti kepada kedua orangtua." doa Alfi.
__ADS_1
"Amin Ya Robbala'laminn.." semua mengamininya.
"Terimakasih ya Alfi!" ucap Riana pada Alfi dan tangan mereka pun saling bertautan.
Alfi dan Riana seumuran jadi Alfi melarang Riana memanggilnya dengan embel-embel 'mbak', apalagi sekarang Alfi adalah bawahan Riana, jadi saat di kantor Alfi yang memanggil Riana dengan sebutan "Bu Boss".
**
Tiga hari telah berlalu, kini Riana dan bayinya serta Bu Gendhis telah pulang ke Mansion utama mereka.
Keluarga Riana juga telah datang ke rumah sakit menjenguk bayi Riana dan mama mertuanya pada hari ke dua Riana di rumah sakit.
Kini sepanjang hari kebahagiaan menyelimuti keluarga Atmaja, Bu Gendhis telah berubah menjadi ibu yang baik dan Pak Chandra telah pensiun dari pekerjaannya digantikan Bella sang putri.
Pak Chandra ingin menemani cucu-cucunya di masa tuanya, dan ingin merawat istrinya dengan tangannya sendiri. Dia ingin menghujani seluruh keluarganya dengan kasih sayangnya.
Alfi dan putranya Ardy, juga tinggal di mansion Pak Chandra, menempati kamar lama Bisma. Awalnya Alfi merasa keberatan menempati kamar itu karena banyak kenangan yang mengingatkan dirinya akan Bisma, tapi lama-lama dia bisa mengendalikan perasaan dan menjadi terbiasa. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikhlaskan kepergian mendiang kekasihnya itu.
Sedangkan Arletta telah tertangkap setelah dua minggu dalam pencarian, orangtua Arletta sampai datang kepada Pak Chandra untuk memohon agar putrinya dibebaskan.
Sebagai orangtua yang bijak akhirnya Pak Chandra bersedia mencabut tuntutan atas Arletta, karena semua yang terjadi juga bukan hanya kesalahan Arletta tapi juga kesalahan istrinya.
Jika Riana dan keluarganya saja bisa memaafkan perbuatan istrinya dan mencabut laporannya, lalu untuk apalagi Pak Chandra memperpanjang masalah ini. Karena pada dasarnya semua terjadi karena obsesi sang istri, walaupun Arletta memang memiliki niat buruk pada putranya tapi dia juga sempat menyerah untuk mendekati Beny dan lagi-lagi istrinya yang memaksa agar Arletta membantunya memisahkan sang putra dan istrinya.
Dan Bu Gendhis sendiri pun telah meminta maaf pada Arletta dan keluarganya, sebaliknya Arletta juga. Kini dua keluarga itu pun berdamai tanpa ada dendam lagi.
Arletta juga menyempatkan diri datang ke mansion Pak Chandra hanya untuk meminta maaf pada Riana dan Beny, dia juga mengucapkan selamat atas kelahiran putra mereka.
**
"Sayang, sudah hampir dua minggu kamu di rumah, kamu berangkat kerja sana! Banyak pekerjaan penting yang udah kamu lewatkan," ucap Riana sembari menyusui putranya.
"Tapi aku nggak tega ninggalin baby kita sayang, aku tuh kangen terus sama baby kita semenit aja nggak ketemu tuh rasanya kayak setaun yang,"
Drama si papa baru.
"Astaga sayang, aku aja ibunya nggak selebay itu deh! Jangan drama deh! Mandi sana! Inget nasib puluhan ribu pekerja ditangan kamu! Jangan malas-malasan Pak Presdir!" ucap Riana dengan mode juteknya.
"Oke Nyonya besar! Aku akan mandi dan kerja bagai quda demi baby kita dan Nyonya besar yang tercinta!" ucap Beny sembari menunduk layaknya seorang pelayan.
"Issshh.. lebay teross!"
"Bughhh!" Riana melemparkan bantalnya ke wajah sang suami.
"Ya ampun sayang! Bisa nggak nyuruhnya yang manis gitu sama suami! Aku kira udah sembuh juteknya ternyata balik lagi ke setelan pabrik," ucap Beny berpura-pura kesal.
"Bodo ah!" Riana berpura-pura tidur kembali.
"Sayang, jangan bobo lagi! Siapin donk baju kerjaku!" keluh Beny.
"Ya makanya mandi dulu!" geram Riana yang masih memejamkan mata.
"Baik Nyonya besar!"
Beny pun berlari ke kamar mandi dan bersiap kembali bekerja kembali, dia lebih baik berada di kantornya daripada menghadapi kejutekan istrinya seharian.
***
__ADS_1
Satu bulan lebih telah berlalu, hari ini keluarga Atmaja mengadakan acara aqiqah untuk Baby Bry.
Beny dan Riana mengundang keluarga besarnya untuk datang. Pak Prabu dan Bu Helena pun turut hadir dan mengucapkan selamat atas kelahiran putra sang keponakan.
Saat prosesi acara Aqiqah telah selesai, keluarga berkumpul dengan suasana yang hangat.
Para laki-laki duduk santai bersama-sama sembari ngobrol santai membicarakan segala berita politik hingga masalah pekerjaan mereka.
Sedangkan para wanita berkumpul untuk menggoda bayi tampan dan menggemaskan itu.
Shella, Bella dan Alfi berebut untuk menggendong baby Bryan, Risty yang hamil besar pun tak mau kalah dia juga begitu gemas pada bayi bermata sipit itu.
"Mama! Semua berebut menggendong adik! Sekarang tidak ada yang mau menggendongku lagi," protes Ardy dengan bibir cemberut.
Alfi yang sedang bercanda dengan Baby Bry sontak terkejut mendengar ucapan protes sang putra, saking asiknya menggoda bayi lucu itu dia sampai melupakan putranya.
"Lah kasian sekali jagoan Bunda Ria nih! Sini bunda aja yang gendong!" Riana menggedong Ardy dan menciumi pipinya bertubi-tubi.
"Kita semua juga sayang Ardy kok!" ucap Bella yang mencium pipi Ardy dan diikuti yang lain sampai bocah berumur 4 tahun itu tersenyum kegelian.
"Ardy juga sayang Mama Alfi, Bunda Ria, Mom Risty, Aunty Bella dan Aunty Shella!" ucap Ardy dengan bahagia.
Di sofa yang lain, Bu Hana, Bu Aminah, Bu Helena, Bu Gendhis dan Nenek Sekar terlihat begitu akrab, mereka berbincang untuk mengadakan liburan bersama.
Apalagi sekarang Bu Gendhis sudah mulai bisa berjalan kembali, luka di kakinya sudah kering dan setiap hari dia berlatih berjalan dengan dibantu sang suami dengan arahan dokter pribadi mereka.
"Gimana kalau kita liburannya ke Jepang aja?" usul Bu Helena.
"Jangan donk Jeng! Di Jepang kan lagi musim dingin bisa-bisa kita seharian cuma bergulung selimut aja di kamar!" sahut Bu Hana.
"Wah iya juga ya!"
"Gimana kalau kita ke Dubai aja? Lumayan ibu bisa cuci mata, liat yang bewok dan ganteng-ganteng!" ucap Nenek Sekar dengan ekspresi lucunya.
"Astaga ibu! Inget umur! Awas aja ibu disana minta dinikahkan sama pengusaha minyak di Dubai!" ucap Bu Gendhis berpura-pura kesal dan semua pun tertawa.
"Dasar bocah semprul! Cinta ibu itu cuma buat almarhum bapak kamu! Mana mungkin ibu mau minta nikah lagi!" ucap Nenek Sekar menepuk bahu Bu Gendhis sekilas dan lagi-lagi semua pun tertawa.
Di akhir acara aqiqah itu, semua keluarga besar makan bersama dengan duduk lesehan di bawah beralaskan karpet tebal sesuai keinginan Pak Prabu. Bagi Pak Prabu makan di lantai adalah ciri khas orang Jawa dan begitu semakin nikmat jika makannya bersama keluarga besar.
Setelah makan bersama telah selesai, tiba-tiba Hasan duduk di hadapan Pak Chandra seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Tuan Besar, maaf jika saya mengganggu waktu anda bersama keluarga. Saya ingin mempersunting putri angkat anda, Nona Alfi sebagai istri saya. Saya mohon doa dan restu anda Tuan Besar," ucap Hasan dengan yakin.
Semua begitu terkejut sekaligus bahagia mendengar Hasan melamar Alfi langsung di depan Pak Chandra, terutama Alfi sendiri.
Dia tidak menyangka kekasihnya nekat melamarnya langsung di depan semua keluarga papa angkatnya.
Riana dan Beny pun tersenyum penuh kelegaan, akhirnya sang keponakan tercinta memiliki sosok ayah yang akan menemaninya sepanjang hari.
Dan pada akhirnya semua mendapat kebahagiaan mereka masing-masing.
Risty dan Erlangga bahagia menyambut kelahiran buah hati mereka walaupun perjalanan cinta mereka tak mulus tapi pada akhirnya jodoh mempertemukan mereka kembali dan membuat cinta keduanya semakin besar dan kuat setiap harinya.
Riana dan Beny pun juga bahagia mendapatkan bayi tampan di tengah-tengah kehidupan mereka, dulu mereka hanya berteman akrab, saling tak mencintai dan saling menolak. Dan lagi-lagi karena jodoh itu adalah Rahasia Illahi, kebaikan dan ketulusan keduanya membuat keduanya saling jatuh cinta dan menemukan kebahagiaan mereka sendiri.
END
__ADS_1