
"Ya udah aku minta maaf ya sayang, udah bohong sama kamu! Aku janji nggak akan bohong-bohong lagi," ucap Erlangga mencium lembut tangan Risty.
Risty terdiam dan merasakan ciuman lembut Erlangga pada tangannya, lagi-lagi dia begitu bersyukur memiliki laki-laki yang mencintainya dan keluarganya dengan sepenuh hati. Dia mulai memandang mata teduh Erlangga, mengagumi semua kelebihan laki-laki tampan itu dalam hati.
"Terimakasih abang sudah mengorbankan segala hal untukku, aku nggak tau harus membalasnya dengan apa," ucap Risty dengan tulus.
"Nggak perlu balas apa-apa sayang! Cukup cintai aku sepenuh hati dan terima lamaranku," ucap Erlangga yang tiba-tiba menyodorkan kotak bludru berwarna hitam lalu membukanya didepan Risty.
Mulut Risty mengaga tak percaya melihat cincin putih bertahtakan berlian yang cantik itu, lalu dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Erlangga masih fokus menyetir sembari tersenyum cengar-cengir.
"Bagaimana sayang? Apa aku diterima?"
Risty masih belum bisa berkata-kata, dia hanya tersenyum mengangguk.
"Terimakasih sayang!" ucap Erlangga yang mengambil cincin itu dan memakaikannya di jari manis Risty.
"Sama-sama Abang!"
Erlangga menggenggam tangan Risty dan menciumi tangannya lagi, sedangkan Risty pun menyandarkan kepalanya di bahu Erlangga. Semakin lama perasaan cinta mereka semakin kuat dan besar.
***
Satu Minggu berlalu kini Risty bekerja lagi di perusahaan milik almarhum papa angkatnya. Dia menjabat menjadi CEO dan Presdir menggantikan papanya. Risty mengajak Yona lagi untuk menjadi asisten pribadinya, tapi ternyata Yona sedang mengalami morning sickness karena kehamilannya yang masih berusia dua bulan. Jadi mau tidak mau, sementara waktu Yona menolak tawaran Risty untuk kembali ke perusahaannya, tapi Risty akan menerima Yona kembali kapanpun dia telah siap.
Perusahaan logistik miliknya yang berada di kota yang berdekatan dengan kampung halamannya pun mulai beroperasi. Reifan menjadi CEO dan Riana menjadi wakil CEO di perusahaan milik kakaknya itu. Dengan kecerdasan dan pengalaman kedua adiknya, perusahaan yang baru mereka rintis pun semakin lama semakin berkembang dengan pesat.
Bahkan Reifan maupun Riana tak segan bertanya pada kakaknya maupun Erlangga jika mengalami kesulitan mengatur perusahaan. Mereka memiliki cita-cita menjadi orang sukses seperti kakaknya dan Erlangga yang sering tampil di majalah bisnis ibukota karena kehebatan mereka.
"Tok! Tok!"
Terdengar seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Iya masuk!" jawab Risty yang terlihat sibuk didepan laptopnya.
"Ceklek!"
"Selamat siang Bu Presdir yang cantik! Calon suami anda ingin bertemu," goda Erlangga pada Risty.
"Bang!"
Risty terkejut melihat kedatangan Erlangga yang terlihat membawa sebuah kantong plastik putih. Sontak dia berlari kecil memeluk pria yang sangat dia cintai itu. Erlangga yang tinggi besar seketika mengangkat badan Risty dan membalas pelukannya tak kalah erat.
"Aku merindukanmu sayang!" ungkap Erlangga sembari menc*um tengkuk leher Risty.
__ADS_1
"Aku juga rindu banget sama abang," balas Risty yang masih memeluk erat leher Erlangga.
Selama satu minggu ini, Risty telah tinggal di Mansion mamanya dan Erlangga berada di Bandung mengurus segala pekerjaan di perusahaan Bima dahulu. Mereka hanya bertukar kabar lewat chat dan telpon saja, satu minggu tidak bertemu membuat keduanya merasakan rindu yang begitu besar.
"Ayo kita duduk dulu di sofa bang," ajak Risty yang melepas pelukannya.
"Aku bawa makan siang untuk kita sayang, pasti kamu belum makan kan?" tanya Erlangga.
Risty mengangguk dan tersenyum berbinar dan mereka pun makan siang bersama di ruangan Risty.
"Sayang, bulan depan ambillah cuti. Daddy dan mommy akan menemui ibu untuk melamarmu langsung dan membicarakan tanggal pernikahan kita," ucap Erlangga yang telah menyelesaikan makan siangnya.
"Hah secepat itu?" Risty sedikit terkejut.
"Mau menunggu berapa lama lagi sayang? Aku udah nggak sabar hidup bareng sama kamu," Erlangga mengelus rambut indah Risty dan sesekali menyelipkan anak rambutnya.
"Baiklah sayang bulan depan aku ambil cuti, aku juga akan bawa mama ke kampung halamanku. Mama pasti senang bisa pulang ke kampung halamannya lagi,"
"Iya sayang, ajak mama jalan-jalan biar nggak bosen di Mansion. Nanti biar kalian diantar jet pribadi milik papaku, aku ingin kalian sampai dengan selamat,"
"Terimakasih sayang!" Risty mengangguk dan mengecup pipi Erlangga sekilas.
***
Waktu begitu cepat berlalu dua minggu telah Risty lewati, besok adalah hari dimana keluarga Erlangga datang menemui keluarga Risty di kampung halamannya untuk melamar dan membicarakan tanggal pernikahan mereka.
Hingga tak terasa satu jam setengah telah berlalu dan akhirnya mereka telah sampai di Bandara yang ada di kota itu. Orang suruhan Bu Aminah yang menjemput mereka, Risty sedikit heran kenapa bukan adiknya sendiri yang menjemput mereka di Bandara.
Saat mobil Risty dan Bu Hana tumpangi telah sampai dekat dengan rumahnya, Risty heran dengan tenda besar berwarna putih yang tertata indah di depan rumahnya. Bu Hana pun juga tak kalah penasaran, dia berfikir apakah acara lamaran Risty akan diadakan dengan megah dan meriah hingga harus menyewa sebuah tenda pernikahan yang besar.
Risty mengandeng lengan Bu Hana dan mereka berjalan melewati beberapa orang yang terlihat menata dekorasi dan kursi di dalam tenda pernikahan itu.
"Lha ini dia! Pengantin wanitanya udah datang!" seru salah satu tetangga dekat ibunya, sedangkan Risty hanya membalas dengan senyuman bercampur perasaan binggung.
"Hah pengantin? Apa nih maksudnya!" gumam Risty dalam hati.
Terlihat Riana menghampiri berlari kecil menghampiri mereka.
"Kakak! Mama Hana! Akhirnya kalian datang juga, maaf aku nggak bisa menjemput kalian karena kami sangat sibuk menyiapkan acara pernikahan kakak!"
"Apa pernikahan?" seru Risty dan Bu Hana bersamaan.
"Iya apalagi! Ayo kita masuk dulu, nanti biar ibu yang jelasin!" ucap Riana yang menarik tangan Risty dan Bu Hana agar masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Terlihat Bu Aminah tersenyum bahagia menyambut kedatangan Bu Hana dan putri sulungnya. Risty menyalami ibunya lalu mencium pipi ibunya, Bu Hana pun menghampiri dan menyalami kakak iparnya.
"Selamat datang Dik, bagaimana kabarmu?" Bu Aminah memeluk Bu Hana penuh sayang dan mencium pipi kiri dan kanannya.
"Alhamdulillah kabarku baik Kak Minah. Aku rindu Kak Minah, udah lama sekali kita nggak ketemu." ungkap Bu Hana.
"Mari kita duduk dulu!" ajak Bu Aminah pada Bu Hana, "Ris, sini sayang!" Bu Hana menepuk pelan space kosong di samping tempat duduknya.
"Besok adalah hari pernikahanmu sayang, Erlangga dan keluarganya meminta ibu untuk langsung menikahkan kalian, jadi besok bukan lagi acara lamaran." ucap Bu Aminah.
"Lha kenapa malah mendadak gini Bu? Aku kan belum mempersiapkan berkas yang dibutuhkan, juga belum memilih gaun dan make up yang aku inginkan. Padahal pernikahan kali ini aku pengennya memilih semuanya sendiri Bu," ucap Risty kecewa.
"Kamu tenang aja Erlangga udah membereskan berkas pernikahan kalian. Sebenarnya ibu juga tidak menyangka rencananya akan berubah seperti ini, semua karena Erlangga yang masih mendengar cibiran miring tentangmu, orang-orang itu membuat gosip jika kamu menyewa Erlangga untuk menutupi kelakuan burukmu di kota, karena kamu mencegah Erlangga melaporkan orang-orang yang sudah menghina kamu tempo hari. Jadi mereka menganggap semua itu hanya gertakan aja, jadi karena itu mereka malah semakin mencibirmu. Erlangga hanya tidak ingin semua orang mengatakan hal buruk tentangmu lagi, makanya dia ingin segera menikahimu untuk membungkam mulut-mulut busuk mereka." terang Bu Aminah.
"Bang Angga kesini Bu?" tanya Risty dengan tatapan terkejut.
"Iya sayang, tiga hari lalu Erlangga kesini menemui ibu. Dia berkata jika tak sengaja mendengar langsung ucapan orang-orang itu mengejekmu, pikirnya percuma saja melaporkan mereka lagi, sudah pasti kamu nggak akan tega memenjarakan mereka."
"Aku nggak peduli dengan ucapan mereka Bu! Harusnya Bang Angga nggak peduliin ucapan mereka!" ucap Risty kesal.
"Calon suami mana yang tega mendengar calon istrinya direndahin orang lain? Udah.. Kamu ikut aja kemauan calon suami kamu sayang, nanti kita bisa bikin resepsi lagi di Ibukota sesuai keinginan kamu," Bu Hana menasehati.
"Benar kata Mama Hana Ris, yang penting sekarang kalian sah dulu agar tetangga nggak terus menjelekkan kamu. Urusan pesta kita bisa pikirkan lagi," Bu Aminah membenarkan ucapan Bu Hana.
"Baiklah mama, ibu! Aku sangat menyayangi kalian," ucap Risty memeluk keduanya.
"Kakak ayo! Orang salon udah datang. Aku sengaja mendatangkan mereka untuk memberikan perawatan untuk kakak dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kakak harus perfect besok!" ucap Riana mengedipkan matanya lalu menarik tangan kakaknya dengan terburu-buru.
"Ria, pelan-pelan kakak nanti jatuh!" Risty memperingati, sedangkan Bu Hana dan Bu Aminah melanjutkan obrolan mereka.
Seharian ini Risty melakukan perawatan rambut, wajah dan seluruh tubuhnya agar terlihat semakin cantik dan fresh. Tak lupa pula dia mengabari Erlangga jika telah sampai di kampung halamannya.
Hingga menjelang malam hari, Erlangga baru bisa menghubunginya karena seharian ini dia terlalu sibuk bekerja dan sepulang kerja dia menemani mamanya berbelanja untuk seserahan pernikahan untuk diberikan pada Risty.
Tak tanggung-tanggung, Bu Helena membelikan calon menantunya satu set perhiasan berlian, membelikan tas, sepatu dan barang-barang branded lainnya sebagai hadiah pernikahan mereka. Sedangkan Pak Prabu telah menyiapkan kado berupa mobil sport mewah untuk Risty, sebagai bentuk terimakasihnya karena telah tulus mencintai putra satu-satunya.
Dia bahkan memberikan santunan uang milyaran ke beberapa panti asuhan sebagai rasa syukurnya kepada Tuhan atas hari bahagia putranya nanti.
"📞Assalamualaikum istriku," sapa Erlangga dari seberang telpon.
"Wa'alaikumsalam Bang!" jawab Risty berbinar bahagia.
"Maaf baru bisa menghubungimu sayang," Erlangga merasa bersalah.
__ADS_1
📞"Kenapa mendadak banget Bang?"
Risty tidak menjawab dan malah menanyakan hal lain karena ingin mendengar langsung jawaban Erlangga.