CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
Bab 62.Akhir Cerita Clara


__ADS_3

Dua Bulan telah berlalu, sidang putusan hakim akan dilaksanakan hari ini. Pada sidang sebelumnya Santos telah bersaksi jika memang dia telah dibayar oleh Clara untuk merusak rem mobil Risty agar dia celaka, tapi sayangnya tragedi itu malah menimpa Pak Haris sampai dia meninggal. Dia dibantu seorang asisten rumah tangga yang juga dibayar oleh Clara.


Santos juga mengaku jika saat Bu Hana di rumah sakit, dia juga dibayar untuk menghilangkan nyawa Bu Hana agar semua kekayaan Pak Haris jatuh pada tangan Clara, tapi sayangnya dia gagal melakukannya karena Risty. Awalnya Clara terus menyangkal dan membela diri, tapi Santos memberikan semua bukti percakapannya dan chat di ponselnya dengan Clara kepada kepolisian. Dan pada akhirnya Clara pun tidak bisa mengelak lagi setelah semua bukti dan kesaksian Santos memberatkannya.


Hakim telah memutuskan akan menjatuhi hukuman mati pada Clara karena sudah melakukan dua kali pembun*han berencana kepada Risty yang berakibat kematian papanya dan percobaan pembun*han kepada Bu Hana yang berakibat tertusuknya Risty.


Bu Rosa dijatuhi hukuman maksimal 20 tahun penjara karena mendukung tindak kejahatan putrinya. Sedangkan Santos mendapatkan hukuman penjara seumur hidup dan ART yang membantu Clara juga mendapatkan hukuman maksimal 20 tahun penjara.


Clara menangis histeris mendengar vonis putusan dari Hakim, Sang Pengacara pun berusaha menenangkannya dan akan mengajukan banding untuknya walaupun bisa dipastikan jika permohonan bandingnya akan ditolak oleh hakim.


***


Setelah Clara kembali tempatnya ditahan, Risty ditemani Erlangga untuk menemuinya.


"Clara!" panggil Risty saat Clara sudah didepannya.


"Mau apa Lo! Nertawain gue!" Clara menatap tajam Risty.


"Segitu bencinya kamu sama aku, sampai kamu berencana ngabisin aku! Kenapa sih kamu segitu jahatnya! Salah aku apa? Hah!"


"Karena papa lebih sayang kamu dari pada aku, anak kandungnya! Harusnya kamu nggak pernah ada di hidup papaku!"


"Kalo papa nggak sayang sama kamu nggak mungkin papa ngasi kamu rumah mewah di kampung ibumu, nggak mungkin papa kasi mobil sport mewah ataupun uang jajan dengan nilai fantastis. Bahkan aku yang selama ini membesarkan perusahaan tidak pernah menuntut apapun yang berlebihan karena aku sadar aku bukan putri kandungnya. Papa sebenarnya lebih menyayangimu dari pada aku, tapi dia tidak menyadarinya karena banyak hal yang harus dia jaga. Tapi kamu dengan mudahnya menghabisinya, dasar anak nggak tau diuntung!"


"Emangnya gue percaya dengan kata-kata lo! Sekarang lo puas kan, bales dendam lo udah tercapai! TAPI ASAL LO TAU, WALAUPUN GUE MATI, HARTA PAPA NGGAK AKAN JATUH SEPESERPUN DITANGAN LO!" teriak Clara dengan kesal luar biasa.


"Aku nggak peduli dengan harta yang kamu bangga-banggakan itu! Yang terpenting bagiku, orang jahat sepertimu itu pantas mendapatkan hukuman yang setimpal!" ucap Risty menatap tajam Clara.


Dia benar-benar ingin menghabisi gadis itu dengan tangannya sendiri, bagaimana mungkin dengan usia mudanya yang seperti itu dia begitu kejam, merencanakan pembun*han kepadanya dan pada Bu Hana sampai papa kandungnya sendiri menjadi korban, hanya demi harta.


"Kata siapa Risty tidak berhak atas harta suami saya!"


Tiba-tiba Bu Hana muncul dan masuk ke dalam ruangan berkunjung untuk tahanan bersama seorang laki-laki tampan berjas hitam berusia sekitar 40 tahun-an.


"Mama!" Risty melotot kaget.


"Selamat datang kembali Mama Hana!" sapa Erlangga yang tersenyum dan Bu Hana membalas senyuman Erlangga sembari mengangguk.

__ADS_1


Risty terkejut menatap bergantian pada Bu Hana dan Erlangga dengan tatapan bertanya, dia juga sangat bahagia karena mamanya telah bangun dari komanya.


Sedangkan Clara pun juga tak kalah terkejutnya dengan Risty, dia tidak menyangka secepat itu Bu Hana sembuh.


"Saya sudah bawa pengacara pribadi suami saya, dan ternyata almarhum suami saya telah menulis wasiatnya jika dia sudah sah memberikan saham 30% dari perusahaan miliknya kepada Risty dan 40% kepada saya. Disana juga disebutkan jika terjadi apa-apa padamu, saham yang kamu miliki akan kembali pada istri sahnya yaitu saya." ucap Bu Hana menatap tajam Clara.


"Aku tahu kamu merekayasa surat wasiat papa kan! Dasar wanita licik! Pantas Tuhan tidak memberimu keturunan karena kamu wanita kejam! Merebut kebahagiaanku sama mama dan papaku!" teriak Clara penuh emosi.


"CLARA! JAGA UCAPANMU! NGGAK PANTAS MULUT BUSUKMU BICARA SEPERTI ITU!" teriak Risty memperingatkan.


"Udah sayang! Biarin aja dia bicara semaunya, mama nggak peduli dengan gadis iblis macam dia!" sahut Bu Hana lalu menggandeng tangan Risty.


Kemudian pengacara pribadi Almarhum Pak Haris mengatakan jika semua yang dibicarakan Bu Hana memang betul adanya, pengacara itu menunjukkan surat wasiat yang telah dibuat Pak Haris satu tahun lalu, sebelum Clara datang ke Ibukota. Pengacara itu mengatakan jika Clara dan Risty memiliki nilai saham yang sama pada perusahaan karena berkat Risty pula perusahaan miliknya berkembang dengan pesat.


Disurat wasiat itu juga mengatakan jika suatu hari Pak Haris meninggal, saham 40% miliknya jatuh pada Bu Hana sebagai istri sahnya. Selama ini Pak Haris memang tidak pernah membicarakan soal saham ini kepada istrinya, Risty maupun orang lain. Pengacara itu juga mengatakan jika terjadi apa-apa pada Clara, saham milik Clara akan kembali ke Pak Haris atau Bu Hana lagi.


Mendengar ucapan pengacara pribadi papanya Clara semakin histeris dan frustasi, tujuannya menyingkirkan Risty malah membunuh papanya sendiri, dia sangat menyesal. Keserakahan dan kebencian pada Risty malah menghancurkannya, disaat hubungannya dengan sang papa mulai membaik dan papanya mulai menganggapnya, malah dia sendiri yang telah menghancurkan segala impiannya.


Dia menangis dan tertunduk, menyesali segala perbuatan jahatnya. Sedangkan Risty dan semua orang yang bersamanya meninggalkan Clara, mereka tidak ingin sekedar basa-basi pada gadis jahat seperti Clara, baginya Clara pantas mendapatkan hukuman atas segala kejahatannya.


Akhirnya Bu Hana kembali ke Mansion utama miliknya ditemani oleh Risty dan Erlangga, sedangkan pengacara pribadi suaminya memutuskan kembali ke kantornya.


Bu Hana mengajak Risty dan Erlangga ke ruang kerja almarhum suaminya. Saat mereka telah masuk ke ruang kerja almarhum Pak Haris, Risty mendesak untuk memeluk mamanya lagi.


"Mama! Sejak kapan mama sembuh? Dua minggu yang lalu, aku menjenguk mama di rumah sakit mama belum ada perkembangan, Kak Angga juga nggak bilang apa-apa beberapa hari ini." Risty melepas pelukan pada mamanya dan menatap tajam ke arah Erlangga, sedangkan Erlangga hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Tapi aku sangat bahagia akhirnya mama telah sadar, Alhamdulillah Ya Allah.. Aku kengen banget sama mama." Risty kembali memeluk mamanya penuh haru.


Sedangkan Bu Hana hanya tersenyum sembari mengusap punggung putri angkatnya penuh sayang.


"Mama juga sangat merindukanmu sayang! Alhamdulillah Allah masih memberikan mama kesempatan untuk melihatmu bahagia. Mama sadar dari koma tiga hari setelah kamu mengunjungi mama, mama memang sengaja melarang Nak Angga untuk mengabarimu karena mama ingin pulang disaat mama benar-benar pulih dan sehat. Selama ini kamu menghabiskan banyak waktumu untuk menjaga mama dan mama tidak ingin merepotkanmu lagi sayang!"


"Mama jangan bicara seperti itu, aku anak mama, udah sepatutnya aku berbakti sama mama. Tolong mama jangan bicara seperti pada orang lain, aku anak mama kan?" tanya Risty menatap mamanya dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu sayang, kamu anak mama yang paling mama sayangi!"


"Jadi mama jangan pernah berfikiran aku terbebani atau merasa repot jika harus merawat mama. Aku sangat menyayangi mama dan berusaha selalu ada untuk mama." Risty menangis haru dan Bu Hana pun juga menangis.

__ADS_1


"Terimakasih banyak sayang, sudah hadir dalam hidup mama. Kamu adalah kebahagiaan mama dan semangat hidup mama!" ucap Bu Hana dan kembali memeluk putrinya penuh sayang.


Erlangga yang melihat wanita kesayangannya sedang meluapkan kerinduan pada mamanya, merasa ikut bahagia.


Beberapa detik kemudian Bu Hana menyadari jika masih ada Erlangga dan malah mengabaikannya.


"Maaf Nak Angga, mama dan Risty jadi mengabaikanmu," ucap Bu Hana merasa tidak enak.


"Tidak masalah mama, aku ikut bahagia mama sembuh dan bisa bertemu Risty kembali,"


"Terimakasih banyak Nak Angga, mama berhutang budi padamu. Banyak waktu dan uangmu yang sudah kamu berikan pada mama."


"Mama jangan bicara seperti itu, almarhum Papa Haris juga pernah menyelamatkan hidup papa saya. Bantuan yang saya berikan tidak sebanding dengan hutang budi keluarga saya pada keluarga anda. Lagipula sebentar lagi kita akan jadi keluarga kembali, saya harap mama merestui pernikahan kami," ucap Erlangga yang tidak sabar.


"Tentu sayang, mama dengan senang hati merestui pernikahan kalian! Asal kamu berjanji pada mama jika kamu tidak akan menyakiti Risty seperti Bima adikmu!" ucap Bu Hana memandang wajah Erlangga dengan serius.


"Aku janji mama! Aku janji tidak akan menyakiti putri kesayangan mama dan aku akan membahagiakannya dengan jiwa dan ragaku," ucap Erlangga penuh yakin.


"Terimakasih Nak!" Bu Hana mengangguk tersenyum.


Bu Hana menyuruh Risty agar pindah kembali ke Mansion miliknya dan kembali menemaninya seperti dulu. Setelah ngobrol bersama selama satu jam lebih, akhirnya Risty pamit pada Bu Hana untuk mengambil beberapa barangnya di apartemen miliknya dengan ditemani Erlangga.


***


"Kenapa Abang nggak bilang kalo mama udah sadar dari komanya?" tanya Risty pura-pura kesal saat keduanya telah berada di dalam mobil.


"Mama melarangku menghubungimu sayang! Aku mana bisa menolak permintaan mama, aku kan juga seminggu dua kali ke Singapura untuk memantau langsung perkembangan mama, sayang," jelas Erlangga.


"Jadi kemarin-kemarin pas Abang bilang ke luar negeri untuk bisnis, ternyata untuk menemani mama di rumah sakit? Abang udah berani bohong sama aku! Dan yang berhak tau keadaan mama pertama kali itu aku, putrinya!"


"Ya kan bohong buat kebaikan sayang! Ya ampun sayang, mama yang minta aku buat nggak hubungin kamu. Yang penting mama sekarang kan udah sehat,"


"Tau ahh! Males aku sama Abang!" Risty pura-pura marah pada Erlangga.


*BONUS VISUAL


__ADS_1


Mana suaranya yang kangen sama Bang Erlangga? 🤭🤭


__ADS_2