CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Ambil Saja Dia


__ADS_3

Suasana yang bahagia dan penuh dengan senyuman kini berubah menjadi penuh ketegangan.


Para tamu yang hadir semua menatap ke arah pelaminan, dimana mereka sedang berdebat karena kedatangan wanita cantik di acara pernikahan nya.


Syifa dengan deraian air mata nya sudah ngga kuat lagi dengan semua ini, dan dirinya pun hendak pergi dan meninggalkan pelaminan.


"Terima kasih mas sudah membuat hati ini seketika bahagia, dan terima kasih juga dengan seketika mas sudah membuat aku terluka." ucap Syifa sambil mau melepaskan cincin yang baru beberapa jam suami nya sematkan di jari manis nya


"Sayang dengarkan penjelasan mas dulu." ucap Ramzi sambil menahan tangan Syifa yang mau melepas cincin pernikahan nya.


Alvin dengan wajah emosi nya sudah siap akan melayangkan tangan nya ke wajah Ramzi, tapi Rara menahan nya sambil menggelengkan kepala nya.


"Ngga ada yang perlu kamu jelaskan lagi mas, semua nya sudah sangat jelas." Syifa berteriak lalu membalikan tubuh nya.


"Tunggu." wanita itu menahan nya.


Syifa menghentikan langkah nya lalu kembali membalikan tubuh nya dan menghadap wanita itu.


"Mau apalagi? Belum cukup kah anda memalukan saya di acara saya sendiri? Belum puas kah anda membuat saya sakit hati? Kalau anda datang kesini untuk mengambil mas Ramzi silahkan ambil saja, saya tidak butuh pria seperti dia." teriak Syifa sambil menghapus air mata nya dengan telapak tangan nya.


Wanita itu langsung memeluk erat Syifa dan berbisik.


"Terima kasih kamu sudah mau menerima sahabat ku menjadi suami mu, dia memang jahat, di acara penting begini dia ngga undang aku, aku adalah teman sewaktu dia kuliah, dia memang dingin kepada wanita, jujur dulu aku menyukai nya, tapi dia tidak pernah merespon, akhir nya kita menjadi sahabat, kamu jangan takut aku merebut nya karena aku sudah punya suami dan anak." bisik Kania dengan sangat jelas.


Syifa kaget mendengar ucapan dari Kania, Syifa pun melepaskan pelukan nya lalu menatap wajah Kania yang sedang tersenyum kepada nya.


Kania mengangguk." Ya, aku adalah teman , sahabat dan juga mantan pengagum nya dia." ucap Kania sambil tersenyum tanpa dosa.

__ADS_1


Semua orang yang mendengar nya langsung tersenyum, suasana sepi kembali riuh.


"Alhamdulilah, ternyata cuma sahabat nya nak Ramzi." bathin bu Salma sambil mengelus dada nya.


"Ngga lucu." Alvin kesal sama Kania, dia hampir memukul Ramzi tanpa ampun kalau saja tidak di tahan oleh istri nya.


Semua kembali tersenyum termasuk Rara, sebenar nya Rara tahu kalau itu Kania teman nya Ramzi, karena sewaktu kuliah dulu Kania pernah main ke rumah nya, tapi untuk masalah hubungan yang lain nya Rara memang tidak tahu.


"Kania." teriak Ramzi dengan wajah kesal nya.


"Ha, ha, ha, ha, kena kamu Ramzi, lagian dari kemarin aku telepon ngga diangkat, aku chat ngga di baca, kamu janji akan memperkenalkan calon istri mu tapi kamu seperti menghilang begitu saja, padahal kamu bisa sampai kesini juga atas bantuan aku kan?" ucap Kania sambil menatap kearah Ramzi.


Kania meraih tangan Syifa dan sebelah nya lagi meraih tangan Ramzi lalu menautkan nya.


"Aku titip Ramzi, dia ini pria baik, aku yakin dia akan menyayangi dan menjaga kamu sampai kalian tua dan hanya maut yang akan memisahkan." ucap Kania sambil tersenyum.


"Kamu benar-benar ya Nia bikin aku jantungan." ucap Ramzi dengan wajah yang masih sedikit kesal.


"Maaf kan saya mbak, tadi saya sempat bicara kasar dan membentak kepada mbak." Syifa melepaskan pelukan nya.


"Nama saya Kania panggil saja Nia, usia kita seperti nya sama." Kania tersenyum puas melihat Ramzi yang sudah berhasil dia kerjain.


Setelah melepaskan pelukan nya, Kania pun meminta maaf kepada semua nya, terutama untuk keluarga Syifa yang mungkin kaget dengan kehadiran nya, tidak lupa Kania juga minta maaf kepada para penjaga di depan.


Ngga tanggung-tanggung Kania minta maaf kepada semua nya pakai mic yang di gunakan MC.


Semua nya hanya tersenyum sampai menggelengkan kepala nya, mereka ngga habis pikir dengan tingkah Kania yang sudah membuat semua nya jantungan.

__ADS_1


"Mas, maafkan aku, aku tadi emosi." Syifa meminta maaf kepada Ramzi sambil menatap kedua mata Ramzi.


"Makanya lain kali kalau ada masalah apapun kamu harus mendengarkan penjelasan aku dulu, jangan langsung memutuskan." ucap Ramzi lalu mencium telapak tangan Syifa dengan mesra.


Ramzi melihat Kania menatap nya dengan senyum puas nya.


"Awas ya kamu Nia, aku bilangin sama suami kamu tahu rasa kamu." ucap Ramzi.


"Kayak yang kenal suamiku aja, kenapa kamu ngga menerima panggilan aku, aku kan sudah bilang kalau aku mau ikut nginap di rumah calon istri kamu."


"Sorry, kemarin kita sibuk dan aku ngga sempat buka ponsel."


"Ngga ada terima kasih nya ya kamu." Kania bercanda.


"Memang nya Nia lagi ada di kampung ini? Kok tahu mas Ramzi ada di sini?" tanya Syifa.


"Saya lagi cek mini market yang di depan itu, itu kan mini market punya suami saya, dia lagi banyak kerjaan jadi saya yang urus."


"Oh jadi mini market yang ada di kampung ini milik suami nya Nia? saya merasa bangga kedatangan tamu terhormat." Syifa merasa bangga dengan kedatangan Nia, dulu dia pernah bercita-cita ingin kerja di mini market itu, tapi karena dia ngga ada ijazah jadi dia hanya menahan keinginan nya itu.


"Saya hanya orang biasa, sama kok seperti warga kampung di sini." Kania merendah.


"Kak Kania masih ingat aku ngga?" tanya Rara yang sejak tadi hanya memperhatikan nya.


Kania terdiam sambil menelisik wajah Rara, "Kamu Rara kan? Adik angkat dari pengantin yang songong ini." ucap Kania lalu memeluk Rara setelah melihat Rara mengangguk.


"Kamu sedang hamil Ra?" tanya Kania sambil mengusap perut Rara.

__ADS_1


"Iya mbak, dan kenalkan ini mas Alvin suami ku, dia ini adik nya kak Syifa istri nya kak Ramzi." Rara memperkenalkan suami nya kepada Kania.


Jadi mereka saudara kandung? Pantas saja tadi pas aku datang wajah nya langsung kelihatan emosi, maaf ya Alvin, saya cuma ingin memberi pelajaran saja sama pengantin pria, lagian dari kemarin ngga ada kabar nya, padahal dia bisa sampai kesini juga berkat bantuan dari saya." Semua nya tersenyum mendengar Kania yang terus ngomel.


__ADS_2