CEO Cantik Si Penggoda Hatiku

CEO Cantik Si Penggoda Hatiku
MCR : Chapter 12. Persiapan


__ADS_3

"Bluss!"


Pipi Riana merona mendengar Bu Hana menyebut Beny sebagai calon suaminya.


"Ah itu, aku hanya khawatir karena kemarin aku liat dia tidur tak nyaman di atas sofa," jawab Riana asal.


"Beny udah berangkat ke bandara untuk pulang ke Yogyakarta, 20 menit lalu sayang," ucap Bu Hana.


"Kenapa mama nggak bangunin aku," ucap Riana terdengar lemah.


Entah kenapa dia kecewa, Beny pergi tanpa berpamitan dengannya.


"Beny yang nggak ngebolehin bangunin kamu sayang, udah ayo ke kamar mandi dulu! Terus kita sarapan sama-sama,"


"Baik ma,"


Keadaan Riana sudah lebih baik, tubuhnya sudah tidak terlalu lemas seperti kemarin.


"Kak Beny berubah banget sekarang, bahkan untuk sekedar pamit aja dia enggan," gumam Riana dalam hati.


Keesokan paginya, Riana sudah benar-benar sehat dan dia kembali ke mansion Bu Hana lagi. Kakaknya belum memperbolehkan dia untuk bekerja dulu, dan posisi Riana untuk sementara digantikan Yona asisten lama sang kakak.


Beberapa hari tidak masuk kerja dan sekarang berdiam diri di mansion membuatnya bosan, hidupnya begitu sepi dan hampa. Tak ada yang mengirimkan chat manis untuknya, bukannya dia masih mencintai Faisal tapi dia hanya terbiasa mendapat perhatian dari seseorang.


Tak jarang juga dia tiba-tiba memikirkan calon suaminya.


Apa yang sedang dilakukan pria itu?


Apa pria itu juga memikirkannya?


Apa ada wanita lain yang disukainya?


Atau tiba-tiba dia berubah pikiran dan membatalkan pernikahan ini? Begitu pikirnya dalam hati.


Entah kenapa dia jadi takut jika Beny membatalkan pernikahan mereka, ada rasa rindu terbesit didadanya. Sejak pertemuan terakhir mereka di rumah sakit, hatinya memiliki perhatian lebih pada pria itu. Pria itu telah menolongnya dan tidak sepenuhnya bersalah disini tapi dengan gentle pria itu bersedia menikahinya bahkan melamarnya sampai beberapa kali. Kini dia yakin jika mulai jatuh cinta pada sosok Beny yang tampan dan bertanggungjawab.


***


Di Mansion keluarga Atmaja, Beny sedang duduk di ruang kerjanya bersama mama dan sang adik, dia ingin berbicara penting dengan mamanya.


"Aku mau ijin menikah mi, tolong restui kami," ucap Beny tanpa basa-basi.


"Apa?! Menikah!" seru kedua orang wanita didepannya dengan rasa terkejut.


"Siapa yang akan kau nikahi Beny? Bagaimana latar belakang keluarganya? Apa pekerjaannya? Apa keluarganya dari orang terpandang seperti kita?" tanya Bu Gendhis memberondong banyak pertanyaan pada putranya.


"Aku akan menikahi adik ipar Bang Angga, adiknya Kak Risty."


"Hah, adik Kak Risty?" gumam Bella seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Mami nggak setuju Ben!" sahut Bu Gendhis.


"Nggak setuju kenapa mi?"


"Mereka memang pebisnis sukses seperti keluarga kita, tapi mereka hanya anak angkat dari pemilik perusahaan sebelumnya dan yang terpenting mereka bukan berdarah biru seperti kita,"


"Astaghfirullah mi! Sejak kapan mami berpikiran seperti itu? Membedakan orang dari status sosialnya," ucap Beny sedikit kesal.

__ADS_1


"Mami hanya setuju kamu menikah dengan Arletta, putri Bu Ajeng. Mereka orang terpandang, bobot, bibit dan bebet mereka juga jelas." Bu Gendhis tak mau kalah.


"Oh jadi benar dugaanku, mami memang memiliki niat untuk menjodohkanku dengan Arletta. Tapi sayangnya aku nggak tertarik dengannya sama sekali mi!"


"Apa kamu mau jadi anak durhaka! Mami nggak mau tahu kamu harus mau menikah dengan Arletta, bukan adik si Risty itu!"


"Aku akan lebih berdosa jika aku tidak menikahi wanita yang sudah aku h*mili mi!"


"Apa Hamil?" seru keduanya lagi.


"Mami setuju atau tidak aku akan tetap menikahi Riana adik Kak Risty, karena Riana sudah mengandung calon putraku."


"Ba.. Bagaimana bisa kamu jadi seperti ini Ben?! Oh astaga! Jadi ini hasilmu hidup di kota besar, tidur bebas dengan banyak wanita?" seru Bu Gendhis dengan rasa marah luar biasa.


"Ini bukan seperti yang mami pikirkan! Kami hanya sama-sama dijebak mi! Kami nggak sengaja melakukannya,"


"Siapa yang dijebak siapa! Aku curiga sepertinya wanita itu yang sudah menjebak kamu, agar kamu mau menikahinya!" Bu Gendhis masih tidak terima.


"Yang pasti, dia maupun aku tidak menginginkan semua ini terjadi, tapi ada beberapa orang yang sengaja menjebak kami. Udahlah mi, aku sedang tidak ingin membahasnya, semua sudah berlalu. Yang terpenting bagiku saat ini, mami merestui pernikahanku dengan Riana, kalau mami menolak, mami sendiri yang akan menghadapi kemarahan Pakde Prabu."


Mendengar ucapan Beny, sontak membuat Bu Gendhis diam tak bisa membantah maupun berkata-kata lagi. Dia tidak ada pilihan selain merestui pernikahan putranya, dia tahu sifat kakaknya. Pak Prabu tidak bisa dibantah, pengaruh kakaknya begitu besar dalam keluarga mereka. Dulu sebelum mereka sukses seperti sekarang Pak Prabu yang membantu mereka dari hal sekecil apapun. Jadi adik-adik Pak Prabu sangat segan padanya dan sebisa mungkin mereka menghindari agar tidak memiliki masalah yang berhubungan dengan kakaknya itu.


"Kapan kalian menikah?" tanya Bu Gendhis yang akhirnya menyerah.


"Satu minggu lagi mi," ucap Beny dengan datar padahal dalam hatinya dia tersenyum penuh kemenangan.


Akhirnya dia bisa mengakhiri drama perjodohan yang selama ini mamanya lakukan.


"Ck! Bilang sendiri sama papimu! Mami hanya tau beres aja," Bu Gendhis meninggalkan Beny dengan perasaan kesalnya.


"Hei.. Secepat itu kakak akan menikah? Aku jadi penasaran siapa wanita yang sudah membuat kakak playboy-ku ini tobat dari perburuannya," ucap Bella terkekeh.


Hanya bersama adik tercintanya saja Beny menjadi dirinya lagi, pria yang konyol dan menyenangkan.


"Elah, orang kayak kakak percaya karma juga ternyata! Aku kira, kakak udah tersesat jauh," sarkas Bella.


"Husstt! Udah anak kecil jangan ikut campur!" Beny menoyor dahi adiknya.


"Isshh enak aja bilang aku anak kecil! Setahun lagi aku tuh mau lulus kuliah terus aku mau nikah muda deh, pasti bahagia ada yang nemenin tiap hari!"


"Pernikahan yang kau bayangkan tak seindah itu Marimar! Kebanyakan liat Drakor, halu terosss!" Beny menoyor dahi adiknya lagi.


"Isshh Ferguso nyebelin!"


"Eh! Enak aja ngatain aku anjingnya marimar! Dasar adik durhaka!" Beny memelototi adiknya.


"Bodo ah Ferguso! Bye!"


Bella pergi meninggalkan Beny yang berpura-pura kesal padanya.


"Akhirnya masalah mami sudah beres, tinggal bilang ke papi aja." gumam Beny lalu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Pak Chandra, sang papa.


***


Keadaan Riana sudah sangat membaik, walaupun terkadang pusing masih mendera, mual dan muntah pun masih setiap hari dia rasakan. Dia memilih kembali ke perusahaan dari pada bosan di rumah, dia juga berfikir mungkin dengan bekerja dia akan sedikit melupakan rasa tak nyaman diperutnya.


Pagi itu Riana pergi ke kantor dengan diantar supir Bu Hana.

__ADS_1


"Tok! Tok!"


Riana mengetuk ruangan kakaknya.


"Masuk!" jawab Risty dari dalam ruangannya.


Riana melihat kakaknya bersama sang asisten sedang berdiskusi tentang pekerjaan mereka.


"Adikku sayang! Bagaimana kabarmu?" Risty menghampiri adiknya dan memeluknya penuh sayang.


"Alhamdulillah udah lebih baik kak, berkat kakak, mama dan semuanya." ucap Riana mencium pipi kakaknya.


"Syukurlah kalo begitu! Maaf kakak belum bisa menengokmu lagi, pekerjaan kakak sangat banyak beberapa hari ini,"


"Tidak apa-apa kakak! Ayo aku bantu, kalo dikerjakan bertiga pasti lebih ringan,"


"Tapi aku melarangmu terlalu capek Ria!"


"Aku tidak apa-apa kakak, aku udah sehat sekarang."


"Baiklah, yang penting kamu tahu kapan harus beristirahat, ayo kita duduk!" Risty mengajak adiknya duduk bersama Yona juga.


Riana yang dulu sudah sering melihat Yona, lantas menyapanya dan mengajaknya ngobrol dengan akrab.


Dan siang itu, tiga wanita cantik sedang fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing di Ruangan khusus Presdir.


***


Di kantor Beny, terlihat dia sedang menghubungi kakak sepupunya, Erlangga.


📞"Sabtu depan acara pernikahan sudah bisa dilaksanakan Bang, papi dan mamiku juga sudah setuju, menurut Abang pernikahan kami sebaiknya diadakan di kampung halaman Ria atau di ibukota aja?" tanya Beny pada Erlangga.


"Di ibukota aja, aku cuma khawatir Riana menjadi bahan omongan para tetangganya jika tahu yang sebenarnya. Dulu aku sempat emosi dan kewalahan menghadapi hujatan mereka karena Risty sendiri tidak sampai hati menghukum mereka, jadi dari pada kamu harus ngerasain sakit hati karena hujatan manusia-manusia nggak berguna seperti itu, mending dihindari." saran Erlangga.


"Jiaahh, malah curhat dia! Tapi bener emang bang, omongan mak-mak julid damage-nya khan maen!" Beny terkekeh.


"Kalo aku nih mending aku aja yang dihujat banyak orang daripada orang yang kita cintai dijelek-jelekkan orang yang nggak tau kebenarannya. Sakit hati tau nggak!"


"Iya, percaya gue bang! Ya udah kalo gitu sabtu depan penghulu, wali dan saksi siap ya?" tanya Beny memastikan.


"Kamu tenang aja, itu urusan gampang!"


"Oke Bang, thanks!"


"Hmm, sama-sama!"


***


Satu minggu telah berlalu, besok adalah acara pernikahan Riana. Kini mansion Bu Hana terlihat ramai, ada Bu Aminah dan Reifan, Pak Prabu dan Bu Helena, tak ketinggalan Risty dan Erlangga pun ikut menginap di mansion Besar Bu Hana.


Erlangga sudah menceritakan duduk permasalahan Riana dan Beny dari awal pada papa dan papa. Sedangkan Pak Prabu dan Bu Helena malah sangat senang Beny keponakannya akan menikah dengan adik dari menantu kesayangannya, mereka sangat lega kini hubungan keluarga besar mereka semakin erat.


Bu Hana dan Risty pun telah menceritakan semuanya pada Bu Aminah dan Reifan, awalnya Reifan sangat kecewa dengan Riana. Tapi karena Riana meminta maaf dengan tulus pada ibu dan saudara kembarnya sembari menangis penuh penyesalan, akhirnya Reifan dan Bu Aminah berlapang dada menerima semua yang sudah terjadi dan mendoakan untuk kebahagiaan calon pengantin itu.


Walaupun pernikahan Riana hanya mengundang keluarga besar saja tapi semua anggota keluarga inti sangat bersemangat dan ikut andil mempersiapkan segala hal.


Para pria sibuk mendekorasi mansion Bu Hana dengan indah, dengan hiasan dan bunga serba putih sembari mengobrol dan sharing soal pekerjaan mereka. Dan para wanita juga sibuk mempersiapkan berbagai macam makanan yang akan mereka hidangan di acara bahagia besok, Bu Hana juga mendatangkan dua orang chef ternama untuk membantu mereka.

__ADS_1


Riana berada kamarnya dia tidak diperbolehkan untuk keluar kamar karena keluarganya takut dia kelelahan. Kini dia duduk di balkon kamarnya dengan pandangan menerawang, dia sangat gugup sekaligus bahagia dengan acara pernikahannya besok, dia berdoa dalam hatinya agar pernikahannya dengan Beny berjalan dengan lancar.


"Kak Ben, aku akan berusaha menjadi istri yang baik buat kakak. Aku akan belajar mencintaimu dan semoga suatu saat kamu juga mencintaiku juga. Aku sangat merindukanmu kak," gumam Riana dengan senyuman manis mengembang di bibirnya.


__ADS_2