
Di kala itu, di sebuah pedesaan yang terletak di daerah Tabanan Bali, seorang bocah laki-laki tampan bermata sipit berusia sekitar 3,5 tahun sedang bermain bersama teman-temannya. Dia menunjukkan mainan pesawat remote-nya di depan teman-temannya.
”Wah mainan kamu baru ya!" ucap salah satu temannya.
"Iya donk, Om Beny yang membelikan." ucap Ardy dengan bangga.
"Siapa itu Om Beny?"
"Adik papaku yang kaya, rumahnya di Yogyakarta. Aku kemarin di belikan banyak mainan,"
"Halah kamu bohong kan? Kalau adik papamu kaya kenapa rumah kamu jelek begitu! Harusnya kamu kan dibawa ke Yogyakarta sama keluarga papamu bukan tinggal di rumah jelekmu!" cibir temannya.
Ardy binggung dia tidak tahu bagaimana harus menjawab ucapan anak-anak yang beberapa tahun lebih tua darinya.
"Memang mana Om Beny-mu itu? Atau jangan-jangan Om Beny-mu itu hanya khayalanmu aja?" cibir teman Ardy lagi.
"Om Beny udah pulang ke Yogyakarta, tapi dia berjanji padaku akan kembali kesini lagi, dan membawakanku banyak mainan lagi." ucap Ardy dengan antusias.
"Hahaha! Apa kalian percaya?"
"Ya nggak percayalah!" jawab yang lainnya.
"Dasar nggak punya papa! Dan sekarang malah sok-sok berkhayal punya Om! Hahaha!" semua teman Ardy menertawakannya.
"Huhuhu.." Ardy pun menangis karena ejekan teman-temannya.
Alfi, ibu Ardy yang baru pulang dari bekerja sebagai penjaga toko di sebuah toko kelontong di kampungnya, melihat sang putra sedang menangis, lalu dia menghampiri putranya.
"Kenapa menangis sayang? Cup.. cup jangan menangis sayang! Anak laki-laki itu harus kuat dan nggak gampang nangis." ucap Alfi menenangkan putranya.
"Teman-teman mengejekku nggak punya papa! Mereka nggak percaya aku punya Om Beny, huhuhu.."
"Astaghfirullah Hal'adzim.."
Lagi-lagi Alfi hanya bisa beristighfar dalam hati, bukan hanya kali ini saja putranya diejek teman-temannya. Bahkan dia sendiri sering diremehkan para tetangganya karena tak memiliki suami, yang bisa dia lakukan hanya bersabar dan menenangkan sang putra.
"Kakak-kakak yang pinter, maaf ya kalo Adik Ardy ada salah. Tapi tante mohon jangan mengejek putra tante ya! Apa kalian tidak kasihan membully anak sekecil ini, seharusnya teman yang baik kan saling melindungi bukan saling mengejek kekurangan masing-masing," Alfi menasehati si pembully putranya dengan lembut.
"Baik Tante, maafkan kami!" ucap salah satu dari mereka.
Alfi pun mengangguk tersenyum.
"Udah nggak usah minta maaf, kalian kan nggak mengejek! Kalian kan cuma bicara kenyataan, dasar wanita nggak jelas!" cibir dua ibu-ibu julid yang kebetulan melewati Alfi dan gerombolan anak-anak didepannya.
"Jangan-jangan dulu dia dihamili juragannya di kota lalu karena nggak mau tanggung jawab akhirnya diasingkan kesini," cibir mereka sembari tertawa mengejek.
"Astaghfirullah Hal'adzim.."
Alfi beristigfar lagi dalam hatinya, cibiran mereka membuat hatinya begitu sangat sakit, ingin sekali dia menangis.
Tiba-tiba seorang laki-laki tampan berpakaian rapi, turun dari mobil mewahnya dan datang di antara mereka.
"Ckiitt!"
"Disini kalian ternyata, daritadi aku mencari kalian," ucap Hasan memandang bergantian ke arah Alfi lalu ke arah Ardy.
Ardy yang melihat Hasan sontak berbinar bahagia, "Om Hasan!"
Dia memeluk pria tampan itu dan Hasan pun menggendongnya lalu mengacak rambut Ardy dengan gemas.
__ADS_1
"Kamu kangen sama Om ya, jagoan?" tanya Hasan sembari melemparkan senyuman lembut pada Ardy.
Ardy pun mengangguk dan memeluk leher Hasan dengan posesif. Yang dia tahu Hasan adalah teman Om Beny-nya. Hanya dalam sehari saja, jalan-jalan dan bermain ke mall bersama Hasan dan Beny kemarin, Ardy begitu akrab dan manja. Dia seolah menemukan sosok ayah pada kedua pria itu.
"Siapa tuh Om Hasan? Jangan-jangan debt kolektor yang mau nagih hutang ke Alfi," cibir salah satu ibu-ibu julid itu kemudian keduanya tertawa seolah mengejek.
Wajah Hasan mendadak masam mendengar ejekan ibu-ibu julid itu.
"Anj*** tampang udah keren kayak CEO gini dibilang debt kolektor, dasar mak-mak julid lambe turah!" umpat Hasan dalam hati sembari menahan kesalnya.
Seketika mood Alfi tiba-tiba membaik, dia menahan tawanya mendengar Hasan menjadi korban kejulid-an tetangganya.
"Oh iya maaf ya ibu-ibu, kalian semua salah dia bukan dept kolektor! Ini Mas Hasan calon suami saya," ucap Alfi kemudian menautkan tangannya pada lengan Hasan.
Sedangkan Hasan hanya bisa terbengong dengan ekspresi binggung.
Alfi mengedip-ngedipkan matanya seolah memberi kode pada Hasan untuk mendukung sandiwaranya.
Dan dengan cepat Hasan pun seolah langsung mengerti.
"Kenalkan Bu, saya Hasan calon suami Alfi," ucap Hasan tersenyum semanis mungkin di depan ibu-ibu itu.
Dan dibalas anggukan dan senyuman manis juga oleh ibu-ibu itu.
"Ada apa mencariku sayang?" tanya Alfi.
"Hari ini aku mau bantuin kamu pindahan ke rumah barumu sayang, apa kamu lupa? Kamu liat itu dua mobil pickup yang berjalan ke arah sini! Mereka mengangkut perlengkapan rumah dan barang elektronik baru untuk rumah kamu," ucap Hasan sembari menunjuk dua mobil pickup yang berisi segala perlengkapan rumah seperti Spring Bed, sofa, lemari dan juga bermacam-macam barang elektronik yang lengkap.
Alfi dan kedua ibu-ibu julid itu tergaga tak percaya, tapi Alfi segera menyadari kebodohannya. Seharusnya dia bisa menyembunyikan rasa kagetnya didepan orang-orang itu.
"Wah banyak sekali barang-barangnya! Memangnya Alfi ini mau pindah ke rumah baru yang mana?" tanya ibu-ibu dengan penasaran sekaligus takjub.
Lagi-lagi ibu-ibu itu hanya bisa mengaga tak percaya.
Pak Made adalah kepala desa disana, dia terkenal kaya dan memiliki beberapa rumah mewah di desanya. Ibu-ibu itu tidak menyangka jika Alfi akan segera memiliki salah satu rumah milik Pak Made.
Sedangkan hati Alfi semakin bergemuruh, dia tidak menyangka Beny akan membelikan rumah beserta isinya secepatnya itu. Ada rasa bahagia bercampur haru bergejolak dihatinya, dia benar-benar bersyukur pada Allah, doa dan kesabarannya selama ini telah berbuah manis.
"Ayo sayang kita pergi, kasian pekerja yang mengangkut barang-barang kita sudah menunggu," ucap Hasan dan Alfi pun mengangguk.
"Maaf ibu-ibu kami permisi dulu ya!" pamit Hasan.
Ibu-ibu pun mengangguk dan berpura-pura tersenyum manis, padahal rasa iri sedang menyelimuti hati mereka.
Hasan segera menggandeng tangan Alfi dan mengajaknya segera pergi dari sana, dia sudah terlalu muak menanggapi ibu-ibu julid itu.
Dia melajukan mobilnya untuk mengantarkan Alfi menuju rumah barunya diikuti dua mobil pickup di belakangnya.
"Kenapa menangis jagoan?" tanya Hasan yang memandang wajah Ardy yang terlihat baru saja menangis.
Ardy masih berada di pangkuan Hasan yang sedang menyetir mobil.
"Mereka semua mengejekku karena aku nggak punya papa, Om." ucap Ardy sedih.
"Astaga, jahat sekali mereka. Sudah jangan sedih ya jagoan! Jangan pikirkan ucapan mereka, yang penting sekarang Ardy kan sudah punya Om Beny dan Om Hasan. Anggap kami sebagai papa kamu ya, kami janji akan datang kalau kami tidak sibuk kerja." ucap Hasan sembari mengelus kepala bocah itu.
Ardy pun mengangguk dan tersenyum bahagia, "Terimakasih Om Hasan!" Ardy memeluk Hasan.
"Sama-sama anak pintar," Hasan mengelus kepala Ardy penuh sayang.
__ADS_1
"Nona Alfi, tadi pagi saat saya bertransaksi dengan Pak Made, saya bilang padanya kalau uang pembelian rumah ini adalah uang dari almarhum suami Nona Alfi dan saya memperkenalkan diri sebagai orang kepercayaan keluarga almarhum suami Nona. Jadi saya harap Nona tidak binggung jika Pak Made bertanya macam-macam nanti," ucap Hasan pada Alfi.
"Baik Mas Hasan, terimakasih. Tapi aku tadi sudah terlanjur memperkenalkan Mas sebagai calon suamiku, aku minta maaf mas kalau aku jadi melibatkan mas dalam sandiwaraku,"
"Tidak apa-apa nona, tidak usah memikirkan soal saya. Yang terpenting sekarang nona sudah berbeda, uang bisa merubah sikap manusia," ucap Hasan menyeringai penuh arti.
Alfi pun mengangguk membalas senyumannya.
"Mas Hasan,"
"Iya Non,"
"Tolong jangan memanggilku dengan sebutan 'nona' karena aku bukan atasan Mas Hasan, panggil aku Alfi dan sebaiknya kita bicara bahasa santai aja." ucap Alfi dan Hasan pun mengangguk.
Kini mereka pun telah sampai di rumah milik Pak Made yang sudah dibeli oleh Beny. Rumah mewah dengan halaman luas dengan fasilitas kolam renang di dalamnya.
Pak Made dan istrinya pun menyambut kedatangan mereka.
Alfi dan Hasan menyalami Pak Made dan istrinya, mereka berbincang basa-basi sebentar.
Pak Made mendadak sedikit segan pada Alfi karena Hasan mengatakan pada Pak Made, jika di depan rumah ini akan di bangun sebuah minimarket untuk usaha baru Alfi.
Alfi pun terkejut sekaligus bahagia mendengar ucapan Hasan, ternyata adik mantan kekasihnya itu juga memikirkan usaha baru untuknya.
"Baik kalau begitu saya dan istri saya pamit undur diri ya Mbak Alfi dan Mas Hasan. Terimakasih banyak sudah membeli rumah saya,"
"Sama-sama Pak Made," ucap Alfi tersenyum manis.
"Selamat atas rumah barunya Mbak Alfi, semoga betah tinggal dirumah baru," timpal Bu Made.
"Amin, Terimakasih Bu Made."
Setelah kedua pasangan pemilik rumah itu telah pergi, Hasan mengantarkan Alfi berkeliling rumah dan para pekerja juga mulai mengangkut dan menata semua barang milik Alfi.
Ardy terlihat begitu bahagia berlari kesana kemari mengitari rumah dan tak sabar ingin segera berenang di kolam renang yang ada di rumah mewah itu.
"Mama, Ardy pingin renang!" rengek Ardy pada sang mama.
"Kolamnya dalam sayang, Ardy juga belum punya pelampung. Nanti ya kita beli pelampung dulu,"
"Iya mama," Ardy sedikit ngambek dengan sang mama, dan melipat wajahnya
"Ardy, kalo udah selesai pindahannya, nanti Om ajak ke mall ya beli pelampung," ucap Hasan.
"Bener Om?" tanya Ardy berbinar bahagia.
Hasan mengangguk kemudian Ardy berlari-lari di pinggiran kolam dengan riang gembira.
Sedangkan Hasan dan Alfi duduk bersebelahan di kursi santai yang ada di pinggir kolam.
"Terimakasih Mas Hasan udah membantu mengurus semua dengan baik," ucap Alfi dengan tulus.
"Sama-sama Al, udah jadi tugasku."
"Nanti aku akan menelpon Kak Beny untuk mengucapkan terimakasih secara langsung," ucap Alfi tersenyum manis pada Hasan.
Entah kenapa senyuman itu membuat jantung Hasan tiba-tiba berdebar kencang. Dia mengagumi wanita ini, begitu kuat dan tahan dalam kondisi sesulit apapun.
"Byurrr!"
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh dari kolam renang.