
Alvin baru selesai melakukan pekerjaan kantor dan mengecek perusahaan yang lain nya lewat ponsel dan melalui panggilan video dengan para karyawan yang di percaya oleh nya.
Kini Alvin sedang merancang lahan kosong yang baru saja dia beli, rencana Alvin akan mendirikan pabrik sepatu di sana.
Pak Rohim, pak Anwar termasuk Asep dan Feri kini sedang ada di ruang kerja Alvin, ALvin ingin melibatkan mereka dalam pembangunan ini, karena ALvin sudah tahu kinerja mereka yang ada di hadapan nya kini.
"Pak, saya ingin pastikan pembangunan ini lancar dan tidak ada kendala satu apa pun, tolong pilihkan pekerja yang rajin dan bagus dalam pengerjaan nya." ucap ALvin.
"Baik nak ALvin, kalau untuk pembangunan seperti nya bapak akan menyuruh orang-orang yang kemarin ikut membangun rumah ini, saya sudah tahu kinerja mereka." pak Rohim menyarankan orang-orang kemarin yang membangun rumah ALvin, karena pak Rohim sudah melihat kinerja mereka.
"Baiklah, pokok nya untuk masalah pembangunan saya serahkan semua nya kepada bapak, dan saya mau kita mulai pembangunan bulan depan, jadi mulai sekarang bapak harus sudah mulai memasok semua bahan-bahan yang akan di gunakan."
"Baik nak." pak Rohim mengangguk tanda dia siap.
"Dan untuk pak Anwar, tolong bantu pak Rohim menyiapkan segala nya, kalian berdua saya percaya untuk mengelola pembangunan ini jadi bapak berdua jangan mengecewakan saya."
"Siap nak." jawab pak Rohim dan pak Anwar secara bersamaan.
"Baik berarti untuk pengelolaan bapak berdua sudah siap, nanti kalau butuh apa-apa bapak tinggal hubungi saya."
Pak Rohim dan pak Anwar hanya mengangguk tanda mereka mengerti dan akan bertanggung jawab dengan tugas yang di berikan Alvin.
"Feri dan Asep tugas kalian berdua sebagai keamanan saya minta kalian berdua selalu siaga selama pembangunan di lakukan, karena pasti akan ada saja orang curang dalam melakukan pekerjaan nya, dan kalau kalian merasa butuh bantuan, kalian cari orang untuk di tugaskan di sana, tapi kriteria nya harus yang jujur, bertanggung jawab dengan kerjaan nya dan harus yang bisa bela diri seperti kalian." kini Alvin memberi tugas kepada Feri dan Asep.
"Baik Vin, kita berdua akan melakukan apa yang kamu perintahkan." Feri dan Asep ini memang teman Alvin sejak sekolah dulu, tapi karena bu Salma tidak ada uang, jadi ALvin tidak menerusskan sekolah nya.
Sebenar nya mereka merasa ngga enak hanya memanggil nama saja, pertama kali mereka bekerja memanggil ALvin dengan panggilan tuan, mereka berdua malah di marahi Alvin, dan Alvin menyuruh mereka hanya memanggil nama saja, kalau mereka kembali memanggil tuan, maka mereka akan di potong gaji nya oleh ALvin, jadi dari pada gaji mereka di potong mereka memilih untuk memanggil nama saja seperti yang di inginkan Alvin.
Mereka terus membahas tentang pembangunan yang akan di laksanakan setelah acara pernikahan Syifa dan Ramzi.
*
*
__ADS_1
Karena ngga ada kerjaan, bu Salma pun ikut berbaur dengan para pekerja nya di dapur, mereka sedang membuat berbagai macam kue.
"Ada yang di perlukan bu?" tanya bu Lilis yang melihat bu Salma masuk ke dapur.
"Saya hanya mau ikut buat kue dengan kalian, bosan duduk terus dari tadi." jawab bu Salma.
"Nanti nak Alvin marah kalau melihat ibu ada di sini." ucap bu Ema.
"Alvin ngga akan marah, lagian saya juga bosandari tadi lihat tv melulu."
"Padahal enak lo bu duduk diam santai gitu."
"Enak ngga enak, ngga enak nya kalau udah bosan begini kan, saya sudah ngga sabar ingi segera banyak cucu, biar rumah ini ramai."
"Sebentar lagi bu, nak Rara tinggal nunggu beberapa bulan lagi, dan nak Syifa akan segera meluncur." ucap bu Lala sambil tersenyum.
Bu Salma dan lain nya ikut tersenyum mendengar nya.
"Ternyata ibu di sini, kita berdua nyari dari tadi, kita kira ibu kemana?" ucap Rara yang baru masuk dengan Syifa.
"Wah, lagi buat kue ya? Kalau gitu aku mau ikutan ah." ucap Rara sambil mendekati bu Salma.
"Boleh nak, tapi kalau sudah capek kamu sudah ya."
"Iya bu, tenang saja, oh iya ibu-ibu semua nya kalau kalian mau ice cream ambil saja ya, sayang masih banyak, aku kan ngga boleh banyak makan ice." ucap Rara.
"Iya nak, nanti kalau kita mau kita ambil." ucap ibu-ibu semua nya.
"Alvin masih di ruang kerja nak?" tanya bu Salma yang tidak melihat kehadiran ALvin.
"Iya bu, mereka masih membahas pembangunan yang akan di laksanakan setelah pernikahan kak Syifa dengan kak Ramzi."
"Pembangunan buat pabrik sepatu ya nak?" tanya bu Lilis.
__ADS_1
"Iya bu, biar para pemuda dan pemudi warga kampung ini bisa mendapat kan pekerjaan." ucap Rara sambil tersenyum.
"Anak saya nanti akan melamar di sana ah."
"Siapa pun boleh bu, asal masuk kriteria perusahaan saja nanti nya." para ibu-ibu itu pun tersenyum sambil mengangguk.
"Bu, dek, kakak mau siram tanaman dulu ya." ucap Syifa yang memang sudah biasa kalau sore hari dirinya menyiram tanaman di halaman.
"Iya nak."
"Iya kak." jawab bu Salma dan Rara.
Syifa pergi keluar lalu mengambil selang untuk menyiram tanaman nya, sudah menjadi pekerjaan Syifa di sore hari untuk menyiram tanaman.
"Sore neng Syifa." ucap satpam yang bertugas untuk membuka pintu.
"Sore pak, bapak kenapa?" tanya Syifa yang melihat bapak itu seperti sedang menahan sesuatu.
"Maaf neng Syifa, saya ke belakang dulu, perut saya sakit." ucap nya lalu pergi sedikit berlari ke belakang ke kamar mandi khusus pekerja.
Sementara di sana tinggal satpam yang satu nya lagi yang sedang berjaga, mereka selalu saling bahu membahu untuk gantian dalam berjaga.
"Pak saya minta tolong dong." ucap Syifa kepada satpam yang jaga.
"Iya non, apa yang bisa saya bantu?" tanya dia, hanya satpam satu ini yang memanggil nya dengan panggilan non.
"Tolong di isi tanah dong." ucap Syifa sambil memberikan dua pot yang berukuran sedang kepada satpam yang jaga.
"Baik non." ucap satpam yang ngeyel itu, sudah beberapa kali Syifa melarang nya memanggl dengan panggilan non, tapi satpam yang satu itu ngeyel dan terus memanggil nya dengan panggilan non.
"Dasar ngeyel." gumam Syifa lalu kembali menyiram tanaman nya.
Tanpa ada rasa curiga atau perasaan apapun Syifa terus saja menyiram tanaman nya dengan posisi membelakangi pintu pagar.
__ADS_1
"Uhm, uhm." Syifa meronta-ronta ingin melepaskan diri nya.
Orang yang membekap Syifa membawa nya keluar dan sedikit menjauh dari rumah Alvin.