
Setelah Alvin dan Rara naik ke atas menuju ruangan nya, Mayang pun menghampiri karyawan yang menyapa Alvin dan Rara tadi.
"Mbak, memang nya yang masuk barengan pak Alvin tadi siapa sih?" tanya Mayang.
"Kamu ngga tahu? Oh kamu anak baru ya?"
"Iya saya baru kemarin masuk di bagian HRD." jawab Mayang.
"Pantas kalau kamu belum kenal, dia itu sekertaris kantor ini, dia sudah lama kerja di sini sebagai sekertaris karena kepintaran nya."
"Karena kepintaran atau karena merayu bos nya?" tanya Mayang.
"Mbak jangan buat gosip, apalagi mbak masih baru di sini, kita sudah mengenal bu Rara kok, jadi ngga mungkin dia merayu bos."
"Mayang, kamu lagi ngapain di sini? bukan masuk ke ruangan." teriak Juli.
"Iya mbak." Mayang pun meninggalkan karyawan itu lalu masuk ke ruangan HRD bareng Juli.
"Kamu lagi ngomongin apa tadi sama karyawan itu?" tanya Juli penuh selidik.
"Aku hanya bertanya, yang mereka sapa tadi yang masuk bareng pak ALvin kok, bukan apa-apa."
"Memang nya siapa yang datang bareng sama pak ALvin?" Juli pun penasaran.
"Katanya sih Rara sekertaris nya."
"Oh mbak Rara, dia mah memang sering bareng, kan memang kerjaan mereka yang mengharuskan selalu bersama."
"Bahkan tidur bareng gitu?"
"Eh, jaga mulut kamu Mayang, kalau ada yang mendengar terus melaporkan nya, bahaya, kita kan ngga ada bukti."
"Seperti nya mereka memang ada affair antara bos dan sekertaris."
"Maksud kamu?"
"Mereka ada hubungan khusus selain menjadi bos dan sekertaris, mereka semalam seperti nya habis tidur bareng."
"Mayang kamu jangan ngaco, kamu anak baru di sini, bagaimana kamu bisa menyimpulkan kalau pak Alvin ada hubungan dengan mbak Rara, sedangkan sama mbak Rara saja kamu baru tahu barusan dari karyawan yang lain."
"Mbak, asal mbak tahu kenapa aku bertanya kepada mereka siapa dia, karena aku melihat dia masuk dan keluar dari rumah nya pak ALvin."
__ADS_1
"Memang nya kamu tahu rumah pak ALvin di mana?" tanya Juli dengan wajah tak percaya, soalnya selama dia bekerja dan mengenal Alvin, dirinya tidak pernah tahu rumah nya Alvin.
"Karena rumah pak Alvin tepat berada di depan rumah ku, kalau mbak ngga percaya, nanti pulang kantor mbak ikut saya."
"Serius? Oke mbak ikut kamu, mbak ingin melhat apa benar yang kamu bicarakan barusan."
"Kita lihat saja nanti, kalau perlu mbak sekalian saja nginap di rumah ku, tadi pagi aku melihat mereka bercumbu sebelum masuk mobil, tapi sayang aku ngga mengabadikan ya, tapi mulai nanti, aku akan merekam kelakuan mereka berdua."
"Oke, mbak ikut kamu nanti, sekarang kita kerja dulu."
*
*
Suasana di kantor seperti biasanya, ngga ada yang berubah, Alvin yang kemarin selalu ingin dekat dan memeluk Rara, hari ini bisa menahan nya, selain karena kerjaan yang menumpuk, dirinya juga sudah puas karena semalam dan pagi tadi sudah di beri vitamin oleh istri nya.
Jam makan siang pun telah tiba, sebagian karyawan sudah berada di kantin untuk makan siang, ada juga sebagian yang membawa bekal dan menyantap nya di pantry, Alvin sudah menyuruh ob membelikan untuk makan siang nya dnegan Rara.
"Sayang kita makan siang bareng." ucap Alvin lewat sambungan intercom.
"Baik mas." Rara pun menyimpan kembali intercom di atas meja nya.
Rara ngga habis pikir sama suami nya ini, dia sudah wanti-wanti jangan memperlihatkan kemesraan dan kebersamaan nya di kantor, tapi Alvin seolah-olah ngga perduli, dirinya ngga mau jauh-jauh dari istri nya.
"Ini makanan nya pak Alvin bu."
"Memang nya pak Alvin ada tamu ya? Kok banyak beli nya?"
"Cuma untuk dua orang kok bu, kalau begitu saya permisi mau antar makanan nya dulu, takut pak ALvin menunggu lama." Dandi pun pergi menuju ruangan Alvin.
"Kenapa mbak?" tanya Mayang.
"Kita ke ruangan nya pak Alvin yuk?" ajak Juli.
"Mau apa mbak, kita kan mau ke kantin bukan mau ke ruangan nya pak ALvin."
"Dengarkan mbak, tadi ada ob yang di suruh pak ALvin membeli makan siang nya untuk dua orang, kamu curiga ngga ?"
"Bener kan apa yang aku bilang, ya udah kalau gitu kita kesana." Mayang pun langsung menarik tangan Juli.
"Tadi ngajak ke kantin."
__ADS_1
"Ngga jadi, ada yang lebih penting dari kantin."
Juli dan Mayang pun langsung menuju ruangan Alvin, mereka sembunyi di balik tembok agar tidak ada yang melihat nya.
"Ini pak pesanan nya." ucap Dandi setelah di beri izin untuk masuk ke ruangan Alvin.
"Terima kasih ya Dan, dan ini untuk kamu." Alvin memberikan Dandi uang dua lembar yang berwarna merah.
Alvin merasakan jadi ob seperti apa, jadi di kala dirinya menyuruh ob untuk mengerjakan sesuatu, Alvin selalu memberinya tips.
"Makasih banyak pak, kalau begitu saya kembali ke pantry." ucap Dandi dengan raut wajah yang bahagia.
Alvin hanya mengangguk dan tersenyum ,dia merasa ikut bahagia melihat orang lain bahagia.
Setelah kepergian Dandi, Rara masuk ke dalam ruangan Alvin, tanpa Rara ketahui kalau ada dua pasang mata yang sedang menatap nya.
"Tuh mbak lihat, mereka berdua pasti akan makan bareng di dalam." bisik Mayang.
Rara pun masuk dan menutup kembali pintu nya.
"Mas, sudah berapa kali aku bilang, kita jangan terus bersama kalau di kantor, nanti mereka curiga lo." ucap Rara sambil duduk di sofa yang ada d ruangan Alvin.
"Masa bodoh dengan mereka semua, kamu itu istri aku, dan aku ingin selalu ditemani kamu." ucap Alvin lalu mencium kening Rara.
"Terserah kamu lah mas, asal kamu bisa mengatur semua nya, aku ikut saja." Rara pasrah dan membuka makanan yang ada di meja.
"Wah makanan kesukaan aku, kapan mas beli?" Rara menatap makanan kesukaan nya.
""Tadi mas nyuruh Dandi yang belikan."
"Makasih ya mas, kamu selalu tahu apa yang aku mau." Rara pun mencium pipi suami nya sebagai tanda terma kasih.
"Sama-sama sayang, dan kamu juga harus tahu apa yang aku inginkan." ucap Alvin sambil tersenyum penuh arti.
"Mas itu ngga bakalan minta apapun kecuali minta selalu di temani dan di peluk." ucap Rara yang sudah paham dengan keinginan suami nya.
"Satu lagi yang belum kamu sebutkan."
"Apa?"
"Mas selalu ingin di beri kehangatan oleh kamu." Alvin pun meraup bibir Rara.
__ADS_1
"Mas stop, aku akan selalu memberikan mas kehangatan asal mas jangan minta di kantor, dan sekarang ayo kita makan karena aku sudah lapar."